Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Quality Time



Setelah kepergian Mariah, Rani memilih melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda, menyusun cake kedalam tupperware yang akan di bawanya ke kantor.


Sebelum memutuskan untuk pergi,ia terlebih dahulu menghubungi suaminya.


Tuut.. Tuut..


"Halo sayang !" Ucap lelaki di ujung telpon.


"Ya, kau ada dimana ?!" Tanya Rani


"Tentu saja aku berada di kantor ! kenapa ? apa kau merindukanku ?" Ucap Jaya menggoda Istrinya.


"Hey ! kau menggodaku ?" Tanya Rani sedikit malu.


"Hahaa ! sejak kapan aku menggodamu ? bukankah setiap hari kau memang merindukanku ?" Sahut Jaya sambit tertawa.


"Hmmp, aku akan ke kantormu ! jadi jangan ke mana-mana ! tunggu aku !"


"Baiklah, aku akan menunggumu !" Jawab Jaya.


Tut. Telpon terputus.


"Bundaaa !" Seru Rena sambil berjalan mendekati Ibunya.


"Ada apa sayang ?" Tanya Rani


"Apa Tante Mariah sudah pulang ?" Tanya Rena, sambil melihat ke arah ruang tamu


"Iya, Tante Mariah ada urusan mendadak !" Jawab Rani.


Rena menyudutkan bibirnya mengerti. Dan kembali menatap Ibunya.


"Apa Bunda bertengkar dengan Tant Mariah ?!" Tanya Rena menatap Ibunya lebih tajam.


"A-apa ma-k-sud-mu ?" Suara Rani sedikit meninggi dan terbata. Ia terkejut dengan pertanyaan Rena, ("Apa dia mendengarnya")


Rena menjauhkan wajahnya dan sedikit terkekeh


"Mengapa Bunda seserius itu ? aku hanya bercanda !" Sahut Rena,namun ia masih menatap Ibunya penuh curiga.


"Dasar anak nakal, apa kau ingin membuat Bunda jantungan ?!" Seru Rani sambil memukul pantat anaknya.


Pak ! Pak !


"Aaaw !" Seru Rena


"Mengapa Bunda terlalu menanggapinya ? apa yang aku katakan benar ?" Tanya Rena


"Hey ! apa kau betul betul ingin melihat Bunda marah !" Seru Rani yang ingin kembali memukul putrinya.


"Tidak, tidak ! aku akan pergi !" Seru Rena sambil berlari menjauhi Ibunya.


"Rena ! Bunda akan ke kantor Ayah !" Teriak Rani yang melihat punggung anaknya menjauh.


"Baiklah !" Jawab Rena yang terus melanjutkan langkah kakinya.


•••


Wanita itu berjalan memasuki gedung perkantoran suaminya. Semua kariawan yang berpapasan dengannya, akan menundukkan kepala memberi hormat. Wanita yang umurnya yang kini sudah menginjak 38 Tahun masih terlihat segar dan cantik. Dengan pakaiannya yang berwarna biru navy di lengkapi beberapa aksesoris yang melekat ditubuhnya. Menampilkan bahwa dirinya adalah seorang Nyonya yang berkuasa ! berkuasa atas Suaminya.


Karna di balik kesuksesan suami, ada seorang Istri yang tangguh dan selalu setia menemaninya.


"Siang Bu !" Sapa sekertaris Sena pada Rani.


"Siang ! apa Bapak sedang berada di ruangannya ?" Tanya Rani dengan senyum.


"Bapak sedang meeting dengan beberapa klien, beliau berpesan agar Ibu menunggu sebentar di ruangannya !" Jawab Sena dengan senyum dan ramah.


"Baiklah, oh ya, tolong bagikan ini untuk pegawai lainnya !" Sambil menunjuk ke arah lelaki yang sedang membawa dua bungkusan kantong plastik besar di kedua tangannya.


"Wah, apa Ibu membawa cake ?" Tanya Sena dengan senag.


"Ya !


Kalau begitu, aku akan masuk ke ruangan Bapak !" Imbuhnya


"Baik Bu !" Sahut Sena dan segera meraih kantong plastik dari tangan Pak Joko.


Rani kemudian melangkah memasuki ruang kerja suaminya, beberapa saat kemudian, Jaya kembali dari ruang rapat dan segera menemui Istrinya.


Ceklek


Pintu terbuka, dan di tutup kembali.


"Hai sayang ! apa aku sudah membuatmu menunggu lama ?" Sapa Jaya berjalan dan memeluk Istrinya.


"Tidak juga !" Jawab Rani singkat.


"Katakan ! apa yang membuatmu kemari ?" Tanya jaya, memegang kedua bahu Istrinya dan menatapnya.


"Apa aku tidak bisa berkunjung di kantor Suaminku sendiri ?" Tanya balik Rani, membalas tatapan Suaminya.


"Baiklah, ayo duduk dulu ! kau pasti lelah !" Ucap Jaya, menggiring istrinya duduk di sofa.


Hening, Jaya hanya menatap istrinya dengan seksama. Ia merangkul kakinya dan menopang dagu dengan tangan kanannya, memainkan jari telunjuk di bibirnya. Ia masih menunggu Istrinya untuk mengatakan sesuatu tanpa mempertanyakannya.


"Aku sudah memutuskan untuk segera melaksanakan acara pertunangan Rena minggu depan !"


Jaya sedikit terkejut mendengar ucapan Istrinya, namun ia tidak mempertanyakannya. Ia tahu, kalau Istrinya sudah memikirkannya dengan cermat,sebelum membuat keputusan.


"Lalu ? apa kau sudah memberi tahu mereka ?" Tanya Jaya


"Ya ! tadi pagi Mariah datang kerumah, memohon agar memberi mereka satu kesempatan lagi !" Jawab Rani


Jaya menganggukkan kepalanya mengerti. Namun demikian, pikirannya masih berputar untuk masalah ini.


"Apa Rena sudah mengetahuinya ?" Tanya Jaya kembali


"Belum, aku belum sempat memberitahunya." Jawab Rani.


"Baiklah, kita akan bicarakan ini setelah aku pulang ke rumah !" Ucap Jaya


"Apa kau ingin meminum sesuatu ?" Tanya Jaya kembali, dan meraih tangan Istrinya.


"Tidak, aku akan segera pulang !" Jawab Rani beranjak dari duduknya.


"Bagaiman kalau kita makan siang di luar ? sudah lama kita tidak makan di luar berdua !" Ajak Jaya yang juga beranjak dari duduknya, dan merangkul pundak Istrinya.


Rani menyilangkan kedua tangannya di dada dan melirik suaminya horor.


"Apa kau mengajakku kencan ?" Tanya Rani


"Yaaa, boleh dibilang seperti itu ! aku juga ingin memiliki waktu yang berkualitas denganmu !" Jawab Jaya sedikit molenggoda


Rani tak bisa tidak menahan senyum yang ingin merekah dari bibirnya.


"Apa kau tidak pernah berfikir kalau kau sudah sedikit tua untuk melakukan hal seperti itu ?"


"Apa kau baru saja meremehkan keromantisan Suamimu ?" Tanya Jaya memicingkan matanya menatap Rani.


"Baiklah sayangku, aku menginginkan kencan seperti kencan pertama kita !" Jawab Rani dan merangkul lengan Suaminya.


Jaya hanya bisa tertawa mendengar jawaban Istrinya.


Mereka memang sudah sedikit tua, tapi bukan berarti hal itu akan mengurangi keromantisan mereka dalam cinta dan membangun rumah tangga yang bahagia.


Bukankan seharusnya semakin kita menua, semakin kita harus menunjukkan cinta yang besar pada pasangan kita ? Cinta dan keromantisan bukan hanya dinikmati saat kita berusia muda tapi juga di saat usia kita semakin menua.


Jangan biarkan hidupmu yang semakin menua terasa hampa karna kurangnya rasa cinta ! Bukankah Cinta dan keromantisan yang membuat hidup di usia muda anda menjadi terasa lebih bahagia dan bermakana ?


Tidak ada salahnya melakukan hal-hal seperti saat kita muda di saat kita menua. Setidaknya, dengan begitu kita akan terus merasa bahagia bersama pasangan.