Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 151



...~•~Raehana Pov~•~...


Mataku terasa silau saat netraku menangkap cahaya mentari pagi masuk dari sebuah jendela besar menerpa wajahku.


"Selamat pagi sayang."


Suara itu terdengar begitu menawan di telingaku. Suara pria yang akhirnya benar-benar menjadi suamiku, rasanya seperti bermimpi. Mimpi ? ya, aku pernah memimpikan hal ini beberapa tahun lalu.


Jika saat itu aku sangat terganggu dengan mimpi seperti ini, maka kali ini aku sangat menyukainya, rasanya sangat manis jika di bangunkan oleh seorang pria yang kita cintai.


Aku membuka mataku secara perlahan, dan hal pertama yang aku lihat beberapa hari ini saat di pagi hari adalah menatap wajah tampan suamiku.


"Pagi." Jawabku dengan suara serak.


Dan kecupan singkat di keningku adalah hadiah di pagi hari yang selalu aku dapatkan darinya.


Aku bahagia, sangat bahagia. Berharap hal-hal seperti ini tidak akan pernah berubah, bahkan hingga aku menua.


Aku beranjak bangun dari tempat tidurku saat dia berjalan pergi dan menghilang dari pandanganku.


Dengan cepat aku bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri. Setelah semuanya selesai, aku berjalan ke arah dapur mencari keberadaan dia, pria yang yang akhir-akhir ini selalu aku rindukan.


Saat aku tiba, semuanya sudah tersusun rapih di atas meja, roti dengan selai kesukaanku dan segelas susu hangat yang menjadi kebiasaanku sejak dulu. Namun aku sedikit bingung saat melihat tak ada apapun di depannya.


"Sudah sarapan ?" Tanyaku ingin memastikan.


Dia tersenyum dan menggeleng pelan.


"Aku ingin menikmati sarapanku dengan buatanmu." Jawabnya sembari menatap hangat ke arahku.


Mendengar jawabnya, membuatku hanya bisa tersenyum dan segera mengabulkan keinginannya.


Membuat coffee dan mengaplikasikan selai kesukaannya di atas roti. Lalu meletakkan semua di hadapannya.


Ku lihat dia yang meraih cangkir coffee tersebut dan mulai menyesapnya. Membuatku berharap semoga dia suka.


"Apa kau lupa menambahkan gula ? Coffeenya terasa pahit." Ucapnya segera meletakkan cangkir yang berisi coffee tersebut.


Pernyataannya itu membuatku sedikit terkejut, benarkah itu pahit ? Apa dia penikmat gula ? Seingatku, sebelumnya aku sudah menambahkan sesendok gula di dalamnya. Batinku.


"Apa kau bercanda ? Aku ingat betul sudah menambahkan gula di dalamnya." Ucapku membela diri.


"Cobalah sendiri jika kau tidak percaya." Ucapnya, seakan meyakinkan ku.


"Benarkah.. ?" Tanyaku sekali lagi.


Dia hanya mengangguk pelan. Membuatku tidak sabaran dan meraih cangkir tersebut lalu mencobanya.


"Manis." Batinku.


"Yaaa.. Kau mengerjaiku ? atau indra perasamu yang hilang ?" Tanyaku sedikit meninggikan suaraku.


Dan ku lihat dia hanya tersenyum dan mengedikkan bahu.


"Apa iya cofee nya manis ?" Tanyanya dengan ekspresi tanpa bersalah.


"Emmm.." Jawabku ketus dan menyodorkan kembali coffee nya.


Ku lihat ia meraih kembali cangkir tersebut dan mulai menyesapnya.


"Emm.. benar-benar manis. Sepertinya coffee nya manis setelah ditambahkan bekas bibirmu di dalamnya." Ucapnya dengan senyum.


Entah apa sekarang aku harus marah karna di permainkan atau tersenyum malu karna gombalannya di pagi hari.


Wajahku terasa pegal menahan senyuman yang mendorong ingin merekah, tapi aku terlalu malu menampilkannya. Apa aku segampang itu tergoda hanya dengan kalimat manisnya itu ? benar-benar menyebalkan.


"Jika mau senyum, senyum saja, tidak perlu menahannya." Ucapnya sembari bersiap menyantap rotinya tanpa menatapku sedikitk_pun.


"Siapa juga yang mau senyum ? Aku sudah terbiasa mendengar kata-kata pasaran seperti itu." Ucapku berdalih.


Terdengar jelas jika dia menghela nafasnya kasar.


"Tidak berhasil ya..?" Keluhnya pada dirinya sendiri,membuat senyumanku lolos begitu saja karna merasa lucu.


Aku bahagia.


Dan di akhir doaku aku akan berkata.


Terima kasih Tuhan ! Sekarang, aku merasa.. sangat bahagia.


...~•~ Rangga Pov ~•~...


Setelah melewati beberapa kerikil tajam dalam perjalanan hidupku, akhirnya aku telah sampai pada titik ini, di mana aku dan dia kini di persatukan kembali dalam ikatan pernikahan.


Menikmati setiap waktu bersama, menatap wajahnya sebelum aku tertidur dan mengecup keningnya di saat aku terbangun. Menikmati aroma tubuhnya yang selalu memabukkan hati dan juga pikiranku.


Aku tidak tahu bagaimana aku harus menggambarkan perasaanku saat ini, saat dimana aku dengan puas bisa menatap wajahnya dengan senyum yang selalu merekah di bibirnya.


Hingga aku tak dapat membedakan apakah ini nyata ? Mimpi ? ataukah sebuah ilusi ?


Setelah beberapa kali mendapat cubitan kecil dari dirinya karna merasa kesal dengan kejahilan yang aku lakukan, akhirnya aku benar-benar yakin,kalau ini bukanlah mimpi ataupun ilusi. Dan membuatku merasa.. jika sarapan pagi ini terasa jauh lebih nikmat dari sebelumnya.


"Sudah jam delapan lewat, kau harus ke kantor sekarang !" Ucapnya mengingatkanku, saat aku mulai mencumbu_nya lagi di atas meja setelah sarapan kami selesai.


"Sedikit lagi." Jawabku memeluknya dengan erat.


Jujur saja aku tidak ingin melepaskan atau berada jauh darinya. Aku takut jika dia kembali pergi jauh meninggalkanku.


"Sebagai seorang CEO, seharusnya kau harus memberi contoh yang baik untuk pegawaimu. Waktu adalah uang, dan waktu tidak akan pernah kembali. Bukankah itu adalah sebuah simbol dari perusahaanmu ?" Ucapnya mencoba mengingatkanku tentang tanggung jawab yang harus ku emban.


Membuatku hanya bisa tersenyum mendengarnya, dan ini adalah pertama kali dia mengomeliku setelah dia menjadi istriku.


Istri ? rasanya seperti bermimpi bisa memanggilnya istri. Wanita yang dengan mati-matian aku perjuangkan, wanita yang dulu sering bertengkar denganku saat di bangku SMA, kini telah resmi menjadi milikku seutuhnya.


"Hei, malah melamun, ayo siap-siap !" Serunya, kemudian berbalik pergi menyediakan baju yang nanti akan aku kenakan.


Star Light.


Kini aku berada di kantor perusahaan yang sudah ku bangun bersama kedua sahabatku. Duduk berjam-jam di kursi kebesaranku dan bergelut dengan tumpukan kertas telah menjadi rutinitasku sehari-hari.


Kadang aku berfikir, jika saat itu Monica tidak mengacaukan pesta pernikahanku, jika paman Gilbert tidak menghianati Ayahku, dan jika semua yang terjadi padaku di masa lalu itu tidak menimpaku,mungkinkah aku akan sesukses sekarang ? mampukah aku membangun perusahaan ini dari nol seperti yang sudah aku lakukan ?


Cinta. Ku rasa itu karna cinta, cintaku pada Rena yang membuatku bertahan hingga saat ini. Yang menguatkanku saat aku merasa lemah dan jatuh tak berdaya.


"Astaga,kau melamun lagi ? apa kau tidak mendengarku mengetuk pintu sejak tadi ?"Suara Reno tiba-tiba saja mengagetkanku, entah sejak kapan dia berdiri di depanku. Dan seperti biasa, dia selalu memarahiku seakan akulah bawahan dan dia adalah bosnya.


"Tolong tanda tangani ini segera ! Aku memerlukannya." Ucapnya sembari menyodorkan sebuah map berwarna biru padaku.


Aku meraih map tersebut dan membaca detailnya terlebih dahulu sebelum aku menorehkan tanda tanganku di atasnya.


"Sssh.. Ada apa dengannya ?" Aku masih bisa mendengar dengan jelas dia bergumam mendesis bertanya pada dirinya sendiri atas perubahan sikapku.


Tentu saja dia merasa bingung, Karna tidak seperti biasanya, jika dia memarahiku maka aku akan balik membentaknya. Seperti beberapa hari yang lalu saat aku salah paham terhadap Rena.


Hingga akhirnya dia keluar dari ruanganku setelah aku selesai menandatangani berkas yang di bawanya.


Ah, aku hampir lupa dengan peran kedua sahabatku itu. Tentu saja, tanpa dukungan dan bantuan dari mereka aku tidak akan mungkin mampu melewati semuanya sendiri.


Jujur saja.. beberapa kali jatuh bangun dalam membangun sebuah perusahaan itu hampir membuatku gila, dan itu tidaklah mudah.


Reno dan Dicky. Mereka telah berperan penting dalam hidupku dan membangun perusahaan ini dari awal. Terlebih Reno, yang ku akui betapa sabarnya dia menghadapi sikapku selama ini.


Reno, kupikir dia tidak akan menikah karna aku selalu membuatnya sibuk dengan berbagai urusanku hingga dia sendiri tidak sempat menikmati hidupnya. Tidak disangka, ternyata di antara kami bertiga dia yang lebih dulu menikah dan sekarang memiliki anak.


Sedangkan Dicky. Seperti biasa, dia tidak begitu terikat padaku karna gaya hidupnya yang ingin bebas.


Dari sekian banyaknya wanita yang di kencaninya, ternyata dia memiliki kekasih hati sejak dulu yang aku dan Reno tidak pernah mengetahuinya. Dan seperti itulah cara dia mencintai.


Dulu aku bertanya-tanya, alasan mengapa dia memilih membeli sebuah apartemen yang sama dengan Arka dan bertetangga dengannya, bahkan dengan susah payah membobol pintu apartemen Arka dan memaksa Reno memasang alat penyadap.


Aku sempat berpikir, dengan semua yang ia lakukan,semata-mata karna ingin membantuku sebagai seorang sahabat. Tidak ku sangka, ternyata semuanya demi kepentingannya pribadi yang juga ingin memata-matai aktivitas Anggi jika berada di apartemen Arka.


Hahaa lucu sekali rasanya. Jika di pikir-pikir.. sepertinya takdir kami memang saling terikat satu sama lain.


Jika dulu di dalam doaku aku sering mengeluh dan bertanya mengapa takdirku harus seperti ini ? Maka sekarang aku telah mengerti betapa berharganya pembelajaran hidup yang ia berikan.


Dan sekarang aku hanya bisa berkata.


Terima kasih Tuhan, atas pembelajaran hidup yang kau berikan padaku, dan membuatku mengerti,bahwa.. ada pelangi setelah hujan.