Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Kabar Bahagia



Rena yang masih terduduk merenung di atas sofa dengan buku yang berada ditangannya. Ia masih sedikit bingung dengan sikap Ibunya sejak malam hingga hari ini.


"(Mengapa Bunda bertingkah aneh ? apa Bunda menyembunyikan sesuatu dariku ? mengapa ia melarangku untuk bertemu Rangga ? dan aku benar-benar yakin kalau Bunda membentak Tant Mariah tadi pagi. sebenarnya, apa yang terjadi ?)"


Pikirannya terus digeluti oleh rasa penasaran akan Ibunya, ia beranjak mengambil ponselnya di atas meja.


Baru saja ia ingin menekan panggilan untuk Rangga, lagi-lagi ia teralihkan dengan panggilan masuk dari Arka.


"Hei Ka ! ada apa ?" Tanya Rena yang tak ingin berlama-lama.


"Apa kau sudah mengetahui perubahan jadwal masuk untuk hari ini ?!" Tanya Arka


"Bukankah Prof.Gibran mengatakan hari ini akan masuk jam 14.00 ?!"


"Tidak, asisten Prof baru saja menghubungiku ! jadwalnya dipercepat mungkin menjadi 12.30 atau 13.00 !" Jawab Arka


"Benarkah ? aku bahkan belum menghapal semua materi pertemuan yang kemarin." Ucap Rena sedikit frustasi "Huuaaaft.. !"


"Apa kau mengantuk ?" Tanya Arka


"Ya, sebenarnya aku sedikit kelelahan hari ini, bahkan aku sampai tak bisa konsen untuk menghapal !" Jawab Rena memelas


"Tidak masalah, ini baru jam 11.25, istirahatlah ! aku akan menjemputmu nanti !"


"Akh ! tidak perlu Arka, aku akan mengemudi sendiri !"


"Baiklah, kalau begitu ! aku akan menunggmu di kampus." Jawab Arka


"Oke, thanks yah atas infonya !"


"Em, tidak masalah, istirahatlah !"


"Oke !"


Tut. Telpon terputus


Kali ini Rena tak bisa lagi menahan kantuknya, badannya begitu pegal dengan semua aktivitas yang ia lakukan sejak pagi tadi. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dan perlahan menutup matanya, dan akhirnya terlelap.


Kediaman Aberald


Mariah yang sedari tadi tiba dirumahnya tak bisa menahan dirinya untuk segera mengabarkan berita gembira, untuk kedua lelakinya. Namun sayangnya, kali ini ia harus menunggu hingga suminya pulang pada malam hari.


Saat ia duduk santai di depan TV, pikirannya teringat kembali akan putranya, ia harus memberi tahu putranya agar bersikap seperti biasa pada Rena, dan memberitahunya agar tidak menceritakan masalah yang telah terjadi, yang mana membuat Rani sangat murkah. Ia segera beranjak pergi, menuju kamar Rangga.


Tok tok tok


Ceklek


Pintu terbuka.


Melihat kehadiran Ibunya, Rangga yang tengah asik mendengar lagu dan memainkan gitarnya segera menghentikan permainan gitarnya dan melepas earphon yang terpasang di telinganya.


"Mah !" Seru Rangga beranjak dari kursinya


"Tenanglah ! duduklah kembali, ada sesuatu yang ingin bicarakan padamu !"


"Sejak kapan mamah tiba di rumah ?" Tanya Rangga. Sebenarnya, sudah sedari tadi ia menunggu kedatangan Ibunya, namun tak kunjung tiba, hingga ia kembali ke kamarnya, memilih memainkan gitar mengurangi rasa kebosanannya.


"Sebenarnya sudah sejak tadi mamah tiba ! namun Mamah melupakanmu !"


"Tidak masalah, yang terpenting sekarang adalah, apakah Mamah berhasil membujuk Tante Rani ?"


Mariah menatap anaknya dengan senyum. Melihat senyuman Ibunya, Rangga bisa berasumsi,kalau Ibunya telah berhasil menyelesaikan segalanya.


Rangga menghela nafasnya lega.


"Hmmp, syukurlah !"


"Tapi, aku jadi penasaran, bagaimana Mamah bisa mendapatkan maaf dari Tante Rani ? bukankah Papah bilang, kalau Tant Rani memiliki pribadi yang cukup keras ?" Tanya Rangga


Mariah tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, kalau ia sempat berlutut di depan Rani hanya untuk meminta maaf dan memberi mereka satu lagi kesempatan.


"Owh, Mamah hanya terus memohon agar Tant Rani mau memafkan kita, dan berjanji akan mengurus Monica secepat mungkin."


Jawab Mariah


"Apa hanya itu ?"


"Tante Rani juga meminta satu hal dari kita !"


"Satu hal ? apa itu ?"


"Tenang saja, ini bukan sesuatu yang harus kau khawatirkan. Mamah akan memberitahumu setelah kepulangan Papah !"


"Em, baiklah !"


"Apa kamu akan ke kampus hari ini ?" Tanya Mariah


"Tidak, aku tidak memiliki mata kuliah hari ini ! mengapa Mamah menanyakannya ?"


"Owh, syukurlah."


"Ada apa ?"


"Apa Rena sudah menelfonmu ?" Tanya kembali Mariah, tanpa menghiraukan pertanyaan Rangga sebelumnya.


"Tidak, aku khawatir kalau Rena telah mengetahuinya dan belum mau memaafkanku !"


"Rena belum mengetahuinya ! dan jangan sampai ia mengetahui darimu ataupun Monica !"


"Mengapa ? aku pikir saat ini Rena masih marah padaku karna masalah ini ! kalau tidak begitu, mengapa ia tidak menjawab atau membalas pesanku ? bahkan sampai saat ini dia belum juga mengabariku !"


"Jangan salahkan Rena, ia masih belum mengetahui apa pun ! bahkan, dia sempat mencarimu saat melihat Mamah.


Ini semua karna pengaturan Tante Rani. Ia sengaja membuat Rena sibuk, agar tak ada waktu untuk menghubungimu." Jelas Mariah.


"Tant Rani serem juga yah kalau lagi marah !" Celetuk Rangga


"Oh ya, besok ajak Monica ke rumah, ada yang ingin Mamah bicarakan dengannya."


"Oke !"


•••


Terlihat Mobil berwarna putih melenggang cepat di tengah jalan yang cukup luas. Tak lama kemudian, mobil itu telah sampai di area parkiran kampus.


"Ah ! itu pasti Rena !" Seru Anggi


Anggi yang sedari tadi menunggu kedatangan Rena segera beranjak menghampiri mobil putih yang baru saja terparkir.


Rena perlahan membuka pintu mobilnya dan menatap Anggi.


"Maaf ya, aku ketiduran tadi !" Ucap Rena sambil meraih tangan Anggi.


"Tidak apa apa, lebih baik sekarang kita masuk kelas ! jangan sampai Prof lebih dulu tiba dari kita." Ajak Anggi.


"Oh ya, dimana Arka ?"


"Dia sudah lebih dulu masuk kelas !"


"Aku pikir dia bersamamu !"


"Apa hubungannya denganku ?"


Rena hanya melirik ke arah sahabatnya sambil terus melanjutkan langkahnya. Sampai saat ini, Anggi masih belum saja ingin terbuka padanya.


Di Ruang Kelas.


Rena dan Anggi sudah duduk di tempatnya masing masing.Lima menit kemudian, Prof.Gibran masuk untuk memberi beberapa materi.


Waktu terus berputar, hingga akhirnya Prof.Gibran meninggalkan kelasnya.


"Huuft akhirnya.. !" Ucap Rena lirih menghela nafas lega.


"Mengapa kau sangat gugup saat Prof menanyakanmu ?" Tanya Anggi


"Rena, itu sangat berbahaya ! jangan pernah mengulanginya lagi." Seru Anggi


"Iya iya ! kau jadi mirip seperti Ibuku !" Jawab Rena sambil terkekeh


"Hay Ren !" Sapa Arka


"Hey !" Jawab Rena dengan senyum


"Kau hebat !"


"Tidak juga, kaulah yang hebat !" Jawab Rena


"Aku fikir kau akan terlambat !"


"Hampir saja sih sebenarnya !"


"Baiklah, ngofee yuk !"


"Yuk ! Anggi, kau ukut kan ?" Tanya Rena


"Sepertinya aku--"


"Ayolah, jangan menolak lagi !" Sahut Arka


Rena hanya tersenyum menatap Anggi.


"Baiklah !" Jawab Anggi pasrah.


•••


Malam Harinya.


Kediaman Aberald.


Setelah selesai menyantap makan malam, Mariah memanggil kedua lelakinya untuk duduk bersamanya di ruang keluarga. Maklumlah, kebiasaan John adalah menghabiskan waktunya untuk bekerja di ruang kerjanya, dan Rangga menghabiskan waktunya di kamar memainkan gitarnya.


"Ada apa sayang !" Tanya John


"Duduklah dulu, Mamah punya berita gembira untuk disampaikan !"


John mengerutkan alisnya.


"Berita gembira apa yang ingin kau sampaikan ?" Tanya John, ia tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Rani ingin mengadakan pesta pertunangan Rangga dan Rena minggu depan !" Jawab Mariah dengan antusias


John masih terlihat tidak percaya, dengan apa yang di dengarnya.


"Bagaimana bisa ? bukankah mereka sekarang sangat marah pada keluarga kita ?" Tanyanya kembali


"Apa Mamah serius !" Tanya Rangga


Melihat wajah John dan Rangga hanya berekspresi bingung dan datar, Mariah menghela nafasnya pelan.


"Hmmp apa kalian tidak mempercayai Mamah ?" Ucap Mariah sedikit kesal, bukan ekspresi itu yang dia harapkan.


"Mengapa begitu tiba-tiba ?" Tanya John sedikit curiga, dia sangat tahu dengan perhitungan Jaya dan Rani. Mereka seperti sepasang Singa yang tidak mudah untuk ditundukkan.


"Rani tidak mau menunggu lama, ia takut kalau-kalau Monica membuat sesuatu yang tidak dia inginkan, sudah cukup hanya dia yang melihat kejadian kemarin !" Jelas Mariah


John menganggukkan kepalanya.


"Em, dia ada benarnya juga !" Ucap John, kali ini dia sedikit bisa bernafas lega.


"Benarkah seperti itu ?" Tanya Rangga yang tak bisa lagi menyembunyikan raut wajah bahagianya.


"Ya ! tapi, ada satu hal yang harus kita lakukan !" Ucap Mariah


"Apa itu ?" Jawab John dan Rangga bersamaan


"Membuat Monica menjauhimu tanpa menyakitinya atau perasaan Ayahnya, Gilbert !" Ucap Mariah


Hening, semuanya membisu, larut ke dalam fikiran mereka masing-masing.


Namun, suara ponsel Rangga yang berdering, seketika membuyarkan semua lamunan mereka.


Rangga merogoh ponselnya dari saku celananya, dan menatap layar ponsel.


"Siapa sayang ?" Tanya Mariah


"Rena !" Jawab Rangga


kalau begitu, aku ke kamar dulu !" Imbuhnya


Mariah hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Halo Ren !"


"Rangga, apa kau sudah mengetahuinya ?" Tanya Rena, terdengar suaranya begitu sangat bahagia.


"Apa ?" Tanya Rangga, mencoba mempermainkannya.


"Apa kau benar-benar belum mengetahuinya ?" Tanya Rena serius


"Memang apa ?"


"Apa Tante Mariah belum memberitahumu ?"


"Owh, iya, aku baru saja mengetahuinya !"


"lalu ?"


"lalu apa ?" Tanya Rangga datar


"Mengapa kau terdengar biasa-biasa saja ?" Tanya Rena


"Lalu aku harus bagaimana ?"


"Aakh ! sudahlah ! kau sangat menyebalkan !" Celetuk Rena dan mematikan ponselnya


Tut.


"Hey ! dia mematikannya ?" Serunya, ia kemudian menulis pesan.


[ Mengapa mematikannya ?]


^^^Cintaku [Kau sangat menyebalkan !😡]^^^


[Apa kau marah ?]


^^^Cintaku [Menurutmu ?😏]^^^


[Maafkan aku !]


^^^Cintaku [Tidak mau !😒 ]^^^


[Mengapa ?]


10 menit


20 menit


"Apa dia tertidur ?" Gumamnya, sambil terus menatap layar ponsel, menunggu balasan.


[Aku sangat bahagia, dan aku mencintaimu ! 😘 Tidurlah, aku akan menjemputmu besok !"]


^^^Cintaku [Baiklah ! aku juga mencintaimu ! 😘]^^^


Rangga cekikikan melihat pesan Rena.


"Mengapa dia sangat menggemaskan ?!" Lirihnya


Ia beranjak untuk menyikat giginya, setelahnya mematikan lampu utama, kemudian berbaring dengan tumpuan kedua tangannya di kepala, memandang langit-langit kamarnya. Hingga terhanyut dalam mimpi yang indah.