Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 132



Klinik Bersalin Sejahtera.


"Kalau begitu saya pamit dokter." Pamit dr.Dewi pada atasannya yang tidak lain adalah Rena.


"Okay. Terimakasih untuk hari ini." Jawab Rena dengan senyum menatap kedua bawahannya tersebut.


dr.Dewi dan Mira hanya mengangguk senyum kemudian berbalik pergi meninggalkan klinik menuju area parkiran.


Sedangkan Rena, ia segera berjalan menuju rumah penginapan yang letaknya bersampingan dengan bangunan klinik miliknya.


Tok.tok.tok.


Ceklek.


Rena masuk dengan sebuah nampan di tangannya.


"Waktunya minum obat." Ucapnya dengan senyum.


Dara tersenyum saat melihat orang yang merawatnya kali ini adalah Rena.


"dr.Rena." Ucapnya antusias kemudian berusaha untuk bangun dari tidurnya. Reno yang melihat istrinya yang sedikit kesusahan segera membantunya.


Rena meletakkan nampan tersebut di atas meja, kemudian berdiri di sisi Dara.


"Apa kau sudah makan ?" Tanya Rena.


"Emmm." Jawab Dara dengan anggukan.


"Ya sudah kalau begitu saatnya minum obat." Ucap Rena sembari memberikan Tiga butir obat yang berbeda yang sebelumnya telah ia siapkan.


.


.


.


Setelah semuanya selesai, Rena kemudian berjalan ke arah sang bayi.


"Halo baby boy." Ucapnya dengan nada sedikit menggemaskan.


Reno yang sedari tadi memperhatikan tingkah Rena hanya bisa tersenyum dalam diam. Dirinya masih tidak menyangka Rena yang dulu di julukinya wanita galak saat SMA kini telah berubah begitu drastis.


"Apa kalian sudah memberikan dia nama ?" Tanya Rena sembari meraih sang bayi lalu menggendongnya.


Keduanya hanya terlihat menggelengkan kepalanya. Bukan karena tidak tahu harus memberikannya nama, tapi karna keduanya tidak pernah mau setuju dengan pendapat masing-masing.


"Bagaimana kalau Dafa ?" Tanya Dara meminta persetujuan Rena.


"Tidak, Rendra lebih bagus." Sela Reno masih dengan pendiriannya.


"Tuh kaaan.." Rajuk Dara sembari menatap Rena dengan bibirnya yang ditekuk ke bawah.


Rena hanya bisa tertawa menatap keduanya sembari geleng-geleng kepala.


"Ohya Ren, apa bayinya tidak kenapa-kenapa ?" Tanya Reno terlihat sedikit serius.


"Tidak, memangnya kenapa ?"


"Aku masih hanya sedikit bingung, pasalnya saat terakhir check up kemarin prediksinya tidak sesuai. Seharusnya Dara lahiran sekitar dua Minggu lagi." Jelas Reno.


"Emmm, dalam kasus seperti ini, ini biasa terjadi. Mungkin karna salah dalam perhitungan atau karna kondisi sang Ibu.


Apalagi sebelumnya Dara habis melakukan perjalanan jauh dan tentu saja itu bisa berdampak besar pada sang bayi." Jelas Rena sembari meletakkan bayi di sisi Dara


"Sebenarnya aku masih tidak mengerti, kau begitu nekat ikut dengan Rangga dengan kondisimu yang sedang hamil tua." Ucap Rena menatap tegas pada Dara.


"Aku hanya ingin liburan dan memberi kejutan pada Reno." Jawab Dara sedikit berbohong.


"Kalaupun seperti itu, seharusnya kau memakai jasa penerbangan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan."


"Dia tidak bisa. Selama hamil, dia akan terus merasa mual jika melihat pesawat." Jelas Reno sedikit tersenyum.


Rena tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Beberapa menit berikutnya.


"Lalu kapan rencana kalian kembali ?" Tanya Rena.


"Mungkin untuk saat ini kami akan stay di sini untuk beberapa Minggu sampai bayinya bisa di bawa bepergian." Jawab Reno.


"Lalu.... kalau Rangga ?"Tanya Rena.


"Dia sudah kembali sore tadi."


Rena sedikit tertegun di tempatnya setelah mendengar jawaban dari Reno.


"Ada apa ?" Tanya Reno sedikit menggoda dengan senyum jahilnya.


"Ah-eh tidak, hanya tanya saja." Jawab Rena kikuk.


Kalau begitu aku permisi dulu." Imbuhnya kemudian berbalik meninggalkan ruangan tersebut.


•••


Seminggu telah berlalu sejak Dara melahirkan. Sejak meninggalkan klinik, Rena tidak lagi mendengar kabar apapun dari mereka ataupun Rangga.


Rena yang masih bebaring di pembaringannya tersentak bangun dari tidurnya saat menatap layar ponselnya yang sedari tadi berdering.


"Halo ?" Ucapnya dengan suara serak dan malasnya.


"Halo dokter, apa kau baru bangun di jam segini ?!"


"Ada apa kakak menelfonku ? menganggu tidurku saja."


"Tidak, kakak hanya ingin kasih tau, Lima menit lagi kakak akan sampai."


Seketika mata Rena terbelalak.


"Mengapa tidak memberi kabar terlebih dulu !?" Seru Rena sembari beranjak dari tempat tidurnya.


"Apa kau lupa ? Tiga hari yang lalu aku sudah memberitahumu kalau kakak akan datang mengunjungimu."


Rena memukul jidatnya pelan.


"Maaf aku lupa."


"Ya sudah kalau begitu. Lagipula kakak sudah sampai di depan rumah."


"Apa ?!"


Tut.


Rena menatap ponselnya sembari menjambak rambutku frustasi. Dengan cepat ia meletakkan ponselnya kemudian berlari ke arah kamar mandi.


Ting tong.


Ting tong.


Ting tong.


Rena yang baru saja berkumur dan membilas wajahnya hanya bisa mendesis kesal saat alarm pintunya berbunyi tiada henti.


.


.


.


Ceklek.


Rendy mengerutkan alisnya saat melihat penampakan adiknya yang masih memakai piyama dengan rambut yang sedikit berantakan.


"Emmm..." Jawab Rena malas, kemudian berbalik menuju dapur dan mengambil segelas air putih.


"Dek, bagaimana kalau aku menyewakan seorang ART untukmu ?" Tanya Rendy mengikuti Rena dari belakang.


"No, aku tidak mau." Jawab Rena kemudian meneguk air minumnya.


Rendy terlihat menghela nafasnya kasar saat melihat kehidupan adiknya seperti itu, sangat berbanding jauh jika Rena tinggal di rumah.


"Emm apa ini ?" Tanya Rena saat melihat Rendy meletakkan dua paper bag mewah di atas meja.


"Pakai itu, aku tidak ingin kau berpenampilan buruk saat bertemu pacarku."


Rena hanya terlihat mengangguk dan mengambil tas tersebut.


"Kalau begitu aku mandi dulu." Ucapnya kemudian berlalu kembali ke kamarnya.


"Apa kau tidak memberiku minum terlebih dahulu ?"


"Ambil saja sendiri." Jawab Rena sedikit ketus. Sebenarnya ia tidak terlalu minat untuk menemui pacar kakaknya tersebut,hanya saja dia harus menjaga perasaan Rendy, walau bagaimanapun dia sudah banyak menyulitkannya selama ini.


.


.


.


.


"Ayo." Ajak Rena saat keluar dari kamarnya.


"Minum susunya dulu." Ucap Rendy sembari menyodorkan segelas susu putih.


"Terimakasih."


"Your welcome." Ucap Rendy mengusap pelan pucuk kepala adiknya.


•••


Restoran.


"Apa kita terlambat ?" Tanya Rena berjalan sedikit terburu-buru.


"Santai saja, lagipula dia juga masih belum tiba." Jawab Rendy dan membimbing adiknya ke salah satu meja VIP yang sebelumnya telah ia pesan.


Rena meletakkan tasnya pelan kemudian mendaratkan bokongnya secara perlahan.


"Ren, kamu tunggu disini, kakak ke kamar kecil dulu."


Rena hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


Beberapa menit telah berlalu, Rena yang memainkan ponselnya sedikit terkejut saat seorang wanita menghampirinya dengan antusias.


"Rena..."


"Emmm.. kau !" Rena segera berdiri menatap wanita yang kini tengah menatapnya dengan senyum kegembiraan.


"Tika.."


"Apa kabar ? aku sangat merindukanmu." Ucap wanita tersebut sembari mendekap erat tubuh Rena.


"Aku juga merindukanmu." Jawab Rena menyambut pelukan sahabat lamanya itu.


Sejak ia memutuskan kuliah di Harvard, Rena tidak pernah lagi bertemu dengan Tika, sahabat SMA-nya tersebut. Keduanya terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing, berbeda dengan Anggi yang memang memiliki profesi yang sama dengan Rena.


"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Rena sembari melepaskan pelukannya.


"Emm aku--"


"Hai sayang.." Ucap Rendy tiba-tiba membuat Tika tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Hai.." Jawab Tika dengan senyum yang mengembang menyambut kedatangan Rendy dengan cipika-cipiki.


Rendy menarik salah satu kursi kemudian mempersilahkan Tika untuk duduk.


"Thank you."


"Your welcome."


Keduanya terlihat begitu mesra tanpa memperdulikan Rena yang terlihat kebingungan.


"Kalian.." Ucap Rena sembari menunjuk kearah keduanya.


"Ya, dia pacar kakak." Jawab Rendy.


Rena mengerutkan alisnya.


"Tunggu, Tika pacar kakak ? apa aku tidak salah dengar ?!"


Keduanya hanya saling melempar senyum saat melihat ekspresi Rena.


"Bukannya kakak bilang pacar kakak adalah seorang desainer ternama di Paris ?"


"Ya."


"Lalu Tika ?"


"Aku seorang desainer." Ucap Tika meyakinkan.


"Benarkah ? mengapa aku tidak yakin ?!"


"Hus.." Sela Rendy.


"Sepertinya kau masih meremehkan-ku." Ucap Tika degan santai. Ia tahu persis dengan watak Rena.


"Tentu saja, saat SMA kau kan yang paling bod--" Rena tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat tangan Tika dengan cepat membekap mulutnya.


"Apa kalian sudah memesan ?" Tanya Tika mengubah topik, dia tidak ingin kartu merahnya di bongkar habis oleh Rena.


"Em.. aku memang sudah merasa sangat lapar." Ucap Rena.


.


.


.


.


"Kami akan menikah." Ucap Rendy saat mereka sudah selesai dengan santapannya.


"Kapan ?"


"Bulan depan."


"Apa Ayah sudah menyetujuinya ?"


Rendy terlihat menggelengkan kepalanya pelan.


"Maka dari itu, aku perlu bantuanmu. Aku yakin Ayah tidak akan pernah menolak permintaanmu.


"Kau terlalu nekat. Kau bahkan belum mendapatkan persetujuan dari Ayah dan ingin segera menyelenggarakan pernikahan ?!"


Untuk sesaat Rena menatap Tika yang sedang menatapnya dengan raut wajah memohon.


"Please..." Ucap Tika memohon dengan lembut.


"Hmmmp.. okay. Aku tidak bisa janji kalau ini akan berhasil."