Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 135



Rena mencoba mencari tahu tentang ulasan dari yang pernah mengikuti dating apps atau perusahaan yang menawarkan jasa perjodohan mengikuti karakter seperti yang diinginkan sang klien.


"Ternyata dating apps lebih beresiko." Lirihnya sembari menatap layar laptopnya dengan seksama, hingga pada akhirnya ia memilih untuk mendaftarkan diri di perusahan terkait hal tersebut.


Dan tentu saja dengan memakai identitas palsunya, dia tidak ingin tertangkap basah oleh media. Terlalu beresiko kalau sampai mereka mengetahuinya.


••


Tiga hari setelah dirinya mendaftar di perusahaan tersebut. Saat di pagi hari ia mendapat notifikasi bahwa seseorang telah tertarik kepadanya dan mengatakan bahwa esok mereka bisa bertemu di sebuah restauran yang perusahaan itu telah siapkan.


Rena menatap foto beserta profil pria yang dikirimkan melalui email berlogo perusahaan tersebut.


Nama : Aditya Abraham


Umur : 35 Tahun


Pekerjaan : Jaksa


Rena menatap foto lelaki yang akan di temuinya esok tersebut cukup lama, hingga akhirnya ia memutuskan untuk meminta di pesankan sebuah tiket penerbangan melalui teman kakaknya yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan.


••


Setelah beristirahat sebentar di salah satu hotel seusai penerbangan singkatnya, akhirnya Rena berangkat ke sebuah restauran yang sebelumnya telah di atur oleh pihak perusahaan tersebut.


Hingga tak terasa dirinya telah sampai di depan bangunan bertingkat dua. Rena cukup tertegun menatap bangunan tersebut dalam diam, ini adalah kali ketiga dia memutuskan untuk dekat dengan seorang pria.


Terlihat Rena menarik nafasnya dalam, dan menghembus-nya secara perlahan. Dia memantapkan hatinya kemudian melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut.


Rena menatap ke sekitarnya, mencari nomor meja yang sudah di instruksikan sebelumnya.


"Permisi.." Sapanya pada pria yang terlihat sedikit tegang. Melihat wajahnya, Rena bisa menebak, Mungkin ini juga adalah kali pertama bagi pria itu mengikuti kencan buta.


Pria yang tidak lain adalah Aditya mendongak menatap wanita yang baru saja menyapanya.


Untuk sesaat ia tertegun menatap wanita yang saat ini mengenakan simple cap dress berwarna pink dusty selutut dengan punggung yang sedikit terbuka, memperlihatkan kulit punggungnya yang halus. Rambut hitamnya yang dibiarkan terurai sedikit bergelombang menutupi sebagian besar punggungnya dengan flat shoes berwarna senada.


"Hai, eh-silahkan duduk." Ucap pria itu sedikit kikuk. Pasalnya yang ia tahu dia akan bertemu dengan wanita yang umurnya sedikit muda dua tahun darinya, dengan gelar seorang doktor.


Ia tidak menyangka setelah bertemu secara langsung, wanita itu ternyata memiliki paras yang lebih cantik dari fotonya dan bahkan masih terlihat sangat muda dari usianya.


Rena hanya tersenyum dan dengan anggun mendaratkan bokongnya.


"Perkenalkan, namaku Aditya." Ucap Lelaki itu memulai percakapan sembari mengulurkan tangannya.


"Aku,,,"Rena sedikit berfikir.


Sebelumnya aku minta maaf. Sebenarnya aku telah memakai identitas palsu di profilku.


Perkenalkan, aku Raehana Maharani." Ucap Rena sembari menyambut uluran tangan dari lelaki tersebut.


Aditya sedikit bingung, ia mengerutkan alisnya menatap Rena penuh tanya.


"Mengapa anda memalsukan identitas anda ?"


Tanyanya penasaran.


"Emmm,, aku harap anda tidak terkejut jika aku mengatakan identitas keluargaku. " Jawab Rena tidak ingin menyembunyikan apapun.


Aditya mengangkat alisnya sebelah, dirinya yang berprofesi seorang jaksa, tentu mampu melihat apa orang tersebut sedang berkata jujur atau sedang berbohong. Apalagi setelah melihat penampilan Rena, tentu saja bisa di pastikan kalau wanita itu bukan berasal dari keluarga biasa.


"Oh, tidak masalah. Aku bisa mengerti." Jawabnya dengan senyum yang mengembang.


Setelah perkenalan itu, mereka akhirnya berbincang dengan santai dan menceritakan tentang masalah pekerjaan dan lain-lain.


"Eh, bisakah anda memanggil namaku saja ?" Pinta lelaki itu.


"Em baiklah, kalau begitu bisakah aku meminta hal yang sama ?" Tanya Rena.


Lelaki itu hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.


Namun tiba-tiba suara wanita yang tengah menggebrak meja dengan tangannya di barengi beberapa sumpah serapah pada lelaki yang duduk tenang di hadapannya. Membuat beberapa pengunjung menoleh menatap ke arah mereka, tak terkecuali Rena. Sebenarnya ia sangat terkejut sebelumnya, karna meja yang ia tempati tidak begitu jauh dari keributan yang terjadi.


Sekilas, ia menatap ke arah mereka. Ia mengerutkan alisnya saat melihat lelaki yang duduk dengan tenangnya menerima sumpah serapah dari sang wanita, seolah tidak peduli dengan cacian yang di berikan kepadanya. Sayangnya Rena hanya bisa melihat punggung lelaki tersebut yang duduk dengan posisi membelakangi-nya.


("Apa hanya perasaanku saja ? ah.. Sudahlah, Rangga bukan satu-satunya lelaki yang memiliki tubuh jangkung seperti itu.)" Batinnya saat memperhatikan postur tubuh lelaki itu secara seksama.


"Ren, kau kenapa ?" Tanya Adit, membuat Rena tersadar, kemudian berpaling dan kembali menatap pria yang duduk di depannya.


"Aaah.. tidak."


"Apa kau mengenal pria itu ?" Tanya Adit menebak.


"Eh ? tidak." Jawab Rena dengan senyum


Adit hanya mengangguk mengerti.


.


.


.


Setelah merasa cukup dengan aktivitas kamar kecilnya. Rena segera keluar dari ruangan tersebut. Namun dirinya sangat terkejut saat melihat seorang lelaki yang berdiri di depan pintu.


"Rangga." Ucapnya pelan.


"Hai Ren." Ucap Rangga melambaikan tangannya.


"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Rena.


"Aku ? kebetulan tadi aku sedang janji temu dengan seseorang, dan tanpa sengaja aku melihatmu. Tadinya aku pikir aku salah lihat, makanya aku mengikutimu untuk memastikan." Jelas Rangga berdalih.


Rena terlihat mengangguk pelan mengerti.


"Bukankah ini sedikit aneh ? kita selalu bertemu secara kebetulan." Ucap Rena dengan senyum, ia kembali teringat dengan kata pepatah yang mengatakan kalau dunia tak selebar daun kelor.


Sepertinya itu benar, nyatanya ia kembali bertemu dengan Rangga di kota asing ini. Bagaimana bisa seperti itu ? apa mereka masih memiliki takdir yang belum selesai ?


Sedikit lama ia memperhatikan Rangga, kemudian tersadar.


"Tunggu, apakah janji temu yang kau maksud adalah bertemu dengan wanita bar-bar yang tadi membuat keributan ?" Terka Rena sembari bersedekap menopang tangan kirinya dengan jari telunjuknya yang terjulur menyentuh bibirnya.


"Apa kau melihatnya ?" Tanya Rangga sedikit kikuk, sebenarnya ia telah berusaha sebisanya agar Rena tidak melihat wajahnya, bagaimana mungkin wanita itu masih tetap bisa mengenalinya ?


Flashback On.


Rangga yang sebelumnya mendapat undangan kencan buta dari seorang wanita terlihat duduk sesekali menatap ke arah pintu berharap wanita itu segera tiba.


Sudah hampir setengah jam ia menunggu, tapi wanita itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Membuat Rangga berdecak kesal.


("Ck, apa dia tidak tahu bagaimana rasanya menunggu ? aku harap dia benar-benar secantik fotonya.") Batin Rangga, ia tidak ingin waktunya terbuang sia-sia dengan hasil yang mengecewakan.


Ia kembali melirik ke arah pintu, berharap wanita itu segera tiba. Hingga matanya menangkap sosok wanita yang entah mengapa juga berada di kota ini.


"Rena." Lirihnya tertegun saat melihat penampilan Rena yang menurutnya sedikit menggoda.


"Apa itu benar Rena ?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Hingga ia melihat Rena menghampiri seorang pria yang sepertinya telah menunggu dirinya sejak tadi.


Rena yang merasa diawasi menoleh ke arah sekitarnya, berharap tidak ada orang yang mengenalnya di tempat ini.


Dengan cepat Rangga melesat, dan berpindah tempat duduk membelakangi Rena, agar wanita itu tidak melihatnya.


Ia yang terlalu sibuk mengawasi Rena, tidak merasa bahwa wanita yang sebelumnya ia tunggu telah duduk menatap bingung ke arahnya.


Merasa dirinya di acuhkan, wanita itu kesal dan akhirnya berkata kasar pada Rangga. Rangga yang terlalu penasaran dengan hubungan Rena dengan lelaki itu tidak menggubris. Membuat wanita itu semakin kesal dan akhirnya menggebrak meja, mengumpat Rangga dengan sumpah serapah miliknya.


Dan tentu saja Rangga sama sekali tidak peduli.


Flashback Off.


"Hahaa aku tidak menyangka kalau itu benar kau, padahal aku hanya menebak." Gelak Rena melihat ekspresi Rangga yang merasa malu.


Rangga tidak mengatakan apapun, melihat tawa Rena yang lepas seperti itu, membuat hatinya merasa bahagia.


"Katakan padaku, siapa wanita itu ? apa dia pacarmu ?" Tanya Rena kemudian sesaat setelah ia berhasil meredam tawanya.


"Sebenarnya aku mengikuti kencan buta. Aku tidak tahu kalau wanita itu ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi-ku. aku hanya melihat foto dan profilnya sebelumnya, dan aku pikir dia gadis yang sempurna." Jawab Rangga jujur.


Rena mengerutkan alisnya.


"Kencan buta ? aku pikir seorang Rangga tidak perlu mengikuti program seperti itu untuk mendapatkan wanita." Ucap Rena sedikit mengejek.


"Ya.. begitulah, Mamah selalu menodongku untuk segera menikah. Apalagi setelah Dara melahirkan, aku jadi bingung sendiri untuk memilih."


"Benarkah ? kalau begitu kita senasib. Ayahku juga menodongku untuk segera menikah, bahkan sampai mengancam ku akan dijodohkan dengan anak teman bisnisnya jika dalam waktu dua bulan aku tidak mengikuti keinginannya."Jelas Rena menatap kosong ke sembarang arah.


Ia kemudian melirik jam dipergelangan tangannya.


"Astaga, aku hampir lupa." Ucapnya teringat bahwa Adit pasti telah menunggunya.


"Ada apa ?" Tanya Rangga.


"Aku lupa kalau aku juga sedang berkencan dengan seorang pria. Maafkan aku Rangga, aku harus pergi." Jawab Rena kemudian melenggang pergi dengan langkah terburu-buru.


Rangga yang mendengarnya hanya bisa mematung di tempatnya melihat punggung Rena yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangannya.