
Sudah seminggu setelah kejadian itu terjadi, dan beruntung Ibu dari pasien yang meninggal tersebut tidak menggugat walau sebenarnya ada oknum yang mencoba memanasinya.
Namun dirinya tidak menanggapi dan berkata bahwa itu sudah menjadi takdir putranya. Ia malah berterima kasih pada Rena karna sudah mencoba untuk berusaha menyelamatkan putranya. Meski pada akhirnya putranya tidak dapat di selamatkan.
Sebenarnya pada saat pasien itu tiba di Rumah Sakit, salah seorang dokter sudah mendiagnosanya dan memerintahkan para perawat mengirimnya ke departemen ahli bagian dalam, hanya saja pada waktu itu mereka baru saja masuk di ruang oprasi, dan yang lainnya sedang melakukan rapat penelitian. Membuat pasien itu harus menunggu sedikit lama dan para perawat hanya bisa membantunya memakaikan selang oksigen di hidungnya.
Melihat pasien itu belum juga di tangani, dr.Cindy mencoba mendekat, setelah memeriksa di beberapa bagian tubuh pasien, Ia memerintahkan salah satu perawat agar segera memanggil dr.Rena yang saat itu berada di ruang Arka.
Saat Rena tiba, Ibu dari pasien itu segera memohon pada dr.Rena agar segera menyelamatkan putranya. Membuat Rena dengan cepat mendekat dan mencoba sebisanya. Sadar kalau pasien itu mengalami beberapa keruskan di organ bagian dalam, ia sedikit gemetar namun masih mencoba memperikan pertolongan sebisanya.
Hingga akhirnya pasien itu mengalami kejang yang sangat hebat. Ia mencoba mengambil alat kejut jantung atau AED(automated external defibrillator).Beruntung Arka melihatnya dan dengan cepat mendekatinya lalu menariknya ke samping.
Arka tahu kalau pasien itu dalam keadaan sekarat. Walau memakaikannya alat kejut, itu tidak akan berguna. Dan mungkin malah akan menambah penderitaan bagi sang pasien.
•••
Hari ini jadwal Rangga memeriksakan dirinya di Rumah Sakit. Ia terlihat sangat bersemangat, dan beberapa kali ia terlihat mengganti pakaiannya.
Hingga salah satu kemeja melayang ke wajah Reno yang sedang duduk di sofa sembari memegang tabletnya.
Reno terlihat kesal dan melemparkan kemeja itu di lantai.
"Kau hanya butuh memakai pakaian yang biasa untuk pergi ke Rumah Sakit, mengapa kau mengeluarkan semua pakaianmu dari lemari ?
Lihatlah ! semuanya jadi berantakan seperti ini !" Ucap Reno dengan kesal.
Wajar saja dia kesal, ini adalah rumah pribadinya dan Rangga yang menumpang di tempatnya selalu membuatnya berbenah sendiri. Jika Rangga suka menghancurkan maka Reno yang akan membenah dan membersihkannya.
Rangga menoleh dan melihat sekelilingnya. Tidak ada perasaan bersalah sedikitpun, Ia melihat semua pakaiannya sudah dia keluarkan. Namun masih belum menemukan yang pas.
Dengan gontai ia berjalan mendekati Reno dan duduk di sampingnya.
"Menurutmu yang mana yang harus aku pakai agar membuatnya terpikat ?" Tanya Rangga pelan.
Reno memutar matanya dan menatap Rangga tak percaya.
"Kau akan ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kepala dan juga kakimu, bukan untuk pamer ataupun kencan !" Cibirnya.
Rangga kemudian melirik kemeja yang di kenakan Reno. Dia menarik kerah kemeja Reno dengan kasar dan memeriksa mereknya, itu salah satu buatan desainer ternama.
"Apa yang kau lakukan !" Kesal Reno menarik tubuhnya sedikit menjauh.
"Apa semua pakaianmu buatan desainer itu ?!" Tanya Rangga.
"Ya, tentu saja. Kau tahu aku tidak suka memakai sembarang merk, kulitku mudah alergi !" Jawab Reno sedikit ketus.
Tanpa berpikir panjang, Rangga segera berlari keluar dan menuju kamar Reno.
Reno yang menyadari akan hal itu terperanjat dan segera menyusul Rangga.
"Sial ! dia akan menghancurkan segalanya !" Ucapnya dengan berlari.
Benar saja. Setibanya ia di kamarnya, beberapa pakaian sudah tergeletak di lantai dan saat ini Rangga tengah memakai kemejanya yang berwarna biru navy. Ia terlihat tersenyum puas di depan cermin.
Reno memelototkan matanya tak percaya, itu kemeja yang baru saja di belinya dua hari yang lalu.
"Hei ! aku tidak mengizinkanmu memakai kemeja itu !" Ucap Reno lantang dan mendekati Rangga.
"Aku tidak butuh izinmu !" Jawab Rangga terdengar mengolok sahabatnya dan melangkah pergi.
Namun Reno segera menahannya dan menariknya dengan sangat kuat.
"Bangsat lepaskan baju itu !"
Mereka saling menahan.
"Ayolah Ren, pinjamkan aku untuk kali ini saja." Ucap Rangga mencoba memohon pada temannya.
"Tidak, kau bisa memakai yang lainnya. Asal bukan yang yang ini !"
Apa kau tahu berapa uang yang aku keluarkan demi memiliki baju ini huh !" Kesal Reno.
"Kalau begitu aku akan membayarmu kembali !" Ucap Rangga ingin segera berdamai.
"Tidak ! walau kau ingin membayarku dua kali lipat, aku tidak akan memberikannya.
Apa kau tahu, itu edisi terbatas ! dan aku belum pernah memakainya !" Jelas Reno dengan kesal.
"Benarkah ? wah, kalau begitu aku benar-benar beruntung telah memilih yang ini !" Ucap Rangga sedikit tertawa.
Mereka terus bertengkar dan saling menarik dan berkelahi. Bahkan tempat tidur yang awalnya rapi, kini sudah berantakan dan kini mereka saling beradu mendekati sebuah lemari yang di atasnya berjejer rapi sebuah piala dan beberapa penghargaan yang terbuat dari kaca,
Menyadari akan hal itu, Reno sedikit panik melihat ada satu yang akan hampir terjatuh. Dan piala itu akan benar-benar terjatuh. Reno dengan cepat melepaskan cengkramannya dari Rangga dan menangkap piala itu.
Merasa dia telah bebas, Rangga dengan cepat berlari dan kembali ke kamarnya. Reno yang tidak ada pilihan lain, hanya bisa menghela nafasnya pasrah dan menyimpan kembali piala yang kini berada di tangannya.
•
"Apa kau harus berpakaian seperti itu ? bukankah itu terlihat sedikit mencolok ?" Ucap Reno yang melihat Rangga kini memakai jas.
"Ayolah Ren, setelah dari pemeriksaan bukankah aku memiliki jadwal untuk bertemu dengan beberapa klien ?!"
"Kau bisa menggantinya sesudahnya."
Rangga tidak lagi menanggapi, dia hanya tersenyum dan merasa tak sabar untuk segera sampai di Rumah Sakit.
•••
RS Anutapura.
Reno berjalan dengan cepat melewati beberapa ruangan dan koridor Rumah Sakit. Sedang Rangga terlihat berjalan sambil memperhatikan di sekitarnya.
Dan akhirnya melewati satu ruangan dan melihat orang yang di carinya ada di ruangan tersebut. Ia seketika terhenti, menatap Rena yang tersenyum ramah saat memeriksa pasiennya.
Sepertinya ia teringat kembali momen saat bersama wanita itu. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa melihat kembali senyuman itu yang membuat rasa rindunya sedikit terobati.
Ia perlahan melangkahkan kakinya mendekati ruangan tersebut.
Reno yang menyadari akan hal itu segera menahannya dan menariknya dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan ?!" Tanya Reno kesal.
"Bukankah memeriksaku hari ini dr.Rena ?" Tanya Rangga tanpa memalingkan wajahnya, ia masih terus menatap Rena dengan senyum.
Reno mengetuk kepalanya dengan keras.
"Salah ! kita akan pergi ke dr.Megy (Ahli Saraf) !"
Reno segera menariknya dengan paksa. Rangga sedikit tidak menerima, ia ingin dr.Rena yang memeriksanya.
"Jangan membuang-buang waktu. kita masih harus bertemu dengan klien yang sangat penting setelah ini."
Mendengar hal itu membuat Rangga tersadar dan dengan terpaksa mengikuti Reno dari belakang.
.
.
.
Setelah melakukan beberpa pemeriksaan. Akhirnya mereka keluar dari ruangan tersebut dan segera melangkah pergi.
Namun lagi-lagi Rangga celingukan mencari keberadaan wanita yang telah lama ia rindukan. Ia tidak memperhatikan apa yang ada di depannya, hingga ia tidak sengaja menginjak kain pel seorang OB yang sedang melakukan bersih-bersih membuat ia tergelincir dan jatuh ke depan.
Namun ia tidak sengaja menubruk seorang wanita yang ada di depannya dan spontan memegang dadanya. Ia membulatkan matanya. Reno memukul jidatnya pasrah.
Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menyadari kalau wanita itu tidak lain adalah wanita yang sedari tadi di carinya. Ia semakin membulatkan matanya tak percaya. Ini adalah kecelekaan terburuk.
"Yaaa ! kau otak mesum !" Teriak Rena kesal.
Plak...
Sebuah buku berhasil mendarat keras di kepalanya.
Rangga dengan cepat melepaskan tangannya dan meminta maaf.
"Rena maafkan aku, aku tidak sengaja !" Pinta Rangga.
Namun Rena tidak melepasnya begitu saja. Ia terus memukulinya hingga ia merasa puas.
Arka yang juga melihat kejadian itu segera mendekati, menarik kerah kemeja Rangga dan memberikan pukulan yang sangat keras di wajahnya.
Rangga tidak membalas, ia hanya memegang sudut bibirnya yang terasa nyeri.
"Berani-beraninya kau melecehkan wanitaku seperti itu !?" Seru Arka dengan wajah murkahnya.
Rangga sedikit tertawa hambar mendengar Arka mengatakan kalau Rena adalah wanitanya.
"Heh.. kau sedikit berlebihan !
Melecehkan ? bukankah sudah aku katakan kalau aku benar-benar tidak sengaja !" Kesalnya
Kakiku tergelincir saat menginjak kain pel itu." ucap Rangga menunjuk ke arah OB yang masih dengan posisinya memegang alat pel lantai.
Arka semakin kesal melihat Rangga yang tertawa seperti itu dan mendengar perkataannya. Ia ingin menghajarnya sekali lagi, namun Reno segera melerainya.
"Maafkan atas kecelakaan yang telah terjadi !" Ucapnya.
Reno berusaha meminta maaf dan kemudian menarik Rangga untuk pergi.
" Dia masih saja kekanak-kanakan !" Cibir Arka dengan pelan. Namun masih terdengar jelas di telinga Rangga.
Rangga tidak terima, ia merasa di pandang rendah dan malu di depan Rena. Ia menepis tangan Reno dengan kesal dan berjalan cepat meninggalkan ketegangan yang telah diciptakannya.