
Moura baru saja di pindahkan ke ruangan VIP. Mariah duduk memandangi cucunya dengan mata yang sembab, Ia memegang telapak tangan kecil itu dengan sangat lembut.
Rena datang untuk memeriksa dan menyuntikkan beberapa obat di cairan infusnya.
Sejak beberapa bulan setelah Rangga di rawat di Rumah Sakit, Mariah tidak lagi bertegur sapa dengan Rena. Mereka seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal, walau demikian, Mariah masih memberikan rasa hormat kepada Rena sebagai seorang dokter.
"Dimana dr.Arka ?" Tanya Mariah.
"Dr.Arka sedang tidak enak badan, dan menyuruhku untuk memeriksa Moura." Jelas Rena.
"Bisakah dokter lain yang merawat cucuku selain dirimu ?!" Pinta Mariah tanpa menatap wajah Rena sedikit pun. Matanya masih saja tertuju pada cucu kecilnya itu.
Rena menoleh dan sedikit merasa canggung atas permintaan Mariah.
"Aku bukan tidak menyukaimu, aku hanya tidak ingin Rangga melihatmu di tempat ini." Ucap Mariah kemudian.
Rena mengerti dengan apa yang baru saja di katakan Mariah, itu memang benar, sebaiknya dia harus membuat jarak pada keluarga itu.
"Baiklah, aku-"
"Itu tidak perlu, biarkan dia yang merawat Moura !" Ucap Rangga tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan menyela ucapan Rena.
Ia terus menatap Rena dengan tatapan yang lekat.
Mariah yang mendengar suara putranya segera berdiri dan menghampirinya.
"Mengapa kau baru datang huh !
Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk segera datang kesini ?!"
"Aku sibuk !" Jawabnya datar.
"Bahkan di saat Moura seperti ini, kau masih sibuk dengan pekerjaanmu.
Tidak bisakah kau memberi putrimu sedikit perhatian ?!" Pinta Mariah sembari menatap Moura dengan penuh kasihan.
"Dia bukan putriku !!" Jawab Rangga sedikit dingin dan melirik Rena yang sedang merapikan peralatannya.
"Rangga.. !!" Bentak Mariah kesal.
"Maaf, bisakah Ibu dan Bapak sedikit tenang ?!" Sela Rena.
"Jika tidak, anda bisa berbicara di luar ruangan." Imbuhnya.
Rangga yang mengerti segera keluar dan di susul Ibunya.
Mereka terus bertengakar di luar ruangan. Rena menatap wajah Moura yang lugu, wajahnya persis seperti Ibunya. Ia sedikit merasa iba melihat wajah gadis kecil itu.
("Kau masih kecil, tapi hidupmu sangat menyedihkan karna ulah Ibumu.") Batin Rena sembari mengusap pelan pipi Moura.
Pada akhirnya dia keluar dari ruangan tersebut tanpa mengatakan apa pun.
"Dia tidak melakukan kesalahan apa pun, setidaknya beri dia sedikit kasih sayang dari seorang Ayah." Pinta Mariah,suaranya bergetar seakan menahan tangis.
"Mah ! sudah aku katakan kalau dia bukan putriku, dan aku bukan Ayahnya.
Bagaimana bisa aku memberinya kasih sayang dan perhatian ?! Mamah juga tahu, hidupku hancur karna Ibu dan anak itu !!" Kesalnya.
Jika bukan karna mereka, aku pasti sudah hidup bahagia dengan orang yang aku cintai." Lirihnya sembari menatap punggung Rena yang berjalan dan mulai menjauh.
Mereka bukan hanya memisahkanku dari kekasihku, tapi juga menghancurkan diriku dan keluarga kita !" Kesalnya kemudian pergi meninggalkan Ibunya yang mulai terisak pilu.
Walau sudah menjauh, Rena masih bisa mendengar dengan sangat jelas pertengkaran mereka. Ia semakin mempercepat langkah kakinya hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Mariah merasa serba salah, hatinya terasa sakit. Ia tahu putranya masih sangat terluka mengetahui fakta bahwa Moura bukanlah putrinya dan membuatnya terpisah dengan Rena.
Ia kembali masuk ke dalam ruangan dan menatap wajah polos Moura yang masih belum sadarkan diri.
Mariah terisak, menangis dalam diam. Betapa menyedihkannya gadis kecil itu.
Di dalam keluarga, hanya Mariah yang benar-benar menyayangi Moura dan memberinya segala perhatian.
Sedangkan John dan Rangga, kedua lelaki itu memperlakukannya dengan sangat dingin. Mereka seperti es yang sudah sangat membatu.
Mariah mengusap pelan wajah kecil Moura.
("Ini salah Ibumu, tapi mengapa harus kau yang menanggungnya ?!") Batinnya kemudian tertunduk mencium tangan kecil Moura. Ia terus terisak karna merasa kasihan pada gadis kecil itu, dan di sisi lain ia juga merasa marah. Marah karna takdir yang mempermainkan keluarga mereka.
"Oma.. " Ucap Moura dengan suara paraunya.
Mariah mengangkat kepalanya dengan mata yang masih berair dan memerah.
"Moura, sayang, kau sudah bangun ?!" Ucapnya pelan.
Moura mengerjapkan matanya dan terlihat sedikit mengangguk. Ia kemudian perlahan mengangkat tangannya yang lemah dan mengusap wajah wanita yang selalu menjadi sandarannya selama ini.
"Jangan menangis, Moura baik-baik saja." Ucapnya dengan nada yang masih terdengar sangat imut dan manis di telinga.
Mariah sedikit tersenyum.
"Bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau baik-baik saja huh ?!" Ucap Mariah dengan lembut.
Lihatlah, kau di infus dan kepala kecilmu harus di balut seperti ini." Imbuhnya sedikit tersenyum.
Kau membuat Oma sangat takut dan khawatir." Tambahnya lagi.
"Maaf Oma." Ucap Moura, air matanya kemudian terlihat keluar begitu saja.
"Mengapa Moura meminta maaf hem ?!" Tanya Mariah.
"Maaf karna sudah membuat Oma takut dan khawatir." Ucapnya lugu.
Mariah semakin tidak bisa menahan tangisnya, air matanya semakin deras meluncur keluar. Ia memeluk Moura dengan sangat erat dan penuh kasih sayang.
Membuat Moura juga ikut menangis.
Mariah sedikit terkejut mendengar suara tangis Moura yang pecah.
"Ada apa sayang ? apa Oma menyakitimu ?" Tanya Mariah melepaskan pelukannya dan mencoba memeriksa tubuh cucunya.
Moura menggelengkan kepalanya.
"Lalu mengapa kau menangis ?!" Tanya Mariah.
"Moura sedih karna Oma menangis." Ucapnya sesegukan.
Mariah mengerutkan alisnya, ia terharu. Bagaimana bisa gadis sekecil dan sepolos ini harus menanggung semua kebencian dari kedua lelakinya ?
Bahkan setiap kata yang di ucapkan Moura membuat hatinya selalu meleleh.
Rangga baru saja pulang ke kediaman Aberald.
Dia berjalan dengan sangat tergesa-gesa kemudian masuk ke kamar Moura dan masuk ke dalam kamar mandi, ia meraih satu sikat gigi kecil yang menjadi sikat gigi Moura.
Ia memperhatikan sikat gigi itu, kemudian mengeluarkan sikat gigi dewasa dari dalam saku celananya.
Matanya menyoroti kedua sikat gigi itu, entah apa yang ia fikirkan saat ini. Pikirannya melayang, teringat kembali di momen saat dia baru saja tiba di rumah sakit dan mendengar Ibunya dan Arka sedikit berbincang. Kemudian melihat Arka berlari dengan sangat tergesa-gesa.
Ia yang merasa sedikit curiga mengikuti kemana perginya Arka, dan akhirnya melihatnya masuk ke salah satu ruangan dan untuk beberapa saat ia harus menunggu sedikit lama. Dan akhirnya Arka keluar dengan satu kantung darah penuh.
Sebenarnya dia juga sedikit tidak yakin dengan apa yang di fikirkannya, tapi melihat bagaimana Arka sangat panik dan bergelagat yang mencurigakan. Mau tidak mau dia harus melakukan hal ini. Untuk membuktikan apa yang difikirkannya benar atau salah.
Dengan cepat ia kembali ke Rumah Sakit dan segera menyuruh ahli genetik untuk memereiksa DNA dari ke dua sikat gigi tersebut.
Setelah menunggu beberapa lama, hasilnya belum juga keluar.
(Suara ponsel berdering)
(Mamah)
"Halo !" Ucapnya
"Rangga, kau dimana ?" Tanya Mariah di seberang telfon. Suaranya sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku sedang di kamar mandi." Jawabnya mendalih.
"Bisakah kau membelikan Moura buah dan kebutuhan lainnya ?
Mamah tidak bisa keluar, tidak ada yang menjaga Moura." Ucapnya.
"Emm baiklah, aku akan segera pergi !" Jawab Rangga datar.
Kemudian memutuskan smbungan telfon.
Ia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah sejam lebih ia menunggu, ia ingin tetap menunggu untuk segera menerima laporan test tersebut, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan permintaan Ibunya.
Setelah berpikir beberapa saat, ia segera melesat dan pergi ke super market terdekat.
Sementara itu, belum lama setelah ia pergi, seorang petugas terlihat keluar dari ruangan tersebut dan membawa sebuah amplop. Ia terlihat mencari seseorang yang sebelumnya duduk lama di tempat itu, ia terus celingukan dan mencari.
Hingga tidak sengaja ia menyenggol seorang dokter, yang tidak lain adalah Arka.
Arka terjatuh ke lantai dengan beberapa kertas dan amplop yang berserakan. Petugas itu segera meminta maaf dan membantu Arka.
"Dokter ! maafkan aku ! aku benar-benar tidak sengaja." Ucapnya dengan nada bersalah.
Arka tersenyum dengan wajah yang sedikit pucat.
"Tidak apa-apa," Ucapnya sembari mengumpulkan berkas yang berserakan.
Dan tentu saja petugas itu membantunya.
"Apa dr. Arka baik-baik saja ? wajah anda terlihat sangat pucat !"Ucap Petugas tersebut.
"Aku baik-baik saja, hanya saja kepalaku terasa sedikit pusing." Jawabnya.
Rena yang kebetulan juga lewat di tempat itu melihat Arka yang masih berjongkok lemah di lantai. Ia segera berlari kecil dan menghampiri Arka.
"Ada apa ?" Tanyanya menundukkan setengah tubuhnya untuk membantu Arka.
"Ah dr.Rena." Ucap Arka dengan senyum.
Sementara petugas itu yang mengerti dengan hubungan mereka segera pamit pergi dan mengambil amplop yang juga sebelumnya ia jatuhkan.
Rena membantu Arka berdiri dan membawanya duduk di salah satu kursi terdekat.
"Apa yang terjadi ? mengapa kau sampai terjatuh seperti itu ?" Tanya Rena cemas.
Arka sedikit tersenyum, hatinya menghangat melihat wanita yang di cintainya begitu mencemaskannya.
"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu cemas seperti itu." Jawabnya sembari menangkup wajah Rena dengan sebelah telapak tangannya.
Rena mengerutkan alisnya.
"Kau harus menjaga kesehatanmu !!" Ucapnya.
Arka menganggukkan kepalanya.
Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang menyaksikan adegan mereka berdua sedari tadi.
"Tn.Rangga !!" Tanya petugas yang mendekati.
Itu petugas yang sebelumnya menabrak Arka.
Mendengar nama Rangga, Rena dan Arka mengangkat wajahnya dan menatap pria yang kini berdiri tepat di depan mereka.
Rangga melirik ke arah sang petugas. yang memberinya sebuah amplop putih.
"Apa yang dia lakukan disini ?!" Lirih Rena.
Arka kemudian menatapnya. Dan mereka berdua akhirnya bersama-sama berdiri.
Rena merangkul Arka dan ingin membawanya pergi. Namun Rangga yang sudah sedari tadi terbakarapi cemburu segera mengehentikan mereka.
"Tunggu !!" Ucapnya.
Rena dan Arka menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Rangga.
"Ada apa ?" Tanya Rena sedikit dingin.
Rangga yang tidak tahan melihat Rena merangkul Arka segera menarik pergelangan tangannya dan sedikit menjauh.
"Apa yang kau lakukan ?!" Bentak Rena pada Rangga.
"Kau harus tahu bahwa Arka sebenarnya--" Ia sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Sebenarnya apa ?!" Tanya Rena tidak ingin menunggu lama.
Arka kemudian hampir terjatuh, beruntung Rena dengan sigap menangkapnya dan memeluknya.
Pemandangan itu membuat Rangga semakin kesal dan cemburu.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, maka biarkan aku membawanya pergi." Ucap Rena kemudian berpaling ingin pergi.
Rangga kehilangan kesabarannya kemudian berseru.
"Kau harus tahu bahwa Arka adalah Ayah Moura yang sebenarnya !!"