
Kediaman Atmajaya
Gadis cantik itu terlihat sedang menikmati senam yoga bersama seorang Ibu di taman belakang rumahnya.
Rerumputan luas yang tergunting rata dan pepohonan maupun bunga yang menghiasi taman yang yang asri dengan udara yang segar, semakin menyejukkan pandangan dan pikiran.
"Bunda ! istirahat dulu yuk !" Ajak Rena
"Sedikit lagi "
"Mengapa Bunda sangat antusias hari ini ?" Tanya Rena yang sudah duduk menyilangkan kedua kakinya yang jenjang.
"Diamlah, bunda ingin berkonsentrasi !"
"Hmmmp.. baiklah, aku akan meninggalkan Bunda sendiri !" Jawab Rena meraih botol minumnya
Mendengar kata ditinggalkan, Rani segera menyudahi yoganya.
"Dasar anak nakal !" Sambil mencubit pelan lengan anaknya.
"Aaw ! Bunda, sakit !" Rena meringis kesakitan
"Apa kau bercanda ?! Bunda hanya mencubitmu pelan, dan kau meringis kesakitan !" Gerutu Rani
Rena hanya terkekeh melihat Ibunya menggerutu.
"Hehee !"
Rani meraih botol minumnya dan meneguk beberapa tegukan, sambil terus berfikir apa yang harus ia lakukan untuk gadis rubah itu ? Berfikir tentang itu, ia kembali mengingat bagaimana gadis itu tersenyum kepadanya. Seketika ia berteriak histeris
"Aaargh.. !"
Rena yang meneguk minumnya, tersedak kaget.
"Ukhuk ukhuk ! Bunda ! apa yang terjadi ?"
"Akh.. senyum gadis rubah itu benar-benar sangat menggangguku !"
Rena cekikikan melihat ekspresi Ibunya, sangat jarang Ia melihat Ibunya frustasi seperti itu.
"Siapa yang Bunda maksud ? mengapa memanggilnya gadis rubah ?"
Tak ada jawaban.
"Apa dia salah satu teman arisan Bunda ?!" Tanya Rena menebak secara acak.
Rani menatap tajam ke arah Rena, bagaimana mungkin ia menceritakan hal yang ia lihat di rumah Aberald, kepada anaknya ? ia menghela nafasnya kasar beranjak berdiri.
"Bantu Bunda membuat cake !" Perintah Rani
Rena memutar matanya, ingin membuat alasan, namun Rani tahu persisi apa yang difikirkan Putrinya.
"Rena !" Seru Rani
"Ah, itu, aku baru ingat ! aku harus menghafal pelajaranku untuk siang nanti !"
"Jangan beralasan ! Bunda tahu kalau kamu berbohong !"
Rena memelas lemas mendengar ucapan Ibunya.
"Mengapa Bunda tiba-tiba ingin membuat cake ? bukankah temu arisan Bunda masih tiga hari lagi ?!" Tanya Rena
"Bunda ingin membawakan kariawan kantor Ayah. Sudah lama Bunda tidak berkunjung di kantor."
"Buat banyak dong !" Seru Rena
"Em'hem.. !" Rani menganggukkan kepalanya
"Cepat bersihkan dirimu, Bunda akan menunggumu di dapur !" Perintah Rani, kemudian melangkahkan kakinya pergi.
"(Hmmp, mengapa harus membuat cake ? kalau disuruh merangkai bunga, aku senang-senag saja, tapi ini ? aakh.. !)"
Ia segera beranjak dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah, menuju kamar pribadinya.
••
Rani yang sudah selesai berganti pakaian, segera menuju kamar Rena. Terdengar suara gemericik air yang jatuh ke lantai, sepertinya Rena masih mandi.
"Rena ! apa kau masih lama ?" Seru Rani
"Sebentar, sedikit lagi !" Teriak Rena "Hmp, yang benar saja ?! aku baru saja selesai keramas !" Gerutunya dengan suara lirih
Mendengar jawaban Rena, Rani segera meraih ponsel anaknya dan memeriksa semua pesan dan panggilan.
30 Missed call "Otak Mesum"
10 Incoming messages
Rani menghapus semua panggilan dan pesan, lalu meletakkannya kembali di tempatnya, ia kemudian melangkah pergi menuju dapur, mempersiapkan segalanya.
Rani sengaja membuat Rena sibuk, agar tidak menghubungi Rangga, setidaknya tidak untuk hari ini.
•
Rena yang sudah selesai berpakaian meraih ponselnya, ia mulai memeriksa pesan atau daftar panggilan.
"Yang benar saja ? mengapa dia tidak mengirim pesan ? bahkan tidak menelfonku ! apa dia benar-benar sibuk ?!" Lirihnya
Ia baru saja berencana ingin menelfon Rangga, namun Ibunya sudah lebih dulu memanggilnya.
"Renaaa !" Teriak Rani
"Ia Bun.. !" Jawab Rena
Rena meletakkan ponselnya kembali dan bergegas menuju lift, dari pada harus melihat Ibunya mengomel karna kebiasaannya berlarian di tangga, ia memilih memakai lift untuk mempercepat segalanya.
Ting !
Pintu lift terbuka.
Rena berjalan mendekati Ibunya, yang masih duduk santai memainkan ponselnya. Ia melihat semua bahan sudah siap di atas meja.
"Mengapa Bunda belum memecahkan telurnya ?" Tanya Rena
"Bunda sengaja menunggumu !"
"Haaah ! maksud bunda, aku yang akan memecahkan telurnya ?"
"Hem ! Cepat pakai celemekmu ! Bunda akan mengajarimu !"
"Mengajari ? maksud Bunda, aku yang akan mengerjakan semuanya ?" Tanya Rena sedikit terkejut
"Yap ! jadi, cepat pakai celemekmu !" Perintah Rani
"Tapi Bun !"
"Tidak ada tapi-tapian, cepat pakai celemekmu !" Seru Rani
Dengan wajah lesu, Rena meraih celemek yang sudah di siapkan dan memakainya. Ia mulai mengambil telur dan memecahkannya, kemudian menyalakan mixer.
Satu jam berlalu.
Akhirnya, ia selesai memanggang semua cake nya. Sebenarnya, ia sedikit bersyukur, dengan begini, sekarang dia bisa tahu cara membuat cake yang enak.
"Huuuft ! akhirnya selesai !" Ucapnya menyeka keringat yang sudah mulai turun di dahinya.
"Bersihkan semuanya, dan jangan lupa untuk mencuci piring !" Sahut Mariah, yang menata cake ke dalam tupperware.
"Biar Bi Hanum saja ya Bun ?!" Pinta Rena
"Tidak boleh, Bi Hanum sedang tidak enak badan, jadi kau yang harus membereskannya." Jawab Rani
"Tapi Bun, badanku terasa sangat pegal !"
"Kau boleh istirahat jika sudah membereskan segalanya. Bunda akan ke kantor Ayah !" Jawab Rani
"Hmmp, sesekali belajarlah membersihkan rumah, kau tidak akan selamanya tinggal bersama Bunda, bagaimana jika kau keluar negri ? siapa yang akan merawatmu ?" Ujarnya
"Iya Buuun, lagian, siapa juga yang mau ke luar negri ? aku hanya akan menyelesaikan kuliahku di kota ini dan segera menjadi dokter !" Jawabnya. Ia tidak tahu kalau suatu saat nanti, waktu akan membawanya keluar dari kota itu dan menuju negara yang berbeda.
Ting Tong!
Bel rumah berbunyi.
Rani berjalan keluar membuka pintu, sedangkan Rena menatap semua perkakas yang kotor dan meja yang berserakan dengan tepung dan bahan lainnya.
Ia memegang kedua pinggangnya dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Huuuuft ! ayo semangat !" Ucapnya
Sedangkan Rani baru saja ingin membuka pintu.
Ceklek
Pintu terbuka.
"Hai Ran !" Sapa Mariah dengan senyum
"Mariah ?!" Sahut Rani sedikit terkejut.
"Apa aku boleh masuk ?!" Tanya Mariah sedikit gerogi.
"Oh, silahkan !"
Di ruang tamu yang yang tidak cukup luas, namun tertata rapih dengan interior yang harganya berjumlah fantastis.
Kedua wanita itu duduk di sofa yang nyaman, namun tidak untuk kali ini, sofa itu terasa sangat keras dan panas.
"Oh ya, ini hadiah untukmu !" Sahut Mariah sambil menyodorkan keranjang bunga yang berisikan rangkaian bunga tulip.
"Hmm, cantik !" Ucap Rani. Ia memang sangat senang dengan bunga. Namun ia menahan diri untuk segera meraihnya.
Melihat Rani tidak meraihnya, membuat Mariah semakin merasa kikuk dan tidak nyaman.
"Apa kau masih marah ?" Tanya Mariah yang tidak tahan lagi menahan dirinya untuk bertanya.
"Apa hal itu yang membuatmu kemari ?!" Tanya balik Rani
"Maafkan aku Ran !" Ucap Mariah dengan suara lirih.
"Untuk apa kau meminta maaf ?"
"Kejadian kemarin, aku--"
"Aku tidak pernah menyalahkanmu !" Jawab Rani segera, memotong ucapan Mariah.
"Benarkah ?! owh syukurlah " Ucap Mariah menghela nafasnya lega.
"Tapi bukan berarti aku akan memafkan suami dan anakmu !" Ucap Rani lebih lanjut.
"Tapi Ran.. ! tidak bisakah kau memberi kami waktu untuk memperbaikinya ?"
"Waktu ? bukankah selama ini, aku dan suamiku telah memberikan kalian banyak waktu ?" Jawab Rani dengan suara sedikit meninggi.
Rena yang mendengar suara Ibunya yang sedikit berbeda, segera keluar untuk melihat orang yang sedang berbicara pada Ibunya. Ia sangat penasaran, mengapa Ibunya terdengar sangat marah ?
Setibanya di ruang tamu, ia sedikit terkejut melihat orang yang ada di hadapan Ibunya adalah Mariah.
"Tante ?" Serunya
Rani yang duduk membelakangi Putrinya, tersentak kaget menoleh ke arah belakang.
"Rena, sejak kapan kau berada disitu ?" Tanya Rani
"Em, baru saja !" Jawab Rena, dan berjalan mendekati keduanya.
"Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu ?!" Tanya Rani
Rena menganggukkan kepalanya.
"Em ! mengapa tante Mariah kesini ? apa Rangga tidak ikut ?" Tanyanya sambil melirik ke arah pintu utama.
Mendengar pertanyaan Rena, Rani segera memberi kode pada Mariah agar tidak menceritakan yang sebenarnya.
"Oh-, itu-, Rangga sedang sibuk membantu Ayahnya !" Seru Mariah
"Jadi tante sendiri ke sini ?" Tanya Rena kembali menatap wajah Mariah.
"Iya !" Jawabnya singkat
"Emm, Rena menganggukkan kepalanya mengerti,kemudian matanya tertuju pada keranjang bunga yang di atas meja. "Wah, apa bunga ini dari tante ?"
Mariah hanya mengangguk tersenyum menatap Rena.
"Rena, tolong bantu Bunda memindahkan bunganya !" Perintah Rani
"Oke !" Jawab Rena segera mengambil keranjang bunga dan membawanya pergi.
"Apa kau sengaja tidak memberitahunya ?" Tanya Rani
"Em ! kau fikir, apa yang akan terjadi dengan putriku jika dia mengetahuinya ?" Jawab Rani sinis
"Ran, tidak bisakah kau memaafkan keluargaku ? setidaknya demi diriku !" Pinta Mariah sedikit memohon
"Bagaimana bisa aku memafkannya huh ?! mengingat gadis itu saja sudah membuatku benar-benar sakit kepala ! apa suamimu begitu lemah ? sehingga untuk mengurus gadis itu saja tidak bisa !"
"Ya, aku akui, kami sedikit lemah dengan gadis itu. Tapi kali ini, tolong ! biarkan kami benar-benar menyelesaikannya."
Tak ada jawaban.
Aku mohon Ran, sekali lagi, tolong beri kami kesempatan sekali lagi !" Pintanya, ia kemudian menurunkan kedua lututnya di lantai.
"Apa yang kau lakukan ? jangan seperti ini, bagaimana jika Rena melihatmu ?!" Seru Rani
Namun Mariah tak bergeming, tangannya menggenggam eras sisi gaunnya, lututnya tak kunjung meninggalkan lantai yang dingin.
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan sekali lagi ! tapi, aku ingin meminta satu hal darimu !" Ucap Rani
"Apa itu ? katakan ! apa yang kau inginkan dariku ?" Tanya Mariah dengan semangat
"Pertama, kembalilah ke tempat dudukmu, aku tidak ingin Rena sampai melihatmu berlutut seperti itu !" Perintah Rani
Mariah yang mendengar ucapan Rani tersenyum dan berdiri kembali ke tempat duduknya.
"Sekarang, cepat katakan, apa yang kau inginkan ?" Tanya Mariah antusias
"Aku ingin pertunangan Rena dan Rangga secepatnya di laksanakan,dan untuk lima bulan ke depannya, aku ingin segera melaksanakan upacara pernikahan untuk mereka !"
Mariah yang mendengar keinginan Rani hanya bisa membolakan matanya. Ia tidak percaya kalau Rani akan benar-benar memberinya kesempatan dengan syarat seperti itu.
"Bagaimana ? apa kau setuju ?" Tanya Rani
"Owh, tentu ! tentu saja ! aku bahkan merasa sangat bahagia saat ini." Jawab Mariah
"Baiklah, kalau begitu, pesta pertunangannya akan di laksanakan minggu depan !"
"Secepat itu ?" Tanya Mariah semakin terkejut dengan keputusan Rani.
"Mengapa ? apa kau keberatan ?" Tanya Rani
"Tidak, tidak sama sekali !
Em, baiklah, kalau begitu, aku permisi dulu. Aku tidak sabar ingin memberitahu John kabar gembira ini." Jawab Mariah dengan senyum yang merekah.Ia meraih tasnya dan berdiri menghadap Rani
"Terima kasih ya Ran !" Sambil memeluk erat Rani
"Hemm.. !" Jawab Rani singkat mengelus pelan pundak Mariah.
"Kalau begitu aku akan pergi !" Ucap Mariah melepaskan pelukannya dan cipika cipiki pada Rani.