Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Sahabat Rasa Saudara 2



Saat di dalam mobil, ketiga gadis itu sesekali tertawa oleh gurauan dari mereka masing-masing, namun tiba-tiba suara ponsel Rena yang berdering membuat mereka seketika terdiam. Perlahan Rena menyentuh layar ponselnya.


"Halo ?" Ucapnya


"Kau dimana ?" Tanya Rangga tanpa berbasa-basi.


"Aku sedang dalam perjalanan."


"Kau mau kemana ?"


"Hmmp bukankah aku sudah mengatakannya padamu pagi tadi ? kenapa akhir-akhir ini kau jadi sangat berlebihan ? aku hanya ingin menghabiskan masa lajangku bersama kedua sahabatku !" Jawab Rena sedikit kesal, ia merasa kalau empat bulan terakhir ini, Rangga terlalu posesif dan selalu ingin mengekangnya.


"Maafkan aku, aku hanya khawatir kalau terjadi sesuatu denganmu ! pernikahan kita akan segera di selenggarakan. Aku hanya takut kalau kamu terluka atau semacamnya." Jelas Rangga


Rena menghela nafasnya ringan.


"Tidak akan terjadi apa-apa ! aku akan baik-baik saja, jangan terlalu berlebihan !" Ucapnya pelan.


"Tidak bisa, aku harus terus mengetahui keberadaanmu ! dengan begitu, aku akan merasa tenang."


"Baiklah, baiklah Tuan ! aku akan sharelock lokasiku saat aku tiba !" Jawabnya pasrah.


"Terima kasih, akan ku tunggu !"


"Em, kamu sendiri sedang dimana ?"


"Aku sedang di kantor Papah ! setelah pekerjaanku selesai, aku akan segera menyusulmu !"


"Um oke !"


Tut. Telpon terputus.


Anggi yang sedang mengemudi, sesekali memperhatikan Rena di kaca yang ada di depannya.


"Ada apa Ren ?" Tanyanya


"Tidak ada, Rangga hanya menanyakan keberadaanku !"


"Bukankah, kau sudah memberitahunya kalau kita akan pergi bersama ?"


"Ya, aku memang sudah memberitahunya sebelum pergi."


"Lalu ? mengapa dia masih menanyakan keberadaanmu ? bukankah itu terlalu berlebihan ? bagaimana jadinya jika kalian telah menikah ? mungkin kita tidak akan di bolehkan lagi mengajakmu keluar !" Ucap Anggi yang sedikit memprovokasi, ia sudah terlalu muak mendengar nama Rangga.


Mendengar perkataan Anggi, Tika tiba-tiba berseru dan ikut angkat bicara.


"Huh ! itu benar ! aku telah mendengar beberapa temanku yang merasa kesal dengan suami mereka yang terlalu posesif dan mengekang, bahkan mereka merasa menyesal karna memilih menikah muda dan akhirnya tidak bisa menikmatinya setelah menikah !"


"Oh, ayolah ! kalian jangan menakutiku seperti itu !" Jawab Rena


"Aku dan Tika tidak bermaksud untuk menakutimu Ren, hanya saja kami takut kalau pada akhirnya keputusanmu untuk menikah muda berakhir dengan sebuah penyesalan !" Ucap Anggi


"Um betul tuh kata Anggi !" Sambung Tika


"Ya mau bagaimana lagi ? aku tidak ingin terpisah jauh darinya, aku takut kalau dia menunggu lama, wanita lain akan mengambilnya dariku ! kalian juga tahu, kalau aku begitu sangat mencintainya. Aku tidak akan pernah merelakannya pergi dengan wanita lain !" Papar Rena


"Hmmp kalau sudah tentang cinta, walau apapun yang aku katakan, kamu pasti tidak akan pernah mendengarkannya !" Ucap Anggi sedikit kesal.


"Kenapa kau berkata seperti itu ?" Komplen Rena.


"Iya, kau tidak biasanya seperti ini !" Sambung Tika yang juga kini menyadari akan tingkah Anggi yang sedikit berubah, Anggi yang dulunya diam dan hanya selalu menspeport hubungan Rena, kini berubah menjadi sedikit Jeles dan bahkan setiap katanya mengandung provokasi.


"Apa maksud kalian aku berubah ? aku sama sekali tidak berubah !" Tutupnya, tak ingin diketahui.


"Benarka ? atau,, apa mungkin kau telah menyembunyikan sesuatu dariku dan Tika ?" Tanya Rena dengan menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menyandarkan punggungnya di sandaran jok, dan menatap tajam ke arah kaca yang memantulkan wajah Anggi.


"Uh, itu-!"


Trrruuk !


Anggi tiba-tiba merem mendadak mobilnya, dan membuat kepala Tika dan Rena terbentur di sandaran jok yang ada di depannya.


"Aww !" Rintih Tika dan Rena bersamaan.


"Apa kalian baik-baik saja ?" Tanya Anggi membalikkan tubuhnya dan menatap kedua sahabatnya yang duduk di belakang.


"Kepalaku sakit tau !" Seru Tika


"Maafkan aku Tika ! Ren, apa kau baik-baik saja ?"


"A-huh ! aku baik-baik saja, hanya saja kepalaku sedikit pusing." Sambil memijat pelipisnya


"Uh, itu, aku baru menyadari kalau sejak tadi, kita telah di ikuti oleh mobil hitam yang berada di belakang kita." Jawab Anggi sedikit khawatir.


"Huh ! benarkah !" Seru Tika panik


"Lalu mengapa kau berhenti ? seharusnya kau terus mengemudikan mobilmu dan menghindari mobil di belakang kita, bukan malah berhenti mendadak seperti ini." Ucap Rena sedikit kesal atas tindakan ceroboh dari Anggi.


Tiba-tiba seorang pria dan berbadan kekar yang berseragam hitam lengkap dengan kacamatanya, mendekati mobil mereka.


"Ren, bagaimana ini ? seseorang sepertinya menuju ke arah kita." Ucap Anggi sedikit takut sambil terus melirik ke arah spion mobilnya.


Tok tok tok


Pria itu mengetuk kaca mobil Anggi.


"Bagaimana ini ?" Anggi semakin panik.


"Jangan di buka !" Pekik Tika


Namun, pria di luar itu masih terus mengetuk kaca mobil mereka. Rena yang dari tadi memperhatikan pria yang berdiri di luar itu, merasa bahwa pria itu bukanlah orang jahat. Rena memberanikan dirinya untuk menurunkan kaca yang di sampingnya.


"Ren ! apa kau sudah gila !" Cegah Tika


"Tidak apa, sepertinya dia bukan orang jahat. Ucapnya masih sedikit waspada.


Ada yang bisa kami bantu ?" Tanyanya pada Pria kekar itu.


"Uh, apa Nona baik-baik saja ?" Tanya Pria itu sedikit membungkuk.


Awalnya Rena hanya menatap heran pada Pria itu.Pikirnya, kalaupun pria itu adalah bawahan ayahnya, pasti ia sudah mengenalinya. Tapi, pria itu terasa asing baginya.


"Maaf Nona, mungkin saya sedikit menakuti Nona. Tapi saya mendapat perintah dari Tuan muda Rangga untuk terus mengawasi Nona." Jelas Pria itu.


Mendengar hal itu, ketiga Gadis itu akhirnya terlihat bernafas lega.


"Kau bisa kembali sekarang ! berhentilah untuk terus mengikutiku !" Perintah Rena


"Maaf Nona, saya hanya bisa menerima perintah dari Tuan Muda Rangga saja !" Ucap Pria itu datar


Ppfffft..


Tika tidak bisa menahan tawanya, karna melihat Titah Rena di tolak dengan cepat oleh Pria kaku itu.


Rena hanya memasang wajah kesal. Dirinya merasa kesal akan Rangga yang bertingkah berlebihan terhadapnya. Ia melirik Anggi di kaca depan dan memberi kode agar segera menjalankan Mobilnya.


Anggi dengan cepat melajukan mobilnya, dan menyalib beberapa kendaraan yang ada di depannya,kemudian masuk ke dalam salah satu lorong untuk bersembunyi dari orang suruhan Rangga.


"Huuft akhirnya.. !" Lega Tika


"Ren ! ini fix ya, Rangga pasti telah menyembunyikan sesuatu darimu, hingga ia terus mengawasimu seperti ini !" Ucap Anggi


"Apa maksudmu ?" Tanya Rena sedikit bingung.


"Bukankah, akhir-akhir ini Rangga terlalu berlebihan ? dia bahkan menyuruh orang untuk terus mengawasimu !"


"Hmmp sepertinya yang berlebihan itu kamu ! sejak kemarin kau seakan terus memojokkan Rangga ! apa kau memiliki masalah dengannya ?" Tanya Rena yang mulai sedikit kesal dengan Anggi.


"Loh, mengapa kau jadi nyolot denganku ? aku hanya peduli padamu Ren !" Tekannya


Melihat Anggi dan Rena yang sudah mulai sedikit memanas, Tika segera melerai mereka.


"Aduh ! sudah dong ! mengapa kalian jadi bertengkar seperti ini sih ! Tujuan kita tuh pergi untuk bersenang-senang, bukan untuk berdebat seperti ini !" Serunya menengahi kedua sahabatnya.


Anggi dan Rena yang mendengar perkataan Tika hanya bisa terdiam.


Hening


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Rena dan Anggi kini saling berpandangan dan kemudian bersama melirik Tika yang masih memasang ekspresi bingung di wajahnya, karna diamnya kedua sahabatnya. Dan akhirnya, mereka saling melirik satu sama lain.


Ppfffft.. Hahahaa


Ketiga gadis itu tiba-tiba melepas tawa karna sedikit ambigu dengan kejadian tadi yang tak mengenakkan. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya Rena dan Anggi saling berdebat. Dan Tika yang selalu bersifat kekanak-kanakan, kini untuk pertama kalinya, ia melontarkan kata-kata yang sedikit dewasa.