Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 123



Flashback On.


Dara terus berlari dan sesekali bersembunyi atau mengelabui bawahan dari Ayah angkatnya yang belum mengetahui kalau dirinya telah membelot dan malah menyelamatkan Rena.


Sampai akhirnya, telinganya menangkap suara tembakan dari lantai paling atas. Tanpa menunggu lama ia dengan cepat berlari mengikuti sumber suara tersebut.


Doooor...


Mata Dara membola tatkala melihat Rendy baru saja melepaskan satu peluru tepat di kepala Ayahnya.


"Aargh.." Erang Gilbert.


Bruuukh.


.


.


.


"Ayah.." Lirih Dara.


Rendy yang mendengar suara itu berbalik dan menatap wanita yang ternyata sudah berdiri di belakangnya sedari tadi.


"Kau ?!" Lirih Rendy penuh tanya.


("Bukankah dia wanita yang waktu itu ?") Batinnya merujuk pada saat ia menyandera Dara di kantor Reno.


Dara segera berlari dan mencoba untuk merangkul kepala Ayahnya.


"Ayah.." Lirihnya dengan isak memanggil lelaki yang selama ini telah merawatnya dengan sangat baik.


Sedangkan Rendy dengan cepat berlari menghampiri Ayahnya, sekilas ia menoleh menatap Dara yang tengah menangisi kematian Ayahnya. Hingga akhirnya ia berhasil membantu Ayahnya menarik tubuh John bersama.


"Ayah.." Sapa Rendy.


"Dimana adikmu ?" Tanya Jaya tanpa memperdulikan luka yang sedari tadi mengeluarkan darah segar dan merembes di pakaiannya.


"Rena.." Ucap Rendy gugup, ia sendiri tidak begitu yakin bagaimana kondisi adiknya saat ini.


"Rendy ! mana adikmu ?!" Tanya Jaya sekali lagi, dan kali ini suaranya terdengar sedikit membentak dipenuhi kecemasan.


Rendy tidak tahu harus mengatakan apa pada Ayahnya.


"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk lebih dulu menyelamatkan adikmu ?!


Cepat cari dia !!" Titahnya.


"Tapi Ayah," Ucap Rendy cemas saat melihat darah yang merembes di pakaian Ayahnya.


Dara yang mendengarnya menoleh, ia menyeka air matanya dan kembali meletakkan kepala Ayahnya secara perlahan.


"Aku tahu dimana Rena !!"


Rendy berbalik menatap ke arah sumber suara tersebut penuh tanya.


"Sebaiknya kita bergerak cepat, kalau kau ingin adikmu selamat !!" Ucap Dara meyakinkan.


Rendy kemudian kembali berpaling dan menatap Ayahnya.


"Ayah tunggu aku, aku akan segera kembali." Ucapnya, kemudian beranjak mengikuti langkah Dara dari belakang.


Flashback Off.


Para bawahan Reno yang tersisa sudah mengangkat tubuh Jaya terlebih dahulu dan membawanya ke Rumah Sakit, sedangkan John,Rangga dan kedua sahabatnya telah di bawa oleh ambulance yang sebelumnya mendapat perintah dari Arka.


Rena berjalan tertatih dengan Rendy yang merangkulnya.


"Rena.." Lirih Arka saat melihatnya, ia berjalan dengan langkah yang cepat mendekati.


"Ren.." Sapanya.


Rena mendongak ke arah Rendy.


"Kak, bisa tinggalkan kami sebentar ?"Pinta Rena.


Rendy mengangguk.


"Baiklah,aku akan menunggumu di mobil." Ucapnya kemudian pergi.


Rena menatap punggung kakaknya yang menjauh dan masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sengaja ia parkir cukup jauh dari area tersebut.


"Ada apa ?"Tanyanya kemudian.


Arka mengulurkan tangannya mengusap pelan wajah Rena yang kini di penuhi dengan luka dan memar.


"Sebaiknya kita mengobati lukamu terlebih dahulu." Ucap Arka mencoba meraih tangan Rena


Namun Rena menepisnya dengan pelan.


"Aku belum siap untuk bersamamu saat ini." Tolak Rena.


Aku masih menunggu penjelasan darimu." Ucapnya kemudian.


Arka terdiam, dia tidak tahu harus memulainya dari mana.


"Baiklah, jika kau belum siap, aku tidak masalah. Kita bisa membicarakannya nanti."Ucap Rena kemudian berjalan pergi.


Aku bisa bersumpah kalau aku tidak memiliki hubungan lebih dengan Anggi. Malam itu aku,aku,aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya." Jelas Arka bimbang.


Rena memejamkan matanya, lagi-lagi penjelasan yang sama ia dengar sama seperti sebelumnya,sepertinya Arka tidak benar-benar berniat untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kau terus mengatakan bahwa kau ingin menanyakan sesuatu yang penting, apa hal penting itu ? apakah kau harus mengundangnya ke apartemenmu ? tidak bisakah kau menanyakannya melalui telfon ?" Cecar Rena sembari berbalik menatap tanya pada Arka.


"Sudah ku bilang itu sesuatu yang penting, aku tidak bisa menanyakannya hanya melalui telfon."Jelas Arka lembut.


"Lalu apa hal penting itu ?!"Bentak Rena, ia tidak bisa lagi menahan kekesalannya.


Hal penting apa yang bahkan kau memintanya datang walau sudah sangat malam ?" Imbuhnya namun kembali memelankan suaranya, ia merasa sangat lelah saat ini.


Arka terdiam, dia tidak mungkin mengatakan kalau dia ingin meminta kembali hasil lab DNA dirinya dan juga Moura pada Anggi.


Dia tidak keberatan jika hasil lab itu tersebar dan akhirnya merusak citra dan reputasinya kelak, yang dia takutkan hanya satu, yaitu Rena akan membencinya dan akhirnya meninggalkannya.


"Ren,cobalah untuk mengerti."Pinta Arka.


"Sudahlah, aku lelah." Ucap Rena dan kembali melanjutkan langkah kakinya.


Arka sangat mengerti akan sifat Rena, jika ia sudah berkata lelah, maka itu berarti dia ingin sendiri. Semakin ia di paksa semakin dia akan marah.


Arka mengalihkan perhatiannya dan tanpa sengaja melihat sebuah mobil melaju dengan sangat cepat mengarah pada Rena, ia juga melihat dengan jelas siapa pengendara dari mobil tersebut.


("Cindy !?") Batinnya.


Dengan cepat ia melirik ke arah yang berlawanan menatap Rena yang mulai menjauh.


"Renaaaaa" Pekiknya.


Brukh...


Cindy yang mengetahui kalau dia telah menabrak orang yang salah, refleks menatap ke belakang melupakan kalau dirinya masih menjalankan mobilnya, alhasil ia sendiri menabrak sebuah pohon dengan keras dan mengakibatkan dirinya tidak sadarkan diri.


Rendy yang juga sebenarnya melihat kejadian itu sempat keluar dari mobilnya untuk menolong adiknya, tapi karna jarak yang sedikit jauh membuatnya sedikit terlambat.


Rena yang tadinya jatuh karna di dorong oleh Arka mengangkat kepalanya secara perlahan.


.


.


.


.


"Arkaaa..." Pekiknya sembari berdiri dan berlari mendekati Arka yang saat ini terkulai tak berdaya dengan genangan darah yang mengalir keluar dari kepalanya.


Dengan perlahan bercampur panik, ia mengangkat kepala dan tubuh Arka di atas pangkuannya.


"Arka,tidak, bertahanlah." Ucapnya di sela Isak tangisnya yang semakin menjadi.


Tangannya bergetar, tatkala merasakan luka besar di area tempurung kepala milik Arka. Ia tahu benar bahwa kondisi Arka saat ini hanya memiliki kesempatan yang begitu tipis untuk bisa bertahan hidup.


"Rena.." Ucap Arka sayu menahan rasa sakit yang menderanya.


"Jangan bicara dulu, kau harus bisa mengatur nafasmu dengan benar."Ucap Rena mencoba mengarahkan sebisanya.


Arka tersenyum saat melihat Rena menangis dan ekspresinya yang khawatir saat melihatnya.


"Aku bahagia, akhirnya,aku bisa melihatmu menangisiku" Ucapnya tersendat-sendat.


Rena menggelengkan kepalanya.


"Tidak,tidak, jangan bicara lagi, aku mohon."


"Maafkan aku Ren, sepertinya aku tidak tahan lagi, aku takut tidak bisa mengatakan hal ini lagi padamu.


Aku mencintaimu, percayalah, aku tidak pernah mencintai wanita lain sebesar aku mencintaimu." Imbuhnya dengan nafas yang mulai tak beraturan.


Mendengar hal itu membuat Rena semakin menangis menjadi-jadi, ia terus menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Arka segera diam.


"Tidak Arka,tidak, jangan berbicara seperti itu, aku juga sangat mencintaimu. Bukankah kita sudah berjanji untuk menikah ? jadi mari kita menikah." Ucapnya dengan suara yang seakan tercekat di tenggorokan.


Rendy yang melihat adegan itu tidak bisa menyembunyikan kalau dirinya juga sedih, ia berpaling menyeka air matanya dan segera menghubungi ambulance.


"Ren, berjanjilah padaku, bahwa kau tidak akan pernah membenciku !" Ucap Arka semakin terbata sembari memegang erat tangan Rena yang sedari tadi menggenggam tangannya.


Rena hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan Arka.


"Aku mohon diamlah, kau bisa mengatakan apapun setelah ini." Pinta Rena.


Arka menggelengkan kepalanya pelan, sekali lagi ia tersenyum menatap lekat wajah kekasihnya itu.


"Aku mencintaimu.." Ucapnya sekali lagi, tapi terdengar begitu sayu, bahkan hampir tidak terdengar.


Rena hanya bisa mengatupkan mulutnya tak sanggup menahan untuk bersuara,air matanya terus saja berlinang membasahi wajahnya, ia mengangguk pelan mengiyakan ucapan Arka yang menjadi ucapannya untuk yang terakhir.


Setelah itu, tangan Arka terlepas tak berdaya. Rena semakin mengatupkan mulutnya mencoba menahan isakan tangis yang ingin memecah.


"I love you Arka. I love you !!" Bisiknya di telinga lelaki yang kini telah meninggalkannya untuk selamanya.


Rena memeluk tubuh Arka erat dengan tangis yang memecah. Tanpa ia sadari, ada air mata yang keluar di mata lelaki itu yang kini telah memejamkan matanya, seolah dia masih mendengar dengan sangat jelas kata-kata yang di ucapkan Rena untuknya.