
Ketika mereka saling melewati. Arka menghentikan langkah kakinya, ekspresi wajahnya sedikit berubah menjadi sangat dingin.
Ia berbalik dan berjalan kembali dan menghentikan Rangga dengan memegang pundaknya dari belakang.
Rangga terhenti, ia tahu ini akan terjadi. Kemudian perlahan membalikkan tubuhnya.
Iris mata Arka sedikit memerah menatap Rangga dalam diam.
"Ada apa ?" Tanya Rangga dengan santai.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Arka mencoba menutupi kekesalannya.
Rangga menaikkan alisnya sebelah.
"Menurutmu, apa yang aku lakukan ?!" Tanya Rangga lebih santai. Ia sepertinya sengaja ingin memancing kemarahan Arka.
Dan tentu saja itu berhasil.
Rangga kemudian sedikit tertawa.
"Tanganku terluka, dan kebetulan dokter cantikku yang mengobatinya." Ucap Rangga sembari mengangkat tangannya yang sudah di balut dengan perban.
Arka menggertakkan giginya hingga tulang rahangnya tercetak jelas di wajahnya. Irisnya semakin memerah menandakan ia sangat kesal mendengar perkataan Rangga.
Dengan cepat ia meraih telapak tangan Rangga yang terluka dan menggenggamnya erat.
"Jangan pernah mengganggu kehidupan Rena.
Jika tidak, maka aku akan memberimu--"
"Dr.Arka !!" Seru Rena membuat Arka tidak melanjutkan kalimatnya.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara.
Rena segera berlari menghampiri mereka berdua dan perlahan melepaskan tangan Rangga dari genggaman Arka.
Arka terdiam melihat apa yang baru saja di lakukan Rena.
Rena yang masih memegang tangan Rangga, segera memeriksa telapak tangannya. Dan perlahan membuka perbannya.
"Lukanya kembali mengeluarkan darah, sepertinya jahitannya sedikit terbuka." Ucap Rena pelan.
Ikut aku, aku akan membersihkan darahnya dan mengganti perbannya." Imbuhnya kemudian melangkah pergi.
"Ren.. " Arka mencoba menghentikannya.
"Rena !" Ucapnya sembari memegang pergelangan tangan Rena.
Rena menatapnya dalam, dan berkata.
"Aku akan menemuimu setelah ini !" Ucapnya kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Rangga menatap ke arah Arka sembari menahan tawa. Ia merasa dirinya menang dan bahagia.
Dan Arka hanya bisa terdiam berdiri di tempatnya melihat kepergian mereka.
•
Rena segera mengambil betadin dan membersihkan darahnya, kemudian memperbaiki jahitan yang terbuka.
Dan Rangga, ia hanya bisa terdiam memandangi wajah wanita yang selalu saja ia rindukan. Ia merasa sangat bahagia mengetahui Rena masih sangat mengkhawatirkannya.
"Jangan bisarkan lukanya terkena air selama beberapa hari." Ucap Rena sembari membalut tangan Rangga.
Dan, habiskan obatnya !!" Imbuhnya sedikit tegas. Ia tahu Rangga tidak suka minum obat.
Rangga tersenyum.
"Kau masih ingat ?!" Ucapnya pelan.
Namun Rena tidak menjawabnya ataupun ingin menatapnya.
"Kau boleh pergi !!" Ucap Rena sedikit dingin dan berpaling. Namun Rangga segera menangkap pergelangan tangannya dan menariknya sangat kuat, hingga tubuh Rena terpental menubruk tubuh Rangga.
Rena mengangkat wajahnya dan menatap wajah Rangga yang begitu dekat dengannya, dengan telapak tangannya yang menempel di dada Rangga.
(Suara detak jantung)
"Apa kau bisa merasakannya ?" Lirih Rangga
Itu masih detak jantung yang sama saat aku bersamamu !" Imbuhnya.
Rena hanya bisa tertegun hingga beberapa detik kemudian dirinya tersadar dan segera melepaskan tangannya dari Rangga.
"Apa yang kau lakukan ?!" Ucapnya dingin kemudian berbalik.
"Ren.. " Panggil Rangga pelan.
"Aku masih memiliki kesibukan yang lain. Tolong keluar dari ruangan ini !!" Ucap Rena.
Rangga menatap punggung Rena dalam diam.
"Baiklah, aku akan pergi !" Ucapnya kemudian.
Ia mengambil jasnya dan keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu.
Perlahan Rena mengangkat tangannya dan memegang dadanya. Kemudian teringat kembali di momen sebelumnya.
("Apa kau bisa merasakannya ?")
("itu masih detak jantung yang sama saat aku bersamamu !")
Tok.tok.tok
Pintu terbuka.
kemudian tertutup kembali.
"Arka.. "Ucap Rena pelan.
"Apa kau baik-baik saja ?" Tanya Arka sembari meraih telapak tangan wanitanya.
Rena sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Ia menghela nafasnya pelan dan menatap wajah prianya.
"Maafkan aku karna tadi meninggalkanmu begitu saja." Ucapnya pelan.
"Tidak apa-apa, aku tahu kalau kau selalu khawatir dengan pasienmu !" Jawab Arka.
.
.
"Tentang tadi, apa yang sebenarnya terjadi ? mengapa kau melukai Rangga seperti itu ?!" Tanya Rena.
"Itu, aku hanya ingin memperingatinya agar tidak mengusikmu !" Jawab Arka.
Dan tentang lukanya, aku hanya tidak bisa menahan amarahku dan--" Arka sedikit kesusahan mengakhiri kalimatnya
Rena terdiam, ia mengerti betapa Arka sangat memperdulikannya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti !" Ucap Rena pelan dan memeluk prianya.
"Kau hanya tidak perlu membuang tenaga dan sekeras itu padanya !" Lirihnya.
Arka sedikit terdiam.
"Apa kau mengkhawatirkannya ?!" Tanyanya pelan.
Rena terdiam kemudian menjawab.
"Dia juga pasienku !"
"Emmm.. bagaimana kalau kita makan ? aku merasa sangat lapar !" Imbuhnya mencoba mencairkan suasana.
Arka mengangguk, kemudian mengusap pelan pucuk kepala Rena.
"Baiklah..!"
•••
Dua hari kemudian.
"Arka, mamah dengar kau telah bertengkar dengan Ayahmu, apa itu benar ?!" Tanya wanita yang sering di panggil Mamah oleh Arka.
Arka tidak menjawab, ia hanya fokus memeriksa jantung Ibunya dengan stetoskop di tangannya.
"Jantung Mamah tidak normal, apa belakangan ini Mamah susah tidur ?" Tanyanya.
Arka terlihat menghela nafasnya pelan, kemudian duduk dan memegang telapak tangan wanita yang menjadi pengganti Ibunya.
"Jangan terlalu banyak berfikir, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan anda." Ucapnya pelan sembari menatap hangat Ibunya.
Wanita itu sedikit tersenyum dan mengangguk.
"Sekarang katakan padaku, apa yang anda fikirkan ?! bahkan gula anda juga ikut naik." Tanya Arka.
Wanita itu mengusap pelan kepala Arka.
"Kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa, seharusnya aku tidak mengkhawatirkan apa-pun lagi saat ini."
"Lalu ? apa yang mengganggu fikiran anda ?" Tanya Arka.
"Aku mengkhawatirkan hubunganmu dengan Ayahmu."
Arka sedikit terdiam, lalu berkata.
"Anda hanya terlalu memikirkan.
Jangan merusak kesehatanmu dengan memikirkan hal yang sia-sia." Ucap Arka memperingati namun masih dengan senyum hangatnya.
Wanita itu tahu kalau dia tidak dapat membujuk Arka dengan mudah. Ia kemudian hanya mengangguk dan pamit untuk pergi.
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucapnya.
"Eh, kalau begitu biarkan aku mengantar anda ke depan." Ucap Arka kemudian berdiri.
Wanita itu hanya tersenyum dan patuh.
•
Saat mereka sampai di pintu utama Rumah Sakit, mereka berpapasan dengan satu pasien yang baru saja tiba.
"Tolong selamatkan cucuku !!" Ucap seorang wanita sembari menangis mengikuti para perawat membawa ranjang pasien.
Arka yang mendengar suara itu merasa sangat familiar. Ia menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Nyonya Mariah !" Sapanya.
Mariah menoleh dan menatapnya lalu kemudian kembali mengikuti perawat di depannya.
"Apa kau mengenal wanita itu ?" Tanya Ibunya.
Arka menganggukkan kepalanya pelan.
"Mah, maafkan aku tidak bisa menemanimu meninggu di sini." Ucapnya sedikit tergesa-gesa.
Aku sudah menelfon sopir untuk menjemput anda, mungkin sebentar lagi akan tiba." Imbuhnya sembari menatap jam di tangannya.
"Tidak apa-apa, kau pasti sangat sibuk !"Ucap wanita itu.
"Pergilah.. !" Imbuhnya.
Arka mengangguk pelan kemudian melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam Rumah Sakit.
•
"Apa yang terjadi ?" Tanyanya pada perawat yang sedang membersihkan luka di kepala Moura.
"Dia terjatuh dari ayunan di sekolahnya, dan saat jatuh kepalanya terbentur batu." Jelas perawat yang membawanya langsung dari tempat kejadian.
"Dok, dia kehilangan banyak darah." Ucap seorang perawat yang memeriksa kondisinya.
"Segera periksa golongan darah secepatnya." Jawab Arka sedikit panik sembari menjahit luka di kepala Moura.
Di luar ruangan, Mariah tidak henti-hentinya mencoba menghubungi Rangga. Hingga panggilannya tersambung.
"Halo !" Ucap Rangga datar.
"Mengapa nomormu sangat susah di hubungi ?!"
"Aku sedang sibuk bekerja, ada apa ?" Tanya Rangga.
"Segera ke Rumah Sakit sekarang juga !!" Titah Mariah sedikit terisak.
"Ada apa ? apa yang terjadi ?" Tanya Rangga.
"Moura,
Moura jatuh dari ayunan di sekolahnya !" Jawab Mariah.
"Baiklah.. setelah pekerjaanku selesai. " Jawab Rangga santai.
"Sekarang Rangga !!" Titah Mariah.
Telfon terputus.
.
.
.
"Dok, semua stok untuk golongan darah A+ kosong !" Ucap perawat melapor pada Arka.
"Bagaimana dengan Rumah Sakit lain ?" Tanya Arka.
Perawat itu menggelengkan kepalanya.
"Golongan darahnya sangat langka." Ucap sang perawat.
Arka menjadi panik, ia kembali melihat wajah kecil Moura dan kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Dok, bagaimana keadaan Moura ?!" Tanya Mariah.
Arka menatap wajah Mariah yang sendu, ia tahu bahwa Moura bukan putri Rangga, dan itu berarti tidak ada kemungkinan bahwa di keluarga mereka memiliki golongan darah yang sama.
"Maafkan aku, aku harus segera pergi." Ucap Arka kemudian berlari dengan sangat cepat.
.
.
Beberapa menit kemudian ia akhirnya kembali dan membawa sebungkus kantung darah.
Ia dengan cepat memasang kantung darah tersebut di infus. Hingga beberapa detik kemudian, monitor menunjukkan semuanya telah stabil.
Arka memeriksa denyut nadi Moura dan kemudian memeriksa detak jantungnya. Semuanya kembali normal.
Ia akhirnya bernafas lega.
Para perawat juga ikut bernafas lega dan tersenyum menatap dr.Arka.
"Dok, boleh aku bertanya ?" Tanya salah satu perawat.
Arka mengangguk dengan masih menatap Moura yang belum sadarkan diri.
"Dimana anda mendapatkan donor darah secepat itu ?!"
"Emm." Arka memalingkan wajahnya menatap perawat tersebut.
Salah satu temanku memiliki golongan darah yang sama dengannya, dan untungnya tubuh Moura menerimanya dengan baik." Jawabnya.
"Terus pantau perkembangannya, dan beritahu aku jika terjadi sesuatu !" Ucapnya kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Para perawat hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti.
"Dok, bagaimana keadaan Moura ? dia baik-baik saja bukan ?" Tanya Mariah sedikit takut.
Arka sedikit tersenyum.
"Nyonya tidak perlu khawatir, kondisi Moura saat ini sudah membaik." Jawabnya.
"Apa saya bisa masuk ?!" Pinta Mariah.
Arka menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja." Jawabnya.
Kalau begitu, saya permisi dulu."Ucapnya kemudian.
"Ya, Terima kasih dokter !" Ucap Mariah dengan haru.
Arka kemudian menundukkan kepalanya permisi dan kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.