
"Halo John, datanglah ke kantorku. Ada yang perlu kita bicarakan !" Titah Jaya
"Baiklah, aku akan segera ke sana !" Ucap John
Tut. telpon terputus
"Apa yang terjadi pah ?" Tanya Maria sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja makan
"Jaya menyuruhku untuk datang ke kantornya, sepertinya ini masih menyangkut masalah tabrak lari Rena."
"Oh, jangan sia siakan kesempatanmu. Kau harus menjelaskan yang sebenarnya seperti yang di katakan putramu !" Seru Rani
"Maksudmu, aku harus memberi tahu kalau Rangga membiarkan teman kecilnya mengacaukannya ?!"
"Apa maksudmu ? Monica bukanlah gadis seperti itu !"
"Hmmp gadis itu tak sesederhana seperti yang kau fikirkan." Sambil menyesap kopinya
"Mengapa kau jadi menyalahkan gadis yang tak bersalah dan tak ada sangkut pautnya dengannya ? mamah sangat mengenal Monica,dia adalah gadis yang baik, dia tidak mungkin sengaja melakukannya.Jelas Mariah
Lagian, kau tahu sendiri bukan ? mereka berdua sudah berteman sejak kecil, dan Monica sudah seperti saudari bagi Rangga." Imbuhnya
"Yah, terserah mamah, papah tidak ingin berdebat lagi." Sambil meletakkan cangkir kopinya kemudian beranjak dan meraih kunci mobilnya.
Papah pergi dulu yah !" Mmmuach. Sebuah ciuman ia daratkan di dahi Mariah
Wajah yang tadi kesal terlihat kini mulai merona lagi. Yah.. seperti itulah pernikahan
•••
Tok tok tok
"Pak, Pak John sudah tiba" Ucap sekertaris Sena
"Biarkan dia masuk !" Perintah Jaya
"Baik pak." Sena mengangguk mengerti lalu mempersilahkan John memasuki ruangan
"Silahkan duduk John !"
John hanya mengangguk patuh.
Walaupun Jaya baru menetap di kota itu, tapi pada dasarnya Jaya adalah warga asli dikota itu, Perusahaan keluarganya yang sudah turun temurun membesar di kota itu. Pada awalnya setelah pernikahannya bersama Rani,ia memilih tinggal di kota kelahiran Istrinya, membantu perusahaan Maharani.Hingga suatu hari, ia harus kembali di perusahaan milik Ayahnya dan meneruskannya menggantikan CEO sebelumnya.
"Maafkan putraku Jaya, aku tahu kalau dia sangat ceroboh kali ini ! tapi aku berjanji, kejadian ini takkan terulang lagi." Ucap John mencoba meyakinkan Jaya
"Aku ingin lebih tahu dengan gadis itu ! apa hubungannya dengan anakmu ?!" Tanya Jaya
"Monica adalah anak dari bawahanku di kantor, ayahnya adalah seorang pekerja keras dan aku sangat mempercayainya, yah.. boleh dibilang dia adalah orang kepercayaanku. Dia adalah seorang Ayah dan Ibu bagi putrinya. Saat Monica masih kecil, terkadang Ayahnya akan membawanya ke kantor. Menurutku gadis itu sangat manis saat itu. Aku tidak tahu, kalau ternyata Rangga akan sangat terpengaruh dengan mulut manisnya. Jelas John
Kau tahu sendiri, Rangga adalah anakku satu satunya, dan inisiatifku pada waktu itu, alangkah baiknya kalau Rangga berteman dengan Monica. Hingga mereka tumbuh bersama dan aku selalu mendaftarkan mereka di sekolah yang sama." Imbuhnya
Jaya hanya mengangguk mendengar penuturan John
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan padanya ?!" Tanya Jaya
"Aku sudah memikirkannya, dan memutuskan untuk menjauhkan Rangga darinya ! menurutku, gadis itu tidak sesederhana yang aku fikirkan." Tutur John
"Baguslah, kau sudah memahami maksudku !" Jawab John datar
Butuh beberapa saat untuk John mengutarakan keinginannya. Ia sebenarnya sangat malu jika harus memohon, tapi ini demi perusahaannya sendiri.
"Sepertinya, kau ingin mengatakan sesuatu John !" Sahut Jaya
"Mmm begini, bagaimana dengan kontrak kerja kita ? apa kau bisa mempertimbangkannya kembali ?!" Tanya John sedikit gugup
"Itu tergantung dari dirimu John. Kau harus menyelesaikan masalah gadis itu dulu, aku tidak mau kedepannya dia kembali merusak hubungan anak kita ! Jawab Jaya
Dan, sebenarnya, aku membatalkan kontrak kerja kita bukan hanya karna masalah ini, tapi ini juga sudah menjadi keputusan dewan direksi." Jelasnya
"Apa maksudmu ?!" John masih belum mengerti
"Pikirkan saja, Aku sudah berinvestasi ratusan juta untuk perusahaanmu, tapi, lihatlah, belum ada peningkatan dan hasil.Setiap proyek yang kau jalankan tak pernah berjalan mulus. Ini menandakan ada orangmu yang bermain di perusahaanmu !" Jelas Jaya
"Bagaimana aku bisa seteledor ini ?!" Ucapnya dengan lirih merasa frustasi
"Ini tanggung jawabmu sebagai CEO di perusahaanmu ! kau harus mengambil strategi dan tindakan. Basmi semua tikus yang bersembunyi di balik meja. Sebelum kau menyelesaikannya, aku tak akan pernah mengeluarkan uang sedikit pun untuk perusahaanmu. Kau sangat tahu kalau aku sangat menghargai uangku." Ucap Jaya
"Jika aku bisa mengatasinya, apa kau akan kembali membantuku ?!" Tanya John
"Tentu saja, selagi kau mengatasi masalah yang ada di kantormu, aku akan berusaha membujuk beberapa pemegang saham dan membicarakannya kembali di rapat Dewan Direksi. Jelasnya
Dan satu hal lagi, kau harus mengurus secepatnya gadis itu !" Imbuhnya
John hanya bisa mengangguk setuju. dan mulai menyesap kopi yang sudah dari tadi duduk di atas meja.
•••
"Rangga, bangun ! apa kau tak ingin menjenguk Rena ?!" Seru Mariah, sudah sedari tadi ia membangunkan putranya namun Rangga tak kunjung bangun.
Mendengar ucapan terakhir Ibunya, ia segera bangun dari tidurnya dan duduk menatap Ibunya.
"Apa yang mamah katakan barusan ?!"
"Apa kau tak ingin menemui Rena ?! Mamah akan ke Rumah Sakit !" Sahut Mariah
"Bukankah, Papah sudah melarang kita untuk tidak menemui mereka dulu ? bagaimana jika tante Rani mengusir Mamah ?!"
"Papah sudah menelfon Mamah, dan mengkonfirmasi Rumah Sakit tempat diamana Rena di rawat !"
"Bagaimana bisa ?
"Tadi pagi Papahmu menemui Ayah Rena di kantornya, mungkin Papah sudah mengklarifikasi masalahmu dengan Monica dan kejadian yang sebenarnya !" Ucap Mariah, ia merasa bahagia akhirnya masalah keluarganya telah selesai.
•••
RS. ANUTAPURA
Tok tok tok
Ceklek
Pintu terbuka
"Tante Mariah !" Seru Rena dengan bahagia
Rani yang asik membaca majalah, segera memalingkan wajahnya menatap kedua orang yang baru saja tiba
"Mariah ! aku ingin bicara denganmu !" Ucap Rani
Mariah sedikit ragu, namun ia mengikuti langkah Rani dari belakang, keluar dari ruangan dimana Rena masih duduk di atas pembaringannya.
"Ada apa Ran---"
"Sssst diamlah, kalau tidak, kita akan ketahuan !" Sahut Rani memotong pertanyaan Mariah sambil mengintip di kaca pintu kamar Rena
Mariah yang mengerti, hanya bisa tersenyum dan mengikuti arahan Rani. Mereka sudah cukup Tua tapi masih terlihat seperti anak remaja.
"Ren, aku.. " Rangga tak tahu harus berkata apa
"Kemarilah !" Panggil Rena dengan tangannya
Rangga kemudian meletakkan buah yang ia bawa di atas meja dan melangkah mendekati Rena
Dengan sigap, Rena meraih tangannya dan memeluk Rangga dengan erat. Rena melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rangga dan Rangga hanya bisa tersenyum dan membalas pelukan Rena.
"Uwwuh.. manisnya !" Lirih Mariah menyaksikan pemandangan di balik ruangan
"Aku merindukanmu !" Lirih Rena
"Aku lebih merindukanmu ! aku merasa sesak karna tak bisa menemuimu beberapa hari ini !" Jawab Rangga
Namun belum berapa lama mereka melepas rindu, Rena segera menarik kuping Rangga dengan kuat,membuat Rangga berteriak kesakitan
"Aaw aaa aw.. Rena sakit ! lepaskan telingaku !" Seru Rangga
"Kau otak mesum ! apa yang kau lakukan bersama Monica hah !" Teriak Rena
"Bagus ! beri dia pelajaran !" Seru Rani di balik ruangan
"Hey, apa maksudmu ?!" Tanya Mariah
"Itu adalah pelajaran untuk anakmu, berani beraninya dia memperlakukan putriku seperti itu !" Tegas Rani
"Hmmp.. baiklah ! aku akan menerimanya !" Ucap Mariah datar
"Hey, jangan memasang wajah seperti itu ! sebaiknya kita pergi dari sini, ada yang ingin ku tanyakan padamu !"
"Mmm baiklah !" Sambil tersenyum dan meraih tangan Rani
Di sisi lain
"Aaw.. maafkan aku, tapi lepaskan dulu telingaku !" Mohon Rangga
Setelah merasa puas, Rena melepaskannya. Telinga Rangga terlihat sangat merah,Rena hanya bisa tertawa lucu melihatnya
"Hmmp apa sekarang kau puas !" Seru Rangga dan meringis kesakitan pada area telinganya
Rena hanya tersenyum melihat ekspresi Rangga
"Maafkan aku, aku tak melihatmu waktu itu !" Ucap Rangga
"Jadi, jika aku tak melihatmu, kau bisa melakukan apa saja dengan Monica ?!" Seru Rena sambil bersedekap
"Tentu tidak, memangnya apa yang aku lakukan bersama Monica ?!"
"Kau terlihat sangat nyaman di gandeng wanita lain !"
"Oho.. ternyata kau cemburu ? benarkah ?! tapi menurutku kecemburuanmu terlalu berlebihan !" Ledek Rangga
"Apa maksudmu ?! Aaa kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku menggandeng pria lain !" Ancam Rena
"Hey, jangan pernah melakukannya ! aku tidak suka !"
"Lihatlah dirimu, betapa egoisnya !" cekcekcek Rena berdecak kesal
"Tapi kau tahu kalau aku tidak ada hubungan apa pun dengan Monica, dia hanya sahabatku !"
"Ehem ! kau bisa terus menganggapnya sebagai sahabat tapi bagaimana dengan dirinya ? aku sangat tahu kalau dia begitu sangat mencintaimu ! jadi,bukankah kau seharusnya berjaga jarak dengannya ?"
"Apa maksudmu !"
"Jangan terlalu dekat dengannya, itu sama saja kau memberikan harapan untuknya !" Tegas Rena
Rangga memikirkannya untuk beberapa saat
"Baiklah, kalau kau tidak mau. Sebaiknya kau pulang saja dan jangan menemuiku lagi. Aku akan menelfon Arka !"
"Apa maksudmu dengan menelfon Arka hem ?!" Seru Rangga
"Kenapa ? apa kau cemburu ? jangan salahkan aku, itu adalah kesalahanmu !"
"Baiklah, aku akan menjaga jarak dengan Monica, tapi kau harus berjanji tak akan pernah menghubungi Arka lagi !" Pintanya
Rena hanya tersenyum melihat kecemburuan yang tersirat di wajah Rangga, menurutnya itu sangat menggemaskan