Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Cinta Yang ke Dua



Dua hari telah berlalu sejak kejadian yang menegangkan itu terjadi. Rangga kian memperlihatkan respon yang baik dan menunjukkan kemajuan yang pesat.


Dan hari ini adalah hari terakhir Rena mengambil keputusan ke dua dalam hidupnya untuk menerima seorang pendamping yang akan selalu mendampinginya kelak.


Dirinya yang malam ini, kini berdiri di depan cermin menatap dalam dirinya yang memakai dress brukat selutut berwarna putih. Rambutnya ia sanggul dengan sangat cantik memperlihatkan garis batang lehernya yang indah.


"Apa ini keputusan yang terbaik ?" Lirihnya.


"Ini adalah keputusan yang terbaik yang pernah kau lakukan sayang." Ucap Rani yang kemudian memeluk putrinya dari belakang.


"Bund.. aku merasa ragu."


"Mengapa ? apa yang membuatmu ragu ?" Tanya Rani.


"Apakah aku mencintainya ?" Ungkap Rena.


"Sayang, bagaimana kau bisa tahu kau mencintainya jika kau tidak mencobanya ?" Jawab Rani mengusap pelan bahu putrinya.


Tapi apa pun keputusanmu kali ini, Bunda akan selalu mendukungmu. Asal kau bahagia." Imbuhnya.


Ting Tong..


Suara bel berbunyi. Arka yang baru saja tiba, berdiri di depan pintu dengan memakai kemeja putih berlengan panjang dan celana hitamnya seirama dengan sepatu pantofel yang mengkilap. Ia terlihat sangat menawan dengan seikat buket bunga terpatri di tangannya.


Ceklek


"Selamat malam." Sapanya pada Rani.


Rani tersenyum dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.


.


.


Kini ia duduk di ruang tamu menunggu kehadiran gadis yang menjadi pujaan hatinya selama ini.


Tuk.tuk.tuk.


Terdengar suara high sepatu menuruni anak tangga.Hingga akhirnya memperlihatkan sosok cantik yang kini telah berdiri di depannya.


Ia begitu terpesona, hingga tak ingin memalingkan wajahnya ataupun hanya sekedar untuk mengedipkan matanya.


Sungguh, ia melihat keindahan yang selama ini tersembunyi di balik rambut yang sering di biarkan terurai.


Rena sedikit gerogi melihat Arka menatapnya seperti itu. Tatapan ini sangat berbeda dengan tatapan jahil yang sering di tunjukkan Arka padanya.


Hingga Rani membuyarkan perasaan mereka masing-masing.


"Ekhem.. ekhem.. !" Dehemnya terdengar sedikit keras dan tentu saja di sengaja.


Rani tersenyum saat melihat keduanya salah tingkah.


Mata Rena kemudian tertuju pada buket bunga yang ada di tangan Arka saat ini.


Arka yang mengerti dengan tatapan Rena sadar dan tersenyum.


"Aah, ini sebenarnya untuk tante." Ucap Arka sembari menyodorkan buket bunga tersebut.


"Benarkah.. ? sangat manis." Ucap Rani.


Terima kasih." Lanjutnya.


Arka menganggukkan kepalanya.


"Tapi, apa ini sebuah suapan ?" Tanya Rani berkelakar.


Hingga Arka tergelak mendengarnya.


"Hahaaa tentu saja tidak."


Rena bersedekap melihat tingkah kedua orang di hadapannya.


"Apa kita akan menghabiskan waktu di sini ?" Tanyanya. Pasalnya kakinya sudah sedikit pegal karna berdiri menunggu kapan Arka akan mengajaknya pergi.


"Sebaiknya kau segera mengajaknya pergi. Atau dia akan marah dan menghabisimu." Bisik Rani berkelakar.


Arka terkekeh kecil sembari menatap Rena yang terlihat kesal. Saat itu pula Rani menatap dalam tatapan Arka yang ditujukan pada putrinya. Yang kemudian membuatnya yakin kalau Arka adalah pria terbaik untuk Rena.


"Kalau begitu, maukah kau pergi denganku ?" Pinta Arka yang kini mengulurkan tangannya sebelah.


Rena menatap Ibunya. Rani memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya. Dan Rena kembali menatap Arka dengan senyum.


"Dengan senang hati !" Ucapnya menyambut hangat tangan Arka.


Mereka berdua berjalan bersama keluar dari rumah yang menjadi kediaman Atmajaya.


Melihat perlakuan Arka pada putrinya membuat Rani tersenyum bahagia dan semakin yakin kalau Arka adalah pria yang pantas.


•••


Saat ini, di sebuah bar lounge yang ada di hotel berbintang. Rena duduk dengan anggunnya menikmati instrumen piano yang beradu dengan suara biola yang terdengar begitu indah. Menunggu Pramutamu menuangkan wine di gelas mereka.


"Apa kau suka ?" Tanya Arka menatap Rena.


Rena tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Arka kemudian mengambil garpu dan juga pisau memulai mengiris stieknya. Setelah memotongnya menjadi beberapa potongan kecil, ia memberikan miliknya pada Rena.


Rena menatapnya dalam diam, entah apa yang dipikirkannya saat ini. Arka yang melihat tatapan Rena hanya bisa tersenyum dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya tersendiri. Kemudian memulai mengiris stiek yang lainnya.


.


.


Mereka yang sudah menyelesaikan acara makannya kemudian menikmati wine dengan membisu. Tidak ada percakapan di antara mereka.Rena tidak tahu harus memulainya dari mana.


Jujur saja dia sedikit gerogi. Ini adalah pengalaman pertamanya dinner dengan orang yang akan menanyakan perasaannya.


Jika di ingat kembali. Pernyataan cinta Rangga dan juga Arka jelas sangat berbeda. Jika Rangga mengatakan perasaannya dengan kelakuannya yang brutal Rena harus menerimanya dengan keterpaksaan namun akhirnya Rena benar-benar jatuh cinta padanya.


Sedangkan Arka, ia memberikan semua keistimewaan pada Rena dengan keromantisannya, di tambah sikapnya yang sangat sopan dan juga lembut. Mengapa dia harus ragu ?


Perlahan Arka mengulurkan tangannya, memegang lembut telapak tangan Rena.


Begitulah irama jantung Rena saat ini.


"Apa yang kau fikirkan ?!" Tanya Arka lembut.


"Tidak ada." Jawab Rena mendalih.


"Apa kau ingin berdansa ?" Tawar Arka.


Rena tersenyum dan menerima tawaran Arka padanya.


Kini mereka saling mengeratkan pegangan mereka satu sama lain. Dengan Arka yang telah menempatkan tangan kanannya di pinggang milik Rena. Dan Rena yang memegang lembut lengan Arka, dengan tangan yang lainnya saling bertautan.


"Apa kau gerogi ?" Tanya Arka setengah berbisik.


Rena mencoba menenangkan perasaannya yang saat ini sedang berkecamuk. Ia menganggukkan kepalanya pelan.


Arka tersenyum. Detik kemudian ia berkata.


"Apa aku boleh jujur ?" Tanyanya.


Mata mereka saling bertemu.


"Kau sangat cantik malam ini." Ungkap Arka.


Membuat Rena tersipu malu. Ia tidak tahu, mengapa saat ini dia tidak bisa mengeluarkan umpatannya ketika Arka menggodanya.


"Ren..!" Panggil Arka.


Rena mendongakkan wajahnya menatap Arka kembali menanggapi panggilan yang sebelumnya.


Dengan tatapan yang sayu, perlaha. Arka mendekatkan wajahnya dan mengecup mesra bibir Rena dengan tangannnya yang kini berpindah memegangi punggung tengah milik Rena menghapus jarak di antara mereka.


Rena sedikit terkejut mendapatkan ciuman seperi itu. Ciuman yang singkat namun terasa mendalam. Hingga Arka melepaskannya, kemudian berkata.


"Aku mencintaimu !" Ungkapnya.


Rena terdiam, ini adalah pertanyaan yang selalu mengganggu fikirannya. Melihat hal itu membuat Arka medekap tubuh Rena.


"Apa kau ragu ?" Bisik Arka membuat bulu kuduk Rena mndadak merinding saat nafas hangat Arka menerpa batang lehernya sangat dekat.


"Bisakah kita menyudahinya ?" Tanya Rena pelan.


"Apa kau lelah ?!" Tanya Arka balik.


Rena menganggukkan kepalanya.


"Baiklah.. " Jawab Arka sembari melepaskan dekapan dan tautan mereka.


Mereka berjalan dan kembali ke tempat duduk mereka sebelumnya.


"Arka.. " Panggil Rena pelan.


"Emmm ?!" Jawab Arka.


"Apa aku boleh jujur ?"


"Tentu saja ! aku merasa senang jika kau bisa jujur padaku dan juga pada dirimu sendiri." Jawab Arka dengan senyum tipisnya.


"Aku ragu ! apakah aku mencintaimu atau tidak." Ungkap Rena.


"Kita bisa mencobanya." Ucap Arka sembari memegang tangan Rena dan menatapnya dengan meyakinkan.


"Tapi, bagaimana jika hal itu tidak akan pernah berubah ?!" Tanya Rena.


"Aku tidak perduli. Walaupun mungkin pada akhirnya tidak seperti yang aku harapkan, aku sudah merasa puas dan bahagia. Setidaknya aku pernah menghabiskan waktu bersamamu dengan cinta yang aku miliki." Ungkapnya.


"Apa kau yakin ?!" Tanya Rena kembali.


"Tentu saja ! bagiku, mencintaimu adalah segalanya." Jawab Arka yang kini menangkup wajah Rena dengan sebelah tangannya.


Sedikit lama Rena terdiam menimbang segala hal yang akan menjadi konsekuensi setelah mereka menjalani sebuah hubungan.


"Kau tidak perlu memikirkan tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang.Biarkan takdir dan tangan Tuhan yang bekerja. Kita hanya perlu menjalaninya sebaik mungkin !" Ucap Arka mencoba meyakinkan.



Sedang disisi lain, diruang dimana Rangga terbaring. Terlihat Mariah telah tertidur pulas di atas sofa dengan Moura yang tertidur di pangkuannya.


Arah jarum jam kini menunjukkan pukul 23.00.


Jari-Jemari Rangga terlihat mulai bergerak satu per satu.


"Ren, Rena.. " Lirihnya dengan suara paraunya.


Hingga dengan perlahan ia membuka matanya sayu. menatap pelan semua yang ada di sekelilingnya.


Remang dan sepi. Begitulah suasana ruangan itu saat ini. Hanya ada lampu tidur yang di biarkan tetap menyala.


"Aaakh.." Rintihnya menahan sakit di area kepalanya.


("Apa aku hanya memimpikannya ?") Batinnya terlihat menahan sedih yang mendalam.


("Mengapa semuanya terasa nyata ?")


Ia bermimpi di hari pernikahannya, Rena pergi begitu saja meninggalkannya.


("Dimana kau saat ini ?")


("Aku merindukanmu !")


••


Pada saat yang bersamaan Rena menerima cinta dari Arka.


"Kalau begitu, mari kita mencobanya..!"


Dengan penuh berjuta kebahagiaan Arka tersenyum dan sekali lagi mencium Rena dengan mesra.


Dan kali ini. Rena menerima tautan itu dan membalasnya dengan gairah penuh kebahagiaan.


Cukup lama bibir mereka saling berpadu satu sama lain memberikan rasa ungkapan cinta yang tidak bisa lagi terucap melalui kata-kata.