
...~•~ Rangga Pov~•~...
Apartemen.
Pukul 21.00.
Saat ini aku dan Rena menikmati kebersamaan kami di atas pembaringan, dan memulai percakapan yang tak ada habisnya seperti malam-malam sebelumnya.
"Oh ya, bagaimana kabar Moura ?" Tanyanya tiba-tiba.
"Mengapa kau tiba-tiba menanyakan Moura ?" Tanyaku kembali.
"Tidak, bukan apa-apa,tiba-tiba saja aku teringat pada anak itu." Jelasnya.
"Entahlah, aku juga sudah lama tidak mendengar kabarnya. dr. Ferdi meminta pada keluargaku untuk berhenti menghubungi atau menanyakan kabarnya." Jelasku mengingat kembali bagaimana wajah anak itu terakhir kali menatapku dengan wajah sendunya saat dr.Ferdi secara pribadi datang menjemputnya.
"Aku bisa mengerti mengapa beliu seperti itu." Ucapnya seakan memikirkan sesuatu.
"Ngomong-ngomong boleh aku bertanya satu hal lagi ?"
"Apa ?"
"Sejak kapan kau mengetahui kalau Moura bukan putrimu ?"
"Sehari sebelum kecelakaan yang menimpaku dan Monica itu terjadi." Jawabku.
Aku terdiam untuk beberapa saat, memikirkan kembali saat malam dimana Monica menjebak_ku.
"Tidak, lebih tepatnya aku memang tidak pernah percaya dan mengakui kalau Moura adalah putriku." Imbuhku.
"Kalau kau tidak percaya, mengapa kau menikahinya ?"
Yang dikatakan Rena memang benar, mengapa dulu aku mau menikahinya ? Seandainya saja saat itu aku sedikit lebih berusaha untuk meyakinkan Rena, mungkin kami tidak perlu berpisah selama ini.
"Saat itu aku tidak punya pilihan lain. Kau pasti tahu bagaimana paman Gilbert mengkhianati Ayahku. Dengan tawaran yang ia berikan, Ayahku tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan mereka dan memaksaku ikut dalam permainan tersebut."
Hening.
Dia tiba-tiba saja terdiam dan berhenti bertanya,yang aku rasa dia mungkin sedang memikirkan sesuatu.
"Maafkan aku." Dia tiba-tiba saja mengucapkan dua kata tersebut.
"Untuk apa ?" Tanyaku kemudian mengecup keningnya.
"Semuanya. Aku tidak tahu kalau ternyata kau lebih banyak menderita daripada yang aku bayangkan. Aku pikir.. saat itu kau telah bahagia bersama Monica." Ucapnya kemudian mengeratkan pelukannya di tubuhku.
Jujur saja aku sangat suka dengan sikapnya yang seperti ini. Itu membuatku merasa.. dia sangat mencintaiku.
"Saat itu, bukankah aku terlalu egois ? Aku tidak pernah mau bertanya lebih dulu padamu, dan terlebih lagi.. aku tidak pernah mau mempercayaimu." Imbuhnya.
"Tidak apa-apa, wajar jika saat itu kau tidak percaya padaku, aku yang salah, tidak pernah bisa jujur dan terbuka padamu."Ucapku mencoba menghiburnya agar berhenti untuk menyalahkan diri sendiri.
"Arka.."
Tiba-tiba saja dia menyebut nama pria itu. Pria yang sudah menyusun skema besar antara aku, Rena dan Monica.
"Jika di pikir-pikir,semua yang terjadi padamu disebabkan olehku. Andai saja Arka tidak terobsesi denganku, mungkin hidupmu sedikit jauh lebih mudah."Ucapnya.
"Hei.. mengapa kau terus menyalahkan dirimu sendiri ? Ini bukan salahmu, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."Ucapku mengusap pelan punggungnya.
"Lagipula semuanya sudah terjadi, tidak ada lagi yang perlu di sesali.Dengan kau menjadi milikku saat ini, itu sudah cukup buatku untuk membayar sepuluh tahun yang sudah ku lalui." Imbuhku kemudian memberikan kecupan singkat di kepalanya, dan semakin memeluknya dengan nyaman.
"Oh ya, aku dengar Arka pernah menjalani terapi pada seorang psikiater, apa itu benar ?" Tanyaku kemudian mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Aku pernah membaca sebuah artikel yang memuat kisah tentang_nya semasa hidup, termasuk hubungan asmaranya denganmu." Jawabku kemudian mencolek hidungnya nakal.
Ku lihat dia tersenyum dan mengangguk.
"Emmm.. Itu benar. Awalanya aku sendiri juga tidak percaya saat aku tidak sengaja melihat catatan pertemuannya dengan salah satu psikiater. Dan itu sudah berlangsung sejak lama."Jawabnya dengan tatapan kosong.
"Oh ya ? Apa dia tidak pernah cerita padamu sebelumnya ?" Tanyaku penasaran.
Namun dia menggelengkan kepalanya membuatku semakin tidak mengerti. Setelah delapan tahun bersama, mengapa Arka tidak pernah menceritakan hal penting tersebut pada Rena ?
"Sepertinya dia tidak ingin aku mengetahui kekurangan_nya. Apa kau tahu ? Dia itu orang yang selalu ingin terlihat keren tanpa celah. Padahal kenyataanya tidak sama sekali." Ungkapnya, yang membuatku ingin sekali tertawa. Baru kali ini aku mendengarnya mengucilkan pria itu.
Namun saat dia melanjutkan kalimatnya, aku sedikit tertegun dan perasaan iba tiba-tiba menyeruak dalam benakku.
"Sebenarnya dia adalah orang yang sangat kesepian. Berbeda dengan kita, dia terlahir di keluarga yang berantakan, Ibunya pergi meninggalkannya saat dia masih berumur 6 tahun. Sejak saat itu hubungan antara dirinya dan Ayahnya tidak begitu baik.
Hingga suatu hari dia mendapat kabar bahwa Ibunya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan saat hendak pergi menemuinya. Dan pada akhirnya semua keluarga Ibunya kembali menyalahkannya. Sejak saat itu dia tumbuh tanpa menerima cinta dari siapa pun selain kakak dari Ayahnya."
"Darimana kau tahu itu semua ?" Tanyaku penasaran, bukankah tadi dia katakan kalau Arka tidak pernah bercerita padanya tentang masalah hidupnya ? lalu bagaimana dia bisa tahu semua itu ?
"Sehari setelah aku keluar dari Rumah Sakit, aku pergi ke apartemennya, dan disana aku bertemu dengan bibi yang sering di panggil Ibu oleh Arka." Jawabnya.
"Dan beliau menceritakan semuanya ?"Tanyaku. Dan dia menganggukkan kepalanya pelan.
"Mungkin karna itulah alasan mengapa sampai saat ini aku tidak bisa membencinya, walau dengan semua yang telah ia lakukan. Karna aku tahu, dia hanya ingin dicintai dan haus akan semua itu."
Setelah mendengar semuanya, aku terdiam cukup lama. Teringat kembali saat terakhir kali aku ke makam pria itu saat menyusul Rena.
Aku teringat akan kata-kata sindirinku yang menyesatkan, ah.. tidak seharusnya aku mengatakan hal-hal tersebut, terlebih pada seseorang yang sudah meninggal.
Aku terus meyalahi diriku atas sikap kekanak-kanakan ku tersebut, hingga suara dering ponsel milik Rena menyadarkan_ku.
Dia bergerak bangun meraih ponselnya dan beranjak pergi sedikit menjauh. Untuk beberapa saat aku menunggu sampai dia akhirnya menutup telpon dan kembali berbaring di sisiku.
"Siapa ?" Tanyaku penasaran.
"Apa kau ingat dokter yang bekerja denganku di klinik yang pernah kau kunjungi ?" Tanyanya kembali.
"Emm.. aku ingat. Ada apa dia menelpon selurut ini ?"
"Tiba-tiba Ibunya masuk rumah sakit dan harus segera di operasi, dia ingin meminjam uang padaku."
Setelah mendengar penjelasannya, aku mengangguk mengerti.
"Ohya kita belum sempat membicarakan hal ini, jadi apa rencanmu dengan klinik milikmu ? Apa kau akan kembali ke sana ?" Tanyaku merasa sedikit cemas dengan jawaban yang akan diberinya.
Dia terdiam cukup lama, membuatku semakin merasa takut, takut kalau dia akan memilih untuk tinggal di sana. Jika benar seperti itu, maka sepertinya aku harus lebih ekstra bekerja untuk kedepannya.
"Aku sudah memutuskan untuk mempercayakan klinik tersebut pada dr.Dewi." Jawabnya, membuatku akhirnya bisa bernafas lega.
Kami terus berbincang, menceritakan masa-masa disaat kami tidak bersama, hingga waktu terus berputar dan menunjuk arah pukul 01.30.
Terakhir kali aku mendengarnya bergumam menanyakan mengapa aku memilihnya, hingga aku merasakan deru nafasnya yang teratur yang aku tahu bahwa dirinya telah terlelap.
"Rangga.. Mengapa kau memilihku ?"Sebuah pertanyaan yang tidak begitu sulit untuk bisa ku jawab.
Jika di tanya mengapa aku memilihnya, tidak ada alasan mengapa aku tidak harus memilihnya. Dia bukanlah pilihan, bahkan sejak pertama kali bertemu dengannya hatiku telah memilihnya, walau saat itu aku belum mengetahui siapa dia dan bahkan namanya.
Aku mencintainya, dan semua orang tahu akan hal itu.Kalaupun aku disuruh untuk memilih setelah semua yang telah terjadi padaku, aku akan tetap memilihnya.