
Minggu Pagi
Rangga yang baru saja selesai berolahraga, meraih ponselnya di atas meja.
Tuut.. tuut.. tuut
"Halo Rangga !" Jawab seorang wanita di ujung telpon
"Halo Mon, kau sedang apa ?" Tanya Rangga
"Aku baru saja selesai berenang ! ada apa ?"
"Apa kau punya waktu ?"
Monica yang mendengar pertanyaan itu, segera beranjak dari tepi kolam dengan tersenyum bahagia, ia bisa menebak kalau Rangga ingin mengajaknya keluar.
"Ya ! mengapa kau bertanya ?" Jawabnya, seolah berjual mahal.
"Apa kau bisa datang ke rumah ?"
"Emm, untuk hal apa ?"
"Mamah ingin menemuimu, katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu !"
"Benarkah ? soal apa ?"
"Aku juga tidak tahu, katanya urusan wanita !"
Kali ini Monica lebih merasa bahagia, Mariah ingin bertemu dengannya dan membicarakan hal yang pribadi. Dia berasumsi kalau ini akan menjadi berita bahagia untuknya.
"Oh ! baiklah, setengah jam lagi,aku akan kesana !" Jawabnya datar.
"Oke ! aku akan memberitahu Mamah !"
Tut. telpon terputus
Rangga beranjak pergi untuk membersihkan dirinya, dia sudah berjanji pada kekasihnya akan menjemputnya pagi ini.
Satu Jam telah berlalu, Monica baru saja tiba di kediaman Aberald.
Teng Tong
Rangga yang sedari tadi menunggu kedatanggannya, segera berlari membuka pintu. Sebenarnya, Rangga sajak tadi ingin pergi, dia tidak ingin Rena menunggunya lama, tapi Mariah melarangnya pergi sebelum kedatangan Monica dan menyuruhnya untuk menyambut kedatangan Monica.
"Huuft akhirnya kau datang juga !" Ucap Rangga
"Ada apa ? apa kau menungguku ?" Tanya Monica sedikit heran dengan ucapan Rangga.
"Ya ! aku sejak tadi menunggumu !"
Lagi-lagi Monica merasa kebahagiaan telah menerpanya, mengapa tidak ? sudah sejak lama Rangga tidak memperlakukannya seperti itu ! terakhir kali, sebelum kehadiran Rena dalam kehidupan mereka. Ia benar-benar terhanyut dalam pikiran bahagianya. Sampai sentuhan tangan kekar menyentuh kedua bahunya, membuyarkan seluruh ilusinya.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Rangga menatap tanya pada Monica.
"Ah, tidak ada ! maafkan aku karna telah membuatmu menunggu lama !?"
"Tidak masalah, masuklah ! Mamah sudah sedari tadi menunggumu di ruang keluarga !"
Ajak Rangga menuntun Monica menuju ruang tengah.
"Mah !" Seru Rangga
"Ya !" Jawabnya
Mariah yang duduk memangku kakinya sebelah, manatap majalah yang ada di tangannya, menoleh ke arah suara yang menyapanya, ia segera bangkit dari duduknya dan menyambut kedatang Monica.
"Bagaimana kabarmu sayang ?" Tanya Mariah pada Monica.
"Baik tante !" Jawab Monica sopan.
"Duduklah ! tante ingin menunjukkan sesuatu !"
Monica mengangguk senyum, dan perlahan mendaratkan bokongnya di atas sofa.
"Mah ! kalau begitu aku pergi ya !"
Mariah hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Mon, aku pergi !"
"Kau mau kemana ?" Tanya Monica sedikit bingung, pasalnya, ia sudah beranggapan kalau Rangga telah menunggunya, dan sekarang, setelah ia tiba, Rangga ingin meninggalkannya. Ia benar-benar tidak mengerti.
"Aku ingin- "
"Rangga ingin menemui temannya !" Sela Mariah.
Rangga menatap Ibunya dengan bingung, mengapa Ibunya harus berbohong ? bukankah Ibunya sangat tahu kalau dirinya ingin menemui Rena ?
"Rangga !" Seru Mariah
"Iya Mah ! ah- ka-lau begitu a-aku pergi dulu !" Ucapnya dam membalikkan tubuhnya melangkah pergi dengan wajah bingungnya.
"Monica !"
"Ya tante !" Jawab Monica yang masih menatap kepergian Rangga.
"Lihatlah kesini !"
Mata Monica yang kini tertuju oleh sebuah majalah, masih terlihat berekspresi bingung.
"Tante tidak tahu harus memilih yang mana, dan selera seusiamu pasti berbeda dengan tante !" Ujar Mariah
"Maksud tante ?"
"Tante ingin melihat, yang seperti apa seleramu !" Jawab Mariah dengan senyum.
Mendengar kata selera. Monica lagi-lagi terhanyut dalam ilusi bahagianya.
("Apa Tante Mariah ingin memberiku hadiah ? aakh ! tidak, bukankah ini cincin untuk pasangan ? apa mungkin..") Batinnya
"Apa tante ingin membelinya ? bukankah ini untuk cicin pasangan ?" Tanya Monica, dengan raut yang penasaran terpatri di wajahnya.
"Ya, tante ingin membelinya, makanya aku menanyakan seleramu ! ini persiapan untuk Rangga dan calonnya nanti."
Lagi dan lagi Monica semakin yakin kebahagiaannya akan segera menghampirinya.
("Apa maksud tante Mariah, dia menginginkan aku untuk menjadi calon Rangga ? akhirnya")
Monica meraih majalah itu dan mulai membuka tiap lembaran, memperhatikan setiap gambar, bentuk serta desainnya. Matanya terbelalak melihat setiap harga yang di cantumkan di setiap gambar. Itu bernilai sangat fantastis.
"Apa kamu telah mendapatkannya ?" Tanya Mariah yang memperhatikan tatapan Monica tertuju pada satu gambar
"Ah, menurutku ini sangat indah !" Jawabnya, sambil menunjukkannya ke arah Mariah.
"Benarkah ?"
Monica yang melihat garis senyum di wajah Mariah juga ikut tersenyum membayangkan dirinya akan menjadi calon menantu dirumah yang saat ini ia kunjungi.
("Tapi kalau ini memang untukku, bagaimana dengan Rena ? atau, mungkinkah kejadian waktu itu berhasil ? tapi kalau di ingat kembali, wajah Ibu Rena saat itu memang terlihat sangat murkah. hemm, baguslah !") Batinnya dengan senyum yang terus terpatri di kedua bibirnya.
Mariah tersenyum menatap gambar yang ditunjuk oleh Monica.
"Kau memang benar, ini sangat indah ! tante tidak salah menanyakannya padamu !
Terima kasih ya ? Rena pasti sangat menyukainya !" Lanjutnya.
Monica yang tadinya terus memasang senyum bahagia, berubah menjadi senyum paksa yang sangat menyayat hatinya. Mengapa tidak ? sedari tadi ia telah membayangkan bagaimana Rangga nantinya menyematkan cicin itu di jarinya, dengan suasana yang sangat romantis.
"Maksud tante ?" Tanyanya bingung
"Rangga dan Rena akan segera tunangan minggu depan !" Jawab Mariah menatap Monica.
"Minggu depan ?!" Tanyanya dengan panik.
"Iya, mengapa ? apa Rangga belum memberitahumu ?" Tanya Mariah
"Ah-itu.. dia belum memberitahuku !" Jawabnya lemas.
"Anak itu ! bagaimana bisa ia melupakannya untuk memberitahumu ? tenanglah, aku akan memarahinya nanti !" Ucap Mariah berpura-pura.
"Ah, tidak perlu tante, sepertinya aku tidak lagi berarti untuknya."
"Aa kau benar ! kau menjadi tidak lagi berarti setelah ia bertemu Rena !"
Mata Monica terbelalak mendengar ucapan Mariah. Bagaimana bisa wanita yang selama ini sangat baik padanya bisa berkata seperti itu ?
("Apa Tant Mariah sengaja memanggilku kesini hanya untuk mempermalukanku ?") Batinnya.
"Kau tenang saja, kau bukannya tidak berarti, Rangga masih tetap menyayangimu sebagai sahabat kecilnya, hanya saja dia terlampau bahagia dengan perasaannya saat ini, hingga melupakanmu." Jelas Mariah dengan senyum.
Monica tidak tahu lagi harus berkata apa, ia sangat malu terhadap dirinya sendiri.
"Ah-em, kalau begitu aku pulang dulu ya tant !" Pamit Monica.
"Mengapa begitu terburu-buru ! tante belum memberimu minum !"
"Eh-itu tidak perlu tante, aku hanya baru ingat kalau aku ada urusan penting." Dalihnya
"Begitukah ? aah, sayang sekali, padahal tante masih membutuhkanmu untuk memilih beberapa gaun !"
"Em, maafkan aku tante !"
Mariah tersenyum menatap Monica.
"Tidak apa-apa sayang ! tante tahu kalau kau pasti sedih karna Rangga akan segera menikah ! biar bagaimanapun tante juga sudah menganggapmu sebagai putri tante, tante hanya berharap agar kau segera menemukan lelaki yang mencintaimu dengan tulus." Ucapnya, sambil memegang kedua tangan Monica.
"Apa tante boleh meminta satu hal darimu ?" Lanjutnya.
"Apa itu ?" Tanya Monica
"Karna Rangga akan segera menikah, tante harap mulai sekarang kau harus berjaga jarak dengannya, tante mengatakan ini bukan tanpa alasan, tante hanya tidak mau orang lain memandangmu buruk karna terus menempel dengan pria yang akan segera menikah. Terlebih, tante juga ingin kau segera mendapatkan pria yang baik. Dan yang terpenting, tante juga harus menjaga nama keluarga tante dari pandangan buruk orang lain. Kau tahu, kalau Rangga adalah satu-satunya penerus penerusahaan JA Group, tante tidak ingin reputasinya jelek." Jelas Mariah.
Monica yang mendengarnya hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia dalam masalah dilema, antara berhenti atau bertindak.
"Baiklah tante, aku mengerti ! mulai sekarang, aku tak akan lagi menemui Rangga !" Ucapnya dan kemudian beranjak dari duduknya.
"Apa kau marah ?" Tanya Mariah yang juga ikut beranjak dari duduknya.
"Tidak, untuk apa aku marah ? aku mengerti dengan perasaan tante !" Jawab Monica dengan senyum paksa.
"Owh, syukurlah !" Sahut Mariah dengan nafas lega
"Kalau begitu, aku pergi dulu tant ! semoga acaranya bisa berjalan lancar sampai hari H nya. Dan aku turut bahagia !" Ucap Monica kemudian memeluk erat Mariah. Setelah itu dia berbalik dan melangkah pergi dengan hati yang benar-benar hancur.