
("Kak ?!") Batinnya.
"Apa kak Rangga menginginkan sesuatu ?" Tanya Dara kemudian.
Rangga menganggukkan kepalanya.
"Aku ingin buang air kecil." Jawabnya datar.
Mata Dara sedikit membola. Ia tidak mungkin membantu Rangga dalam hal itu.
Rangga yang mengerti apa yang di pikirkan Dara tersenyum kecil.
"Kau bisa keluar, Reno yang akan membantuku."
"Baik kak." Ucap Dara tersenyum patuh.
"Hei. Mengapa kau terus memanggilnya kak huh ?!" Tanya Reno sedikit membentak.
"Itu karna kak Rangga terlalu tua untuk di panggil Bapak !" Jawab Dara masih menatap Rangga dengan senyum.
Reno tertawa geli mendengarnya.
"Heh.. wah.. aku tidak peracaya ini..
Lalu mengapa kau Memanggilku Bapak huh ?! Apa kau pikir aku sudah sangat tua ?!" Kesal Reno, ia sedikit tidak terima.
Dara memutar tubuhnya dan menatap Reno.
"Bapak memang sudah terlihat tua !"
Pppffft..
Rangga tidak bisa lagi menahan tawanya. Sebenarnya di tahu kalau Reno menyukai Dara, tapi karna gengsi yang cukup tinggi dan dengan umur Dara yang masih terbilang cukup muda, Reno tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan menutupnya dengan berbagai omelan.
Reno mendesis kesal, bgaimana bisa Dara mengatakan jika dirinya tua ?
"Hei, apa kau tidak tahu jika umurku sama dengan dirinya ?!" Tanyanya kesal.
Mengapa kau mengatakan aku tua huh !"
"Oh, benarkah ? maafkan saya pak, saya kira--"
"Jangan panggil saya Bapak !" Kesal Reno menyela.
"Eh ?!" Dara terngeh dan menatap intens Bosnya.
"Tapi Bapak adalah atasan saya." Ucapnya kemudian.
"Lupakan atasan dan bawahan !!" Ucap Reno.
Dara mengangguk mengerti kemudian berlalu melewati pria yang menjadi bosnya saat ini.
"Ia seharusnya tidak selalu marah jika ingin terlihat muda." Umpat Dara pelan.
"Aku bisa mendengarnya !!" Tegur Reno.
Mata Dara sedikit membola, kemudian segera berlari keluar dari ruangan tersebut. Ia tidak ingin mendapat omelan yang selanjutnya.
"Mengapa kau sangat kesal ?!" Tanya Rangga masih menahan tawanya.
Reno terlihat menghela nafasnya kasar.
"Hmmmmp, dia selalu membuat darahku mendidih !" Umpatnya.
"Kalau begitu mengapa kau masih mempertahankannya sebagai asistenmu ?"
"Apa kau tadi tidak melihatnya ? dia akan terus memohon seperti tadi jika aku memecatnya."
"Lalu apa masalahnya ? kau adalah bosnya. Kau bisa memutuskan apa saja yang menjadi kehendakmu !" Jelas Rangga. Sepertinya dia sangat ingin menguji sahabatnya itu.
"Sebenarnya aku juga tidak suka dengan kinerjanya, dia sedikit ceroboh dan selalu melewati batasannya." Ucapnya kemudian.
Mungkin memang sebaiknya kau memecatnya saja !" Imbuhnya.
"Hei, dia asistenku ! aku yang berhak ingin memecatnya atau tidak.
Lagi pula menurutku dia cukup bisa di andalkan dan dia cakap dalam pekerjaannya.
Menurutku itu sudah cukup bagiku untuk tetap mempekerjakannya !" Ucap Reno terdengar sedikit beralasan.
"Benarkah ?!" Tanya Rangga memastikan.
Reno terlihat menganggukan kepalanya dan memutar bola matanya melihat di sekitar ruangan.
Rangga tersenyum.
"Kalau begitu sebaiknya kau jangan terus memarahinya, jika tidak, aku yakin dia akan berhenti dari pekerjaannya."
Reno tersenyum mencemooh.
"Heh.. Apa kau yakin dia akan melakukan hal itu ?!" Tanyanya.
"Emmm.. !" Jawab Rangga.
"Aku tidak yakin, kau bisa melihatnya bukan, bagaimana dia memohon agar tidak di pecat !" Ucap Reno.
"Bagaimana kalau kita bertaruh ?!" Tanya Rangga.
Reno melihat Rangga dengan diam.
"Okey, mari kita bertaruh !" Ucapnya kemudian.
Setelah percakapan itu selesai, Reno kemudian membantu Rangga membawanya ke kamar mandi.
Hingga beberapa saat, akhirnya Rangga kembali berbaring di tempatnya.
"Apa kau tidak lagi membutuhkan sesuatu ?" Tanya Reno.
"Tidak !"
"Kalau begitu aku akan pergi." Ucap Reno kemudian melangkah pergi.
"Ren !" Panggil Rangga.
"Ada apa ?" Jawab Reno menghentikan langkah kakinya.
"Apa kau memberitahu Ibuku jika aku di rawat di Rumah Sakit ini ?!" Tanya Rangga.
Reno menggelengkan kepalanya.
"Kau tenang saja !" Ucapnya sedikit tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan Moura ?!"
"Dia mungkin akan keluar setelah dua atau tiga hari ke depan."
"Oh, baiklah. Itu saja." Ucap Rangga.
"Kalau begitu aku pergi !" Ucap Reno dan kembali melanjutkan langkah kakinya keluar dari ruangan tersebut.
Di luar ruangan.
Dara yang sebelumnya duduk, segera berdiri saat melihat Reno keluar dari ruangan tersebut.
"Kau tidak perlu masuk kerja hari ini." Ucap Reno.
"Lalu saya harus apa ?" Tanya Dara.
"Untuk sekarang kau hanya perlu merawat Rangga."
Dara terlihat sangat senang mendengar perintah Reno.
"Mengapa kau tersenyum seperti itu ?" Bentak Reno. Ia sangat tidak tahan melihat Dara tersenyum seperti itu di depannya.
"Eh, baik pak !!" Ucap Dara bersemangat.
Reno berdecak kesal. Dara yang mengerti segera memperbaiki kesalahannya.
Reno kemudian pergi, ia terdengar seperti mengatakan sesuatu. Namun Dara tidak dapat mendengarnya.
Pukul 16.30
Waktu terus berlalu begitu cepat, Dara yang sedikit tertidur akhirnya tersadar. Ia menguap lebar kemudian mengucek matanya pelan dan melihat di sekelilingnya.
Matanya seketika membola saat melihat Rangga tidak berada di pembaringannya.
"Kak Rangga !!" Pekiknya terperanjat dari sofa.
Ia segera berlari memeriksa kamar mandi, namun tidak menemukan keberadaan Rangga.
"Dimana dia ?" Ucapnya lirih. Kemudian berlari keluar ruangan dan terus mencari keberadaan Rangga.
••
"Arka, apa yang kau lakukan ?!" Ucap Rena saat Arka tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.
"Aku hanya ingin memelukmu !" Ucap Arka dengan lembut.
Rena kemudian memutar tubuhnya menghadap Arka.
"Kau tidak bisa melakukan ini, kita sedang berada di Rumah Sakit !!" Ucapnya dengan kedua tangannya yang menempel di tubuh Arka.
Arka tersenyum.
"Tapi aku terus merindukanmu !!" Ucapnya sedikit berbisik, membuat telinga Rena sedikit gatal.
Bagaimana dengan sebentar malam ? apakah kita bisa bertemu ?!" Tanyanya kemudian.
Rena tersenyum mengangguk mengiyakan.
"Emmm.. aku sudah bicara dengan Ayahku !" Jawabnya.
"Benarkah ? kalau begitu aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan mempersiapkan segalanya !" Ucap Arka dengan sangat senang.
"Tapi, dimana kita akan pergi ?" Tanya Rena kemudian.
"Emm bagaimana jika di apartemenku saja ?
Kalau di pikir-pikir kau baru sekali kesana bukan ?!" Tanya Arka memberi pendapat.
Rena memiringkan kepalanya menatap Arka dengan senyum.
"Baiklah... !" Ucapnya setuju.
"Kalau begitu aku pergi." Ucap Arka kemudian mencium jidat Rena dengan lembut.
Saat hendak keluar, Arka melihat Rangga telah berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanyanya terdengar tidak suka.
Rangga diam menatap Arka dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kau menukar hasil lab itu bukan ?!" Tanya Rangga.
"Apa maksudmu ?
Aaah.. apa kau masih berfikir bahwa aku adalah Ayah Moura ?!" Tanyanya terdengar sedikit mengejek.
Iris mata Rangga memerah,ia sangat kesal dan menarik kerah seragam Arka.
"Kau dan Monica sengaja menjebakku kan ?!" Ucapnya, ia menggertakkan giginya sangat kuat.
Arka segera menarik dan melepas tangan Rangga dengan kasar.
"Apa kau punya bukti bahwa aku menjebakmu ?
Kenapa kau tidak menyalahkan dirimu sendiri karna terlalu bodoh untuk di permainkan oleh seorang wanita seperti Monica ?!" Ucap Arka kemudian melangkah pergi.
Namun Rangga yang sudah sangat kesal, kembali menarik Arka dan memberinya satu pukulan.
"Kau tidak pantas bersama Rena !" Serunya dengan sangat kesal.
Rena yang mendengar suara keributan dari luar ruangannya segera keluar untuk memeriksa. Dan matanya membola saat melihat bibir Arka terluka dan sedikit mengeluarkan darah.
Ia segera berlari dan memeriksanya. Kemudian menatap sang pelaku.
Rena berjalan dengan sangat cepat dan.
Plaaak..
Ia menampar Rangga dengan sangat keras.
"Apa yang kau lakukan ?!"Bentaknya.
Rangga terdiam, sebenarnya ia menahan perih, luka di tangannya yang kembali mengeluarkan darah.
"Tidak bisakah kau berhenti untuk mengusik kehidupanku dan Arka ?!" Serunya.
Rangga meraih tangan Rena dengan tangan kirinya.
"Ren, dengarkan aku, dia bukan laki-laki yang baik untukmu !" Ucapnya.
Rena menghempaskan tangan Rangga dengan kasar.
Lalu siapa ?!
Kau ?!
Kau bahkan lebih buruk darinya !!"
"Ren, aku mohon dengarkan aku untuk kali ini saja.
Kau tidak tahu siapa dia sebenarnya." Ucap Rangga mencoba meyakinkan.
"Cukup Rangga ! aku tidak ingin mendengarkan dan melihatmu lagi." Ucap Rena berpaling.
"Ren,
Rena..!" Ucap Rangga mencoba menghentikan. Namun Arka cukup cepat dan mendorongnya menjauh.
Membut Rangga terjatuh ke lantai.
"Kakak... !!" Teriak Dara tiba-tiba datang dan berlari mendekatinya.
Rena menoleh dan menatap wanita yang memanggil Rangga dengan panggilan kakak. Matanya menelisik memandangi wanita muda itu dengan penasaran.
Dara yang melihat perban di tangan Rangga sudah memerah, ia sangat cemas dan kemudian menatap Arka.
"Kalian adalah seorang dokter, bagaimana bisa kalian memperlakukan pasien seperti ini huh !?" Bentaknya dengan sangat marah.
Dara segera membantu Rangga untuk berdiri.
"Kak, sini biar ku bantu !"Ucapnya.
Rena terus menatap wanita itu tanpa berkedip.
Dara terlihat sangat khawatir dan memeriksa tangan Rangga yang terluka.
"Aku akan membawamu kembali."
"Biarkan aku mengobati lukanya !" Ucap Rena secara spontan mengulurkan tangannya ingin membantu.
Rangga mengangkat wajahnya menatap Rena.
"Tidak perlu !" Ucap Dara.
Aku akan memanggil dokter lain !" Imbuhnya.
Dara segera merangkul tubuh Rangga dan membawanya pergi dari tempat tersebut.
Sedangkan Rena, ia hanya bisa terdiam melihat punggung kedua orang itu semakin menjauh.