
Susana hening di dalam mobil itu, masing masing hanya terdiam di tempatnya.
"Mengapa kau harus membuat keributan !" Sahut Rena memecah keheningan
"Aku tidak bermaksud melakukannya !"
"Lantas,apa yang kau lakukan ?!"
"Aku hanya ingin membantumu berjarak dengan Arka, aku tidak tahu kalau dia akan semarah itu!"
"Aku tak perlu bantuanmu ! aku bisa mengatasinya sendiri, tanpa membuat keributan seperti yang kau lakukan !"
"Apa kau yakin akan mampu mengatasinya ? aku sangat mengenal Arka, dia tak akan pernah berhenti mengejar sesuatu yang sangat ia sukai !"
"Hemmmp" Rena membuang nafas dengan kasar,ia sadar,perkataan Rangga ada benarnya.
"Apa kau marah padaku ?!" Tanya Rangga yang masih menatap lurus kedepan
"Untuk apa aku marah padamu ?!" Jawab Rena
Detik berikutnya "Terima kasih telah membantuku !" Sambil menundukkan wajahnya
Rangga tersenyum kecil,lalu mulai memutar kepalanya ke samping menatap Rena
"Aku tahu kalau aku tak bisa berbuat apa apa, dan terus menerus membuat sahabatku menelan kekecewaan.Bukankah aku terlihat sangat kejam ?! jelas jelas aku tahu kalau Anggi sangat mencintainya, tapi aku tak bisa memberanikan diri untuk menolak Arka secara langsung !"
"Jangan menyalahkan diri sendiri ! kau hanya memiliki hati yang terlalu baik untuk menyakiti hati seseorang !" Ucap Rangga sambil mengusap pelan kepala Rena,mencoba menghibur
Rena kemudian mengangkat wajahnya menatap ke arah Rangga
"Tapi, bukankah aku juga selalu menyakiti hatimu ?!"
Rangga hanya tersenyum mendengar pertanyaan Rena
"Sejak kapan kau menyakiti hatiku !" Ia mencoba mempermainkan Rena
"Kamu..!" Rena segera memukul dada Rangga "Kamu benar benar sangat jahat !"
"Aduuuh.. baiklah, aku bercanda !" Rangga kemudian memegang kedua bahu Rena
"Tidak masalah,Walau kau terus menyakitiku, itu membuatku semakin kuat dan bertekad untuk memenangkan hatimu ! kau tidak tahu, kalau aku begitu sangat mencintaimu !"
Rena tertegun ia sangat tersentuh dengan pernyataan Rangga, suasana kian hening, perlahan Rangga mendekatkan wajahnya pada Rena. Melihat itu, Rena memejamkan matanya,detak jantungnya mulai tak beraturan,tanpa ada penolakan.Namun ketika bibir mereka hampir bersentuhan, Rangga tersenyum dan melepaskan bulu mata palsu Rena yang sudah miring
Rena yang menyadari itu, hanya bisa tersipu malu dan memalingkan wajahnya, melepaskan bulu mata yang lainnya.
"Apa kau berfikir aku akan menciummu ?" Tanya Rangga
"Ah, yang benar saja, tentu tidak !" Menyembunyikan pipinya yang telah memerah merona
"Apa kau percaya padaku ?!"
Rena hanya mengangguk pelan dan kembali menatap Rangga
"Mengapa ?! bukankah selama ini kau selalu mencurigaiku dan bahkan mengatakan kalau aku berotak mesum !?"
"Karna aku ingin belajar mempercayaimu dan juga belajar mencintaimu !"
Rangga semakin menatap lekat wajah Rena, hasratnya kian menggebu tatkala Rena juga menatap lekat ke arahnya.
"Apa aku boleh.." Kata katanya terpotong ketika Rena telah mendartkan ciuman di bibirnya lebih dulu dan perlahan melepaskannya. Namun Rangga segera membalas kembali ciuman Rena dengan mesrah,ia merangkul wajah Rena perlahan ******* bibir seksi yang begitu lama ia dambakan. Butuh beberapa waktu mereka menikmati ciuman itu dan perlahan melepaskan satu sama lain.
•••
Di Ruang Tamu Kediaman Atmajaya
"Silahkan duduk, aku ke dalam sebentar !" Sambil meletakkan tasnya
Rangga hanya tersenyum patuh
Rena, segera menuju dapur mengambil segelas air putih dan juga obat P3K ditambah kantong es. Rena terlihat sangat kerepotan membawa semuanya
"Minumlah !" sambil meletakkan gelas berisi air putih
"Kau sangat pelit, hanya memberiku air putih !" Gerutu Rangga
"Hey, kau terlalu cerewet ! Hmmp baiklah, katakan, apa yang ingin kau minum ?!" Rena segera beranjak dari tempat duduknya, namun Rangga mencegahnya dan menarik tangannya.
"Aku hanya bercanda ! kau terlalu serius menanggapinya !"
Rena tidak bisa tidak menjitak kepala Rangga
"Aaaw !" Ringkih Rangga "Kau sangat kejam !"
Rena tak menanggapi,ia segera merangkul wajah Rangga dan mengompres sudut bibir Rangga yang terlihat memar.
Rangga terus menatap Rena dengan senyum, membuat Rena salah tingkah
"Mengapa kau terus menatapku seperti itu ?!"
"Aku hanya ingin menikmati pemandangan indah di depanku !"
Rena tidak bisa menahan rona merah yang perlahan muncul di kedua pipinya
"Lakukan sendiri !"Ia meraih tangan Rangga dan menyerahkan kain kompresnya.
"Hey !"
"Hmmmp baiklah !"
Setelah beberapa menit membisu,Rena kembali merangkul wajah Rangga dan memeriksa memarnya.
"Sepertinya sudah agak baikan !" Kemudian meraih betadine dan cotton buds, mengaplikasikannya di sudut bibir Rangga yang pecah
Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang bersembunyi memperhatikan mereka sejak mereka memasuki ruangan itu. Rani tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengabadikan momen itu, ia segera memotret dan mengirimnya ke Mariah, Ibu Rangga.
"Aaw, mengapa sangat perih !"
"Kau seperti anak kecil saja yang selalu meringis !" Gerutu Rena
"Tapi, memang benar perih."
"Lalu, mengapa waktu kita berciuman kau tak meringis sedikit pun ?!"
"Itu berbeda."
"Apa bedanya ?!"
"Karna itu sangat nikmat, lebih baik kau menciumku dari pada mengobatnya seperti ini, itu akan lebih baik." Jawab Rangga spontan tak menyadari orang yang ada di belakangnya
"Emmm.. Apa yang kau lakukan !" Seru Rangga
Rena memberinya isyarat dengan mata, perlahan Rangga memutar kepalanya melihat ke arah belakang, spontan ia membalikkan badannya
"Eh om, tante !" Ucap Rangga sedikit malu
Jaya dan Rani hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kedua bocah yang ada di depannya.Mereka berdua kemudian duduk di sisi lainnya.
"Bagaimana dengan pestanya ? apa kalian menikmatinya ?" Tanya Jaya
"Tentu saja !" Jawab Rena dan Rangga serempak
"Aduh, sudah mulai kompak ya ?! manisnya !" Ledek Rani
"Apaan sih Bund.. !" Rengek Rena, sedangkan Rangga hanya bisa tersipu malu
"Lantas ada apa dengan bibirmu ? apa Rena terlalu kasar dan melukaimu !" Tanya Jaya lebih lanjut
"Ayah... !" Rena kembali merengek pada Ayahnya
Mereka bertiga tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Rena.
"Apa sekarang kalian senang telah mempermalukanku !" Rena mulai merajuk
"Maaf om, tadi hanya ada kecelakaan kecil."
Sahut Rangga
"Maksudnya ? seperti Rena menggigitmu ?!"
Tanya Jaya secara spontan,ia sangat suka melihat putrinya tersipu malu
"Ayah... !" Rena tak bisa lagi mendengar ocehan Ayahnya, ia segera berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Sayang, jangan berlari di tangga !" Seru Rani sambil mencubit punggung tangan suaminya
sedangkan Rangga hanya bisa menundukkan kepalanya merasa malu. Ia tahu kalau Orang Tua Rena sudah mendengar percakapan mereka sedari tadi.
"Rangga, maafin Ayah Rena ya !" Ucap Rani
"Eh, tidak tante, emm kalau begitu saya pamit dulu !" Sedikit gelagapan
"Mengapa begitu terburu buru ?!" Sahut Jaya
"Mas, jangan menakutinya !"
Rangga tidak tahu harus berbuat atau berkata apa, Ayah Rena benar benar membuatnya salah tingkah dan menelan ludah.
"Ya sudah kalau begitu tante ke dapur dulu !" Ucap Rani,ia segera beranjak dari duduknya melangkah pergi,memberi ruang terhadap Rangga dan juga suaminya.
"Apa kau benar benar mencintai Rena ?!" Tanya Jaya dengan nada mengintimidasi
"Iya om ! saya benar benar mencintainya !" Jawab Rangga sedikit gugup dicampur rasa khawatir
"Bagus, om harap kau tak pernah menyakitinya ! kau harus tahu, bahwa Rena adalah cahaya hidup om, jika terjadi sesuatu pada Rena karna ulahmu,kau akan tahu akibatnya !" Jelas Jaya
"Aku sama sekali tak pernah berfikir untuk menyakitinya !"
"Berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu setia padanya dan tak akan pernah menyakiti maupun meninggalkannya !"
"Aku berjanji ! apa pun yang terjadi, aku akan selalu menjaganya dan tak akan pernah meninggalkannya !"
"Om harap kau bisa memegang janjimu !"
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu sehingga bibirmu luka seperti itu ?! Lanjutnya
"Ah, ini.. " Rangga perlahan menceritakan semua yang terjadi,ia tidak ingin ayah Rena salah paham terhadapnya
Jaya terlihat hanya menganggukkan kepalanya mendengar cerita Rangga.
"Emmm ternyata seperti itu !" Sahut Jaya
"Ia om," Jawab Rangga,untuk sesaat suasana hening
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu !" Sahut Rangga tak ingin berlama lama menikmati keheningan bersama Ayah dari kekasihnya.
Sekali lagi Jaya hanya menganggukkan kepalanya.Rangga segera berdiri dan membungkuk di hadapan Atmajaya. Jaya kembali menganggukkan kepalanya.
•••
Sesampainya di rumahnya, ia segera berlari ke ruang tengah dan memeluk Ibunya dengan erat.
"Kau terlihat sangat bahagia !" Ucap Mariah
"Tentu saja !" Jawab Rangga yang masih memeluk Ibunya
"Sepertinya, kali ini kau berhasil Rangga !" Sahut John
"Tidak !"
"Hem ? apa maksudmu ? lalu hal apa yang membuatmu sangat bahagia malam ini ?!" Tanya Mariah sedikit bingung
"Tidak salah lagi maksudnya !"
Mariah hanya bisa tersenyum bahagia sambil mencubit tangan putranya
"Iiih, dasar anak nakal !"
"Aaaw... ! Mengapa wanita sangat suka mencubit ?!" Rintih Rangga
"Hahahaa itu tandanya dia menganggapmu dan menerimamu !" Sahut John
"Benarkah seperti itu ?!" Sambil menatap Ibunya
"Tergantung dari si wanitanya, kalau mamah mencubitmu itu karna mamah gemas dan tanda sayang padamu."
Rangga hanya bisa mengangguk.
•••
Di sisi lain, Rena yang sudah mengganti pakaiannya dan membersihkan riasan yang ada di wajahnya, tengah berbaring di pembaringan menatap langit langit kamarnya. Ia masih bisa merasakan dengan jelas bagaimana Rangga membalas ciumannya dengan mesrah,ia terus memegang bibirnya dengan kedua jarinya. Dengan mengingatnya saja membuatnya sangat bahagia. Ia berguling guling di kasurnya sampi ia terjatuh
Bruuuk !!
"Aaaw !" Rintihnya, pinggulnya terasa sakit, ia kembali naik di atas kasur dan memperbaiki tidurnya.Kalau biasanya dia berharap agar Rangga absen dalam mimpinya, Kali ini ia sangat berharap akan bertemu Rangga di dalam tidurnya.