Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Berperang



Seminggu setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit, keadaan Rena telah berangsur membaik, walau masih belum mengingat semua kejadian yang membuatnya harus melupakan semua tentang dirinya bersama Rangga.


"Aah.. akhirnya, aku bisa kembali menghirup udara segar !" Ucapnya dengan menghirup udara sejuk di taman kecil depan rumahnya sambil memejamkan mata.


"Masuk yuk !" Ajak Rani sambil merangkul Piutrinya.


.


.


.


Rena yang sudah berada di dalam kamarnya, memilih duduk di atas kasur dan menatap tiap foto yang terpajang rapih di setiap bingkai, foto saat dirinya menghabiskan waktu bersama Rangga.


"Bund.. !"


"Ya sayang ? ada apa ? apa kau membutuhkan sesuatu ?"


"Ah, tidak, itu- emm mengapa Rangga tidak pernah datang menjengukku lagi ?" Tanyanya ragu.


Rani yang sedari tadi mengeluarkan barang-barang Rena dari koper, berbalik menatap haru pada putrinya, ia berfikir kalau Rena akhirnya mendapatkan kembali ingatannya.


Perlahan ia beranjak berdiri dan ikut duduk di samping putrinya.


"Apa kau sudah mengingatnya ?" Tanyanya lembut sambil mengusap rambut Putrinya.


Rena menundukkan wajahnya,dan perlahan menggelengkan kepala.


"Bund, ma-afin Rena jika selalu membuat Bunda khawatir dan sedih." Lirihnya


"Tidak sayang, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ucap Rani dan memeluk hangat Putrinya.


"Kalau begitu katakan pada Bunda, mengapa kau tiba-tiba menanyakan Rangga ? apa kau merindukannya ?"Ucap Rani mencoba mengubah topik.


"Tidak, aku hanya sedikit penasaran saja, bukankah Bunda mengatakan kalau kami akan segera menikah ? lalu mengapa dia tidak pernah menjengukku sejak saat itu ?" Tanyanya merujuk waktu dimana Ayahnya menampar Rangga di depannya.


Apa Ayah masih marah dan melarangnya untuk menemuiku ?" Imbuhnya


Rani tersenyum lembut dan berkata


"Kau tahu persis bagaimana Ayahmu memperlakukanmu dengan segala yang ia bisa, melihatmu seperti ini membuat hatinya sakit dan sangat marah pada pujaan hatimu itu."


"Apa aku benar-benar begitu mencintainya ? lalu mengapa aku tidak bisa mengingat apa pun tentang dirinya ?" Tanyanya dengan wajah yang masih setia menunduk,menatap salah satu foto dirinya dan Rangga yang kini berada di tangannya.


"Yang Bunda tahu, kau pernah sangat membencinya, hingga akhirnya kau mencintainya."


"Aku ingin bertemu dengannya !" Lirihnya


"Kau harus memintanya sendiri pada Ayahmu !"


Rani kemudian beranjak dan pergi meninggalkan Putrinya. Ia tahu bahwa ia harus memberi ruang pada Rena agar bisa berfikir dan bisa mengambil keputusan yang terbaik untuknya.


••


Setelah beberapa jam lamanya ia berkutat di dalam kamarnya, akhirnya ia memberanikan diri untuk menemui Ayahnya malam itu juga.


.


.


Tok tok tok


"Ayah, ini Rena !"


"Masuklah !" Jawab Jaya di balik ruangan yang masih tertutup.


Ceklek


Suara pintu terbuka.


Rena berjalan perlahan sembari mendekati Ayahnya yang masih sibuk dengan pena di jemarinya yang terus menari di permukaan kertas yang masih menumpuk di atas meja.


"Ayah...!"


"Emm ada apa sayang !" Jawabnya lembut namun tak membuatnya berhenti menatap setiap kata yang ada di selembaran kertas di depannya.


"Apa Ayah sangat sibuk ?


Mungkin sebaiknya aku datang kembali, saat Ayah tidak sibuk lagi."


Mendengar perkataan putrinya, Jaya segera menghentikan aktivitasnya dan melepas pena yang terus setia di jemarinya.


"Baiklah, ayo duduk di sini !" Ucapnya sambil berdiri dari kursi kerjanya menuju sofa panjang yang ada diruangan itu.


"Ada apa ?" Tanya Jaya pada Putrinya


"Ayah, apa kau menyayangiku ?!" Tanyanya pelan


"Hahaa sini, Ajak Jaya menepuk sofa di dekatnya


Biarkan Ayah memelukmu !"


Rena menuruti permintaan Ayahnya. Seketika ia menghamburkan dirinya dalam pelukan Ayahnya.


"Kau sudah sangat besar, bahkan kau hampir menikah, tapi lihatlah, kau masih saja bersikap seperti Putri kecil Ayah." Sambil menepuk pelan pundak Rena.


Ayo katakan, apa yang kau inginkan ?"


"Ayah harus berjanji akan mengabulkan segala keinginanku !" ucap Rena pelan


"Tentu saja ! kau Putri Ayah satu-satunya, apa yang tidak bisa Ayah berikan untukmu ?!" Jawab Jaya dengen kekehan kecilnya


"Janji ?!" Tanya Rena


"Emm Ayah berjanji !!"


Dengan penuh harapan dan mata yang berbinar, Rena menatap Ayahnya dan berkata.


"Izinkan aku bertemu dengan Rangga, dan melanjutkan pernikahan kami yang sempat di batalkan !"


Mata yang memberikan tatapan kasih sayang kini berubah menjadi tatapan gelap dan menakutkan, bibir tipisnya yang awalnya mengembang, kini kembali ke posisi datarnya seakan kaku bak sebuah patung.


Melihat perubahan ekspresi Ayahnya, Rena sangat tahu, Ayahnya tidak suka dan mungkin ini akan gagal.Tapi, ia harus mencoba.


"Tidak Rena ! Ayah tidak akan pernah mengizinkanmu !" Ucapnya dengan suara lantang.


"Bukankah Ayah sudah berjanji ?" Ucapnya, masih dengan suara manjanya.


"Tidak, jika Ayah tahu ini adalah permintaanmu, maka Ayah tak akan pernah mau berjanji !"


"Ayah... " Rengeknya


.


.


.


"Istirahatlah di kamarmu ! Ayah harus menyelesaikan pekerjaan Ayah !" Titahnya dingin, kemuadian berdiri dan kembali ke kursi kerjanya.


("Hmmp,, ini tidak berhasil !") Batin Rena


"Apa Ayah mengabaikanku ? bukankah Ayah sudah berjanji ? bukankah Ayah mengatakan kalau aku adalah satu-satunya putri Ayah ? kalau Ayah tidak bisa menepati janji Ayah, maka aku, aku akan..


Aku tidak akan mau mendengarkan Ayah lagi !" Tegasnya dengan suara yang lantang, kemudian berlalu pergi meninggalkan Ayahnya.


Sebelum ia menutup kembali pintu ruangan itu, ia diam-diam menatap ke arah Ayahnya. Ia melihat Pria paruh baya itu benar-benar dingin dan tidak mempedulikan apa yang di katakannya beberap detik yang lalu.


("Apa Ayah benar-benar mengabaikan ancamanku ? baiklah, aku adalah putri Ayah, jika ayah membatu, maka akupun akan membatu") Batinnya


Rena menutup pintu dengan cepat dan berlari menuju kamarnya.


.


.


Setelah duduk beberapa lama di sofanya, ia baru teringat akan ponselnya.


"Kenapa aku tidak menghubunginya saja ?" Idenya


Ia beranjak dan mulai menggeledah seisi ruangan kamarnya, namun tak kunjung menemukan benda yang dicarinya.


("Kemana ? Di mana aku menyimpannya ?") Batinnya


.


.


"Bunda !" Ucapnya seketika, ketika menyadari kalau Bundanya telah membersihkan tempat tidurnya sebelum ia menemui Ayahnya.


"Sekarang, bagaimana bisa aku menghubunginya ?" Lirihnya, dan perlahan terduduk di karpet dan menyenderkan punggungnya di ranjang.


"Berfikir !


Berfikir !


Berfikir !" Sambil menepuk pelan dahinya


"Baiklah ! Ayah, Bunda, Kita akan berperang !!" Tegasnya