Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Hari Pertama Perang Di Mulai



Sebelum ia memulai perangnya bersama kedua orang tuanya, ia terlebih dahulu menyiapkan segalanya.


Saat dimana semua orang telah tertidur lelap dalam mimpinya, ia dengan penuh minat mengumpulkan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk beberapa hari kedepan.


"Susu, snack, roti, air mineral, emmm apa lagi ya.. " Lirihnya dengan mengangkat keranjang sedang di pelukannya yang sudah di penuhi berbagai makanan ringan dan minuman.


"Sepertinya sudah semuanya, baiklah, waktunya kembali ke kamar dan mengunci pintu."


Ia berjalan dengan langkah yang cukup pelan tanpa membuat keributan, seakan dirinya adalah seorang pencuri yang mahir melakukan tugasnya.


•••


Jam menunjukkan arah 07.30


Semua penghuni di dalam rumah tersebut telah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Ketika para pembantu mengerjakan tugas mereka, Rani yang sebagai Nyonya dalam keluarga, menjalani tugasnya untuk menyiapkan segala yang di butuhkan untuk sang suami dan juga putrinya.


"Dimana Rena ? apa dia belum bangun ?" Tanya Jaya berjalan mendekati Istrinya di meja makan.


Rani hanya mendengus pelan mendengar pertanyaan Suaminya.


"Hmmp.. sudah tiga kali aku bolak balik ke kamarnya hanya untuk membangunkannya, tapi sepertinya ia tidak mendengarku !" Jawabnya tanpa daya sembari menyeduhkan kopi untuk suaminya.


"Apa dia baik-baik saja ?" Tanya Jaya kembali sambil memasang kancing lengan kemejanya.


"Entahlah, dia mengunci pintu kamarnya."


Jaya terhenti sejenak dengan aktivitasnya.


.


"Coba lagi, jika tak ada suara, aku akan memeriksanya !" Titah Jaya


Rani yang mengetahui pemikiran suaminya, tidak bisa tidak untuk merasa khawatir, pasalnya, ini adalah hari pertama Rena di rumah itu sejak keluar dari rumah sakit.


Dengan cepat ia lari menaiki anak tangga dengan terburu-buru, ia bahkan melupakan bahwa ada lift di rumah itu.


Tok,tok,tok


"Rena, apa kau mendengar Bunda ?" Serunya


Tok, tok, tok


"Rena, buka pintunya sayang !"


Tok, tok, tok


"Rena ! apa kau baik-baik saja ? jangan menakuti Bunda !" Pekiknya dengan mengguncang knop pintu.


cek,cek,cek, Tok tok tok


"Rena !!"


Rani semakin panik dan segera berlari di ujung tangga untuk memanggil suaminya.


"Ayah ! Ayah !" Teriaknya, membuat suaranya menggema di setiap penjuru ruangan.


Para Pembantu yang mendengarnya pun ikut panik dan berkumpul melihat apa yang terjadi.


Mendengar suara Rani yang memanggilnya dengan nada panik, segera dengan sigap Jaya berlari menaiki anak tangga dan menemui Rani yang tak tahan lagi menahan tangisnya.


"Ada apa ?" Tanyanya dan segera merangkul Istrinya


"Tak ada jawaban dari Rena, aku bahkan tidak mendengar suara apa pun dari dalam kamarnya !" Jawabnya dengan tangis yang memecah.


"Tenanglah, aku akan mencobanya, mungkin dia tertidur lelap." Ucap Jaya mencoba menenangkan Istrinya


"Tidak mungkin, aku bahkan telah menggedor-gedor pintunya, tapi sama sekali tak ada jawaban."


"Jika seperti itu, tidak ada pilihan lain, aku akan mendobraknya." Jawabnya tegas


Ia kemudian melangkah mendekati pintu kamar putrinya dan mencoba kembali mengetuk pintu.


Rena yang mendengar suara keributan berada di luar kamarnya, segera menguping dengan seksama. Tentu saja ia tidak tahu kalau Ibunya telah menangis histeris karna khawatir dengan dirinya, setelah mendengar percakapan orang tuanya, ia sadar kalau misinya telah berhasil tanpa kesengajaan.


Ya, tanpa kesengajaan. Karna ia tidur saat larut malam, akhirnya ia terlelap dalam tidurnya hingga pagi, dan tak sadar jika Ibunya sudah sedari tadi mengetuk dan menggedor pintu kamarnya.


Tok,tok,tok


"Rena ! buka pintunya !" Seru Jaya.


Cek,cek,cek, Tok tok


"Rena ! jika kau tidak mau membukanya, maka jangan salahkan Ayah jika merusak pintu kamarmu !" Ancamnya


Mendengar ancaman Ayahnya, ia tahu kalau Ayahnya akan benar melakukannya. Dengan cepat ia merespon dan berteriak


"Jika Ayah merusaknya, aku tidak akan tinggal di rumah ini !"


Seketika, Jaya melirik Rani yang masih terlihat khawatir.


"Tenanglah, dia baik-baik saja !" Ucapnya pelan


Mendengar perkataan Suaminya, Rani merasa sedikit lega.


"Apa yang kau lakukan ? kau baru saja keluar dari Rumah Sakit, dan sekarang kau kembali bertingkah membuat Bundamu cemas ?!


Buka pintunya !" Titahnya


"Tidak ! aku tidak akan membukanya, aku tidak ingin bertemu dengan Ayah dan Bunda !" Teriak Rena dari dalam kamarnya.


Tentu saja itu acting yang ia buat agar terdengar meyakinkan.Padahal dengan senyum santai ia duduk di atas kasurnya sembari menatap knop pintu yang selalu bergerak akibat perbuatan Ayahnya.


"Apa maksudmu ? mari bicara dengan baik di meja makan !" Rayu Jaya, namun masih terdengar tegas.


"Tidak, aku tidak mau !"


"Rena... "


"Ayah tidak menepati janji, dan Bunda bersekongkol dengan Ayah ! aku tidak ingin berbicara lagi !" Teriaknya dengan senyum mengembang.


"Baiklah, sekarang Ayah tahu masalahnya, Ayah tidak akan mengganggumu lagi, dan kau akan kelaparan jika mengunci diri di dalam sana."


"Hahaa benarkah ?! Ayah hanya tidak tahu, kalau aku sudah lebih dulu mengumpulkan daya." Jawabnya dengan suara lirih sambil menatap makanan dan minuman yang memenuhi meja di dalam kamarnya.



"Ayah, apa maksud Rena ? apa kau benar-benar akan membiarkannya kelaparan ?!" Tanya Rani dengan cemas setelah mendengar argumen antara Suami dan Putrinya.


"Dia akan keluar jika merasa lapar !" Jawab Jaya singkat dan berjalan meninggalkan pintu kamar putrinya.


Rani yang tidak sepemikiran dengan Suaminya, terus meminta dan berjalan mengikuti suaminya, hingga mereka kembali di meja makan.


"Yah ! Rena baru saja keluar dari Rumah Sakit, tidak bisakah kau mengijinkannya saja ?" Pinta Rani yang kini pasrah akan putrinya.


"Baru seperti ini kau sudah mengalah." Jawabnya


"Bagaimana jika dia bersikeras tidak akan keluar dari kamarnya ?"


"Dia hanya mengancam !" Jawabnya acuh, seakan tahu betul akan sifat Rena.


"Bagaimana jika itu bukan hanya sekedar ancaman ?" Tanya Rani yang tidak bisa berhenti merasa khawatir.


"Kita lihat saja nanti !" Sambil menyeruput kopinya yang sudah dingin.


"Apa kau bertaruh ? bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu pada putrimu ?"


Namun Jaya adalah Jaya, dia akan tetap membatu jika menurutnya itu benar, walaupun itu menyangkut masalah putrinya.


Dengan sifatnya yang seperti itu selama ini, membuat bisnisnya berkembang pesat. Selain membatu dan dingin, ia bersifat tegas dan tak gampang goyah dengan permainan apapun.


Dan kali ini, ia menganggap dirinya bermain perang bersama putrinya. Namun ia tak tahu jika putrinya bisa lebih membatu dari dirinya, tapi diselingi dengan kecerdasan. Ia tak tahu jika putrinya telah menyetok daya sebelum berperang.


Jika dia menganggap dirinya pintar, maka, putrinya masih lebih cerdik dari dirinya. Kalian tahu pepatah yang mengatakan bahwa "Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya " Dan apa kalian tahu ? bahwa terkadang Buah akan lebih unggul dari Pohonnya, karna Pohon hanya akan terus menghasilkan buah hingga ia tua, sedang Buah, dia masih akan melewati vase yang mana dia akan menjadi level standar, terbaik atau mungkin buruk dari pohonnya.