Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 120



Sesuai perjanjian, Atmajaya tiba lebih awal tanpa satupun pengawal di sisinya.


Untuk sesaat dia terdiam mematung menatap bangunan tua tersebut. Dia sendiri tidak begitu yakin, siapa yang menelfonnya semalam karna suaranya yang di palsukan. Tapi hanya ada dua kemungkinan besar jika bukan John pasti Gilbert.


Akhirnya ia berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut sesuai yang di instruksikan melalui ponselnya. Namun di saat yang bersamaan dia juga terus memberi informasi pada Rendy.


Dia terus berjalan sembari memperhatikan setiap sisi bangunan tersebut, hingga tiba di depan sebuah ruangan yang berada di lantai terakhir bangunan tersebut.


Saat membuka pintu dan melangkah masuk, ia sedikit terkejut melihat John yang berdiri menatap kedatangannya walaupun pada awalnya dia sudah menebak.Namun dia masih belum menyangka kalau John akan melakukan hal sekotor ini setelah sekian lama tidak bertemu.


Tetapi setelah melihat tatapan John dengan ekspresi kebingungan, Jaya sedikit mengerutkan alisnya penuh tanya.


"Dimana putriku !!" Ucapnya dingin dengan wajah datarnya.


"Putrimu ? apa maksudmu ? permainan apa sebenarnya yang ingin kau permainkan ?!" Tanya John.


"Permainan ? apa maksudmu ? bukankah kau yang menyuruhku untuk datang ke tempat ini ?! bukankah kau yang menculik putriku " Cecar Jaya.


John tertawa hambar.


"Hahaa, menculik putrimu ? apa kau sedang bersandiwara ?" Ucap John dengan nada sedikit meninggi.


Apa untungnya bagiku ? jika pun aku mau, aku akan melakukannya sejak lama, sejak kau menghancurkan keluargaku." Imbuhnya.


Jaya kembali terlihat mengerutkan alisnya semakin tidak mengerti.


("Kalau bukan John, apakah dalang dari semua ini adalah Gilbert ? tapi mengapa ada John ? apa yang ia rencanakan sebenarnya ?")


"Tapi aku tidak melakukannya karna hal kotor sepertimu." Ucap John lebih lanjut.


Jaya menyeringai menatap mencemooh ke arah John.


"Hal kotor ?! apa sekarang kau berpura-pura suci ? John, jangan membuatku tertawa."


Apa kau pikir aku tidak tahu apa rencanamu sebenarnya di balik perjodohan yang kau lamarkan pada putriku ?!" Tanya Jaya menuntut.


John tiba-tiba gugup, bagaimana mungkin Jaya mengetahui yang tidak seorangpun mengetahuinya selain dirinya sendiri.


"Apa maksudmu ?" Tanya John.


"Apa aku perlu menjelaskannya ? kau sangat tahu kelemahanku John.Dan kau ingin memanfaatkannya untuk menjadikan putramu sebagai direktur selanjutnya menggantikan posisiku sebagai ganti hak dari putriku. Apa kau pikir putriku adalah sebuah pion ?!" Jelas Jaya.


Kau serakah, itu sebabnya kau wajar mendapatkan ganjaran dariku. Seharusnya kau bersyukur karna aku tidak menuntut perusahaanmu untuk mengganti rugi atas kerugian keluargaku seperti yang dilakukan investor yang lainnya !" Imbuhnya.


"Kau mengetahui semuanya ? dan kau sengaja mempermainkan ku ?" Pekik John.


"Kau sangat tahu aku suka bermain pada orang yang ingin mempermainkan ku !" Tegas Jaya.


Tanpa mereka sadari seseorang terus mengamati pembicaraan mereka dan di saksikan oleh Rangga yang juga sudah tiba di tempat itu sedari tadi.


Rangga yang mendengarnya akhirnya mengetahui segalanya, alasan mengapa Ayahnya sangat ingin dia menikahi Rena dan terus menuntutnya pada waktu itu.


Ia teringat kembali dimana ia pernah bertanya mengapa Ayahnya sangat ingin dia menikah dengan Rena. Namun Ayahnya hanya mengatakan kalau suatu saat dia akan mengetahuinya, dan hal itu bermanfaat untuk dirinya dan keluarganya dimasa mendatang.


"Lalu, sekarang, apa yang kau inginkan ? apa kau belum cukup puas telah menghancurkan putraku beberapa kali ?" Tanya John mengubah topik pembicaraan, seakan menolak untuk di salahkan.


"Apa kau belum sadar ? cobalah melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, aku melakukan semua itu karna ingin melihat kemampuannya yang sebenarnya. Aku tidak ingin dia berakhir sepertimu yang hanya bisa memanfaatkan dan mengandalkan orang lain."


"Hahaa bulshit ! untuk apa kau melakukan semua itu ? apa keuntungan yang kau dapatkan ?" Cecar John dengan tawanya yang sedikit mencemooh.


"Aku mungkin tidak mendapatkan keuntungan apapun darinya. Anggap saja aku melakukan semua ini mengingat persahabatan Ayah kita.


Dan Star Light, aku tahu benar itu adalah perusahaan putramu, dan aku bangga karna dia mampu berdiri tanpa bantuan siapa pun setelah berapa kali aku menghancurkan usahanya."


Gilbert yang merasa percakapan mereka mulai membosankan, mematikan layar di depannya. Kemudian memutar kursinya menatap Rangga dengan menyeringai.


"Bagaimana Rangga ? menurutmu siapa yang paling buruk dan serakah ? apakah aku ? Atmajaya ? atau Ayahmu ?!"


Rangga tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, dia akhirnya mengerti, siapa dalang dari awal permasalahan ketiga keluarga ini.


Itu adalah Ayahnya, yang selalu tidak pernah merasa puas dengan apapun yang sudah ia dapatkan.


Ayahnya lah yang pertama kali membunyikan genderang perang kepada kedua keluarga tersebut.


Bahkan tanpa ia sadari, dirinya juga telah di jadikan alat untuk mendekati Rena sebagai batu loncatan besar Ayahnya demi mendapatkan hal yang tidak seharusnya menjadi miliknya.


Gilbert sekali lagi tersenyum seakan mengejek keadaan Rangga saat ini. Ia sangat tahu betapa Rangga sangat menghormati Ayahnya.


Di saat ia menikmati ketidak berdayaan Rangga, salah satu bawahannya tiba-tiba masuk dan membisikkan sesuatu kepadanya.


Raut wajah yang tadinya bahagia, kini berubah menjadi murka.


"Dasar gadis tidak berguna ! cepat cari mereka, jangan biarkan mereka lolos begitu saja !" Titahnya.


Lelaki yang menjadi bawahannya itu menunduk patuh, kemudian bergegas pergi.


Rangga yang mendengar samar pembicaraan mereka, mengerti, jika sesuatu telah terjadi.


"Sebaiknya kau segera menandatangani kertas ini jika kau ingin Ayah dan wanita itu selamat." Ancam Gilbert terlihat terburu-buru.


Rangga yang bisa membaca situasi hanya menyeringai.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyerahkan sedikitpun kepadamu."


"Jangan keras kepala Rangga, aku sedang tidak mengancam !" Ucap Gilbert, kemudian memberi isyarat pada beberapa bawahannya agar memberi pelajaran pada Rangga.


"Buat dia menandatangani kontrak itu dengan cepat !!" Titahnya, kemudian pergi dari ruangan tersebut.


Baru saja para bodyguard itu mendekat untuk memberi pelajaran pada Rangga, Reno datang tepat pada waktunya dan membantu Rangga melawan para bawahan Gilbert tersebut.



Sedangkan di tempat yang berbeda, Dara yang sebelumnya di tugaskan untuk menjaga Rena, malah membawa Rena kabur dan bersembunyi di balik tumpukan kayu.


Rena yang masih kebingungan, menatap Dara penuh tanya.


"Siapa sebenarnya kau ? mengapa kau membantuku ?"


"Ssssst... tidak bisakah kau diam sebentar ? kita masih belum aman." Bentak Dara pelan tanpa menghiraukan pertanyaan Rena.


Melihat situasi yang cukup aman, Dara berbalik menatap Rena.


"Tunggu disini, jangan keluar jika aku belum kembali." Ucap Dara memberikan pistol miliknya di tangan Rena.


"Tapi aku tidak tahu menggunakannya."


"Kau bisa menarik pelatuknya dan mengarahkannya pada orang yang ingin melukaimu !" Ucap Dara sembari memberi contoh pada Rena.


"Aku akan pergi mencari bantuan, tunggu di sini, aku akan segera kembali." Imbuhnya kemudian berlari pergi.



John dan Jaya yang masih saling berargumen sedikit terkejut mendengar tepukan tangan dari seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


Secara bersamaan mereka berbalik.


"Gilbert." Lirih mereka bersamaan.


"Apa akhirnya kalian akan berbaikan ?" Ucap Gilbert dengan nada mengejek.


"Apa semua ini adalah perbuatanmu ?" Tanya John.


Gilbert tertawa.


"Hahaa bukankah ini adalah reuni yang terbaik ?!" Ucapnya


"Brengsek ! dimana kau menyembunyikan putriku ?!" Bentak Jaya memincingkan matanya bak mata elang.


"Kau tenang saja, putrimu akan baik-baik saja jika putra John bersedia memberikan apa yang aku inginkan !!"


John mengerutkan alisnya mendengar jawaban Gilbert yang berarti putranya juga berada di tempat ini dan mungkin saja berada dalam bahaya.


"Apa yang kau inginkan darinya ?!" Tanya John.


"Star Light !!"


"Bagaimana kau bisa mengetahuinya ?" Tanya John sedikit terkejut.


"Tidak penting bagaimana aku mengetahuinya. Sebaiknya kau salahkan saja dia." Jawab Gilbert menunjuk ke arah Jaya.


Jika saja dia tidak terus mengganggu perusahaan ku, aku tidak mungkin jatuh dan terbelit hutang seperti sekarang ini, dan sebagai gantinya aku menginginkan perusahaan yang di kembangkan oleh putramu."


"Dasar parasit, kau benar-benar sampah !!" Bentak Jaya mencemooh.


Gilbert hanya tertawa mendengar cemooh yang di lontarkan kepadanya.



Pada akhirnya Reno dan Rangga menjatuhkan semua bawahan Gilbert.


"Dimana Dicky ?!" Tanya Rangga.


"Dia sedang mengalihkan yang lainnya !" Jawab Reno.


"Baiklah, kita harus berpencar, aku akan pergi menyelamatkan Ayahku, dan kau harus mencari keberadaan Rena."


Reno sedikit menimbang permintaan Rangga.


"Dara bersamanya !" Ucap Rangga tidak ingin membuang waktu terlalu lama.


Benar saja, setelah mendengar ucapan Rangga, Reno segera berlari meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Di saat Rangga berlari menyusul keberadaan Ayahnya, tiba-tiba seseorang menodongkan senjata dari arah belakang tepat di kepalanya.


Dengan Reflek Rangga mengangkat kedua tangannya.


"Dimana kau menyembunyikan adikku ?"


Mendengar suaranya, Rangga menebak kalau orang yang menodongnya saat ini adalah Rendy.


"Aku tidak tahu, aku juga datang untuk menolongnya." Jawabnya.


"Jangan mencoba menipuku ?!" Bentak Rendy.


"Percayalah ! aku tidak sedang menipumu !" Ucap Rangga mencoba meyakinkan sembari mencari cara agar lolos dari todongan Rendy.


Dengan gerakan yang cepat, ia merunduk dan berbalik memukul dengan sangat kuat lengan Rendy yang terarah padanya, membuat Rendy sedikit terhempas karna mencoba menahan pistol yang di pegangnya.


Saat ia berhasil menyeimbangi tubuhnya, ia kembali berbalik dan kembali mengerahkan pistolnya, tapi di saat yang bersamaan Rangga juga telah mengarahkan pistol kepadanya.


Rendy memicingkan matanya kesal.


"Percayalah padaku, aku mengatakan yang sebenarnya." Ucap Rangga.


"Lalu apa kau sudah menemukannya ?" Tanya Rendy sedikit tidak percaya.


"Temanku sedang mencarinya. Percayalah, aku tidak punya banyak waktu lagi." Ucap Rangga tergesa-gesa.


"Bagaimana jika kau menipuku ?!"


"Aku sedang tidak menipumu, aku mengatakan yang sebenarnya, untuk sekarang aku harus menyelamatkan Ayahku lebih dulu."


Rendy mengangkat alisnya sebelah.


"Ayahmu ?!"


"Ya, Ayahku. Dan bukan hanya Ayahku tapi juga Ayahmu sedang berada dalam bahaya." Jelas Rangga.


Kalau kau mau, kita bisa bekerja sama menyelamatkan mereka !"


Rendy terlihat berfikir, kemudian mengiyakan tawaran Rangga.



"Sadarlah Jaya, mengapa kau masih ingin membantu John ? bukankah kau sudah mengetahui niat busuknya ? lalu untuk apa kau harus repot-repot menggangguku ?"


"Itu karna kau tidak pantas, JA Group bukanlah milikmu !"


"Lalu mengapa ? bukankah pada awalnya kau juga membantuku mendapatkannya dengan mudah ?!"


"Aku tidak pernah membantumu, aku hanya ingin memisahkanmu dari John agar aku bisa dengan bebas menghancurkan mu sesukaku, seperti yang aku lakukan saat ini !" Jelas Jaya.


Mendengarnya, Gilbert mendesis kesal dan mengeluarkan pistolnya. Namun ia tidak menyangka kalau kedua orang di hadapannya juga telah mengeluarkan benda yang sama.