
Beberapa hari setelah insiden penembakan tersebut terjadi.
Beruntung peluru yang menembus tubuh Dara tidak mengenai titik sarafnya, sehingga ia pulih dengan cepat setelah melewati beberapa pemeriksaan maupun pengobatan yang cukup intensif.
Sedangkan Mariah yang baru saja mengetahui hal tersebut dari orang kepercayaannya hanya bisa mengumpat putranya dan segera pergi menjenguk Dara di Rumah Sakit.
•
RS Anutapura.
Dara yang sedang duduk bersandar memainkan ponselnya, sedikit terkejut ketika melihat kedatangan seorang Ibu yang tidak asing di lihatnya.
Mariah yang melihat ekspresi Dara yang seperti itu hanya bisa melayangkan senyum ramahnya.
"Apa aku begitu mengejutkanmu ?!" Tanya Mariah yang kini berdiri tepat di samping Dara.
Dara mengerjapkan matanya pelan.
"Eh-bukankah anda.." Ucap Dara sedikit terbata, pasalnya ini adalah kali pertama ia bertemu Ibu Rangga secara langsung.
Mariah tersenyum menganggukkan kepalanya pelan, kemudian perlahan mengulurkan tangannya membelai pelan rambut Dara.
Dara yang mendapatkan perlakuan hangat tersebut hanya bisa menatap bingung kepada Mariah, Ia mengerutkan alisnya dan merasa sedikit gugup.
"Terima kasih.. " Ucap Mariah sendu.
Jika bukan dirimu, tante tidak tahu harus bagaimana." Imbuhnya.
Tanpa terasa air mata Mariah menetes membayangkan bagaimana jadinya jika Dara tidak segera menyelamatkan Rangga. Mungkin saat ini Rangga yang akan terbaring di tempat ini dengan keadaan kritis atau lebih buruknya mungkin sudah menjadi jenazah dan berada di pemakaman.
Melihat Ibu Rangga yang menangis, Dara meraih tisu yang ada di sampingnya dan segera menyodorkannya.
Mariah tersenyum dengan sedikit tertawa.
"Maaf, Tante terbawa perasaan." Ucapnya.
Dara hanya bisa membalas dengan senyuman.
Mariah menarik kursi dan mendaratkan bokongnya secara perlahan.
"Bagaimana keadaanmu sekarang ?!" Tanyanya.
"Aku--eh-maksud saya, saya merasa sudah jauh lebih baik !" Jawab Dara dengan gugup.
Mariah kembali tertawa kecil.
"Tidak perlu seformal itu, Tante akan merasa lebih senang jika kita bisa berbicara seperti seorang teman." Ucap Mariah.
"Ha ?!" Dara terpelongo setelah mendengar ucapan Ibu Rangga.
Mariah kembali tersenyum. Tingkah Dara seakan mengingatkannya pada seseorang yang dulu sangat di sayanginya dan hampir menjadi menantunya.
"Sepertinya kini tante tahu mengapa Rangga sangat memperhatikanmu !"
"Maksud tante ?" Tanya Dara bingung.
Dengan senyum Mariah menjawab.
"Tidak perlu membahasnya. Itu hanya sebuah kenangan masa lalu."
Untuk sesaat Mariah melirik ke setiap sudut ruangan seakan mencari keberadaan seseorang, ia kemudian bertanya.
"Dimana Rangga ?"
"Eh, kak Rangga mungkin sedang memanggil dokter !"
"Apa kau sangat dekat dengan Rangga ?" Tanya Mariah.
"Em, iya.. " Jawab Dara seraya menganggukkan kepalanya pelan.
"Lalu, mengapa Rangga memanggil dokter ? apa kau merasa sakit ?"
Dengan cepat Dara menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku malah merasa sudah sangat baikan dan ingin segera pulang, tapi kak Rangga tetap memaksaku untuk tetap tinggal di Rumah Sakit lebih lama." Ucapnya dengan nada pasrah.
Mariah tersenyum, ia merasa Rangga bersikap berbeda terhadap Dara, sepertinya ini adalah langkah yang baik untuk putranya melanjutkan hidup dan segera melupakan Rena.
Tok.tok.tok.
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan mereka.
Seorang perawat masuk dengan sebuah buku di tangannya dan disusul seorang dokter wanita yang tidak lain adalah Rena.
Mariah memalingkan wajahnya, seakan tidak suka dengan kedatangan Rena.
"Permisi, apa Ibu bisa keluar sebentar ?!" Pinta sang perawat.
Lagi pula, apa tidak ada dokter lain yang bisa memeriksanya selain dia ?!" Imbuhnya sinis.
Sang perawat terlihat kesal melihat perlakuan Mariah pada Rena, ia merasa sangat ingin membalas ucapan Mariah, namun Rena segera mencegatnya dan memberikan senyuman yang cukup ramah pada Mariah.
"Maaf Nyonya, saya meminta maaf jka anda tidak senang dengan pelayanan atau dengan kehadiran saya, tapi hari ini memang jadwal saya untuk memeriksa pasien Dara." Ucap Rena pelan dan sangat ramah mencoba memberi perhatian.
Melihat ekspresi Rena yang seperti itu, Dara tentu saja merasa kagum dan mengerti mengapa Rangga begitu tergila-gila pada dokter tersebut.
Dia bukan hanya berparas cantik, tapi juga berwibawa dan terlihat anggun meski sedang memakai seragam kedokterannya.
Rena perlahan mendekat dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Dara. Setelah itu, ia memeriksa bekas oprasi Dara yang sudah mulai mengering.
"Apa anda sudah tidak merasa pusing atau mual ?" Tanya Rena.
Dara menggelengkan kepalanya dan menjawab tidak.
"Lalu bagaimana dengan tidurmu ?"
"Tidurku juga sudah lebih nyenyak dari sebelumnya dan bekas operasinya juga tidak lagi membuatku merasa sakit." Jawab Dara.
Di saat kedua orang tersebut berbincang. Mariah yang berdiri tidak jauh dari meraka hanya bisa terdiam mengamati pembicaraan kedua orang tersebut dan diam-diam membandingkan keduanya.
Di satu sisi dia senang melihat Dara, namun di sisi yang lain dia juga masih mengagumi Rena yang kini jauh berubah dengan kedewasaannya.
"Baiklah, begitu saja." Ucap Rena kemudian.
"Dok, apa aku sudah bisa di izinkan pulang ?" Tanya Dara penuh harap, ia merasa sudah sangat bosan berada di ruangan tersebut.
Rena tersenyum lalu mengangguk.
"Tentu saja ! anda bisa pulang hari ini juga jika anda mau."
"Benarkah ?" Tanya Dara tersenyum bahagia.
Rena kemudian membalas dengan senyuman. Lalu berpaling menatap Mariah yang sedari tadi terus memperhatikannya.
"Kalau begitu saya permisi !" Ucap Rena kepada Dara lalu menatap Mariah.
Mariah segera melangkah mendekati Dara dan terdengar melayangkan beberapa pertanyaan yang ringan.
Sedangkan Rena, Baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya untuk pergi, Mariah terdengar mengatakan sesuatu pada Dara yang mana membuatnya sedikit merasa.
"Hmmmp,, Tante akhirnya bisa bernafas lega saat mengetahui Rangga dekat dengan wanita sepertimu.
Apa lagi saat melihatmu, Tante tidak menyangka kalau kau masih sangat muda dan bukan hanya itu, kau juga cantik dan ramah. Rangga memang tidak salah telah memilihmu."
Dara yang mendengar ucapan Mariah sedikit mengerutkan alisnya merasa bingung, mengapa Mariah tiba-tiba begitu menyanjungnya, tapi di sisi lain ia juga merasa senang karena sepertinya Ibu Rangga sangat menyukainya, dan seakan memberikan lampu hijau untuknya.
("Bukankah itu bertanda baik ?") Batinnya.
Sedangkan Rena, ia tidak tahu, apakah itu sebuah sindiran untuknya ataukah hanya dirinya saja yang beranggapan seperti itu. Lagi pula untuk apa dia peduli ?
Untuk sesaat ia melirik ke arah belakang namun segera melanjutkan langkah kakinya dan keluar dari ruangan tersebut.
Saat membuka pintu, ia berpapasan dengan Rangga yang sebenarnya sudah sedari tadi berdiri di depan pintu mendengar percakapan ketiganya.
Rena menatap Rangga yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rena segera melanjutkan langkah kakinya dan meninggalkan suasana yang terasa sangat ambigu.
Rangga menatap kepergian Rena dan terus melihat punggung wanita tersebut menjauh hingga menghilang dari jangkauannya.
"Rangga.. !" Sapa Mariah.
Rangga mengalihkan pandangannya dan menatap Ibunya dengan tanya.
"Mah.. !" Ucapnya pelan, kemudian berjalan dengan tegas mendekati kedua wanita yang kini menatapnya.
"Mengapa mamah bisa berada disini ?" Tanyanya kemudian.
Namun tidak disangka, bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan cubitan yang cukup menyakitkan.
"Mengapa kau tidak pernah memberitahu mamah dengan apa yang terjadi denganmu huh ?!
Apa kau sudah menganggap Mamah tiada ?!" Seru Mariah.
Rangga hanya bisa mendesis pelan mengusap bekas cubitan yang terasa nyeri dan mengalihkan pandangannya mendengar omelan dari Ibunya.
"Mamah datang kesini untuk berterima kasih pada Dara karna telah menyelamatkanmu dari insiden penembakan tersebut.
Mamah tidak tahu apa yang akan terjadi padamu jika tidak ada Dara yang menyelamatkanmu !" Ungkap Mariah kemudian berjalan sendu memeluk putranya.
Rangga yang sadar akan kekhawatiran Ibunya hanya bisa membalas pelukan ibunya dan menepuk pelan punggung wanita yang sudah hampir sebulan tidak di jumpainya.