Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 116



Tok, tok, tok


"Masuk." Titah Ferdi yang tersadar dari lamunannya dan menatap pintu yang terbuka secara perlahan.


"Kakak !" Ucapnya beranjak menyambut kedatangan saudara perempuan yang sering di panggil Ibu oleh Arka.


"Apa aku mengganggu waktumu ?" Tanya wanita itu dengan senyum lembut yang ia tampilkan.


"Oh, tentu saja tidak.


Kebetulan sekali, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Jawabnya mempersilahkan duduk.


"Ada apa ? kelihatannya sangat serius." Ucap wanita itu masih setia berdiri menatap penuh tanya ke arah Ferdi.


"Sebaiknya kakak duduk dulu."


.


"Ini tentang Arka." Ucap Ferdi memulai percakapan.


"Ada apa dengannya ?" Tanya wanita itu terkesan santai dan lembut.


"Apa kakak belum mengetahuinya ?" Tanya Ferdi.


"Tentang Apa ?!"


"Dia akan menikah dengan gadis itu !"


"Lalu mengapa ?"


Ferdi mengerutkan alisnya.


"Mengapa ? kak, gadis itu keluarga dari Emira. Bagaimana jika Arka mengetahuinya ?"


"Apa masalahnya ? bukankah itu hal baik. Lagipula dia sangat mencintai Rena." Jawab wanita itu dengan lembut.


"Apa kakak mengenalnya ?" Tanya Ferdi tidak menyangka.


"Ya, aku sudah sangat lama mengenalnya."


Ferdi memicingkan matanya, setelah mendengar ucapan kakaknya, timbul beberapa pertanyaan di benaknya.


Sejak kapan ?


Bagaimana bisa ?


Mengapa selama ini tidak pernah memberitahunya ?


"Apa kakak tidak keberatan ?" Tanyanya kemudian.


"Tidak, aku bahkan sangat senang jika mereka benar-benar menikah. Rena gadis yang baik dan juga ramah, mereka bahkan memiliki profesi yang sama. Seharusnya kau senang karena Arka akhirnya akan menikah." Jawab wanita itu terdengar sangat mendukung.


"Aku tidak setuju !!"


"Mengapa ? apa karna dia berasal dari keluarga Lion ?"


"Kakak tahu sendiri, aku sudah sangat marah saat dia memutuskan untuk mengikuti agama Ibunya, dan sekarang dia juga ingin menikah dengan keluarga Ibunya. Aku tidak ingin dia berakhir berubah menjadi seorang monster seperti keluarga itu." Jelas Ferdi.


Aku bahkan berusaha menjodohkannya dengan putri Elianor, agar dia dapat berubah." Imbuhnya.


Wanita menaikkan alisnya sebelah.


"Berubah ? apa maksudmu ? apa kau berencana untuk menghasutnya agar mengikuti agama kepercayaan kita ?"


Ferdi terdiam.


Wanita itu terlihat menghela nafasnya kasar.


"Cobalah untuk mengerti keinginan putramu, kau tidak bisa terus-menerus mengekang dan menuntutnya seperti ini.


Inilah sebabnya mengapa kalian tidak pernah akur dan terus bertengkar. Kau tidak pernah mau menerima Dan menghargai setiap keputusan yang ia buat."


"Tapi kak, aku melakukan semua itu demi kebaikannya."


"Mungkin menurutmu seperti itu, tapi belum tentu baik menurut Arka. Lagipula dia sudah dewasa, biarkan dia memutuskan sendiri apa yang menjadi keinginannya."


Ferdi terdiam, dan menyadari dengan semua perlakuannya selama ini terhadap putranya.


"Dia tertekan olehmu selama ini, dia haus akan cinta, cinta yang tidak pernah ia dapatkan dari Emira maupun dirimu. Dan itu ia dapatkan dari Rena.


Apa sekarang kau juga ingin merebutnya ?!"


Ferdi benar-benar kehabisan kata-kata. Semua yang dikatakan kakaknya menyadarkannya, betapa kerasnya ia pada Arka, bahkan di saat umur empat tahun, sejak ia berpisah dengan Emira. Sejak saat itu tidak ada senyum yang ia layangkan pada putranya bahkan sekedar bercengkrama pun enggan.


Ia tidak menyangka, perlakuannya selama ini berdampak buruk pada emosi putranya. Dan sekarang ia menyesali betapa buruknya ia sebagai seorang Ayah, yang hanya memikirkan pekerjaan dan ego sendiri.


Wanita itu terus memperhatikan Ferdi yang terdiam dalam penyesalan. Membuat hatinya merasa lega, ia kemudian melirik menatap jam yang melekat di pergelangan tangannya.


"Baiklah, aku pergi dulu." Ucapnya sembari meraih tas jinjingnya.


Membuat Ferdi kembali tersadar dari lamunannya.


"Mengapa cepat sekali ? bukankah kakak datang kesini karna ingin mengatakan sesuatu ?" Tanyanya.


Wanita itu tersenyum.


"Sebenarnya aku hanya mampir, kebetulan tadi aku habis check up."


"Mengapa tidak memberi tahu ? bukankah aku sudah menyewakan seorang dokter untuk merawat kakak ?"


Lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum lembut.


"Aku bosan, kau dan Arka juga tak pernah ada waktu untuk mengunjungiku. Jadi aku berinisiatif sendiri untuk datang kesini dan sekaligus menemui kalian berdua."


Ferdi menganggukkan kepalanya mengerti.


Wanita itu terlihat tersenyum senang sembari menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Pamitnya yang di iakan oleh Ferdi.


•••


Di tempat yang berbeda, Dicky yang mengetahui kedua sahabatnya telah di sekap, memulai menyusun strategi dan satu persatu menumbangkan penjaga dengan caranya sendiri.


Sedangkan Rangga dan Reno masih setia mendengarkan curhatan dari seorang lelaki tua yang telah kehilangan putri tercintanya.


"Sekarang apa mau om ?!" Tanya Rangga yang sudah merasa capek dan kesal.


Gilbert terlihat tersenyum menyeringai menatap Rangga yang bersungguh-sungguh.


"Aku menginginkan perusahaanmu !!"


Mendengarnya, membuat mata Reno dan Rangga seketika membola.


"Apa aku tidak salah dengar ?" Tanya Reno.


Gilbert bergeming seakan tak peduli dengan apa yang di fikirkan kedua pria tersebut.


"Apa perusahaan papah belum cukup ?!" Kesal Rangga.


Gilbert membanting majalah di atas meja yang baru saja di sodorkan padanya dari salah satu bawahannya.


"JA Group telah jatuh dan terancam tutup. Aku tidak bisa lagi menyelamatkannya, kecuali..."


Rangga menatap Gilbert menelisik.


"Kecuali ?"


"Kecuali kau bergabung kembali dan membawa perusahaanmu untuk mendukung dan membayar semua pinjaman yang telah di lakukan oleh perusahaan."


Rangga tertawa geli mendengar jawaban Gilbert, ia tidak menyangka bahwa orang yang dulu yang sangat ia hormati ternyata adalah seorang yang licik dan pemeras.


"Apa om berencan membuat perusahaanku bangkrut karna menanggung semua hutang yang om sebabkan ?" Tanya Rangga menyeringai.


Gilbert tersenyum.


"Apa salahnya ? lagi pula bukankah perusahaan itu sebelumnya adalah perusahaan keluargamu ?"


Entah mengapa, setiap perkataan Gilbert membuat Rangga semakin jijik dan muak.


"Aku tidak ada hubungannya lagi dengan perusahaan itu. Aku tidak peduli jika perusahaan itu bangkrut dan tutup." Jelas Rangga dengan tegas.


"Lalu bagaimana dengan Ayahmu ? apa kau tidak takut jika hal itu mengganggu kesehatannya ?


Aku tahu benar, bagaimana Ayahmu mencoba mempertahankan perusahaan itu yang sudah menjadi turun-temurun di keluargamu." Ucap Gilbert mencoba mengancam secara lembut.


Perlahan Rangga terlihat ragu. Membuat Reno cemas menatap Rangga dan menunggu apa yang menjadi keputusannya.


("Aku mohon Rangga, jangan kecewakan aku kali ini !!") Batinnya cemas.


Sedangkan Gilbert yang melihat kegoyahan dimata Rangga akhirnya tersenyum riang di benaknya.


"Aku tahu, kau pasti sangat berat melepaskan perusahaan yang telah kau bangun dengan susah payah. Aku bahkan terkesan dengan pekerjaan temanmu yang mampu menggoyahkan istana Atmajaya hanya dalam waktu kurun 2 tahun.


Oleh sebab itu, aku berencana untuk menjadikannya sebagai asisten pribadiku !!" Ucapnya sembari menatap Reno dengan senyum mengerikan.


Setelah mendengar hal itu, Rangga akhirnya tersadar dan menegaskan dirinya sendiri, apa pun yang terjadi, dia tidak akan mengecewakan atau mengorbankan sahabatnya yang telah membantunya selama ini.


Ia kemudian tersenyum, membuat Gilbert sedikit bingung dengan arti senyuman itu.


"Aku tidak peduli ! dan aku tidak akan pernah memberikan temanku kepada orang yang tidak tahu diri seperti anda !!" Ucapnya lantang.


Reno yang mendengarnya tersenyum terharu menatap sahabatnya tersebut. Baru kali ini ia melihat kesungguhan Rangga dalam mengambil keputusan untuknya.


Membuat bawahan Gilbert yang berdiri di sekitarnya marah dan menodongkan pistol ke arahnya.


Gilbert hanya bisa tertawa mendengarnya.


"Tidak perlu terburu-buru, aku akan memberimu waktu untuk berfikir." Rayunya.


Namun ia tidak menyangka, kalau Rangga akan benar-benar menolak ajakannya.


"Aku tidak perlu waktu untuk berfikir, bagiku perusahaan itu adalah simbol dari persahabatan kami, dan aku tidak akan pernah mau bekerja sama dengan orang licik seperti anda !!" Ucap Rangga sembari berdiri dan disusul oleh Reno.


"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain !" Ucap Gilbert menyeringai.


Bawahan yang menodongkan senjata pada mereka segera mendekat, dan ingin membawa mereka ke suatu tempat, akan tetapi Reno dan Rangga berusaha memberikan perlawanan membuat pistol mereka terjatuh sehingga memicu keributan membuat bawahan yang lainnya ikut masuk untuk membantu.


Ruangan yang sebelumnya terlihat kosong tak berpenghuni kini telah dipenuhi oleh bawahan Gilbert yang siap memberi mereka pelajaran.


Reno dan Rangga yang melihat mereka yang semakin bertambah, hanya bisa saling menatap dengan sedikit kecemasan yang tersirat di wajah mereka.


Sedangkan Gilbert, ia hanya tersenyum santai memangku kaki menatap kedua orang tersebut yang mencoba untuk bertahan dan ingin menyelamatkan diri.


Suasana sedikit mencekam, Reno dan Rangga tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Ketika semua pistol telah di arahkan kepada mereka.


Namun ia tidak pernah menyangka, di luar dugaan Dicky yang memanfaatkan situasi ini merasa sedikit senang karna tidak harus merobohkan satu persatu penjagaan Gilbert.


Dengan cepat ia mengambil bom asap yang telah ia selipkan di pinggangnya, ia kemudian membakar lalu menggelindingkannya ke ruangan tersebut.


Rangga dan Reno yang sudah sering melihat benda itu segera menutup hidung mereka secara bersamaan, sedangkan yang lainnya masih terheran dan mencoba mencari sumber asap tersebut.


Melihat mereka yang mulai jatuh satu persatu di tengah kepungan asap, Reno dan Rangga memanfaatkan situasi itu untuk menyelinap dan kabur.


"Tutup hidung kalian !!" Titah Gilbert menyadari dengan berteriak sangat keras.


Semuanya mencoba untuk menutup hidung, namun sayang, semuanya terlambat.Mereka sudah terlalu banyak menghirup asap beracun tersebut membuat mereka tumbang secara bersamaan.


Gilbert yang mengetahui situasinya sudah berubah dan tidak melihat keberadaan Rangga dan Reno lagi, segera berlari keluar dan mencoba untuk mengejar.