
Flashback On.
Sudah hampir Dua puluh menit sejak perginya Rena meninggalkan kedua wanita yang kini sama-sama telah menjadi Ibunya tersebut.
Dan saat ini Mariah seperti cacing kepanasan mondar-mandir karna penasaran dengan apa yang akan di lakukan pengantin baru tersebut di atas sana.
Sedangkan Rani, ia lebih memilih melihat majalah mode yang ada di tangannya sambil sesekali meraih cangkir tehnya dan menyesapnya secara perlahan.
"Menurutmu apa yang akan mereka lakukan siang-siang begini ?" Tanya Mariah menatap teman sekalian besannya itu dengan senyum jahilnya membayangkan apa yang akan di lakukan anak-anak mereka.
Entah sudah berapa kali Rani berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan besannya itu.
"Ckckck.. kau seperti tidak pernah mengalaminya saja. Lihatlah dirimu ! apa kau tidak malu dengan umurmu ?"
Mariah berdecak sebal setelah mendapat semprotan pedas dari besannya itu.
"Ck.. kau benar-benar tidak pernah berubah, selalu saja menyebalkan." Kesal Mariah, sejak dulu temannya itu selalu bertingkah elegan sampai-sampai hampir tak bisa diajak bercanda.
Kalau saja menantuku bukan putrimu, aku mungkin tidak akan sepenasaran ini." Imbuhnya melipat tangannya di dada.
Rani menutup majalah di tangannya menatap Mariah penuh tanya.
"Apa maksudmu ?"
"Yaah.. kau tahu sendiri bagaimana gen keluargamu itu, putrimu sama keras kepalanya sepertimu dan suamimu. Aku jadi penasaran, bagaimana cara putra kesayanganku itu meluluhkan hati putrimu di tempat tidur ?." Celetuk Mariah.
Rani sebenarnya sedikit tidak terima temannya itu menyindir gen keluarganya, tapi ia tidak bisa menampik kalau apa yang dikatakan Mariah memang ada benarnya.
"Aku akan ke atas, apa kau yakin tidak mau ikut ?" Tanya Mariah sekali lagi.
"Tidak. Setidaknya aku masih malu dengan umurku." Rani kembali menolak dengan kata pedasnya sembari membuka kembali lembaran majalah yang sebelumnya sempat ia tutup.
"Ya sudah.." Ucap Mariah pasrah kemudian melenggang pergi.
•
Mariah terlihat sangat bersusah payah mencoba menguping apa yang di lakukan pasangan pengantin baru itu di dalam kamar. Ia menempelkan telinganya pada daun pintu yang berbahan kayu tersebut.
"Apa yang mereka lakukan ? sepi sekali." Lirihnya bertanya pada dirinya sendiri.
Lima menit berikutnya ia mendengar suara kayu yang terdorong bergesekan dengan lantai.
Matanya seketika membola, suara itu mengundang besar rasa penasarannya, hingga dirinya cukup terkejut saat seseorang memegang pundaknya dari belakang, dan berharap bukan suaminya yang menggerebek kelakuan memalukannya saat ini.
Perlahan ia memutar kepalanya menatap sang pelaku dengan gugup. Namun detik berikutnya ia menghela nafasnya lega saat melihat ternyata hanya Rani yang mencoba ikut menimbrung.
"Apa kau mendengar sesuatu ?" Tanya Rani yang kini tengah ikut menempelkan telinganya pada daun pintu.
Sebenarnya Mariah ingin sekali protes dan mengembalikan kata-kata pedas Rani sebelumnya. Tapi ia menahannya, ini bukan saat yang tepat untuk berdebat dengan teman sekaligus besannya itu.
"Mengapa aku tidak mendengar sesuatu ?" Tanya Rani lagi, terlihat jelas kalau dia sangat penasaran.
"Ssssst.. jangan keras-keras bicaranya,kita bisa ketahuan."
Mereka berdua akhirnya diam, namun sangking penasarannya, Mariah tak sengaja menekan kuat handle pintu hingga pintu tersebut terbuka lebar membuat keduanya jatuh tersungkur ke lantai dengan bersamaan.
Flashback Off.
"Mah.."
"Bun.." Ucap keduanya secara bersamaan.
Namun kemudian beralih saling menatap satu sama lain, dan menyadari posisi mereka saat ini yang sangat tidak nyaman untuk di lihat orang lain.
Sedangkan Mariah dan Rani yang posisinya masih berada di lantai hanya bisa menatap dengan mata yang membola, namun setelah melihat Rena yang susah payah memperbaiki posisinya, mereka berdua segera berpaling dan bergegas berdiri.
"Maaf mengganggu, sejujurnya mamah hanya ingin mengecek apa kalian mengunci pintu atau tidak. Tidak di sangka--" Mariah tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
Rangga tahu kalau Ibunya berbohong, ia menggelengkan kepalanya menyikapi Ibunya yang selalu saja kepo jika bersangkutan dengan menantu idamannya itu.
Sedang Rena, ia hanya menggaruk lehernya yang tak gatal sembari menatap ke sembarang arah asal tidak menatap Ibu dan mertuanya yang sudah menangkap basah posisi vulgar mereka, jangan ditanyakan lagi bagaimana merahnya wajahnya saat ini karena malu.
Tanpa aba-aba, Rani dengan cepat menarik lengan Mariah dan menutup kembali pintu kamar tersebut.
"Sudah ku ingatankan tadi agar tidak menguping mereka." Kesal Rani menahan malu sembari berjalan menuruni anak tangga.
"Hey, kenapa kau menyalahkanku ? lagipula aku tidak memaksamu tadi. Kau sendiri yang mau." Jawab Mariah membela diri sembari mengedikkan bahu, namun ia masih terus tersenyum membayangkan bagaimana posisi anak mereka tadi.
Itu sangat menyenangkan sekaligus melegakan.
•
Saat pintu tertutup, keduanya hanya diam hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga menit berikutnya Rangga memperbaiki kembali kancing kemejanya yang terbuka dan dasinya yang longgar.
"Istirahatlah.." Titahnya kemudian sembari meraih jasnya yang tadi sempat di lemparnya asal.
"Kau, mau kemana ?" Tanya Rena.
Rena menghela nafasnya lega bersamaan dengan mendaratkan tubuhnya di sofa. Kejadian tadi benar-benar membuat jantungnya bekerja ekstra dua sampai tiga kali lebih cepat dari batas normalnya.
•
Rani dan Mariah menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara pintu kembali terbuka lalu tertutup.
"Rangga.." Sapa Mariah saat melihat putranya berada di ujung tangga, bersiap untuk pergi.
"Mau kemana sayang ?" Tanya Mariah lagi.
"Kantor, ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan." Jawab Rangga ramah mencoba menutupi amarah yang sebelumnya membuncah.
"Loh, terus bagaimana dengan Rena ?" Kali ini Rani ikut bertanya.
"Rena, dia dikamar, katanya mau istirahat." Jawab Rangga asal.
Rani akhirnya mengangguk mengerti, kali ini dia tidak ingin menyusahkan menantunya itu dengan banyak pertanyaan, meski dia yakin kalau ada sesuatu yang sedang di sembunyikan Rangga, melihat bagaimana ekspresi menantunya itu saat menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu aku pergi dulu.
Mah.
Bun." Pamit Rangga sedikit membungkuk kemudian mempercepat langkah kakinya melewati kedua wanita paruh baya tersebut menuruni anak tangga dan keluar dari kediaman Ayahnya.
•••
"Rangga.." Ucap Reno berdiri cepat saat melihat siapa yang sudah membuka pintu ruangannya dengan cukup kasar.
"Bawakan semua berkas yang harus ku periksa dan segera di selesaikan ke ruanganku sekarang !." Titah Rangga pada Reno yang masih terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Bukankah seharusn--"
Braaak..
Reno tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat Rangga sudah menutup kembali pintu ruangannya dengan cara yang sama.
"Ada apa dengannya ?" Tanyanya pada dirinya sendiri masih menatap heran ke arah pintu yang baru saja tertutup.
•
Tok.tok.tok.
Reno mengetuk pintu sebelum akhirnya membuka pintu ruangan bos sekaligus sahabatnya itu, dan masuk dengan lima berkas dengan map yang berbeda di tangannya.
Ia menaruhnya pelan di atas meja yang dengan cepat di raih oleh Rangga untuk di periksa.
Reno menghela nafasnya cukup kasar, ia tahu betul sikap sahabatnya itu, dan menebak kalau lelaki itu pasti sedang memiliki masalah.
Yang membuatnya semakin penasaran. Selain Rena, masalah apa lagi yang dimiliki bosnya itu ? bukankah seharusnya lelaki itu menghabiskan waktunya bersama pujaan hatinya yang hampir membuatnya gila itu di suatu tempat ?
Mereka baru semalam menikah, tapi lelaki itu malah datang ke kantor dan memulai lagi hobi dulunya yang gila kerja.
Reno menarik kursi dan duduk di depan sahabatnya, mengamati ekspresi bosnya itu dengan seksama.
"Sekarang apa lagi yang membuatmu kesal ?" Tanyanya kemudian.
Rangga tidak langsung menjawab, sebaliknya ia protes mengapa Reno menerima kerja sama dengan perusahaan yang pimpinannya memiliki nama yang sama dengan orang yang sangat ia benci sampai saat ini.
Plaaak..
Rangga membanting map itu di atas meja.
"Siapa yang menyuruhmu menerima tawaran kerja sama ini dengan pemilik perusahaan yang bernama Arka itu ?!" Protesnya membentak kesal.
Reno mengerutkan alisnya, kemudian meraih map itu kembali dan mengamati setiap rincian mengenai perjanjian dalam kontrak dan keuntungan yang akan mereka dapatkan nanti jika kerja sama ini berjalan mulus.
"Apa yang salah ? perjanjiannya tidak begitu sulit, dan yang pokok kita bisa mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari hasil kerja sama ini." Jelas Reno.
"Aku tahu." Jawab Rangga dengan cepat.
"Lalu apa yang salah ?"Tanya Reno semakin tidak mengerti.
"Coba kau lihat lagi di bawahnya." Titah Rangga dengan kesal.
Mau tidak mau Reno kembali membuka map tersebut, dan sekali lagi membaca setiap kalimat yang tertulis di lembaran putih yang sudah ada cap logo perusahaannya tertera di atasnya.
"Apa ?" Tanya Reno, berapa kalipun ia mengulangi membaca isi dari perjanjian tersebut, tetap saja dia tidak dapat menemukan hal yang dapat merugikan perusahaan kedepannya.
Rangga berdecak kesal.
"Ck.. apa kau masih belum melihatnya ? aku tidak suka dengan nama pemilik perusahaan itu !" Jelasnya.
Yang benar saja ? apa tidak ada nama yang lebih bagus selain nama Arkana-Arkana itu ?!" Imbuhnya mengumpat kesal.
Seketika Reno mendongak, menatap sahabatnya itu dengan heran sekaligus marah. Bagaimana bisa bosnya itu menyalahkannya hanya karna sebuah nama ? benar-benar keterlaluan.