Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Mencari Kebenaran.



Setelah perdebatan yang panjang. Rena merasa lelah dan berakhir berbaring di pangkuan kakaknya, memikirkan kekonyolan yang baru saja ia lakukan.


"Sudahlah, tidak usah terlalu di fikirkan !" Ucap Rendy.


Rena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Bukankah aku terlalu bersikap konyol ? apa yang harus aku katakan padanya nanti jika bertemu ?"


"Pfffft... "Tawa Rendy mencoba menahan gelak tawanya.


Rena menatapnya kesal.


"Kau menertawakanku lagi ? apa kau belum puas dengan pukulanku ?! Sekali lagi kau tertawa, aku akan menyumpal mulutmu dengan cabai. " Umpat Rena kesal.


"Baiklah baiklah..!" Pasrah Rendy.


"Katakan padaku, Apa Arka benar mengatakan hal itu padamu ? maksudku apa kau yakin dia tidak berbohong ?" Tanya Rena kemudian.


"Tentu saja ! Aku percaya padanya. Kenapa ? apa kau tidak mempercayainya ?"


"Jujur saja aku masih sedikit ragu." Ungkap Rena.


"Mengapa ?" Tanya Rendy.


"Kalau dia benar-benar tidak melakukan sesuatu padaku, lalu bagaimana aku bisa memakai pakaian yang berbeda saat aku bangun ? bukan hanya itu, aku juga merasa rambutku sedikit lembab.Di tambah lagi kami berdua tidur bersama dan aku mendapatinya memelukku dengan seenaknya dengan dirinya yang tidak memakai busana sehelai pun." Jelas Rena.


Aku tidak tahu, apa saja yang telah ia lakukan padaku semalam." Imbuhnya.


Rendy mencoba mencerna segala penuturan adiknya. Yang di katakan Rena ada benarnya, ia tidak bisa percaya begitu saja pada Arka. Tapi jika benar Arka melakukan sesuatu yang buruk pada adiknya,dia bersumpah akan menghancurkannya hari ini juga.


"Kau tenang saja, aku akan mencari tahu."


Tapi, bukankah kau seorang dokter ?


Rena mengangkat alisnya sebelah, ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan kakaknya.


"Maksudku, bukankah kau seharusnya tahu kalau saat ini kau sudah tidak.. emm--" Rendy enggan melanjutkan kalimatnya.


Rena tertegun, matanya sedikit membulat,apa yang di katakan kakaknya ada benarnya.


("Mengapa aku tidak terfikirkan tentang hal itu ?") Batinnya.


Melihat ekspresi Rena, Rendy sedikit menghembuskan nafasnya ringan.


"Inilah sebabnya kau harus belajar bercinta. Kau tidak akan pernah bisa mengerti kalau hanya membaca sebuah teori." Ucap Rendy sedikit mengejek.


Rena terlihat menatap sinis namun ia menyadari perkataan Rendy ada benarnya.


"Entahlah, membicarakannya saja sudah membuatku geli, apalagi harus melakukannya ?" Lirih Rena.


Butuh beberapa detik, dia kembali teringat akan sesuatu dan kemudian bertanya.


"Tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau semalam aku berada di club malam ?" Tanyanya.


"Emm sebenarnya Bunda menelfonku menanyakan keberadaanmu."


Flash Back On


Pukul 24.30


Suara ponsel berdering dengan irama instrumen. Dan tentu saja suara itu telah membangunkan pemiliknya.


"Halo ?"


"Rendy, apa Rena bersamamu ?" Tanya Rani cemas.


Seketika Rendy tersadar dan melihat jam di atas nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Ia membulatkan matanya saat melihat jarum jam menunjuk angka 12.30.


("Sudah semalam ini, kemana dia pergi ?") Batinnya.


"Halo Rendy, apa kau mendengarnya ?" Tanya Rani merasa hening di seberang telfon.


"Eh-iya, aku mendengarnya." Ucap Rendy


"Lalu mengapa kau tidak menjawabku ? apa Rena tidak bersamamu ?" Tanya Rani curiga.


"Oh-maaf bund, aku hanya sedikit belum sadar. Ya, dia bersamaku." Jawabnya berdalih.


"Owh syukurlah. Lalu dimana dia ? mengapa dia tidak mengangkat telfonku ?"


"Emm mungkin saja dia sudah tertidur di kamarnya, apa bunda ingin aku membangunkannya ?"


"Owh.. tidak perlu, biarkan dia beristirahat. Sudah berapa hari ini dia terlihat murung. Aku yakin dia pasti akan pergi menemuimu." Ucap Rani merasa sedikit lega.


Baiklah, maaf kalau bunda mengganggu tidurmu." Imbuhnya.


"Tidak bund, aku juga salah karna sebelumnya tidak mengabari bunda kalau Rena akan menginap disini."


"Emm terima kasih, bunda tidak tahu harus bagaimana jika kau tidak ada." Ucap Rani penuh syukur. Namun membuat Rendy merasa bersalah karna telah berbohong.


Istirahatlah, dan jaga adikmu !" Imbuhnya


"Baik bund..!"


Tut. Telfon terputus.


Rendy beranjak dari tempat tidur dan segera pergi membasuh wajahnya. Setelah itu ia keluar menuju ruang kerja miliknya dan menelfon seseorang.


"Halo.. dimana keberadaan Rena saat ini ?" Tanyanya pada orang yang ditugaskan khusus untuk menjaga adiknya.


"Nona Rena sekarang berada di club malam yang selalu ia kunjungi Tuan !" Jawab Nicol, orang yang selama ini menjaga Rena dari jauh.


"Tidak, tapi sepertinya dia memiliki kenalan wanita di tempat ini." Jawabnya ketika melihat Rena berbicara dengan Clara. Walaupun ia tidak mendengar perbincangan mereka, tapi jika di perhatikan mereka seperti orang yang sudah saling mengenal lama.


Terlihat bagaimana Clara mencoba melarang Rena agar tidak minum lagi.


"Owh, apa dia baik-baik saja ?" Tanya Rendy.


"Maaf Tuan, tapi saat ini Nona telah mabuk berat. Apa aku harus membawanya pulang ?" Tanya Nicol.


"Tidak ! jangan lakukan apa pun, Rena pasti akan mengenalimu dan kau tidak akan pernah bisa lagi memantaunya."


Begini saja, kau awasi dia. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya, aku akan segera ke sana." Ucap Rendy.


Tut. Telfon terputus.


Namun, baru saja ia meraih kunci mobilnya, sebuah pesan email masuk di ponselnya.


Ia mengerutkan alisnya saat membuka pesan bahwa claennya yang dari jepang saat ini ingin melakukan voice untuk membicarakan langsung kontrak kerja sama mereka dan membahas proyek besar yang akan segera mereka garap.


Dirinya terlihat kesal. Mengapa harus bertabrakan seperti ini ? dia tidak akan mungkin menolak permintaan claennya yang sangat penting. Ayahnya sudah mempercayakan ini padanya. Lalu bagaimana dengan Rena ? seketika ia teringat Arka dan segera menghubunginya.


Untung saja saat itu Arka sudah selesai tugas dan sedang dalam perjalanan pulang.


"Halo !" Jawab Arka di seberang telfon.


Tanpa berbasa-basi Rendy mengatakan keperluannya.


"Arka, bisakah kau menjemput Rena saat ini juga !?" Pinta Rendy.


"Di mana ?" Tanya Arka yang tentu saja tidak akan menolak.


Rendy memberitahukan posisi Rena saat ini dengan kondisinya yang harus segera di tolong.


"Baiklah, aku akan menjemputnya." Jawab Arka sedikit cemas setelah mengetahui apa yang terjadi saat ini pada gadis pujaan hatinya itu.


Tut. Telfon terputus.


Karna arah yang berlawanan, Arka segera memutar balik mobilnya dan melaju dengan sangat cepat.


Beberapa menit kemudian, dia telah sampai di parkiran dan bergegas berlari masuk ke dalam bangunan tersebut mencari keberadaan Rena.


Betapa marahnya dia, ketika melihat tangan kotor seorang lelaki dengan seenaknya menyentuh tubuh milik gadisnya. Dengan cepat ia berjalan dan tanpa aba-aba memukul keras wajah lelaki itu hingga terjatuh ke lantai.


Beberpa orang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Namun ia tidak mempedulikannya, dengan cepat ia mengangkat tubuh Rena dan membawanya pergi keluar dari bangunan tersebut.


Namun ia tidak menyadari bahwa seseorang telah mengambil gambarnya dengan Rena dari sudut ruangan yang gelap.


Nicol yang melihat kilatan kamera, menyadari bahwa ada seseorang yang dari tadi mengambil gambar dan mengawasi Rena selain dirinya. Ia segera berlari mengejar pelaku tersebut, namun sayang. Dia kehilangan jejak.


Dengan cepat ia melaporkan kejadian itu pada Tuannya.


Flash Back Off


Namun tentu saja Rendy tidak menceritakan tentang Nicol pada adiknya. Dia hanya mengatakan kalau dia sangat tahu tempat mana saja yang akan menjadi tongkrongan adiknya.


Dia juga menjelaskan alasan mengapa dirinya tidak bisa menjemput Rena malam itu dan berakhir meminta bantuan pada Arka.


Rena terdiam menyimak segala penjelasan yang keluar dari mulut kakaknya.


"Kak... " Panggilnya dengan pelan.


"Emm !?" Jawab Rendy.


"Maafkan aku karna telah menyusahkanmu." Pintanya dengan nada bersalah.


Rendy terlihat menghela nafasnya pasrah.


"Sekarang, jelaskan padaku. Apa yang kau lakukan di tempat itu sampai larut malam ? apa kau tidak memikirkan kecemasan bunda ?."


"Yaa..,aku salah. Aku minta maaf."


"Sekarang kau hanya bisa meminta maaf setelah kau membuat masalah, apa kau tidak tahu seberapa besarnya kesalahanmu kali ini ?!" Ucap Rendy ketika mengingat kembali informasi yang di berikan Nicol padanya.


Rena hanya bisa terdiam mendengar Rendy memarahinya.


"Mengapa kau sampai minum sebanyak itu ?Apa kau tidak takut jika ayah mengetahuinya ?" Ancam Rendy


Mendengar ancaman itu, Rena segera terbangun dan duduk memohon pada kakanya.


"Kak.. aku mohon, jangan beri tahu ayah. Jika tidak, dia akan menarik semua fasilitasku." Pinta Rena menatap mohon dan memegang erat tangan kakaknya.


Rendy mengangguk pelan.


"Asal kau harus berjanji, kalau kau tidak akan mengulangi perbuatanmu ini dan berhenti mengunjungi tempat seperti itu."


"Baiklah, aku berjanji" Ucap Rena sembari mengangkat tangannya sebelah.


Rendy akhirnya merasa sedikit tenang mendengar adiknya telah menyetujuinya.


Informasi yang di berikan Nicol kembali terngiang di fikirannya. Ia harus cepat bertindak dan mencari kebenarannya.


Namun Rendy tidak tahu, kalau kali ini Nicol telah melakukan kesalah besar karna tidak terus mencari pelaku itu yang ternyata telah melanjutkan aksinya dan mengikuti mobil Arka dari belakang.Sedangkan Nicol memilih kembali ke kediaman Tuannya setelah memberikan informasi.


Hingga dengan bebas pelaku itu mengambil setiap gambar dari saat Arka menurunkan Rena dari mobil dan membawanya masuk ke dalam apartemen miliknya.


"Sempurnah.. " Ucap pria misterius itu


"Dasar pengawal yang bodoh !" Imbuhnya.