Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 150



Singapore.


Beberapa waktu yang lalu Dicky dan Anggi baru saja tiba di apartemen milik mereka, Dan kini keduanya masih menikmati kebersamaan mereka di pembaringan.


"Mengapa kau tidak memberitahuku sebelumnya ?" Tanya Anggi tiba-tiba di sela pembicaraan santai mereka.


"Apa ?" Tanya Dicky berbalik menatap wajah istrinya dengan seksama.


"Tentang Rena. Mengapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau telah menceritakan segala tentang aku dan Arka padanya ?"


Hening.


Dicky terdiam cukup lama.


Anggi yang merasa penasaran karna diamnya suaminya berbalik menatap suaminya yang kini juga sedang menatapnya dalam diam.


Namun detik berikutnya, Dicky menarik lurus sudut bibirnya memperlihatkan senyum menawannya.


"Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk mengatakannya sendiri pada Rena. Lagipula ini adalah masalah pribadimu, bukankah akan lebih baik bila kau sendiri yang mengatakannya ?"


"Tapi bukankah itu sudah sangat lama ? andai saja kau memberitahuku lebih awal, maka aku tidak perlu menunggu waktu lama untuk menemui dan meminta maaf padanya." Jawab Anggi sedikit kesal.


Dicky yang melihat wajah istrinya dengan mulut manyun seperti itu hanya bisa tersenyum gemas.


"Anggap saja aku sedang menguji keberanianmu." Ucapnya sembari mencubit gemas hidung istrinya.


Baru saja ia ingin memulai aktivitas bercinta mereka, Anggi tiba-tiba menolak dan segera beranjak bangun dari tempat tidur kemudian berlari menuju kamar mandi.


Dicky yang merasa khawatir juga ikut bangun dan menyusul Anggi yang kini tengah mual.


"Ada apa ? Apa kau sakit ?" Tanya Dicky dengan cemas.


"Entahlah, aku tidak demam, tapi sejak semalam aku terus merasa mual. Mungkin pengaruh masuk angin." Jelasnya.


"Kalau begitu biar aku mengambilkanmu air hangat." Ucap Dicky kemudian berbalik pergi.


Anggi yang menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh, seketika teringat sesuatu, dengan tergesa-gesa ia mengambil ponsel dan terlihat mengecek sesuatu di dalamnya.


Perlahan ia mengangkat jarinya dan mulai menghitung, hingga kemudian matanya seketika membola, seakan terkejut akan sesuatu.


Namun sebelum suaminya tiba, ia segera kembali ke kamar mandi lalu menutup pintu.


Tidak berselang lama Dicky akhirnya kembali dengan segelas air putih hangat di tangannya. Melihat pintu kamar mandi yang tertutup,ia dengan pelan mengetuknya.


Tok tok tok


"Sayang, apa kau baik-baik saja ? Mengapa pintunya di kunci ?"Serunya cemas.


Untuk beberapa saat ia menunggu di depan pintu, menunggu istrinya membuka pintu tersebut. Namun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa pintu itu akan terbuka, membuat dirinya semakin merasa cemas.


"Sayang.. apa kau baik-baik saja ? jangan menakutiku seperti ini, ayo buka pintunya." Seru Dicky sembari terus memutar knop pintu.


Hingga akhirnya ia mendengar suara kunci yang terbuka, dan dengan cepat ia memutar knop pintu tersebut. Ia sedikit terkejut saat mendapati istrinya berdiri mematung menatapnya dengan mata sembabnya.


"Hei, ada apa ?" Tanya Dicky memelankan intonasi suaranya dan berjalan menghampiri istrinya.


"Kau habis menangis ? Apa ada yang sakit ?" Cecarnya sembari menyeka sisa-sisa bulir air mata yang masih melekat di pipi Anggi.


Perlahan Dicky meletakkan gelas yang ada di tangannya, kemudian memeluk istrinya sembari mengusap pelan punggungnya yang masih bergetar.


"Sssst.. tidak apa-apa, katakan padaku,apa yang terjadi ? Apa yang membuatmu menangis seperti ini ?" Cecarnya, menatap lekat wajah istrinya.


Anggi yang sedari tadi menangis dalam diam, akhirnya sedikit tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


Sebuah testpack.


Ia memperlihatkan alat tersebut pada suaminya.


Untuk sesaat Dicky tidak begitu mengerti, sampai ia melihat dua garis merah yang ada di alat tersebut.


Matanya seketika membola dan berganti menatap istrinya seakan meminta penjelasan.


"Kau,apa kau hamil..?" Tanyanya dengan terbata.


Anggi mengangguk mengiyakan dengan air mata yang kembali mengalir namun tersenyum bahagia.


Antara percaya dan tidak, Dicky benar-benar terkejut dengan kabar bahagia ini. Rasa haru seakan membuncah mendorongnya untuk segera keluar menjadi tetesan bening dan mengalir begitu saja di wajahnya.


Dicky memeluk tubuh istrinya dengan erat. Ia merasa sangat bahagia, bahagia karna akan menjadi seorang Ayah.


"Aku akan menjadi Ayah ?!" Tanyanya pada dirinya sendiri dengan suara bergetar.


Sekali lagi, Anggi hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Anggi yang mendapat kecupan beruntun tersebut hanya bisa tertawa kecil melihat antusiasme suaminya.


"Baiklah, kau mau makan apa ? Mulai sekarang aku yang akan memasak untukmu." Ucap Dicky sangat antusias.


Anggi menaikkan alisnya.


"Apa kamu yakin bisa masak ?" Tanyanya.


Dicky mengangguk dengan cepat.


Mereka akhirnya keluar bersama dari kamar mandi tersebut dan berjalan menuju dapur, di barengi dengan beberapa percakapan-percakapan yang cukup menyenangkan.


...~•~...


Waktu terus berputar, detik,menit, bahkan jam. Hingga bulan muncul menerangi bumi menggantikan sinar mentari.


Langit malam yang begitu indah


Dengan bintang-bintang yang bertaburan memenuhi cakrawala.


Menjadi saksi kisah perjalanan cinta setiap insan yang berada jauh di bumi.


Pukul 22.00.


"Langitnya indah bukan ?" Tanya Rangga berjalan menghampiri Rena yang sejak tadi berdiri di balkon apartemen memandangi langit malam.


"Emmm.." Jawabnya singkat tanpa mengubah posisinya.


Rangga hanya tersenyum dan memeluk tubuh istrinya dari belakang, sambil sesekali menghirup aroma wangi dari surai wanitanya yang di biarkan terurai.


"Apa kau bahagia ?" Tanyanya kemudian.


"Emmm.."


"Rasanya seperti mimpi aku memelukmu seperti ini." Ucap Rangga mengungkapkan betapa bahagianya ia saat ini.


Masa-masa sulit yang begitu melelahkan akhirnya mampu mereka lewati dengan penuh perjuangan yang cukup panjang. Hingga semuanya kembali seperti semula, bahkan jauh lebih baik.


Rencana licik yang sebelumnya memaksa mereka untuk bersatu, akhirnya berubah menjadi sebuah jalinan persahabatan yang semakin erat. Tidak ada lagi rasa curiga, dendam maupun persaingan yang melelahkan.


Setelah cukup puas memandangi langit malam, Rena berbalik menatap wajah suaminya dengan lekat.


"Apa yang membuatmu begitu mencintaiku ? Bahkan setelah sepuluh tahun kita berpisah dengan semua perasaan luka yang tidak sengaja aku torehkan di hatimu. Apa yang membuatmu tetap memilihku ?" Tanyanya setelah sekian lama pertanyaan itu tersimpan jauh dalam lubuk hatinya.


Ia sangat tahu, rencana perjodohan mereka dulu hanyalah sebuah kesepakatan bisnis yang diciptakan oleh kedua orang tua mereka.


"Emm... Entahlah, aku sendiri juga tidak begitu mengerti. Mengapa aku begitu sangat mencintaimu dan mengapa aku masih memilihmu setelah semua apa yang terjadi pada diriku dan juga keluargaku." Jawab Rangga sembari memperbaiki helai demi helai surai yang menutupi wajah istrinya.


"Apa kau ingat bagaimana pertama kali kita bertemu ? Sepertinya sejak saat itu aku sudah terikat olehmu dan mencintaimu." Imbuhnya.


Rena tersenyum saat mendengar kalimat terakhir suaminya.


"Benarkah seperti itu ? Bukankah saat pertama kali kita bertemu diawali dari sebuah pertengkaran ? Bagaimana mungkin kau bisa jatuh cinta pada saat seperti itu ?" Cecarnya.


"Apakah kau salah satu orang yang percaya bahwa cinta akan tumbuh jika di awali dari sebuah hal-hal yang menyenangkan atau romantisme ?" Tanya Rangga kembali.


Rena terdiam dan terlihat berfikir.


"Percayalah, bahkan cinta bisa hadir kapan saja dan dimana saja. Tidak harus di awali dari hal-hal yang menyenangkan." Ucap Rangga.


Mendengar hal itu, Rena kembali tersenyum.


"Sepuluh tahun tidak bersama, sepertinya kau memang banyak berubah." Ungkapnya.


"Emmm..?" Tanya Rangga tidak mengerti.


"Kau jadi lebih banyak bicara daripada bertindak." Jelas Rena. Ia teringat kembali bagaimana Rangga selalu berbuat hal-hal dengan seenaknya, termasuk menciumnya dengan tiba-tiba, menggendongnya tanpa permisi dan membawanya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan setelah berpisah denganmu, belajar mengerti arti dari sebuah hubungan, belajar menerima dan memaafkan, belajar meminta tanpa memaksakan, belajar ikhlas tanpa menyakiti,dan..._"


Rangga tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat Rena dengan lembut mengecup bibirnya cukup lama.


"I Love you Rangga." Ungkapnya setelah melepaskan tautan tersebut.


Kali ini Rangga tidak menjawab, ia hanya mengangkat tubuh Rena dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Ayo masuk. Udara malam tidak terlalu baik untukmu, dan aku tidak tahu sampai kapan aku harus bisa menahan hasratku untuk tidak memangsamu."Ucapnya.


"Mengapa datang bulanmu itu datang di waktu yang tidak tepat ?!" Umpat Rangga pelan.


Rena hanya bisa tertawa saat mendengar kalimat terakhir suaminya yang mengumpat kesal.