
Gilbert mengarahkan pistolnya kepada Jaya dan begitupula sebaliknya, sedangkan John, dia masih berada dalam kebingungan, siapa musuh sebenarnya.
•
Di saat yang bersamaan, Rangga dan Rendy telah sampai di depan ruangan tersebut namun segera di halangi beberapa bawahan Gilbert.
Membuat keduanya mau tidak mau harus melawan mereka terlebih dahulu.
•
Gilbert yang melihat kebingungan John mencoba memprovokasi.
"Ayolah John, selama ini dia mempermainkan hidupmu dan juga keluargamu, dia juga berulang kali menghancurkan perusahaan putramu. Sadarlah, dia lah musuhmu yang sebenarnya !"Ucapnya mencoba meyakinkan.
John yang goyah akhirnya mengarahkan pistolnya kepada Atmajaya, ia sendiri juga kesal, karna sudah di permainkan olehnya selama ini.
Jaya yang melihat hal itu hanya bisa menatap John dalam diam.
Melihat keduanya lengah dan memiliki kesempatan, Gilbert menyeringai dan kemudian menarik pelatuk pistolnya.
Dooor..
"Aaaarrrgh."Erang John kesakitan.
"John.. !!" Pekik Jaya secara bersamaan.
John terpental sedikit kebelakang saat peluru itu menembus lengannya membuat pistolnya terlepas dari pegangannya.
Baru saja Jaya ingin menarik platuk pistolnya, suara nyaring itu kembali menggema memekakan telinganya.
Dooor..
Dooor..
"Aaaarrrgh.." Erang John dan Gilbert bersamaan.
Tembakan Jaya sedikit melesat karna terkejut dengan tembakan Gilbert yang beruntun, dan hanya mengikis wajah Gilbert.
Sedangkan Gilbert, tembakannya kali ini berhasil mengenai bahu John, membuatnya kembali terpental dengan sangat keras kearah belakang.
Di antara mereka bertiga, Gilbert adalah penembak yang handal, Jaya adalah raja permainan dan John adalah pemanipulasi yang handal.
Jaya yang melihat posisi John yang berada di ujung balkon segera berlari mencoba menolongnya.
"John... !!" Pekik Jaya sembari mengulurkan tangannya meraih pergelangan tangan John.
Rangga dan Rendy yang mendengar suara tembakan yang beruntun saling melempar pandangan.
Rendy kemudian terlihat mengangguk seakan mempercayakan semuanya pada Rangga.
Rangga yang mengerti dengan anggukan itu segera berlari dan menerobos pintu penghalang tersebut.
Sedangkan Gilbert, ia yang merasa perih di wajahnya terlihat semakin beringas, dan sekali lagi mengangkat pistolnya dan kali ini ia mengarahkannya pada Atmajaya.
Dooor..
Peluru itu berhasil menembus punggung Atmajaya dengan keras, membuat tubuhnya terpental, namun ia dengan sekuat tenaga mencoba menahannya dan dengan erat menggenggam tangan John yang sudah bergelantungan tak berdaya.
Gilbert yang belum merasa puas terlihat kembali mengarahkan pistolnya, sepertinya ia benar-benar ingin menghabisi keduanya secara bersamaan.
Dooor..
Saat suara itu kembali menggema, mata Gilbert seketika membola saat melihat Rangga tiba-tiba berlari menggunakan dirinya sebagai sasaran peluru.
Bruuukh..
Tubuhnya tersungkur dan terjatuh ke lantai dengan sangat keras.
Sebelumnya, Rangga baru saja ingin mengarahkan pistolnya pada lelaki tua yang pernah menjadi mertuanya, namun saat melihat Gilbert menarik pelatuk pistolnya, ia merasa tidak memiliki banyak kesempatan. Jika saat ini ia menghabisi Gilbert maka di saat yang bersamaan kedua orang di depannya juga akan mengalami nasib yang sama.
Tanpa berpikir panjang ia segera berlari dan melompat tepat di hadapan Atmajaya.
Dooor..
Suara itu sekali lagi terdengar menggema.
Akhirnya Rangga terlihat tersenyum menutup matanya secara perlahan.
•••
Di sisi lain. Anggi terlihat baru saja keluar dari ruangan dr.ferdiansah.
dr.Ferdi yang baru saja mendengar berita yang mengejutkan dari Anggi terlihat terdiam memandangi dua amplop putih yang sebelumnya di sodorkan Anggi kepadanya.
(Surat pengunduran diri. Surat hasil Laboratorium DNA)
Dengan tangan bergetar, ia meraih surat hasil lab tersebut lalu membukanya dan membacanya secara seksama.
Matanya kembali terlihat membola sedikit kemerahan, dan perlahan meremas kertas tersebut dengan sangat kuat. Ada kemarahan yang tercetak jelas di wajahnya.
Tok,tok,tok
"Ferdi !?" Sapa wanita yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.
Wanita itu berjalan mendekat, kemudian duduk di sofa yang bersebrangan dengan adiknya
"Ada apa ?" Tanyanya melihat ekspresi Ferdi yang dingin dalam diam.
Dengan kasar Ferdi melempar kertas tersebut di atas meja sehingga kakaknya bisa melihatnya.
"Apa ini ?" Tanya wanita itu sembari meraih kertas tersebut.
Setelah membacanya, matanya sedikit membola, ia terlihat menutup mulutnya yang menganga karna tidak percaya dengan apa yang di bacanya.
Sebenarnya ia sudah menduga hal ini saat melihat ekspresi ponakannya itu beberapa bulan yang lalu, saat dimana gadis kecil itu masuk ke rumah sakit dengan pendarahan yang cukup serius.
Dia bahkan menyaksikan bagaimana Arka diam-diam mendonorkan darahnya sendiri demi menyelamatkan gadis kecil itu.
Wanita itu hanya tidak menyangka kalau firasatnya saat itu benar adanya.
"Dimana kau mendapatkan ini ?" Tanyanya terlihat tenang.
Ferdi tidak bisa tidak menatapnya dengan tatapan bingung, bagaimana mungkin dia bisa setenang itu ?
"dr.Anggi yang menemukannya dan menceritakan segalanya padaku tentang bagaimana anak itu melakukan segala cara demi mendapatkan keinginannya."
Wanita itu terlihat terdiam, jauh di dalam hatinya ia berfikir kalau dirinya masih tidak becus mendidik ponakan yang telah di anggapnya sebagai anaknya sendiri.
Ferdi menatapnya menelisik.
"Ada apa dengan sikapmu ini ? apa kau sudah mengetahuinya dari awal ?"
"Tidak, bukan begitu."
Ferdi tidak bisa menahan amarahnya lagi, ia berdiri dan meraih jasnya bersiap untuk pergi.
"Ferdi, Ferdi, tunggu dulu, biar aku jelaskan." Ucap wanita itu mencoba menenangkan adiknya.
Namun Ferdi terlihat begitu marah sehingga tidak mempedulikan apa yang coba ingin di katakan kakaknya dan dengan cepat meninggalkan Rumah Sakit tersebut menuju apartemen putranya.
.
.
Baru saja keluar dari mobilnya, di saat yang bersamaan Arka juga terlihat terburu-buru menuju di mana ia memarkirkan mobilnya.
"Arka.. !!" Seru Ferdi dan berjalan dengan cepat menghampiri putranya.
Baru saja Arka berbalik, sebuah tamparan dengan sangat keras mendarat di wajahnya.
Plaaaaak..
Arka memegang wajahnya yang terasa nyeri.
"Apa lagi sekarang ?!" Tanyanya dengan ekspresi datar.
Ferdi dengan kesal melempari amplop yang berisi hasil lab tersebut di wajah putranya.
"Jelaskan padaku, bagaimana kau bisa melakukan semua ini ?!"
Arka memungut amplop tersebut dan menatapnya dalam diam.
"Bagaimana ini bisa ada pada anda ?!" Tanyanya terlihat santai.
"dr.Anggi yang memberikannya padaku, dan menceritakan semuanya, bagaimana kau melakukan segalanya."
Arka tersenyum.
"Kalau begitu anda sudah mengetahuinya, lalu untuk apa aku harus repot-repot menjelaskannya lagi ?!"
Ferdi yang mendengar ucapan putranya semakin kesal dan kembali ingin memukul putranya. Namun dengan cepat Arka menangkisnya.
"Aku bukan lagi putra anda, jadi anda tidak perlu ikut campur dengan kehidupanku." Ucap Arka dan menghempaskan tangan Ayahnya ke samping.
"Apa kau belum juga sadar bahwa kau telah mencampakkan putrimu ? bagaimana bisa kau melakukan semua ini padanya ? dia bahkan tinggal di rumah orang yang bukan benar-benar keluarganya !"Seru Ferdi tidak tahan lagi dengan sikap dingin putranya.
Namun Ferdi sedikit bingung melihat ekspresi wajah Arka yang menyeringai.
"Tidak perlu mengajariku bagaimana aku aku harus memperlakukannya Tuan Ferdi, lagi pula dia tinggal bersama Ayah tirinya, orang yang benar-benar di cintai Ibunya.Dan aku cukup tahu bagaimana memperlakukannya dengan caraku sendiri !"
Ferdi tidak bisa menahan tawanya mengejek dan frustasi atas sikap putranya.
"Aku tidak menyangka kalau aku telah membesarkan monster sepertimu !!" Sesal Ferdi dengan senyum hambarnya.
"Lalu mengapa ? apa sekarang anda merasa menyesal ? kalau begitu kenapa dulu anda tidak membiarkanku ikut dengan Ibuku saja ! bukankah sejak dulu anda menganggap keluarga Ibuku adalah keluarga monster ?!" Ucap Arka kesal kemudian masuk ke dalam mobilnya. Ia sempat menatap Ayahnya yang mematung sebelum akhirnya melaju pergi meninggalkan area parkiran tersebut.
Ferdi terdiam mendengar ucapan putranya, yang sebenarnya Arka tidak benar-benar mengetahui situasinya pada saat itu.
Arka tidak pernah di terima di keluarga Ibunya karna memiliki darah darinya, menurut mereka Arka benar-benar tidak ada. Apalagi setelah kematian Emira, semuanya menganggap bahwa Arka adalah dalang dari kematian Ibunya.
Mereka terus mengatakan, kalau saja waktu itu Emira tidak pergi menemui putranya, Emira tidak akan mati.