
Waktu terus berputar dan hari semakin siang, tak terasa bel bertanda berakhirnya jam pelajaran siswa berbunyi,semua guru meninggalkan ruang kelas mereka masing masing.
Rena berdiri menghampiri Rangga.Sejenak ia terdiam memperhatikan Rangga yang merapikan bukunya di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas,mengabaikan keberadaannya.
Awalnya Monica juga memperhatikannya, ia sendiri juga merasa bingung atas sikap Rangga yang tiba tiba dingin pada Rena.
"( Apa yang terjadi ? bukankah tadi dia dengan jelas mengatakan kalau dia mencintai Rena ? lalu, apa yang dia lakukan sekarang ? Tunggu dulu, mengapa aku harus peduli ? seharusnya aku merasa senang sekarang. Ya, setidaknya, dia mengabaikannya !)" Gumamnya
Monica menatap puas ke arah Rena dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ren, kita deluan ya !?" Seru Tika
Rena menoleh kearah sahabatnya dan menganggukkan kepalanya dengan menatap kedua sahabatnya itu, kemudian kembali menatap tajam ke arah Rangga.
"Heh otak mesum ! ada apa denganmu ?!" Rena benar benar tak bisa menahan dirinya untuk bertanya
"Memangnya ada apa ?! bukankah kamu lebih suka kalau aku menjauh darimu !?" Jawab Rangga datar dan beranjak dari tempat duduknya
"Baguslah kalau begitu, akhirnya aku bisa terbebas darimu !" Timbal Rena Menutupi perasaan yang sebenarnya
Rangga hanya tersenyum sinis dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Rena.
Rena benar benar tak bisa menerima sikap Rangga yang tiba tiba berubah dingin terhadapnya,ia merasa sangat terganggu dengan sikap Rangga yang berubah seperti itu. Hati dan pikirannya tidak bisa menerima.
"(Hah.. dia mengabaikanku ?!)" Ia segera berlari menyusul Rangga
"Hei, tunggu dulu !" Seru Rena
Rangga kemudian tersenyum kecil dan menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik dan menoleh ke arah Rena.
"Mengapa sekarang kau mengejarku ?!" Tanya Rangga sedikit meledek
"Jangan salah faham dulu, aku hanya ingin memberitahumu, kalau sebentar sore kita sudah mulai belajar kelompok ! dan untuk hari ini kita akan berkumpul dirumahku dulu !" Jelas Rena dengan nafas terengah engah
"Owh oke !" Jawab Rangga dan kembali melanjutkan langkah kakinya
Rena menghembus nafas lega
"Huuuuuft !(Apa cuman itu yang bisa dijawabnya !? Dasar !)" Ia memiringkan bibirnya menatap punggung Rangga yang kian menjauh menghilang dari pandangannya.
"Hei.. !" Seseorang mengejutkannya. Ia menepuk pundak Rena dari arah belakang, membuatnya tersadar dari lamunannya,ia kemudian menoleh menatap lelaki itu
"Arka !
Apa lukamu sudah sembuh ?!" Sambil memegang plaster yang masih menempel di kepalanya
"Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja ! apa yang kamu lakukan sendiri disini ?!" Tanya Arka
"Aaah... itu.. !" Rena tak tahu harus menjawabnya jujur atau haruskah ia berbohong.
"Tidak perlu di jawab, kau pasti menungguku bukan !?" Goda Arka
Rena hanya tersenyum ciut
"Baiklah, apa kau ingin pulang denganku !?"
"Emmm sebenarnya jemputanku sudah menungguku sedari tadi !"
Arka menganggukkan kepalanya
"Ya sudah, kalau begitu kita barengan saja ke parkiran !" Ajak Arka
Rena hanya tersenyum menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berjalan bersama menuju parkiran.
"Ya sudah, kalau begitu, aku deluan ya !" Pamit Rena
"Oke, sampai ketemu besok !" Jawab Arka
Rena tersenyum dan masuk ke dalan mobil. Pak Joko segera tancap gas meninggalkan area parkiran sekolah
•••
Sore Hari
Teman Rena datang satu persatu.Anggi yang lebih awal tiba, dan di susuli Sasya.
Sepuluh menit telah berlalu mereka belum juga memulai pelajarannya. Sesekali Rena akan berjalan mondar mandir menatap ke luar menunggu kedatangan Rangga.
"Hmmp, apa anak itu tidak akan datang ?!" Dengus Rena menyilangkan kedua tangannya di dada menatap pintu utama di rumahnya.
"Ren,di mulai saja yuk !" Ajak Anggi
"Sebentar ya, sedikit lagi !" Pinta Rena
Anggi sedikit kecewa dengan jawaban Rena, ia sudah sedari tadi kesal dengan menunggu Rangga. Dan Rena menyadari hal itu.
"Oh, kalau begitu, aku akan mencoba menghubunginya !" Seru Rena mencoba menghibur Anggi dan Sasya
Rena segera meraih ponselnya dan menelfon Rangga
Tuuut... tuuut.. tuuut...
"Halo !" Terdengar suara wanita yang di ujung telfon
"(Mungkinkah aku salah nomor ?)"
"Halo, ada yang bisa saya bantu ?!" Tanya wanita di seberang sana
"Bukankah ini nomor Rangga ?"
"Ya, maaf ini siapa ya ?!"
"Saya.. (apakah aku harus mengatakan kalau aku adalah calonnya ?! aaakh, mengapa dia bersama wanita ?!) Saya temannya, apa saya boleh bicara dengannya !?"
"Oh, maaf, Rangga sedang tidur, sepertinya dia kelelahan !?" Jawab wanita itu
"(What !? apa maksudnya ? apa jangan jangan mereka habis... Aaakh dasar otak mesum !!!) Oh baiklah, kalau dia bangun, tolong katakan padanya, kalau aku tidak jadi mengajaknya belajar bersama !" Ujar Rena
Tut. Rena mematikan telfonnya secara sepihak.Ia begitu terlihat sangat kesal
"Ada apa Ren ?!" Tanya Anggi sedikit penasaran
"Ah, tidak perlu dibahas, kita tidak perlu lagi menunggunya !" Jawab Rena kesal dan duduk di bergabung bersama temannya
•••
Clap.. !
Suara tepukan tangan antara Rangga dan Ibunya
"Ecting mamah memang hebat !" Rangga memuji Ibunya yang masih berdiri memegang ponselnya
"Apa kamu mendengarnya ? Sepertinya, dia sangat kesal !" Sambil tertawa menatap Rangga
"Pasti saat ini dia sudah mengumpatku habis habisan !" Sahut Rangga
"Kalau begitu,ayo kita berangkat ! Mamah tidak sabar ingin bertemu dengan calon menantu mamah, pasti wajahnya sekarang akan sangat lucu !" Seru Mariah
"Yuk !" Ajak Rangga
Rangga segera mengemudikan mobilnya menjelajah jalanan yang berdesakan penuh dengan kendaraan.
Selang beberapa saat mereka telah sampai di perumahan elite dan menuju ke kediaman Atmajaya
Terlihat Rani sudah berdiri menunggu di teras rumahnya menyambut kedatangan Mereka.
"Hai Mariah, sudah lama ya, kita tidak bertemu !" Sapa Rani sambil memeluk Mariah
"Iya nih, makanya aku kesini, aku rindu dengan masakanmu !" Jawab Mariah sambil memuji
"Masuk yuk, Rangga.. masuk sayang !?" Ajak Rani
"Iya tante !" Jawab Rangga sopan
"Wah, sangat Minimalis yah.. !"
Rani hanya tersenyum mendengarnya. Rani memang seorang ibu yang sederhana, walaupun penghasilan suaminya terhitung fantastis, namun, ia tidak terlalu suka dengan kemewahan.
Rumah itu nampak kecil namun masih terlihat mewah dengan interiornya.
"Rena... !" Seru Rani
"Iya Bunda !" Jawab Rena yang masih sibuk belajar, tidak menyadari dengan kedatangan Rangga dan Ibunya.
"Ada Rangga dan Tante Mariah nih !" Seru Rani
Rena yang mendengar nama Rangga sejenak tertegun di tempatnya dan perlahan menoleh ke arah Ibunya.
"Sini sayang !" Ajak Bu Rani sedikit memanggil dengan isyarat kepalanya
"Bentar yah !" Rena pamit pada Anggi dan Sasya
Mereka berdua bersamaan menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.
Rena segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Ibunya.
"Hai tante !" Sapa Rena dan mencium tangan Mariah
"Duuuh.. anak yang manis !" Ucap Mariah
Rena kemudian menatap Rangga dengan penuh kekesalan,namun lagi lagi Rangga hanya mengabaikannya.
"Bunda, Tante.. aku belajar dulu yah !"
"Apa kamu tidak mengajak Rangga ?!" Tanya Mariah
"Emm, aku sudah mengajaknya di sekolah tadi, dan sekarang terserah dia mau bergabung atau tidak !" Jawab Rena sedikit ketus melirik Rangga
"Rena, mengapa berbicara seperti itu dengan Tante Mariah !" Tegur Rani
"Maaf Tante !" Pinta Rena
"Tidak apa apa sayang !" Sambil tersenyum
Rena kemudian kembali bergabung bersama kedua temannya, dan di susuli Rangga dari belakang.
Baru saja Rangga duduk, namun Rena sudah menyemprotnya dengan pertanyaan.
"Dengan siapa kau tadi ?" Tanya Rena datar
"Siapa ? Aku ?!" Tanya Rangga berpura pura
"Maunya siapa lagi ? hanya kau yang baru bergabung disini !" Ketus Rena
"Untuk apa kau menanyakan urusanku ?!" Tanya balik Rangga
"Heh ! itu memang urusanmu, tapi bisakah kau membagi waktumu untuk bersenang senang dan belajar ?!"
"Apa maksudmu aku bersenang senang ?" Tanya Rangga memancing, ia sangat ingin tertawa melihat Rena yang sedang marah karenanya.
Anggi dan Sasya hanya menatap bingung antara Rangga dan Rena.
"Apa mereka sedang bertengkar ?!" Bisik Sasya
Anggi hanya mengedikkan bahunya tak tahu
"Bukankah tadi kau bersenang senang dengan seorang wanita ?!" Tanya Rena yang tidak bisa lagi menutupi kekesalannya.
Kali ini Rangga hanya mengabaikan pertanyaan Rena
"Apa kita bisa belajar sekarang !!" Tanya Rangga mengubah topik pembicaraan
"Tahukah kau, kalau kami harus menunda beberapa waktu hanya untuk menunggumu !" Seru Rena
"Kenapa sekarang kau sangat cerewet huh ?! Tanya balik Rangga
Kau terlalu membesar besarkan masalah !" Imbuhnya datar
Pak !
Rena membanting bukunya dan pergi meninggalkan Rangga dan kedua temannya.
"Ada apa dengan dirinya ? kenapa dia sangat sensitif ?!" Kata Rangga, sambil menatap kepergian Rena
"Rangga, seharusnya kamu meminta maaf padanya !" Seru Anggi dengan suara lirih
"Untuk apa ?"
"Apa kau tidak sadar ? kau datang sangat terlambat,bukannya meminta maaf, kau malah mengatainya !"
"Apa sekarang kau juga ingin memarahiku ?!"
Anggi hanya menghela nafasnya kasar
"Hmmp, susah ya, bicara sama kamu !"
Anggi kembali membuka bukunya dan sesekali menjelaskan pada Sasya ketika Sasya membuat pertanyaan.
Mariah yang sedari tadi memperhatikan Rena segera menyusulnya.
Rena terlihat duduk merenung di tepi kolam renang sambil merendamkan kakinya. Ya, begitulah caranya ketika ingin mengendalikan amarahnya.
"Rena !" Sapa Mariah
"Ya Tante !" Jawab Rena dan menoleh ke arah Mariah
"Kamu sedang apa ?!"
"Oh, itu.. aku hanya ingin menenangkan fikiran !" Jawab Rena dengan senyum
"Apa kamu marah pada Rangga ?!"
Rena hanya membisu
"Oh ya, apa kamu yang tadi menelfon Rangga ?!" Tanya Mariah
"(Mm Bagaimana Tante Mariah bisa tahu ?Apa mungkin, wanita yang tadi mengangkat telfonku adalaaah. Astaga, apa mungkin aku telah salah paham ?!)"
"Ba-gai-ma-na tante ta-hu ?!" Tanya Rena terbata
Mariah hanya bisa tersenyum melihat Rena gelagapan.
"Tentu saja tante tahu, yang mengangkat telfonmu tadi adalah tante !" Jawab Mariah yang tidak ingin berlama lama mengerjai Rena
"Tapi, suara tante terdengar sangat muda, aku fikir tadi.. !" Rena merasa enggan melanjutkan apa yang di fikirkankannya.
"Apa maksudnya tante terlihat tua ?!" Tanya Maria mencoba mempermainkan Rena
Aakh ! ini tidak bisa terjadi, tante belum siap tua !" Celetuknya
Membuat Rena sedikit tertawa.
"Ah, bukan maksudku seperti itu !"
"Lantas ?!"
"Aku cuma... !" Rena tak dapat melanjutkan kalimatnya.
Namun Mariah bisa menerka apa yang difikirkan oleh gadis yang ada di hadapannya, ia kemudian tertawa seakan tergelitik oleh sesuatu.
"Hahahaaa,"
Rena hanya tertunduk malu melihat ekspresi Mariah, ia bisa menebak kalau fikirannya sudah terbaca.
"(Apa aku sepolos itu, bahkan aku tak bisa menyembunyikan fikiranku sendiri , ah.. betapa malunya !)"