Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Sahabat Rasa Saudara 3



"Kami telah menemukan Nona Tuan !" Ucap Pria itu


"Terus ikuti mereka, dan ingat ! jangan sampai mereka melihatmu lagi !" Titah Rangga di seberang telpon


"Baik Tuan Muda !" Jawab pria itu patuh


"Kirimi aku lokasimu sekarang ! aku akan segera ke sana !"


"Segera Tuan Muda !"


Tut. Telpon terputus


••


"Lihatlah ke depan ! sepertinya ada restoran di sana !" Seru Tika sambil menunjuk ke arah salah satu Resto yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berhenti.


Bagaimana kalau kita ke sana saja ? jujur saja aku sudah sangat lapar !" Imbuhnya


"Aku sih oke-oke saja, bagaimana denganmu Ren ?" Tanya Anggi


"Aku ikut saja !" Jawabnya pelan


"Baiklah !" Ucap Anggi dan perlahan menjalankan mobilnya dan masuk ke area parkiran yang telah di sediakan di depan Resto tersebut.


Mereka bertiga kemudian secara berasamaan keluar dari mobil.Namun setelah beberapa langkah Rena menghentikan langkah kakinya. Ia terlihat merogoh tasnya.


"Ada apa Ren ?" Tanya Anggi


"Ah-itu, sepertinya aku meninggalkan ponselku di mobil ! kalian deluanlah ! aku akan segera menyusul !" Jawabnya


"Baiklah, ini kuncinya !" Ucap Anggi sambil menyodorkan kunci mobilnya.


Rena segera meraihnya dan berbalik pergi, sedang Anggi dan Tika masuk lebih dulu ke dalam Resroran.


Setelah mengambil ponselnya, Rena bergegas pergi untuk menyusuli kedua sahabatnya. Tapi tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang memakai tudung di kepalanya dan kacamata hitam yang menutupi matanya.


"Maafkan aku ! aku benar-benar tidak sengaja !" Ucap Rena panik dan segera membantu mengumpulkan barang-barang yang berhamburan dari dalam tas wanita tersebut.


Setelah ia mengisi barang-barang tersebut kembali ke dalam tas, ia ingin mengambil tas tersebut untuk di berikan pada tuannya, namun dengan cepat wanita itu meraih tasnya dengan tangan yang sebelah menopang perutnya yang kini mulai membesar.


"Maafka-n a-ku,," Ucap Rena pelan dan terbata ketika ia menyadari sosok di depannya yang tidak lain adalah Monica.


"Monica ?!" Serunya


Monica yang tidak ingin berlama-lama segera memperbaiki tudungnya dan melangkah pergi.


"Tunggu dulu !" Cegat Rena, dengan cepat ia kembali menghadap Monica dan memperhatikkannya dengan seksama.


"Ada apa ?!" Ucap Monica dingin dan kasar


"Apa kau hamil ?" Tanyanya ragu


"Apa kau sengaja ingin mengejekku ?" Ucap Monica sedikit mengintimidasi.


"B-ukan, aku hanya ingin bertanya !"


"Untuk apa ?!"


"Apa kau sudah menikah ?" Tanya Rena pelan


"Itu bukan urusanmu !" Jawabnya kasar


"Eh-ya, kau benar ! itu-memang bukan urusanku ! maafkan aku ! kalau begitu, selamat karna kau akan menjadi seorang ibu !" Ucap Rena dan segera melangkahkan kakinya pergi. Namun Monica mencegatnya dengan berkata


"Apa kau tidak ingin tahu siapa ayah dari anak di perutku ?" Tanya Monica dengan suara yang sedikit meninggi.


Rena segera berbalik dan menatap kembali Monica, ia sedikit tidak nyaman dengan tingkah Monica yang sekarang, ia lebih terbiasa dengan sifat Monica yang berterus terang dan memberontak, dari pada dia yang saat ini dingin dan mengintimidasi.


"Bukankah itu bukan urusanku ?!" Jawab Rena dengan melempar kembali perkataan Monica sebelumnya.


"Yaa.. itu memang bukan urusanmu, tapi setidaknya kau harus tahu karna ini menyangkut dirimu dan-"


"Monica !" Seru Rangga yang tiba-tiba datang entah dari mana, dan membuat Monica tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Rangga !" Ucap Rena sedikit terkejut


"Maafkan aku, aku ingin berbicara sebentar dengan Monica !" Jawab Rangga terburu-buru dan menarik paksa lengan Monica


"Tapi-" Rena tidak lagi melanjutkan kalimatnya saat melihat Rangga sudah pergi menjauh bersama Monica.


Deg !


Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat. Jujur saja, walau sebentar lagi ia akan menikah dengan Rangga, tapi ia masih saja cemburu ketika melihat punggung Rangga yang semakin menjauh bersama Monica.


("Mengapa aku harus cemburu ?") Batinnya


"Tapi mengapa aku merasa Rangga sedikit aneh dan berbeda ?" Lirihnya


Tidak ingin membuang waktu, ia segera menyusul kedua orang yang dilihatnya semakin menjauh. Dan berakhir di bawah pohon di sebuah taman kecil, ia mencoba untuk menguping pembicaraan Rangga dan Monica.


("Maafkan aku Rangga, aku bukan tidak mempercayaimu ! aku hanya sedikit penasaran dengan perubahanmu akhir-akhir ini.") Batinnya.


"Rangga ! lepaskan aku !" Seru Monica yang sedikit merasa sakit di pergelangan tangannya akibat genggaman Rangga yang terlalu kuat.


Rangga yang masih waspada dan melirik kekanan-kekiri melihat tak ada orang, dengan cepat melepaskan genggamannya.


"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Rangga yang tidak ingin membuang waktu lagi.


"Apa kau tak bisa melihatnya ? aku baru saja keluar dari Restoran !"


"Kau berbohong bukan ?"


"Apa maksudmu ?" Monica sedikit mebentak


Apa kau berfikir kalau aku sengaja menemui calon pengantinmu ?!" Imbuhnya sedikit mengejek.


Rangga hanya diam dan menatap dingin Monica.


"Aku akan mempercayaimu kali ini ! tapi, jika aku tahu kau sengaja menemui Rena, kau akan tahu akibatnya !" Ancam Rangga dan kemudian berbalik pergi


"Apa Rena begitu berharga daripada bayi yang ada di dalam kandunganku ?" Seru Monica, ia masih tidak terima di perlakukan seperti itu oleh seseorang yang benar-benar dicintainya.


Rangga tertegun di tempatnya, ini untuk kedua kalinya ia menolak untuk bisa terima bahwa ia akan menjadi ayah dari calon bayi yang masih dalam rahim wanita yang tak pernah ia ciantai.


"Tidak mengapa jika kau tidak menerima dan mencintaiku ! tapi, apa kau akan sekejam ini pada anakmu sendiri ?!" Papar Monica


Sedang Rena yang masih setia dibalik pohon untuk mendengar, hanya bisa menutup mulut dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia sedikit terkejut dengan apa yang di dengarnya, hatinya hancur mengetahui kebenarannya.


"Aku tahu kau sangat membenciku Rangga ! tapi, apa aku salah jika aku meminta hak atas anak kita ?" Monica mencoba meraih jas Rangga, namun Rangga segera berbalik dan menatap Monica dengan dingin


"Hak ?! bukankah aku sudah memperingatimu agar menggugurkannya !? mengapa kau tidak mendengarkanku ?" Ucapnya dingin dan datar


"Kau sangat kejam Rangga ! bagaimana mungkin kau tega mengatakan hal seperti itu ? kau tega membunuh anakmu sendiri demi wanita itu ?! dimana hati nuranimu sebagai ayah ?!"


"Jangan mengatakan hal seperti itu di depanku ! aku tidak pernah menganggapnya sebagai anakku !"


"Mengapa kau berkata seperti itu ?! bukankah sudah jelas kita melakukannya ?" Pekik Monica


"Tapi aku tidak pernah mengingat kejadiannya, selain aku menemukan diriku tertidur di kasurmu ! aku masih bertanya-tanya apa kau hanya sengaja menjebakku agar aku bertanggung jawab atas hal yang bukan aku yang melakukannya !"


"Stop Rangga ! stop ! aku tidak ingin mendengarnya lagi !" Teriak Monica menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.


"Berhentilah untuk mengharapkanku Monica ! sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menerimamu sebagai kekasihku ! walaupun kau mengandung anak itu !" Tegas Rangga


"Mengapa ?! kenapa sangat sulit untukmu untuk bisa menerimaku ? apa aku begitu buruk untuk bisa menjadi yang kau sukai ? kalau begitu katakan padaku, bagaimana caraku agar bisa menjadi untuk seperti yang kau sukai !" Ucap Monica yang kini sudah tersungkur berlutut memegang tangan Rangga memohon.


"Monica, jangan seperti ini ! jika seseorang melihatnya, aku akan disangka seseorang yang berlaku jahat padamu !"


Tidak ada cara agar aku bisa menerimamu ! walau kau merubah wajahmu seperti Rena, itu tidak akan membuatku bisa untuk menerimamu !" Ucapnya lebih lanjut


"Tapi mengapa ?!"


"Karna aku hanya akan terus menganggapmu sebagai seorang sahabat dan juga sebagai saudariku !"


••


Tika dan Anggi yang sedari tadi menunggu kedatangan Rena, namun tak kunjung tiba.


"Mengapa dia sangat lama ?" Tanya Tika yang sudah mulai gelisah dengan cacing di perutnya yang mendemo.


"Tunggu disini sebentar, aku akan mencarinya !" Ucap Anggi


Dengan tergesa-gesa ia keluar dari Restoran tersebut dan menuju area parkiran.Namun sesampainya disana ia tidak menemukan keberadaan Rena.


"Di mana dia ?" Lirihnya sedikit khawatir


Baru saja ia ingin mencoba menelpon, namun netranya segera menangkap sosok yang dicarinya sedari tadi. Ia kemudian berlari kecil mendekati sahabatnya tersebut.


"Rena ! Sapanya, namun ia sedikit terkejut melihat raut wajah gadis cantik itu tak lagi sama, saat mereka bersama beberapa waktu yang lalu


Ada apa ? apa yang terjadi ? mengapa kau menangis ? apa seseorang melukaimu ?" Tanyanya dengan beruntun


Diam dan tersedu, hanya itu yang di lakukan Rena saat ini. Dirinya tak mampu lagi untuk berucap,bahkan untuk sekata. Tubuhnya lemas seakan tak ada tenaga untuk melanjutkan langkah kakinya. Tatapannya kosong dengan air yang masih setia menggenangi pupilnya. Hatinya benar-benar terluka.


"Rena,, jawab aku ! apa yang terjadi ! jangan hanya diam seperti ini !" Seru Anggi panik sambil menggoyangkan tubuh Rena yang terdiam berdiri kaku di tempatnya.


"Jangan menakutiku seperti ini Ren ! ini benar-benar tidak lucu !"



Tika yang juga sudah merasa bosan duduk sendiri, memilih pergi menyusuli kedua temannya.


Sama seperti Anggi yang awalnya kebingungan mencari sahabtnya di parkiran, Tika juga mengalami hal yang sama.


"Kemana mereka ? apa mereka meninggalkanku ? ah, itu tidak mungkin ! tapi kemana perginya mereka ?" Lirihnya sambil menatap kekiri dan kekanan. Namun, ia terkejut mendengar suara Anggi yang membentak.


"Rena ! jangan hanya terus diam seperti ini !" Seru Anggi


Mata Tika seketika membola.


"Apa mereka kembali bertengkar ?" Ucapnya, dan segera mencari ke arah suara tersebut.


"Anggi ! apa yang kau lakukan ? mengapa kau membentak Rena seperti itu ?" Pekik Tika dan berlari mendekati kedua sahabatnya.


Baru saja ia sampai, namun Rena sudah jatuh tak sadarkan diri. Beruntung Anggi segera menangkapnya.


"Ren, Rena ! bangun Ren !" Anggi mencoba membangunkan Rena dengan menepuk bahunya.


"Anggi ! mengapa kau membentak Rena seperti itu !" Bentak Tika


"Apa maksudmu ?" Tanya Anggi bingung


"Kau pikir aku tidak mendengarnya ? aku melihatmu membentak Rena dan akhirnya dia jatuh pingsan seperti ini ! jangan terlalu keras padanya, dia hanya sangat mencintai Rangga, kita tidak memiliki hak untuk melarangnya menikah muda !"


("Astaga, sepertinya dia salah paham !") Batin Anggi