Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 111



"Apa yang terjadi ?"


"Entah siapa yang begitu usil !!"


"Aaaach.. aku pikir benar-benar terjadi kebakaran."


"Apa ada yang melihat pelakunya ?"


Semua orang terdengar kesal dan bertanya-tanya dengan siapa pelaku yang bermain-main dan menekan tombol alarm kebakaran.


Petugas yang telah bersekongkol dengan Rangga sebelumnya hanya bisa berdiri ditengah kerumunan dengan senyum yang coba ia sembunyikan karna merasa bangga telah menyelamatkan seseorang.


Padahal ia tidak menyadari kalau sebenarnya dia telah di manfaatkan oleh Rangga.


Apartemen Arka.


Rena yang baru saja selesai dengan acara memasaknya, membuka laci untuk mengambil beberapa peralatan makan lalu membersihkannya.


Namun, pisau yang di bersihkannya tiba-tiba lepas dari pegangannya dan terjatuh.


Ia menunduk dan mengambil pisau tersebut, namun matanya tiba-tiba menangkap benda yang sedikit berkilau.


"Emm, apa itu ?" Lirihnya dan mengambil benda tersebut.


"Anting ?" Lirihnya.


"Ka... !" Sapanya.


"Ya ?" Jawab Arka.


"Apa seseorang pernah datang berkunjung ? maksudku apa ada seorang wanita pernah datang berkunjung selain diriku ?" Tanya Rena.


"Ya."


"Siapa ?"


"Ibuku, maksudku kakak dari Ayahku !" Jawab Arka.


"Ada apa ?" Tanyanya kemudian.


"Oh, tidak, bukan apa-apa !" Jawab Rena yang masih memperhatikan anting tersebut.


(Suara piring di letakkan)


"Waaaah, sepertinya terlihat sangat enak !" Ucap Arka sumringah.


Setelah menyiapkan segalanya, Rena menatap Arka yang masih dengan handuknya.


"Tidak bisakah kau memakai pakaianmu dulu ?" Titah Rena.


Arka menatap dirinya kemudian berdiri.


Ia hendak melepaskan handuknya, membuat Rena sedikit terkejut dan berteriak sembari menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.


Arka yang melihatnya hanya bisa tertawa kecil.


"Ada apa ?" Tanyanya.


"Aku menyuruhmu memakai pakaianmu, mengapa kau malah melepaskan handukmu di hadapanku ?"


"Memangnya kenapa ?"


Perlahan Arka berjalan mendekati Rena yang masih setia menutup matanya.


Arka lalu memegang kedua tangan Rena.


"Mengapa kau menutup matamu ?!" Tanyanya.


Perlahan Rena membuka kedua matanya menatap ke arah bawah.


Ternyata Arka memakai celena pendek. Namun pandangan terfokus pada gumpalan Yang terlihat menonjol dan sedikit bergerak.


Ia tersentak dan memejamkan matanya.


("Aaa tidak,tidak,mengapa aku memikirkan benda yang ada dibalik celananya ! sepertinya otakku benar-benar sudah tidak berfungsi dengan benar.") Batinnya menggerutu.


"Ada apa ?" Tanya Arka kebingungan.


"Emm, tidak, sebaiknya kita duduk saja." Ucap Rena mencoba mengalihkan.


"Baiklah !"


Baru saja mereka duduk, Arka seakan terfikirkan sesuatu. Dengan sengaja mengaktifkan satu alat penyadap, agar bisa memanas-manasi Rangga.


Ia sangat yakin kalau Rangga pasti sedang bersusah payah untuk mengetahui dengan apa yang tengah mereka lakukan saat ini.


Apartemen Rangga.


Rangga yang telah kembali ke apartemennya terlihat gelisah, ia terus mondar-mandir dan memikirkan apa yang akan Arka dan Rena lakukan.


Ia terus memikirkan hal-hal yang membuatnya semakin gelisah dan menggila.


"Aaaarrrgh.. !!" Erangnya kesal saat melihat kasur kamarnya membayangkan kedua orang tersebut bercinta.


Mengingat senyuman Arka yang sebelumnya membuatnya melemparkan apa saja yang ada di hadapannya.


Kekesalannya semakin memuncak saat ia tidak bisa lagi mendengar apa-pun dari alat penyadapnya.


Namun, ia terfikirkan sebuah ide di kepalanya. Dan segera mengambil ponselnya untuk memesan sesuatu.


Butuh beberapa saat ia menunggu sembari terus menunggu alat penyadapnya berfungsi.


"Mengapa kau tidak memakai baju ?"


Tiba-tiba ia mendengar suara Rena dengan pertanyaan yang membuatnya berfikir ke arah ***.


"Aku merasa gerah karna AC-nya tidak begitu berfungsi." Jawab Arka.


"Kenapa ? apa kau tidak suka melihatku seperti ini ?" Tanyanya kemudian.


"Ya." Jawab Rena singkat.


"Ppppffftt..." Tawa Rangga yang mendengarnya, ia merasa puas, setidaknya rasa khawatirnya sedikit menghilang.


"Benarkah ? tapi, mengapa para wanita di tempat latihan gym terus memujiku dan sangat suka melihatku jika tidak memakai baju ? bahkan mereka mengatakan kalau aku ****, apakah mereka hanya membual ?!" Tanya Arka pelan.


Rena yang mendengarnya mendesis kesal.


"Sepertinya kau sangat suka di puji !"


Arka tersenyum.


"Hanya kau yang tidak pernah memujiku." Ungkapnya sembari mengiris steaknya.


Rena menghela nafasnya pelan.


"Aku bukan tidak suka kau tidak memakai baju, aku hanya tidak bisa fokus dengan--" Ucapnya memberi isyarat pada otot-otot yang sempurna di tubuh Arka.


Arka menatap dirinya dan kemudian menatap Rena dengan senyum.


Untuk beberapa saat mereka terdiam sembari menikmati dan mengunyah makanannya. Membuat Rangga kembali penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang mereka lakukan ?" Lirihnya menunggu percakapan selanjutnya.


"Emmm.. ini sangat enak !" Ucap Arka.


"Bagian atas ?" Lirih Rangga.


Apa maksudnya ? apa yang sebenarnya mereka lakukan ?" kesalnya.


"Aku suka semuanya, tapi aku lebih suka bagian bawah." Jawab Arka.


Paaak.. (Suara bantingan meja)


Kesal Rangga, membanting meja dengan keras. Sepertinya ia tidak bisa lagi menahannya.


Ting tong. (Suara bel berbunyi)


Rangga segera keluar membuka pintu.


"Apa benar ini saudara Rangga ?" Tanya pemuda tersebut.


Tanpa basa-basi Rangga segera menawarkan sejumlah uang untuk di tukarkan dengan seragam pemuda tersebut.


Setelah beberapa saat, pemuda yang mengantarkan paket tersebut keluar dengan memakai pakaian Rangga,. Sedangkan Rangga, ia keluar memakai seragam pemuda tersebut dan segera menuju ke apartemen Arka.


Ting tong.


Ting tong.


"Sebentar, aku akan melihatnya !" Ucap Arka sembari meletakkan garpu dan pisaunya.


Sebelum membuka pintu, ia memeriksanya lebih dulu, dan melihat seorang memakai topi dengan pakaian seperti seorang kurir pengantar makanan.


"Siapa ?" Tanyanya.


"Pengantar pizza !"


"Apa kau memesan pizza ?" Tanya Arka pada Rena.


Dengan cepat Rena menggelengkan kepalanya.


"Tidak." Jawabnya.


"Lalu siapa ?" Tanya Arka pelan.


"Maaf, aku tidak memesannya." Ucapnya kemudian pada kurir tersebut.


"Tapi disini dicantumkan atas nama Tuan Arka Ferdiansyah !" Ucap kurir tersebut meyakinkan.


Arka terlihat berfikir dan mengamati petugas tersebut.


Setelah merasa tidak ada yang mencurigakan, ia kemudian segera membuka pintu.


Dengan wajah yang menunduk, Rangga tersenyum dan menyerahkan kotak pizza tersebut pada Arka.


Pada saat Arka menerimanya, Rangga dengan cepat melesat masuk menerobos penjagaan Arka.


Membuat Arka berteriak kesal.


"Hei !! apa yang kau lakukan ?!!"


Rena yang juga melihat petugas kurir tersebut menerobos masuk dan berjalan ke arahnya, merasa terkejut dan takut.


Arka yang belum tahu kalau kurir tersebut adalah Rangga segera memegang pundak dan menahannya, namun Rangga meleos dan dengan cepat mengangkat tubuh Rena dan menggendongnya.


Rena mencoba memberontak sebisanya, tapi tenaganya tidak cukup untuk bisa menumbangkan Rangga yang sudah sedari tadi menahan amarahnya.


"Apa yang kau lakukan ?" Bentak Arka.


Namun pemuda yang sebelumnya tiba-tiba masuk dan memotret semuanya, membuat Arka kewalahan.


Di sisi lain, dia harus menyelamatkan Rena, tapi di sisi lain ia juga harus merampas ponsel pemuda yang sudah memotretnya. Jika tidak, foto mereka akan tersebar dan tentu saja akan menjadi masalah.


"Hei !! kau siapa ?!" Bentaknya pada pemuda tersebut dan mencoba merampas ponselnya.


Sehingga Rangga mendapatkan kesempatan untuk segera pergi dan membawa Rena.


"Turunkan aku !!" Seru Rena dan terus melakukan perlawanan.


Namun Rangga tidak lagi memperdulikannya. Hingga mereka masuk kedalam lift.


Rena yang sudah tidak lagi berdaya memukul tubuh pria tersebut, tidak lagi berpikir panjang dan langsung menggigit punggung pria tersebut dengan kuat.


"Aaaarrrgh... !!" Erang Rangga kesakitan dan segera menurunkan Rena.


Beruntung ia memakai masker, sehingga Rena tidak dapat mengenalinya.


"Siapa kau !!" Seru Rena ketakutan.


Rangga hanya diam menatap Rena di balik topi yang menutupi setengah wajahnya.


Rangga yang melihat lift akan segera terbuka, segera mendekati Rena dan mengancamnya dengan benda yang sebenarnya hanyalah sebuah pena.


Namun karna ketakutan, Rena menganggap kalau itu adalah sebuah pisau. Membuatnya diam tanpa melakukan perlawanan.


"Diamlah jika kau ingin selamat !!" Ucap Rangga pelan numun sedikit merubah gaya suaranya.


Ting.(Suara pintu lift terbuka)


Rangga dengan cepat kembali menggendong Rena dan melewati pintu belakang gedung tersebut menuju parkiran.


"Toloooong... tolong !" Teriak Rena.


Namun sayang, tidak ada yang bisa mendengarnya. Karna semua penghuni apartemen masih berada di depan gedung tersebut.


"Diamlah !!" Bentak Rangga dan memasukkan Rena ke dalam mobil.


Sedangkan Arka, setelah memberi pelajaran kepada pemuda yang mencoba menghalanginya, ia akhirnya tahu bahwa semua adalah rencana Rangga.


Dengan cepat ia memakai pakaiannya dan ingin mengejar, namun sayangnya ia sangat terlambat.


Rangga sudah membawa Rena pergi jauh dari area tersebut.


"Apa yang akan kau lakukan ? mengapa kau membawaku ke tempat ini ?!" Tanya Rena saat melihat hamparan laut di hadapannya.


Ia sebenarnya tidak begitu takut, karna selama perjalanan pria itu tidak pernah menyakiti atau menelfon siapa pun.


Mobil berhenti.


Rena mencoba membuka pintu, namun Rangga tidak membiarkannya dan menguncinya.


"Siapa kau ? apa kau musuh ayahku ?" Tanya Rena menerka.


"Ya, aku memang musuh ayahmu !"


"Lalu apa yang akan kau lakukan denganku ?" Tanya Rena.


Cukup lama Rangga menatap Rena dalam diam, membuat Rena sedikit bingung dan ketakutan.


Rangga yang tidak tega melihat Rena seperti itu segera melepas masker dan juga topinya.


Rena mengernyitkan dahinya.


"Rangga !!"


"Ya, ini aku."