Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Mimpi di dalam mimpi yang Panjang



Minggu cerah, Arah jarum pendek menunjukkan pukul 07:30 Rena masih tertidur di pembaringannya, walau cahaya mentari yang masuk melalui jendela kamar menyilaukan netranya, namun ia mengabaikannya.


Sepertinya dia tidak ingin segera bangun dari tidurnya, seperti masih ingin menikmati mimpi Indahnya,dan entah mimpi apa yang membuatnya tersenyum dalam tidur.


"Ren, Rena, sayang !!"


Ah suara itu mengacaukan segalanya


Rena mengucek matanya pelan, dan melihat dengan samar. Sesosok Pria tampan duduk tepat di sampingnya dengan kaos putih polos dan rambut yang sudah rapi menutupi sedikit dahinya .


Mata Rena seketika membola dan mencoba mengucek matanya kembali untuk lebih memastikan, namun kali ini dia benar benar yakin kalau ia tak salah melihat.


"Apa yang kau lakukan di kamarku !?" Seru Rena dan segera bangun dari tidurnya


"Apa maksudmu sayang ?! bukankah ini kamar kita ?" Jawab lelaki itu


"Kamar Kita ?!" Tidak, aku pasti masih bermimpi !" Lirihnya


Lelaki itu hanya bisa tersenyum menatap Rena penuh Cinta


"(Wajah itu..) Haaa ! Ranggaaaaa ! Mulut Rena menganga


"Ada apa denganmu sayang !" Tanya Rangga


"Sayang ?!" Kata kata itu segera menyadarkan Rena


"Sejak kapan kamu memanggilku sayang ?!"


"Hahaa apa kau sedang bercanda ?! Sambil menepuk pelan kepala Rena


Kita sudah menikah, dan aku memanggilmu sayang sejak malam pertama kita !" Jawab Rangga


"Menikah ? Malam Pertama ?!" Lirihnya


Rangga hanya bisa tersenyum melihat wajah idiot Rena namun sangat menggemaskan.


"Sudahlah, berhentilah melamun, sekarang aku sangat lapar, bisakah kau membuatkanku sesuatu ?!" Tanya Rangga


Rena masih bingung di tempatnya, ia masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Rangga kemudian mendekatinya dan merangkulnya,menuntunnya ke kamar mandi dan membantu membasuh wajahnya.


Saat itu Rangga benar benar terlihat sangat ideal sebagai suami,selain itu dia juga benar benar tampan dan dewasa.


"Sekarang sikatlah gigimu, aku akan menunggu di meja makan."


Rangga kemudian meninggalkannya berdiri dengan sejuta kejutan dalam hati dan fikirannya


"Apa aku benar benar sudah menikah dengannya ? Mengapa aku tidak mengingatnya ?!"


Rena mulai menyikat giginya, sekali lagi dia terhenti sejenak


"(Mengapa aku merasa baru kemarin, aku berangkat ke sekolah ?!)"


"Sayang... !!" Teriak Rangga


"Aaaakh menyebalkan, mengapa aku menikah dengannya ?!" Gerutu Rena "Ia sebentar !"


Rena menuju Ruang dapur dan mengambil beberapa Roti dan memanggangnya sambil menunggu dia membuat kopi utuk Rangga dan susu untuknya dan menyiapkan beberapa selai di atas meja.


Rangga terus memperhatikannya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


"Mengapa kau menatapku seperti itu ?!" Tanya Rena yang mulai sedikit kikuk


"Apa aku salah,jika menatap istriku yang cantik !?" Goda Rangga


Rena segera mengabaikannya dan mengambil Roti yang sudah matang, perlahan menaruhnya di piring dan mulai mengaplikasikan selai.


"Rasa apa yang kau suka ?!" Tanya Rena dengan jutek


"Coklat kacang ! Sambil menyeruput kopinya


"Apa kau lupa menambahkan gula pada kopiku ?!" Tanya Rangga


"Sepertinya sudah !"


"Tapi, mengapa ini sangat pahit ?"


"Benarkah ?!"


"Coba saja,jika kamu tak percaya !" Sambil menyodorkan gelas kopinya ke arah Rena


Rena meraihnya dan mulai menyeruputnya dan menatap Rangga dengan kesal


"Tapi, menurutku ini sudah manis ! apa perlu ku tambahkan lagi gula ?!"


"Benarkah ? ah, kalau begitu kau tak perlu menambahkan gula !" Sambil meraih kembali Kopinya dengan tertawa kecil


"Apa kau mengerjaiku !?" Rena terlihat kesal


Rangga hanya tersenyum dan kembali menyeruput kopinya


"Hmmm sepertinya, setelah mengenai bibirmu, kopiku terasa lebih manis !" Goda Rangga


"Kau !!" Pipi Rena seketika memerah merona, ia segera menutupi pipinya dengan kedua telapak tangnnya


"Apa sekarang kau malu ?!" Ledek Rangga


"Ranggaaaa !" Rena memekik dan berlari meninggalkan Rangga menuju kamar mandi


Rangga hanya bisa tertawa melihat ekspresi Rena yang malu dan berlari meninggalkannya.


Di dalam kamar mandi ia segera membasuh wajahnya dengan beberapa siraman air, setelah ia merasa sudah bisa mengendalikan hatinya,ia kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar namun teringat sesuatu.


"(Kalau aku sudah menikah,berarti... Haaaah.. ?! apa aku sudah melakukan hubungan intim dengannya !?)" Matanya seketika kembali membola dengan mulut ternganga, ia segera melucuti celananya dan ingin memeriksanya


Setelah selesai, ia menarik kembali celanaya dan mengagkat kepalanya, sekali lagi ia terkejut dengan kehadiran Rangga yang sedari tadi berdiri di ambang pintu memperhatikan kelakuannya.


"Sejak kapan kau berada disini ?!" Tanya Rena terbata wajahnya kembali memerah


"Sejak kau melucuti celanamu di depanku ?! apa kau sengaja untuk menggodaku ?!" Jawab Rangga menggoda


Rangga yang meraihnya segera menanamkan sebuah kecupan mesra yang mendarat di bibirnya.


Mata Rena membola ia sangat terkejut dengan ciuman itu, Rangga yang merangkul pinggangnya dengan tangan yang lain memegang wajahnya dengan ciuman mesrah yang menggairahkan.


Setelahnya, Rangga melepaskannya dan menatapnya penuh gairah, ia kemudian perlahan ingin membuka bajunya. Kali ini mata Rena benar benar membola seakan batu matanya ingin keluar dari kelopaknya,ia segera berteriak


"Ranggaaaaaaaaa !"


"Rena ! bangun sayang !"


Rena segera terbangun dan membuka matanya.


"Ada apa ? mengapa dari tadi kau memanggil nama Rangga ?!" Tanya Rani


Rena kemudian tersadar kalau semua itu hanya mimpi


"Bunda ?! mengapa aku berada disini ?! Ia menyadari dirinya yang berdiri di ambang pintu kamar mandi tepatnya persis saat Rangga menciumnya


"Apa kau tidur sambil berjalan ?!"


"Hehee sepertinya begitu !? Sambil menggaruk batang lehernya yang tak gatal


"Hemmp, kebiasaan buruk kenapa selalu di pertahankan ! dan kamu belum menjawab pertanyaan Bunda, mengapa kau dari tadi memanggil nama Rangga ?" Tanya Rani sedikit penasaran


"Aah, itu.. ! Sudahlah bunda, aku sangat ingin pipis !" Rena segera masuk dan menutup pintu kamar mandi pipinya terlihat memerah mengetahui dirinya memimpikan Rangga


"(Aaah... kenapa harus dia yang hadir di mimpiku !?)" Sambil membasuh wajahnya


Sedang Rani kembali ke dapur dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.


"Ada apa ?!" Tanya Jaya


Suara itu mengejutkan Rani


"Aaah, itu... !"Rani bergegas duduk mendekati suaminya


"Bukankah menurutmu putri kita sedikit aneh ?!"


"Maksudnya ?!"


"Apa kau tau, tadi sepertinya dia tidur sambil berjalan !"


"Lalu, apa yang aneh ? bukankah dia selalu seperti itu sejak ia masih kecil ?!


"Iih.. yang aneh itu, dia terus memanggil nama Rangga !"


"Apa ?!" Mata jaya membola menatap istrinya


Rani menganggukkan kepalanya pelan


"Mungkinkah, anak kita mulai menyukai Rangga ?!" Tanya Rani lirih


"Itu hal yang bagus !" Sambil menyeruput kopinya


"Tapi, sepertinya dia belum menyadarinya !"


"Hmmp biar waktu yang berbicara, kita hanya bisa membantu mewujudkannya !"


"Ha.. ! Apa Ayah dan Bunda sedang membicarakanku ?" Rena merangkul pundak kedua orang tuanya dari belakang.


Rani hanya menoleh dan tersenyum melihat putrinya


"Cepat habiskan susumu, Bunda sudah dari tadi menyediakannya."


"Iya Bun." Rena kemudian berjalan menuju kursinya


"Kau mau kemana ?!" Tanya Jaya yang melihat anaknya sudah rapi bersiap untuk pergi


"Aku akan pergi membeli beberapa buku !"


"Untuk apa ?"


"Mulai besok aku akan belajar kelompok dirumah bersama temanku."


"Buku apa yang kau cari ?"


"Yah.. aku juga belum terlalu tau, aku hanya mencari beberapa refrensi untuk menghadapi ujian nanti." Jawab Rena


"Apa kau sudah mencarinya di perpustakaan di ruang kerja Ayah ?!"


Rena menganggukkan kepalanya


"Aku sudah mencarinya, lagian aku juga ingin mencari beberapa kisi kisi soal ujian nanti !"


" Apa uangmu masih cukup ?!" Tanya Jaya


"Sepertinya, tidak !"


"Baiklah, nanti ayah transfer ke rekeningmu !"


"Terima kasih ayah, ayah memang ayah yang terbaik !" Sambil mendekati ayahnya dan memeluknya


"Lihatlah, kau selalu memanjakan anakmu !"


"Apa bunda cemburu ?!"Ledek Rena


"Bun.. ! apa Bunda juga ingin berbelanja ?!" Sambil melirik istrinya


"Tentu saja !"


"Ok, hari ini ayah libur, bagaimana kalau kita perginya bersama ?!" Ajak Jaya


Rani hanya tersenyum dan segera beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.


Rena dan Ayahnya tidak bisa menahan tawa melihat tingkah Rani.