Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Akhir dan Awal.



Sudah Tiga hari Rena mengunci dirinya di dalam kamar, namun masih saja belum ada hasil yang ia terima. Ia masih belum habis pikir dengan sifat kebatuan Ayahnya. Selain ia sudah merasa cukup kasihan pada Ibunya, stok persediaan yang ia kumpulkan juga akan segera habis.


Di atas tempat tidurnya, ia duduk bersila sembari menopang dagu, merenungi dan menunggu hasil yang ia terima dari aksinya saat ini.


("Sudah Tiga Hari, tapi masih juga belum membuahkan hasil, apa lagi yang harus aku lakukan ?")


Ia melirik stok makanannya yang ada di atas meja. Tanpa sadar bibirnya tertekuk ke bawah.


"Apa aku harus berpuasa ? tapi bagaimana jika tidak juga membuahkan hasil ? itu sama saja perngobanan yang sia-sia." Lirihnya


Seketika ia merebahkan tubuhnya.


("Apa benar-benar tidak ada jalan ?!") Gumamnya menatap kosong langit-langit kamarnya.


"Aaaaarrrgh.... !" Jeritnya kesal.


Rani yang baru saja ingin mengetuk pintu kamar Putrinya untuk mencoba kembali membujuk, terkejut mendengar suara jeritan dari dalam.


Dengan panik ia mengetuk pintu kamar Putrinya.


Tok tok tok


Cek,cek,cek


Toktoktok


"Rena.. kamu kenapa sayang !" Jeritnya


toktoktok


"Rena.. apa perutmu sakit ? apa maghmu kambuh lagi ? buka pintunya sayang, jangan membuat Bunda khawatir !"


Mendengar ketukan dan teriakan dari luar yang bertubi-tubi, Rena segera membungkam mulutnya.


("Ups apa yang aku lakukan ?! dasar bodoh !") Batinnya sambil memukul-mukul jidatnya pelan.


"Bi.. Bibi.. Bi Hanum.. !" Teriak Rani dengan panik.


Asisten Rumah Tangga yang sudah lama bekerja di rumah itu, segera berlari dengan terburu-buru menaiki anak tangga setelah mendengar panggilan yang tak biasa ia dengar dari majikannya.


Dengan nafas yang tak beraturan, ia segera mendekati majikannya dan menyapa dengan sesopan mungkin.


"Huhmm Ia Nyonya !" Ucapnya sambil menekan dadanya dengan telapa tangannya.


"Cepat panggilkan tukang kunci !" Titah Rani panik.


"Tukang kunci ?!" Tanya Bi Hanum belum mengerti.


"Ia Bi, terjadi sesuatu dengan Rena.. !" Ucap Rani mencoba menjelaskan.


Namun, karna masih mengejar nafasnya, Bi Hanum kembali linglung melihat majikannya panik dan histeris di depannya.


"Cepat Bi !!" Seru Rani, tak memberikan kesempatan lagi untuk pembantunya itu.


"B-ba-baik Nyonya !" Jawabnya terbata dan kembali berlari menuruni anak tangga.


Sungguh ironis, lift yang sudah lama di bangun di rumah itu, sepertinya tersia-siakan dan terlupakan karna kepanikan dan kelinglungan dari sang penghuni rumah.


.


.


.


Setelah beberapa lama Rani menunggu, akhirnya yang di tunggu datang juga.


"Siang Bu.. !"Sapa sang tukang.


Tanpa menjawab sapaan yang di lontarkan untuknya, dengan cepat Rani menarik tangan lelaki muda itu dengan propesi ahli tukang kunci dan menyuruhnya segera merusak kunci pintu kamar Putrinya.


"Kemarilah !. Tariknya


Buka kunci pintu kamar ini, tanpa merusak pintunya !" Titah Rani.


"Tapi Bu, apa ada seseorang di dalamnya ? mengapa tidak menyuruhnya saja untuk membuka kunci pintunya ?" Tanya sang ahli dengan polos sambil membuka kotak alatnya.


"Apa kau begitu bodoh ?! aku tak akan memanggilmu kesini dan menyuruhmu merusak kunci kamar ini, jika orang yang ada di dalam bisa membukanya !" Jawab Rani dengan kesal.


Rena yang mendengar suara kebisingan terdengar dari luar, segera terperanjat dari tempat tidurnya dan berlari kecil mendekati pintu kamarnya.


"Suara apa itu ?" Lirihnya sambil menempelkan telinganya di pintu.


Suara mesin.


"Haah ! Rena menutup mulutnya


Apa Bunda memanggil tukang kunci ?" Lirihnya


"Tidak, tidak, ini belum waktunya, aku harus bertahan sedikit lagi." Imbuhnya


"Bunda... !" Teriaknya


"Tunggu dulu, apa kalian mendengarnya ?!" Tanya Rani pada kedua orang yang ada di dekatnya.


"Bunda... !"


Segera ia menjawab panggilan Putrinya.


"Ya sayang ! apa kau baik-baik saja ?" Serunya.


Namun, bukannya menjawab kerisauan Ibunya, Rena malah menanyakan apa yang di dengarnya.


"Apa Bunda ingin merusak kunci pintu kamarku ?!"


"Eh, i-iya Bunda memanggil tukang untuk menyuruhnya merusak kunci pintu kamarmu ! Bunda khawatir denganmu, apa kau baik-baik saja ?.


Buka pintunya sayang, biarkan Bunda melihatmu !" Pinta Rani.


"Tidak, jika Bunda merusak pintu atau kunci kamarku, maka aku akan melompat dari balkon !" Ancam Rena.


"Lalu, apa yang harus Bunda lakukan ?" Tanya Rani pasrah.


Namun tak di sangka, tanpa Rani sadari, ada seseorang yang sedari tadi berdiri di belakangnya mengikuti dan menyimak pembicaraan mereka.


Setelah mendengar ancaman Rena, lelaki itu tidak bisa lagi menahan amarah yang ada di dalam dirinya, apalagi setelah melihat wanitanya seperti itu, ia merasa hatinya hancur ketika melihat wanitanya harus menangis siang dan malam hanya karna ulah kebatuan dari anaknya.


"Sudah cukup Rena !" Seru Jaya dengan amarah.


"Apa kau akan terus menyiksa Ibumu hanya karna keinginanmu itu huh !"


Rena terdiam setelah mendengar suara Ayahnya.


"Sekarang berhentilah mengancam, dan keluar dari kamarmu !" Titah Jaya.


Bi Hanum dan sang tukang kunci, terdiam tertunduk di tempatnya mendengar suara sang pemimpin dalam keluarga itu menggelegar. Seakan merasa takut mengangkat wajahnya melihat langsung kejadian yang ada di hadapan mereka.


"Tidak.. ! aku tidak akan pernah membukanya ! Jika Ayah membatu, maka aku akan lebih membatu !" Teriak Rena dengan kesal.


"Ayah sudah berjanji, tapi kemudian Ayah mengingkarinya ! aku, aku tidak suka dengan Ayah yang tidak menepati janji !"


Jaya terdiam mendengar perkataan putrinya.


"Tidak bisakah kau mengalah saja ?!" Tanya Rani yang kini menatap dalam suaminya penuh harap dengan mata sembabnya.


Jaya tak tahu harus berkata apa. Di sisi lain, ia tak ingin Putrinya kembali hancur bersama Rangga, tapi ia juga tidak bisa memberitahukan masalah ini pada Rani.


Kepalanya kembali merasa penat, ia yang awalanya pulang hanya ingin mengambil beberapa berkas, sekarang malah mendapatkan masalah tambahan. Apalagi dengan bujukan dari sang Istri, ia tak tahan lagi melihat wanitanya seperti itu, benar-benar sangat berantakan.


"Baiklah ! Ayah akan menepati janji Ayah !" Jawabnya pasrah.


Saat mendengar jawaban Ayahnya, Rena merasa jika dia salah mendengar atau berhalusinasi. Sedangkan Rani hanya bisa tersenyum dan memeluk erat suaminya.


"Apa ? Rena tidak mendengarnya !" Teriak Rena ingin memperjelas sambil memasang telinga.


"Apa kau ingin menguji kesabaran Ayah huh !"


Rena hanya tersenyum menahan tawa. Ia sangat bahagia, akhirnya aksinya tidak sia-sia.


"Yes.. !" Lirihnya dengan semangat.


"Terima kasih sayang !" Ucap Rani menatap suaminya.


"Hmmp.. sekarang kau baru ingin memelukku setelah aku menuruti keinginan putrimu ?"


"Maafkan aku, kau tahu bukan, kalau Rena adalah-." Rani tak dapat melanjutkan kata-katanya ketika Jaya telah memotong kalimatnya.


"Iya, aku tahu, Putrimu adalah kelemahan terbesarmu, dan kau harus tahu, kalau kau adalah kelemahan terbesarku !" Ucap Jaya sambil menangkup wajah Istrinya.


Rani yang mendengarnya hanya bisa tersenyum malu, karna secara tidak langsung Suaminya telah menggodanya dengan usianya yang sekarang sudah tidak muda lagi.


"Apa sekarang kau belum puas ?!" Tanya Jaya.


Rani kebingungan.


"Apa maksudmu ?" Tanyanya.


"Aku harus segera kembali ke kantor ! dan kau masih saja memelukku !"


Dengan senyum dan malu, Rani memberikan cubitan kecilnya.


"Kau sangat membuatku malu." Lirihnya


"Hehem, sekarang Putrimu akan menyudahi aksinya. Sebaiknya kau istirahat dan bersihkan dirimu !" Ucap Jaya dengan senyum kemudian berpaling dan melangkah pergi.


.


.


"Bu, apa kuncinya masih ingin di rusak ?" Tanya Bi Hanum.


"Tidak perlu, tapi aku akan tetap membayarnya." Jawabnya sembari melihat ke arah sang tukang kunci.


Akhirnya, Perang di keluarga itu berakhir setelah tiga hari menguras hati,pikiran dan juga air mata.


Dan tentu ini akan menjadi awal dari perjalanan cinta Rena yang sebenarnya.