Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Permainan Sandiwara.



Di dalam lift, Rena tersandar frustasi dengan isak tangis yang di tahannya seakan mencekat perih di tenggorokannya.


Umurnya mungkin sudah terbilang cukup dewasa, namun bukan berarti dirinya sudah terbiasa dengan hal yang tabu seperti itu. Ia tidak menyangka akan melakukan hal tersebut bukan atas dasar cinta, tapi karna kecerobohan yang ia perbuat sendiri.


Yang lebih mengecewakan dirinya adalah lelaki yang selama ini ia percayai dengan tanpa rasa bersalah mengatakan segalanya pada dirinya dengan begitu santai. Ia tahu ini juga kesalahannya, namun bukan berarti dia bisa melakukan apa saja padanya.


Saat keluar dari gedung apartemen tersebut, terlihat sebuah Taxi yang baru saja menurunkan penumpangnya di depan gedung. Dengan cepat Rena masuk ke dalam mobil dan mengarahkan agar segera mengantarnya ke tempat yang akan menjadi tujuannya.


Arka yang berlari mencoba mengejar Rena sedikit terlambat setelah melihat gadis itu menaiki Taxi dan pergi meninggalkan area tersebut.


Dengan susah payah ia berlari dan kembali ke kamarnya. Sesampainya, ia segera meraih ponselnya dan mencoba menelfon Rendy.


Tuuut...


Tuuut...


Tuuut...


(Nomor yang anda tuju sedang sibuk--)


Ia terus mondar-mandir mencoba menelfon beberapa kali hingga akhirnya Rendy menjawab telfonnya.


"Halo.. " Ucap Rendy di seberang telfon.


"Halo Rend ! kau ada di mana ?" Tanyanya tanpa berbasa-basi.


"Aku sedang di rumah !" Jawabnya.


"Baguslah.." Ucap Rendy


"Ada apa ? mengapa kau mempertanyakan keberadaanku ? oh ya, bagaimana dengan Rena ? apa dia sudah bangun ?" Tanya Rendy dengan santai.


"Itulah masalahnya, Rena sudah pergi dari tempatku baru saja."


"Lalu apa masalahnya ?" Tanya Rendy bingung.


"Aku mengatakan kalau aku telah melakukan sesuatu padanya. Namun sebenarnya aku hanya bercanda. Aku tidak tahu kalau dia akan menanggapinya seserius ini." Jelas Arka merasa berslah.


Aku ingin menjelaskannya, namun dia tidak ingin mendengarkanku dan pergi." Imbuhnya.


"Aku pikir kau sudah mengenalnya dengan cukup baik !" Ucap Rendy.


"Apa maksudmu ?" Tanya Arka tidak mengerti.


"Rena mungkin sudah cukup dewasa untuk membicarakan hal tabu seperti itu, tapi kenyataannya dia masih sangat polos untuk sampai ke tahap itu." Jelas Rendy.


Aku tidak tahu, bagaimana frustasinya dia saat ini." Imbuhnya.


"Aku tidak tahu. Yang aku tahu kami sudah sama-sama dewasa, aku hanya berfikir untuk sesaat aku ingin sedikit mempermainkannya." Sesal Arka.


Rendy mengehela nafasnya pelan.


"Anggap saja ini adalah pembelajaran bagimu untuk bisa lebih mengenalinya."


"Lalu bagaimana dengan Rena ? aku takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk !" Arka terdengar cemas memikirkan Rena karna kesalahan yang ia perbuat.


Rendy kemudian teringat sesuatu.


"Tunggu ! apa kau mengatakan bahwa aku menyuruhmu menjemputnya ?" Tanyanya sedikit panik.


"Tentu saja !" Jawab Arka intens.


"Mampus !" Lirihnya sembari memukul pelan jidatnya.


"Ada apa ? apa kau mengatakan sesuatu ?" Tanya Arka bingung.


"Tidak, aku akan mengabarimu nanti !" Ucap Rendy ingin memutuskan sambungan telfonnya.


"Tapi bagaimana dengan Rena ?" Tanya Arka.


"Kau tidak perlu khawatir, aku yakin sebentar lagi dia akan tiba disini." Ucap Rendy kemudian memutuskan telfonnya sepihak.


Tut.


Arka menatap bingung ponselnya. Ia kemudian memilih bergegas membersihkan dirinya dan bersiap pergi ke Rumah Sakit.


•••


Kediaman Vikra Wijaya.


Benar saja, Rena yang baru saja tiba di rumah itu, bergegas masuk mencari keberadaan kakaknya di ruang kerjanya.


Ceklek..


Rendy yang sudah menduga Rena akan menemuinya segera berdiri menyambut kedatangan adiknya dengan senyum.


"Rena !" Ucapnya.


Rena dengan cepat melangkah berjalan mendekati kakanya.


Plak..


Sebuah tamparan berhasil mendarat pedas di pipinya.


Rena kemudian menatapnya frustasi dengan air mata yang masih menggenangi kelopak matanya.


Rendy masih memegang pipinya yang masih terasa panas, menatap maaf pada Rena.


Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Rena menghamburkan dirinya kedalam pelukannya. Rendy sedikit terkejut, kemudian menepuk pelan punggung gadis itu dan mencoba menenangkannya.


Entah ekspresi apa yang harus ia tampilkan, ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan adiknya itu, tapi disisi lain ia juga merasa sedih karna harus melihat adiknya frustasi seperti itu.


"Apa yang terjadi ?" Tanyanya pura-pura seolah tidak tahu.


"Arka ? ada apa dengannya ?" Tanya Rendy bersandiwara.


"Dia.. waaa... haaa.. hiks.. hiks " Tangis Rena menjadi pecah.


"Hei, tenanglah. Aku tidak akan mengerti jika kau terus menangis seperti ini." Ucap Rendy menenangkan,menyembunyikan tawa yang tercipta dari sudut bibirnya.


Ayo duduk dulu." imbuhnya sembari menuntun Rena duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Rendy kemudian menuangkan air putih di dalam gelas dan menyodorkannya kepada Rena.


"Minumlah.. " Titahnya.


Setelah meminum beberapa tegukan, Rena akhirnya merasa sedikit tenang dan mulai bercerita dari awal ia terbangun di kamar Arka dan bagaimana Arka menceritakan atas apa yang telah ia lakukan padanya.


Diam-diam Rendy tersenyum lucu menahan gelak tawanya yang ingin terlepas dari mulutnya. Susah sekali baginya untuk bisa menahannya. Namun ia tidak menyadari kalau Rena telah memperhatikannya.


"Apa ini lucu bagimu ?!" Semprot Rena semakin kesal.


"Owh-T-Tidak..!" Dalih Rendy.


"Lalu mengapa kau tertawa ?"


"Sipa yang tertawa ? apa kau mendengar aku tertawa ?"


Rena menatap sinis ke arah pria yang kini berada di sampingnya.


"Ini semua salahmu !"


"Kenapa ini menjadi salahku ?" Tanya Rendy.


"Seharusnya kau tidak percaya begitu saja padanya ! dan menyuruhnya untuk menjemputku !"


"Aku menyuruhnya menjemputmu karna di antara semua temanmu hanya dia yang aku bisa percaya." Jelas Rendy.


Seharusnya kau menyalahkan dirimu sendiri. Seandainya saja kau tidak minum terlalu banyak, kau tidak akan mabuk dan berakhir seperti ini." Tuturnya.


Rena terdiam, apa yang di katakan kakaknya memang benar. Ini semua salahnya yang tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.Namun karna egonya sebagai seorang adik dan juga wanita, ia akan tetap menyalahkan kakaknya.


"Kau mengetahui kalau aku sedang mabuk, dan kau malah menyuruh orang lain untuk menjemputku ? apa kau tidak takut jika ayah mengetahui kecerobohanmu ini ?!"


Rendy kini menatap ngeri pada adiknya.


"Apa kau sekarang menyalahkanku atas segalanya ?"


"Ya ! tentu saja. Kau yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku !"


"Baiklah-baiklah.. katankanlah pada ayah." Pasrah Rendy.


Dan aku aku yakin, ayah juga akan memarahimu karna melewati batasmu sebagai seorang putri pewaris Royal AT Group."


Kau pergi di tempat seperti itu dengan pakaian yang terbuka dan menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol bahkan menghabiskan malammu bersama teman kerjamu.Kau bertingkah seperti wanita rendahan. Apa kau tahu itu ?" Tutur Rendy


"Apa kau masih yakin ingin mengadukanku pada ayah ?!" Tanya Rendy dengan senyum kemenangan.


Mendengar semua itu, Rena mengerutkan keningnya kesal. Ia tidak menyangka kalau hari ini ia kalah telak oleh kakaknya.


"Tidak bisakah kau mengalah saja huh ?!" Kesal Rena.


"Maafkan aku, karna kau mengancamku deluan. Maka aku tidak punya pilihan lain." Ucap Rendy.


Rena yang merasa sia-sia atas kedatangannya. Beranjak berdiri ingin pergi. Namun Rendy mencekalnya dan menariknya hingga ia terduduk kembali.


"Dengarkan aku dulu."


Apa kau yakin Arka benar-benar melakukan hal itu padamu ?" Tanya Rendy.


"Tentu saja !" Jawab Rena intens.


"Apa yang membuatmu seyakin itu ? maksudku apa kau mengingatnya sendiri ?"


Rena menghela nafasnya kasar.


"Aku memang tidak mengingatnya. Tapi bukankah aku sudah mengatakan kalau saat aku terbangun, aku mendapatinya memelukku dengan dirinya yang tanpa memakai busana sehelai pun. Bahkan dia sendiri telah mengakuinya." Jelas Rena.


Mengapa kau tidak percaya padaku ?" Imbuhnya.


"Sebenarnya, setelah kau meninggalkan apartemen Arka, dia berusaha mengejarmu untuk menjelaskan kebenarannya. Tapi dia sedikit terlambat saat melihatmu telah masuk ke dalam sebuah taxi dan pergi." Terang Rendy.


"Bukankah dia sudah menjelaskannya ? apa lagi yang harus ia jelaskan ?!" Tanya Rena bingung.


Dan bagaimana kau bisa tahu ?" Imbuhnya menatap curiga pada Rendy.


Rendy tertawa hambar melihat tatapan adiknya itu.


"Jangan menatapku seperti itu, itu sangat menyeramkan.


Setelah melihatmu pergi. Dia kemudian menelfonku dan menceritakan kejadian yang sebenarnya dia hanya mempermainkanmu. Dia tidak berfikir kalau kau akan menanggapinya serius ini." Jelasnya.


"Jadi maksudmu, sedari tadi aku hanya menangisi kekonyolanku sendiri ? sebab itu kau menertawakanku ?!" Kesal Rena.


Rendy tercengir melihat Rena kesal seperti itu.


"Kau selalu mengatakan kalau kau sudah dewasa. Tapi lihatlah, mengapa sangat mudah untuk mempermainkanmu ?!"


"Jadi dari tadi kau hanya bersandiwara huh !" Kesal Rena semakin menjadi-jadi.


Dan berakhir memukul kakaknya dengan asal sampai ia merasa puas.


"Maafkan aku.. maafkan aku.. " Pinta Rendy sembari menahan setiap pukulan yang di terimanya dari pembalasan Rena karna sudah mempermainkannya.