Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Seperti Permen Karet



Pagi yang cerah


"Pagi bund.. !" Sapa Rena pada Ibunya yang kini tengah asik menata makanan di atas meja


"Pagi sayang !" Jawabnya dengan senyum yang mengembang


"Pagi Ayah !" Sambil mencium pipi Jaya kemudian duduk di kursinya


"Pagi sayang ! Jawab Jaya


Hari itu Ayah belum sempat menanyakanmu, kau akan masuk di Universitas mana ?"


"Emm aku akan masuk di UNSOED yah "


"Apakah kau akan tetap masuk di fakultas kedokteran ?"


"Tentu saja, ini adalah cita citaku sejak kecil !" Ungkapnya


"Padahal Ayah masih mengharapkanmu kelak menggantikan posisi Ayah di kantor !"


"Bukankah, Ayah mengatakan,kalau aku menerima perjodohanku dengan Rangga, Ayah tak akan mengusikku lagi ?!"


"Yaaa tetap saja ! Ayah masih mengharapkanmu !


Apa kau mau Ayah mengantarmu ?" Tanyanya


"Tidak, Kali ini, biarkan aku mengendarai mobilku sendiri yah ?!" Dengan nada sedikit memohon


Jaya hanya memincingkan bibirnya, sedikit tidak setuju dengan keinginan Rena


"Biarkan Pak Joko tetap menemanimu !" Tegasnya


"Tapi Ayah, aku sudah cukup dewasa untuk mengemudikan mobilku sendiri ! Plisss" Kali ini dia sedikit merengek


Melihat wajah putrinya yang memohon seperti itu, Jaya tak bisa tidak untuk menolaknya. Yang di katakan Rena memang benar, ia sudah cukup dewasa untuk mengemudikan mobilnya.


"Mmmp baiklah, apa kau butuh bantuan Ayah untuk mendaftarkanmu ?!"


"Hehe Ayah, Rena akan mendaftar sendiri, lagian kalau Rena terus meminta bantuan Ayah, kapan Rena bisa mandiri ?!"


"Hmmp baiklah, sepertinya kau sudah benar benar dewasa sekarang, Ayah masih ingat kau selalu merengek pada ayah jika memerlukan sesuatu !"


Rena dan Rani hanya bisa tersenyum mendengar penuturan lelaki itu. Sepertinya lelaki itu lupa,bahwa kini usianya bertambah tua, dan anak gadisnya tak lama lagi akan berstatus anak menantu pada keluarga lain.


"Ini kunci mobil Ayah, Mobilmu perlu di servis terlebih dahulu." Sambil meletakkan di depan Rena


"Terima kasih Ayah, Ayah memang yang terbaik !"


•••


Di lingkungan UNSOED


Rena masih duduk di dalam mobilnya, menunggu kedatangan Sahabatnya dan juga cintanya.


Beberapa menit kemudian


Drrrrrt drrrrt


"Halo Rena, kamu dimana ? aku tak melihat mobilmu !"


"Tentu saja kau tak melihat mobilku, aku mengendarai mobil Ayahku !" Ia kemudian keluar dari mobilnya dan melambaikan tangannya sebelah


"Baiklah, nona, aku melihatmu !" Jawab Anggi dan memutuskan telfonnya


Tut


Anggi segera berlari kecil menghampiri Rena


"Sopir kamu mana Ren ?! tumben mengemudi sendiri !"


"Hari ini aku memohon pada Ayah agar membolehkanku mengemudi sendiri !" Jawab Rena dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya


Mereka berjalan menuju taman dekat kampus menunggu kedatangan Arka


"Em, bagaimana hubunganmu dengan Rangga ?!" Tanya Anggi memulai topik


"Mmm !" Rena hanya bisa tersenyum, entah apa yang harus ia katakan


Melihat ekspresi wajah Rena, Anggi bisa menebak


"Apa kau benar benar menerima perjodohanmu dengannya ?!"


Rena menganggukkan kepalanya


"Apa kau serius ?" Anggi masih belum bisa prcaya dengan keputusan sahabatnya


"Ya, tentu saja !" Jawab Rena dengan mantap


"Lantas, bagaimana hubunganmu dengan Arka ? bukankah sudah jelas kalau Arka juga sangat menyukaimu ?!"


"Yah, mau bagaimana lagi ? aku terpaksa menerimanya. Kedua orang tuaku sangat menyukai Rangga, aku tak bisa menolaknya ! lagian,bukankah Rangga juga terlihat tampan ?" Pipi Rena tiba tiba memerah hanya memuji ketampanan Rangga


"Hmmp sepertinya bukan karna terpaksa, tapi sepertinya kau benar benar telah jatuh cinta padanya !" Ucap Anggi sambil menggeleng gelengkan kepalanya, baru kali ini dia melihat tingkah Rena yang seperti itu


Mendengar ucapan Anggi, Rena segera menyadarkan dirinya


"Yang benar saja ! mana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya ?!"


Namun setegas apa pun dia mencoba mengelak, tetap saja ia sudah tertangkap basah oleh sahabatnya.


"Aha em sepertinya aku harus ikut kursus acting !" Ucapnya sedikit salah tingkah


"Apa kau serius menyukai Rangga ?!" Dengan suara tinggi sedikit mengintimidasi


"Emm " Rena menganggukkan kepalanya


"Bagaimana dengan Arka ?!"


"Entahlah, aku tidak tahu harus bagaimana dengannya !"


"Kau harus menjelaskannya, jangan biarkan dia terus mengharapkanmu !"


Kenapa dia belum datang juga ?! bukankah kita sudah janjian disini ?" Imbuhnya


"Entahlah, bagaimana jika kau menghubunginya ?"


"Tidak, jangan aku. Lebih baik kau saja yang menelfonnya !" Seru Rena menolak


Sekejap Anggi hanya menatap Rena. Kemudian merogoh ponselnya di dalam tasnya


Tut.. tut.. tut..


"Halo " Ucap Arka di seberang sana


"Halo Ka, ini aku !" Ucap Anggi sedikit ragu


"Aku tahu !" Suara itu sedikit datar


"Rena menanyakanmu, sekarang kau dimana ? kami berdua sejak tadi menunggumu !" Jelas Anggi yang tak ingin lagi berbasa basi.


"Mengapa kau harus menjual namaku !?" Lirih Rena


"Ssst diamlah !"


"Apa aku boleh bicara dengan Rena ?!" Tanya Arka


Rena segera menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya,ia tidak setuju.


"Emmm "


"Aku tahu Rena ada didekatmu kan ?!"


Mendengar itu,Anggi tak bisa lagi menahannya,ia cemburu dan juga kesal dengan cara Arka memperlakukannya.


"Ada apa ?!" Lirihnya, Rena sedikit bingung karna Anggi memberikan ponselnya padanya


"Dia ingin bicara denganmu !"


"Halo !" Ucap Rena sedikit ragu


"Mengapa kau tidak menelfonku sendiri ?!"


"Uemm itu !"


"Apa kau fikir aku marah padamu dengan kejadian kemarin ?!"


"Tidak, maksudku iya !"


"Kau harus tahu, kalau Aku tak akan pernah bisa marah padamu !"


"Tapi aku--" Belum sempat Rena menyelesaikan kalimatnya Arka telah memotongnya


"Jangan pernah sekali kali kau mencoba menghindariku ! walau begitu, aku tetap akan menempel padamu !" Ucap Arka dengan mengembangkan sedikit senyum di bibirnya.


"Tapi aku harus memeberitahumu bahwa a--"


Tut.telpon terputus


"Aaah.. yang benar saja ! aku belum selesai berbicara tapi dia memutuskan telponnya ?!" Rena memaki di depan layar ponsel


•••


Beberapa saat kemudian, mereka beranjak meninggalkan taman dan kembali menuju area parkiran. Ketika Rena ingin menyebrang, ia tak sengaja melihat Monica yang asik menggandeng tangan Rangga dengan mesra tanpa ada penolakan sedikitpun dari Rangga lewat di depannya, sepertinya momen itu di sengaja oleh Monica.Sedang Rangga tak menyadari kehadiran Rana. Membuat Rena mematung di tempatnya dan


"Rena.... !!" Teriak Arka segera meraih tangan Rena, namun tangannya tak cukup kuat untuk menggenggam tangan Rena dan kemudian terlepas membuat Rena jatuh dan kepalanya membentur batu


Bruuuuk


Pengendara itu menoleh dan segera melajukan motornya.


Mendengar nama Rena, Rangga segera menoleh ke arah belakang, dan melihat di arah kerumunan.Ia segera melepaskan tangan Monica


"Rangga, kau ingin kemana ?!" Teriak Monica


"Deluanlah, aku akan menyusulmu !" Seru Rangga tanpa menoleh ke arah Monica


Rangga berlari dan mencari celah di antara kerumunan.Namun sayang, ia belum sempat melihatnya, Arka lebih sigap mengangkat Rena dan membawanya ke mobil miliknya, didikuti Anggi dari belakang.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Rangga kebingungan, ia sangat jelas mendengar nama Rena


"Seseorang telah tertabrak sepeda motor, sepertinya kesengajaan !" Jawab seorang pemuda yang juga berada di tempat kejadian


"Apa ?! Apa kau tau indentitas korban ?!"


"Jangan tanyakan itu padaku ! aku hanya melihat seorang lelaki segera membawanya !"


"Jadi maksudmu, korbannya adalah seorang wanita ?!"


"Ya ! dia memang seorang wanita !"


"Apa kau masih mengingat ciri cirinya ?!"


"Hey, ada apa denganmu ? apa kau seorang polisi ?!" Pemuda itu mulai terlihat sangat kesal dengan pertanyaan Rangga tanpa henti, kemudian pergi meninggalkan Rangga


Monica yang dari tadi menyaksikan kejadian itu segera mendekati Rangga


"Ada apa Rangga ?!"


"Aku,sepertinya tadi aku mendengar seseorang berteriak dan menyebut nama Rena.Aku khawatir kalau korban tabrak lari tadi adalah Rena." Jelas Rangga,ada kekhawatiran tersirat di wajahnya


"Apa kau yakin ? maksudku, bisa saja mungkin kau salah dengar !"


"Itu tidak mungkin, aku sangat jelas mendengarnya !"


"Mungkin kau terlalu memikirkannya !" Monica mencoba menghibur Rangga


"Hmmp mungkin yang kau katakan ada benarnya !"


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ! sebelum pendaftarannya di tutup !" Ajak Monica sambil merangkul kembali lengan Rangga


Rangga hanya menganggukkan kepalanya, dan Monica tersenyum, dengan senyum liciknya.Ia terus menempel walau tahu Rangga tak pernah mencintainya.