Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 122



Dara yang sedari tadi pergi tak kunjung kembali, membuat Rena merasa lelah akan persembunyiannya.


Sesekali ia akan mengintip di antara celah-celah tumpukan kayu tersebut, hingga ia melihat satu sosok yang sudah hampir berapa bulan tidak dilihatnya dan tidak seharusnya berada di tempat bangunan tua seperti ini.


("Cindy ? apa yang dia lakukan di tempat ini ?") Batinnya terlihat mengerutkan alisnya penuh tanya.


Ia kemudian mengintip ke arah sekitarnya, merasa semuanya aman, ia segera berdiri dan mencoba untuk menyapa.


"Cindy..!?" Serunya, kemudian berjalan menghampiri wanita yang kini menatapnya dengan tatapan kejutnya di susul dengan senyumnya yang merekah.


"Rena..!" Sapanya dan segera menghampiri.


"Ssssst... apa yang kau lakukan disini ?"Tanya Rena sedikit memelankan suaranya sembari menatap ke kanan dan kirinya memastikan bahwa mereka benar-benar aman.


Melihat tingkah Rena, Cindy semakin tersenyum menatap tingkah Rena yang menurutnya lucu. Sampai ia akhirnya menatap ke arah pistol yang berada di tangannya.


"Apa ini ?!" Tanyanya sembari merampas pistol tersebut tanpa meminta izin terlebih dulu pada tuannya.


"Seseorang memberiku untuk berjaga-jaga."Jelas Rena masih celingukan.


"Oh ya ? berjaga-jaga dari siapa ? Penculik ?!" Cecar Cindy sembari memainkan pistol yang kini berada di genggamannya.


Rena menganggukkan kepalanya membenarkan tebakan Cindy.


"Siapa yang ingin menculikmu ?" Tanya Cindy kembali.


"Seorang pria tua yang psiko karna kehilangan putrinya dan akhirnya membenciku."Jelas Rena.


"Mengapa begitu banyak orang yang membencimu ?!"Tanya Cindy lebih terdengar menyindir.


"Entahlah" Jawab Rena menunduk termenung.


"Itu karna kau selalu merampas yang menjadi hak milik orang lain. Kau seharusnya tidak berhak bahagia !!"Ucap Cindy tiba-tiba berubah.


Rena menatap Cindy dalam diam. Ia tidak kesal Cindy berkata kasar padanya, karna sejak dulu Cindy memang selalu seperti itu, bahkan sejak bersama di dalam satu tim sebelum Cindy mengundurkan diri dan memutuskan berhenti menjadi seorang dokter.


"Kau belum menjawabku, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini ?!" Tanya Rena penasaran.


"Aku ?" Tanya Cindy menunjuk dirinya sendiri.


Perlahan tangannya terulur dan menyapu punggung Rena hingga ia menarik dengan keras rambutnya.


"Tentu saja untuk menangkapmu !!" Ungkapnya dengan nada yang tidak lagi ramah seperti sebelumnya.


"Aaaakh.." Pekik Rena kesakitan.


"Cindy, apa yang kau lakukan ?!" Tanyanya, ia bukan tidak mendengar ucapan Cindy barusan, hanya saja pikirannya tidak menerima kenyataan kalau wanita anggun seperti Cindy mampu melakukan hal-hal gila seperti ini.


"Lelaki tua itu sangat tidak bisa di harapkan, kau bahkan berhasil lolos dengan bawahannya yang begitu banyak.


Untung saja aku sudah berjaga-jaga. Sekarang kau harus ikut denganku !"


Wanita itu terlihat menjentikkan jari tengah dan jempolnya beberapa kali. Seketika beberapa laki-laki muncul dengan tampang yang mengerikan.


"Bawa dia !!" Titah Cindy dan melempar Rena ke salah satu anak buahnya.


Baru saja mereka hendak keluar, Reno dan Dicky tiba dan menghalangi jalan mereka.


Cindy mengangkat alisnya sebelah. Salah satu bawahannya berjalan ke sisinya dan berbisik.


"Lepaskan dia !" Ucap Reno datar.


Tanpa mengucapkan apapun, Cindy memberi isyarat pada bawahannya untuk memberi perlawanan.


Tanpa berpikir panjang, Reno dan Dicky segera berlari dan melawan para penjahat tersebut. Namun tidak seperti sebelumnya, mereka sedikit kewalahan karna lelah menghadapi musuh sebelumnya. Bahkan Dicky saat ini telah menjadi bulan-bulanan dari penjahat tersebut.


Mendengar suara Dicky yang mengerang kesakitan, Reno meliriknya sekilas dan hal itu membuatnya lengah, hingga seseorang menendang perutnya dan membuatnya terjatuh beberapa meter ke belakang.


Pada akhirnya mereka berdua menjadi bulan-bulanan oleh bawahan Cindy. Membuat wanita itu tertawa puas terdengar mengerikan.


Namun kemenangannya tidak berlangsung lama, di saat ia tengah tertawa menikmati kemenangannya, ia terdiam seketika saat seseorang menodongkan pistol di kepalanya dari arah belakang.


Rena menatap sosok itu dengan mata yang berkaca-kaca, hingga setetes air yang berhasil keluar dari matanya.


"Sepertinya kau telah salah menilaiku !" Ucap Dara dengan bangga.


Doooor..


Pria yang menahan Rena seketika terjatuh ke depan dengan darah yang bercucuran berasal dari kepalanya. Kemudian menampilkan sosok wanita kecil yang berdiri dengan tangan yang masih terulur memegang pistol.


Ia kemudian berlari dengan sangat cepat dan terbang seakan memiliki sayap di punggungnya, dan dengan cepat menendang wajah Cindy yang lengah karna terkejut dengan kedatangannya.


Brrrukh..


Tubuh Cindy jatuh terhempas sebelum ia benar-benar siap memberi perlawanan.


Rendy yang terlepas, segera berdiri dan kembali membekuk tangan Cindy.


Bukan hanya Cindy, para bawahan yang sebelumnya menjadikan Reno dan Dicky sebagai bulan-bulanan juga sedikit terkejut mendengar suara tembakan sebelumnya dan pada akhirnya membuat Reno dan Dicky memiliki kesempatan untuk kembali bangkit dan mencoba memberi perlawanan walau dengan sempoyongan.


Dooor..


Suara itu kembali menggema, membuat semuanya kembali terhenti.


"Berhenti, atau wanita ini mati !!" Ancam Rendy dengan kembali menodongkan senjata ke kepala Cindy.


Tapi Cindy yang membaca situasi yang sedikit seimbang memberi isyarat pada bawahannya agar tetap memberi perlawanan.


Baru saja mereka ingin maju untuk menyerbu, suara tembakan beruntun kembali menggema tak berhenti, membuat para penjahat tersebut jatuh satu per satu, hingga akhirnya tak tersisa.


Cindy menatap Dara yang masih mengulurkan tangannya dengan pistol yang masih bertengger.


"Hahaa aku tidak percaya kalau kau ternyata seorang pembelot !!" Ucap Cindy dengan tawa frustasinya.


Sedangkan Dara, ia mengabaikan ucapan Cindy dan masih terpaku di tempatnya setelah menghabisi begitu banyak nyawa. Ini untuk pertama kalinya ia benar-benar membunuh banyak nyawa dalam satu kali uluran tangan.


Namun bukan hanya dirinya. Lelaki yang dulu selalu menganggap wanita itu lemah dan semberono masih tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya tadi. Wanita itu bukan hanya mahir dalam bela diri, tapi juga mahir dalam menembak.


("Apa selama ini dia membodohiku ?!") Batin Reno.


"Kak.." Ucap Rena membuyarkan suasana yang sebelumnya menegang karna suara pistol yang menggema.


"Rena." Ucap Rendy menatap adiknya yang terlihat sangat menyedihkan, wajahnya penuh dengan memar bekas penyiksaan Gilbert maupun Cindy.


Membuat Rendy semakin kesal dan akhirnya menarik pelatuk pistolnya yang masih terarah pada Cindy.


"Kakak !!"Teriak Rena mencoba menghentikan Rendy, dia tidak ingin melihat kakaknya membunuh seseorang di depan matanya.


Dengan cepat Rena berjalan dan mencoba memberi penjelasan kakaknya.


"Lepaskan dia kak, aku mohon !"


"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah menyiksamu seperti ini !" Ucap Rendy menolak dengan tegas.


"Kak,,,"Ucap Rena menatap memohon sembari memegang tangan Rendy.


Dia tidak ingin satu orang lagi mati hanya karna dirinya, walau bagaimanapun Cindy pernah menjadi bagian dalam timnya, dia juga tahu persis mengapa Cindy sangat membencinya.


Sama seperti dulu Monica membencinya, semua karna menginginkan cinta dari seorang lelaki yang keduanya memilih mencintainya. Apalagi selama ini Arka memang selalu bersikap dingin pada Cindy.


Melihat adiknya yang memohon seperti itu, membuatnya menghela nafasnya kasar dan melepaskan cengkramannya.


"Ini adalah peringatan bagimu, jika kau kembali melukainya sedikit saja, aku tidak akan lagi segan-segan untuk membunuhmu !!" Ancam Rendy menatap tajam ke arah Cindy yang telah berdiri di hadapannya.


Tanpa menjawab atau mengucapkan sepatah katapun Cindy berjalan mundur dan akhirnya meninggalkan tempat tersebut dengan berlari.


Rena mengedarkan pandangannya menatap Dara yang masih terduduk terpaku di tempatnya. Ia kemudian berjalan dan perlahan berjongkok dan memeluk Dara dengan erat.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, semuanya sudah berakhir." Ucapnya berulang kali sembari menepuk pelan punggung wanita tersebut.


Ya, semuanya memang sudah berakhir, termasuk akhir dari Ayah angkatnya (Gilbert).


Dara akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Rena dan terus menangis dalam diam, meratapi dirinya tak berdaya. Hingga beberapa suara sirene ambulance terdengar parkir di depan gedung tua tersebut.