Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 127



Jaya terlihat berfikir cukup lama.


"Baiklah, kali ini dimana kau ingin mengambil studimu ?" Tanyanya kemudian.


"London." Jawab Rena.


Sebenarnya sejak semalam, saat Mariah meninggalkannya untuk beristirahat, Rena sudah memikirkan hal ini matang-matang.


"Yah.." Ucap Rani sembari memegang pundak suaminya sebelah,seolah tidak menyetujui. Dia tidak ingin kembali berpisah jauh dengan putrinya.


Untuk sesaat Jaya menatap istrinya yang kini telah menekuk wajahnya merasa sedih. Ia tersenyum sembari mengusap pelan punggung tangan Rani seolah memberi isyarat untuk merelakan putrinya kali ini.


"Okay.. Ayah menyetujuinya." Ucapnya menatap putrinya dengan senyum.


Rena tersenyum bahagia begitu juga dengan Rendy.


.


.


.


Bandara.


Dari jauh Rangga bisa melihat Rena yang sedang memeluk Ibunya dengan senyum. Melihatnya ingin pergi membuat hati Rangga seakan tidak bisa merelakan kepergiannya. Ia segera berlari dan akhirnya memeluk Rena dengan erat.


"Jangan pergi." Ucapnya lirih.


.


.


"Rangga, ga.. kamu kenapa ?!" Tanya Mariah sembari menepuk pelan lengan putranya. Membuat Rangga tersadar dari lamunannya.


"Eh, mah."


"Kamu kenapa ? ayo cepat." Ucap Mariah sembari menarik paksa lengan putranya.


"Mamah bisakan pergi sendiri, aku akan menunggu di mobil." Ucap Rangga.


"Tapi sayang."


Rangga tidak ingin menunggu lama, ia segera berbalik pergi dan keluar dari bangunan tersebut. Sedangkan Mariah, dia hanya menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah Rena dan kedua orangtuanya berada.


.


.


.


20 Menit kemudian.


Rangga menengadah menatap pesawat yang baru saja lepas landas dan terbang semakin tinggi, jauh di udara.


"Apa kau tidak ingin menyusulnya ?" Tanya Mariah tiba-tiba.


"Tidak." Jawab Rangga kemudian berjalan ke arah mobilnya dan diikuti oleh Mariah.


.


.


"Rangga, mamah tahu, kau masih mencintai Rena bukan ?!" Ucap Mariah yang kini telah duduk di dalam mobil.


"Walau aku masih mencintainya, itu bukan berarti aku harus bersamanya. Aku sudah pernah berjuang, tapi aku tetap tidak bisa memilikinya.


Mungkin hal yang tepat buat aku merelakannya. Aku yakin dia bisa mendapatkan lelaki yang baik dan pantas untuknya."


"Sayang, kau yang terbaik untuknya, semua tau itu. Kau mencintainya lebih dari siapapun."


"Tidak mah, mamah salah. Sayangnya aku bukan lelaki itu. Aku sadar bahwa selama ini aku bukan mencintainya, melainkan terobsesi dengannya. Aku adalah lelaki yang tidak pantas bersanding dengannya." Ungkap Rangga dan mengingat kejadian dimana dirinya pernah berusaha menodai Rena dengan paksa.


"Sayang." Bujuk Mariah.


"Sudah mah, cukup ! semuanya sudah selesai. Dan aku mohon mamah jangan pernah membahasnya lagi." Ucap Rangga dan melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran tersebut.


...****...


Dua Tahun Kemudian.


Klinik Bersalin Sejahtera.


"Janinnya sehat, apa Ibu ingin mengetahui jenis kelaminnya ?" Tanya seorang doktor wanita yang tidak lain adalah Rena.


Pasangan itu mengangguk dengan senyum antusias, yang dibalas Rena dengan senyuman yang ramah.


"Bayinya laki-laki." Ucapnya kemudian.


"Taksiran lahiran kira-kira tgl --.--.--." Imbuhnya, kemudian meletakkan kembali peralatannya.


Suster yang menjadi asistennya segera membantu membersihkan perut pasien tersebut kemudian membantunya duduk.


"Terima kasih dokter !?". Ucap wanita hamil itu sebelum meninggalkan ruangan tersebut yang di dampingi oleh suaminya.


"Sama-sama." Jawab Rena dengan senyum.


Kemudian seorang dokter wanita masuk dengan tergesa-gesa.


"Maaf dr.Rena, aku terlambat." Ucap dokter tersebut.


"Tidak apa." Jawabnya kemudian beranjak dari kursinya.


"Selanjutnya.."Ucap wanita tersebut menggantikan posisi Rena sebelumnya.


"Kalau begitu aku tinggal dulu." Ucap Rena kemudian keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke ruangan pribadinya.


Klik Sejahtera adalah klinik yang di bangun sendiri olehnya. Namun posisinya sangat jauh dari rumah orangtuanya, butuh waktu dua hari satu malam untuk tiba di tempat tersebut.


••


Rangga terlihat melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Seharusnya kau tidak usah ikut. Kalau seperti ini kau jadi merepotkan saja." Ucapnya memarahi wanita yang duduk di sebelahnya memegangi perutnya yang sedang hamil tua.


"Tapi aku juga butuh liburan Rangga." Jawab wanita tersebut sembari menekuk wajahnya karna sedari tadi mendapat semprotan pedas dari Rangga.


Rangga menghela nafasnya kasar.


"Aku tidak habis pikir, mengapa juga Reno harus turun tangan dengan perusahaan cabang sejauh ini ?" Umpatnya kesal.


"Sepertinya kita sudah sampai di jalan penginapan yang di sebut Reno, tapi mengapa aku belum melihat satu pun penginapan ?" Ucapnya sembari melirik kanan dan kirinya.


"Aduh,duh, aduh.." Lirih Dara ketika merasa sakit pada perutnya.


"Apa lagi ?" Tanya Rangga yang masih belum menyadari.


"Kau terus saja mengeluh." Imbuhnya.


Dara memegang lengan Rangga dengan erat. Membuat Rangga berbalik menatapnya, matanya seketika membola kala melihat raut wajah Dara yang tengah merasa kesakitan.


"Ada apa ?!" Tanyanya terlihat cemas.


"Perutku, perutku tiba-tiba sakit. aaah sangat sakit Rangga." Jawab Dara dengan nafas yang tak beraturan.


"Jangan menakutiku Dara, ap-apa kau akan melahirkan ?!" Tanya Rangga terlihat gugup bercampur takut. Takut jika terjadi sesuatu pada Dara dan bayi dalam kandungannya.


"Rangga, aku tidak tahan lagi. Di depan, sepertinya di depan ada klinik." Ucap Dara menyandarkan punggungnya sembari menunjuk ke arah papan baliho klinik bersalin Sejahtera.


"Iya,iya, tunggu sebentar, biar aku menepi." Ucap Rangga masih dengan gugupnya.


"Apa kau yakin ingin singgah di klinik ini ? kliniknya tidak begitu besar."Ucap Rangga memperhatikan bangunan klinik yang ada di depannya.


"Aku tidak tahan lagi Rangga, kita disini saja." Ucap Dara ngos-ngosan.


"Baiklah."


Rangga memarkirkan mobilnya, kemudian turun dari mobilnya lalu berlari kecil kesisi lainnya dan dengan cepat membantu Dara turun dari mobil.


"dokter..,dokter..." Serunya ketika masuk di dalam klinik tersebut.


"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu ?"


"Aku kau tidak melihatnya ? dia akan melahirkan !!" Bentak Rangga.


"Apa bapak sebelumnya sudah pernah mendaftarkan diri ? atau mengambil nomor antrian ?"


Braakk


Rangga membanting meja dengan keras, ia tidak bisa lagi menahan kekesalannya.


"Klinik apa ini ? apakah untuk bersalin saja harus mendaftarkan diri dulu ?!" Bentaknya.


Membuat semua pasien yang masih menunggu menatapnya dengan tatapan tidak bisa di artikan.


"Maaf pak, bapak harus mengikuti peraturan yang ada di klinik kami."


"Aku tidak peduli. Dimana pemilik klinik ini ? aku ingin bertemu dengannya." Bentaknya dengan suara menggelegar.


Suster itu terlihat bingung bercampur takut, dan akhirnya memilih berlari menemui pemilik klinik tersebut.


Tok,tok,tok


"Masuk."


"dokter." Ucap suster tersebut dengan wajah ketakutan.


"Ada apa ?"


"Di luar, ada yang membuat keributan, dia memaksa ingin bertemu dokter."


Rena segera berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut di ikuti suster di belakangnya.


Di ruangan tunggu tersebut sudah sangat menegang dengan kehadiran Rangga yang mengintimidasi, semua pasien berdiri dengan tatapan tidak suka dan tentu saja para suami pasien tersebut merasa kesal dengan keributan yang telah terjadi. Hingga suara sepatu hak Rena menggema di ruangan tersebut.


"Ada apa ini ?" Tanyanya dengan tenang.


"dokter, orang itu." Ucap suster yang ada di belakangnya menunjuk ke arah Rangga yang sedang membantu Dara untuk duduk.


Rena tercekat,matanya membola kala melihat lelaki yang ditunjuk suster tersebut adalah Rangga.


Sejak pesta malam itu, Rena memang tidak pernah lagi bertemu dengannya. Bukan hanya karna menjauh, tapi Rena yang memutuskan untuk menutup diri. Saat tiba di London dia bukan hanya mengganti semua akun media sosialnya tapi juga email miliknya.


Rangga yang baru saja membantu Dara, melirik menatap orang yang kini berdiri tegak di tengah-tengah pasien.


Ia menatap dari sepatu pemilik kaki jenjang. Sejenak dia menelan salivanya kemudian melanjutkan tatapannya sembari menegakkan tubuhnya secara perlahan hingga menatap wajah pemilik kaki tersebut. Seketika ia tercekat, matanya membola, hingga mata mereka saling bertemu satu sama lain.


"Rena." Lirihnya.