
"Siang Pak !" Sapa seorang pria muda pada atasannya yang sedang membelakanginya.
"Mengapa kau baru menghadap padaku ? apa tugas yang aku berikan padamu begitu sulit ? sehingga membutuhkanmu beberapa waktu untuk menyelesaikannya." Tanya Pria itu berdiri menatap pemandangan dari jendela besar dalam kantornya.
"Apa kau sudah menjalani tugas yang aku berikan ?!" Imbuhnya.
"Sudah pak !" Jawab sang bawahan.
"Maaf jika aku sedikit terlambat, itu semua karna wanita itu sangat jarang keluar rumah." Imbuhnya.
"Jelaskan, apa wanita itu benar-benar hamil ? dan apakah mereka masih berhubungan ?!" Tanyanya mengintimidasi.
"Benar Pak ! wanita itu kini telah hamil, dan usia kandungannya sekarang telah menginjak sekitar Enam-Tujuh Bulanan. Sedangkan dengan Tuan Rangga, dia hanya sibuk dengan bisnis keluarganya.
"Ternyata apa yang dikatakan teman Rena memang benar." Lirih Jaya
"Anda bisa melihat hasil percakapan mereka disini, Sambil memberikan map yang berisikan lembaran-lembaran foto chat antara Monica dan Rangga.
Aku telah menyewa seorang hacker untuk meretas ponsel milik Tuan Rangga." Jelasnya.
Jaya segera meraih map itu dan membuka tiap lembaran, ia melihatnya dengan seksama.
"Apa kau bisa menyuruhnya untuk menggali informasi lebih dalam ? bisakah dia meretas hasil percakapan mereka berdua saat Tujuh Bulan yang lalu ? tepatnya saat putriku belum bertunangan dengan anak itu." Pinta Jaya.
Aku harus mengetahui, kapan tepatnya mereka melakukannya, dan anak itu mempermainkan putriku." Imbuhnya
"Baik pak !"
"Dan bagaimana dengan Perusahaan Aberald ? apa kau sudah mengetahui siapa yang selama ini bermain di Perusahaannya ?"
"Setelah Tuan Rangga bergabung, Perusahaan itu sedikit mengalami kemajuan dan pemain itu adalah Tuan Gilbert, sahabat Tuan Aberald sendiri, yang tidak lain adalah Ayah dari Monica." Jelas Rendi, Asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan milik Atmajaya.
Rendi sendiri sebenarnya adalah anak yatim piatu yang telah di asuh secara rahasia oleh Atmajaya. Ia bahkan di sekolahkan di luar Negri dan mendapatkan pendidikan yang tinggi sampai ia akhirnya kembali ke kota itu dan membantu segala urusan bisnis keluarga Atmajaya.
Rani dan juga Rena tidak mengetahui hal tersebut, dikarenakan Jaya benar-benar ingin menyembunyikan status Rendi. Keberadaan Rendi adalah senjata rahasia milik Atmajaya.
Alasan Atmajaya sendiri karna ia tahu kalau putrinya tak akan mau dan sanggup menggantikan posisinya kelak. Kalaupun Rena akan menikah, ia tidak akan bisa percaya begitu saja pada calon menantunya.
"Terima kasih Rendi ! kau sudah bekerja sangat keras akhir-akhir ini." Ucap Jaya yang kini telah berbalik menatap Rendi, kemudian menepuk pundaknya.
"Aku melakukannya untuk adikku !" Jawab Rendi dengan senyum.
"Terima kasih !" Ucap Jaya dan membalas senyuman Rendi.
•••
Di malam harinya.
"Ayah pulang.. !" Ucap Pria itu yang kini telah menginjak umur Empat Puluh Tahun. Ia terus berjalan memasuki ruangan, dimana ia biasa merebahkan punggungnya ketika pulang dari kantor.
"Sayang !" Sapa sang Istri menyambut hangat Suaminya.
"Ekhem.. apa kau sudah tidak dingin lagi ?" Tanya Pria itu mencoba mempermainkan wanitanya.
"Dingin ? apa maksudmu ? aku sama sekali tidak pernah merasa dingin !" Jawab Rani yang tidak mengerti.
Mendengar perkataan suaminya, Rani hanya bisa tersenyum malu, ia menyadari akan dirinya yang beberapa hari ini benar-benar telah mengabaikan suaminya.
Dengan cepat ia duduk di sebelah suaminya, dan memijat pelan lengan prianya.
"Maafkan aku !" Ucapnya singkat.
"Tapi kau sudah berutang banyak padaku !" Ucap Jaya.
"Baiklah, aku akan membayar semuanya, asal kau memafkanku !"
"Bagaimana caramu membayarnya ? apa kau tahu apa saja hutangmu ?!"
"Sebagai Istrimu, tentu saja aku mengetahuinya."
"Benarkah ?!"
"Em'hem !
Sini, biarkan aku menyimpan tas dan jasmu. Ucap Rani, sambil meraih jas dan tas milik Jaya.
Bersihkan dirimu, Putrimu sudah menyiapkan makan malam untukmu sedari tadi." Imbuhnya
Jaya yang mendengar ucapan Istrinya hanya bisa tercengang dan menaikkan sebelah alisnya, ia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Sejak kapan anak itu bisa memasak ?" Tanyanya.
"Aku juga tidak tahu, selama ini ia menyembunyikan bakatnya dalam memasak." Ucap Rani dengan senyum.
"Apa dia baik-baik saja ? maksudku apa dia sehat ? dia tidak keluar dari kamarnya selama tiga hari." Tanya Jaya yang kini telah berdiri membuka dasinya.
"Kau harus tahu, anakmu itu benar-benar sudah sangat keterlaluan, selama ini ia terus membuatku khawatir.
Apa kau tahu, pertama kali aku masuk di kamarnya, aku menemukan banyak sampah plastik pembungkus makanan dan susu di dalam kamarnya. Ternyata ia sudah menyediakan segalanya sebelum ia memulai kenakalannya." Ucap Rani sembari membuka kancing kemeja Suaminya.
"Dia memang anak yang jenius !" Ucap Jaya sedikit membuat senyuman di bibirnya.
"Apa kau baru saja memuji Putrimu atas permainannya ?!" Tanya Rani bingung.
"Lalu aku harus apa ?"
"Hmmp inilah akibat karna kau terlalu memanjakan Putrimu." Pasrah Rani.
"Bukan hanya aku, tapi juga dirimu !"
Mereka berdua kini saling bertatapan dan detik kemudian mereka tertawa kecil bersamaan.
"Mau bagaimana lagi, dia anak kita satu-satunya !" Ucap Rani
Jaya hanya mencium jidat Istrinya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Rena yang sudah selesai menata meja makan untuk kedua orang tuanya, segera. melanjutkan aktivitasnya di ruang kerja Ayahnya.
Dengan cepat ia membuka beberapa berkas yang belum terselesaikan dan menarikan jari-jemarinya diatas keyboard laptop milik Ayahnya. Anggap saja itu adalah sebuah permintaan maaf untuk Ayahnya atas kenakalannya.