Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 147



Kediaman Aberald.


Setelah bergelut dengan pemikirannya sendiri cukup lama, Rangga akhirnya memutuskan kembali ke kediaman orang tuanya.


Dengan tergesa-gesa ia memasuki kediaman tersebut dengan harapan wanita yang di cintainya benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.


"Rena."


Terdengar suara Ibunya yang berasal dari dalam kamar, membuat Rangga mengurungkan kembali niatnya untuk membuka pintu.


"Ada apa mah.." Jawab Rena mencoba bangun dari tidurnya.


"Bagaimana keadaanmu sayang ? apa masih demam ?"Tanya Mariah sembari menempelkan telapak tangannya di pipi Rena.


Rena tersenyum.


"Sudah lebih baik dari sebelumnya." Jawabnya.


Untuk sesaat keduanya terdiam. Hingga akhirnya Mariah membuka suara menanyakan perihal Rangga yang sudah dua hari ini belum juga kembali.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rangga ? apa semuanya baik-baik saja ?"


"Semua baik-baik saja mah, ada apa ? mengapa Mamah tiba-tiba menanyakannya ?" Rena kembali bertanya untuk memastikan.


Mariah membisu, memikirkan kata tepat yang harus di ucapkannya selanjutnya. Ia tidak ingin pertanyaannya akhirnya melukai perasaan menantu kesayangannya tersebut.


Sedangkan Rangga, dengan pintu yang dibiarkan sedikit terbuka, ia dengan setia berdiri di depan pintu mendengar dengan seksama percakapan kedua wanita tesebut.


"Apa mungkin Dara mengatakan sesuatu pada Mamah ?"Tanya Rena menebak.


Mariah tidak mengatakan apapun, ia hanya bisa menatap kedua mata menantunya seakan memohon penjelasan.


"Apa yang dikatakan Dara memang benar."Ungkap Rena pada akhirnya dengan wajah sedikit menunduk dan senyum yang di paksakan.


Pernyataan Rena membuat Mariah semakin membisu, sedangkan Rangga, ia hanya biasa menatap dingin ke arah pintu tersebut.


Namun detik berikutnya Rena mengangkat wajahnya dan melanjutkan kalimatnya.


"Aku memang sedikit bertengkar dengan Rangga karna masalah itu. Tapi, yang sebenarnya, malam itu karna merasa canggung dengan situasi kami aku berfikir mungkin akan lebih baik kalau aku mengajaknya bercanda dan berniat sedikit menggodanya."


"Jadi, maksudnya, semua yang di pikirkan Rangga itu tidak benar ?" Tanya Mariah sedikit terkejut.


Rena menganggukkan kepalanya dengan sedikit tersenyum malu karna masalah seperti ini harus di ketahui oleh mertuanya. Dalam hati ia terus merutuki dirinya yang begitu bodoh memulai permainan konyol dengan orang yang begitu bodoh seperti suaminya.


"Aaaakh.. syukurlah, Mamah akhirnya bisa merasa tenang." Ucap Mariah seraya bernafas lega.


"Aku minta maaf karna sudah membuat Mamah khawatir. Sebenarnya aku juga menyesal, aku juga tidak tahu kalau Rangga akan menanggapinya serius sampai sejauh ini." Sesal Rena.


"Apa kau sudah pernah mencoba menghubunginya ?" Tanya Mariah.


Rena mengangguk.


"Dia tidak mau mengangkat telfonku." Jawabnya.


"Ya sudah, jangan difikirkan lagi, biar Mamah yang menghubunginya nanti.


Sebaiknya kau istirahat kembali, maaf karna Mamah sudah menganggumu hanya karna masalah konyol seperti ini." Imbuhnya di sertai dengan tawa kecilnya.


Rena hanya bisa mengangguk dan kembali berbaring. Sebenarnya kepalanya masih terasa berat, hanya saja ia harus menahannya sedari tadi agar tidak membuat wanita paruh baya itu semakin khawatir.


Sedangkan Rangga, setelah mendengar semuanya, ia tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan perasaannya saat ini.


Ia bahagia karna semuanya ternyata hanya ke salah pahaman yang diciptakan oleh dirinya sendiri, tapi di sisi lain ia juga kesal karna Rena sudah mempermainkan persaannya tepat di malam pertama pernikahan mereka.


Sebelum pintu benar-benar terbuka,Rangga dengan cepat berbalik dan pergi. Sedangkan Mariah, ia dengan lembut memperbaiki selimut Rena dan mematikan lampu sebelum akhirnya ia keluar dari kamar tersebut dengan perasaan lega.


Setelah kembali ke kamarnya, ia beberapa kali mencoba menghubungi ponsel putranya, namun sepertinya Rangga sengaja mematikan ponselnya, membuat Mariah mengumpat kesal dan memilih berbaring di samping suaminya yang sedari tadi sudah terlelap setelah meminum obatnya.


Waktu menunjukkan Pukul 02.00 Dini hari.


Rena terbangun dari tidurnya, tenggorokan yang terasa kering membuatnya beberapa kali terbangun dari tidurnya karna merasa haus.


Ia meraih gelas yang selalu tersedia dia atas nakas samping tempat tidurnya, namun ternyata airnya telah habis. Ia menghela nafasnya lelah, kemudian menatap ke arah samping tempatnya tidur.


Tempat itu masih saja kosong, entah kapan pemiliknya akan kembali. Membuatnya sedikit berfikir dan akhirnya memutuskan bangun dan beranjak dari tempat tidur.


Rena berjalan menuruni anak tangga dengan pelan, sembari memikirkan apa yang harus di lakukannya besok agar suaminya itu mau kembali ke rumah.


Hingga akhirnya ia tiba di dapur dan membuka lemari pendingin, masih dengan pikiran yang melayang entah kapan akan menemukan titik temunya.


"Hmmmmmp..."


Ia kembali menghela nafasnya lelah. Sepertinya ia kembali tersadar saat hawa dingin dari lemari pendingin menyeruak menembus kulit tubuh hingga tulangnya.


Dengan cepat ia mengambi sebotol air dan meletakkannya di meja yang letaknya tepat di sampingnya kemudian menutup kembali pintu lemari pendingin tersebut dan berbalik.


"Aaa......"Teriaknya.


Namun dengan cepat orang yang di tabraknya membekap mulutnya dengan tangannya yang besar.


"Sssst.. ini aku."


Mendengar suara yang sagat familiar itu membuat Rena diam dan tidak memberi perlawanan, hingga tangan pria tersebut melepaskan tangannya.


"Rangga.. kau kah itu ?" Tanyanya ragu. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada di depannya saat ini, karna terhalang oleh lemari pembatas, di tambah lagi dengan cahaya lampu yang minim.


"Emmm." Jawab pria tersebut singkat.


Rena akhirnya menghela nafasnya lega. Ia meraih gelas dan menuang air ke dalamnya.


"Kau darimana saja ?" Tanyanya lalu meminum air yang baru saja dituang nya.


Hening, tak ada jawaban dari mulut pria itu.


Rena meletakkan gelasnya kemudian berjalan melewatinya menuju meja makan, memeriksa prasmanan yang ada di atas meja.


"Apa kau sudah makan ?" Tanyanya lagi.


Namun masih saja tidak ada jawaban.


Rena menghela nafasnya kasar dan terdiam untuk beberapa saat.


"Masih ada rendang kesukaanmu, aku akan memanaskannya jika kau mau." Ucapnya sembari berbalik ingin menatap wajah suaminya.


Bruuukh..


Sekali lagi, kepalanya terbentur di dada bidang pria yang tidak lain adalah suaminya.


"Rangga, bisakah kau tidak tiba-tiba berada di belakangku ?! Kau selalu membuatku terkejut."


Sudut bibir Rangga sedikit tertarik mencoba menahan senyum yang ingin merekah.


"Aku tidak lapar." Ucapnya dingin.


Rena yang mendengar kalimat dingin tersebut kembali terdiam dan menunduk menatap tangan Rangga yang mulai terulur dan mengukungnya, membuat tubuhnya tersandar pada meja.


"Rangga, apa yang ingin kau lakukan ?" Tanya Rena hati-hati, ia tahu kalau Rangga masih marah padanya.


Bahkan saat ini ia sudah berfikir terlalu jauh, mengingat bagaimana perlakuan Rangga padanya terakhir kali. Dan berfikir, bagaimana jika Rangga nekat menerkam nya di tempat terbuka seperti ini ? dan jika itu benar, bagaimana jika ada yang melihatnya ? Rena yang sedari tadi terus menatap wajah dingin suaminya seketika memejamkan matanya dengan perasaan sedikit cemas.


"Apa kau sudah puas mempermainkanku Raehana Atmajaya ?" Tanya Rangga masih dengan nada dinginnya.


Mendengar pertanyaan itu, seketika membuat Rena kembali membuka kedua matanya.


Dengan wajah mereka yang begitu dekat, Rena meneguk salivanya dalam-dalam.


"Kau, apa.. kau sudah tahu ?" Tanyanya sedikit ragu.


"Emmm.." Jawab Rangga.


"Maaf, maafkan aku, aku tidak bermaksud ingin mempernainkanmu selama ini." Sesal Rena dengan nada suaranya yang melemah. Dalam hatinya ia menebak kalau Ibu mertuanya pasti sudah memberitahu Rangga yang sebenarnya.


Rangga menghela nafas beratnya.


"Baiklah.." Jawabnya sembari melepaskan kungkungannya.


"Apa kau tidak lagi marah ?" Tanya Rena.


"Tentu saja aku masih marah, dan aku tidak akan memaafkanmu begitu saja." Jawabnya sembari memegang kedua pinggang Rena lalu mengangkatnya dan mendudukkan nya di atas meja.


"Kau jahat sekali Rena, bagaimana bisa kau mempermainkan perasaanku tepat di malam pernikahan kita ?"


Rena sedikit melongo mendengar pertanyaan itu.


"A..? Itu... Sebenarnya aku hanya ingin menggodamu, siapa yang tahu kalau kau ternyata akan menanggapinya terlalu serius." Jawab Rena sedikit membela diri.


Lagipula apa kau benar-benar berfikir kalau aku wanita seperti itu ?!" Imbuhnya.


"Tidak, aku sama sekali tidak pernah berfikir kalau kau tipe wanita seperti itu. Tapi, siapa yang tahu kalau kau telah berubah setelah sekian tahun kita tidak bersama ?"


Rena sedikit terdiam.


"Ada apa ? Mengapa diam ? Tidak ingin membela diri lagi ? Atau sudah merasa bersalah ?" Cecar Rangga sembari menaikkan alisnya sebelah.


Lagi dan lagi, Rena hanya bisa diam merenungi kesalahannya.


Melihat Rena menunduk bersalah seperti itu, membuat Rangga tidak bisa tidak merasa gemas. Ia memiringkan kepalanya menatap lebih dekat wajah istrinya.


"Sekarang kau harus bersiap menerima hukuman dariku." Ucapnya dengan seringai liciknya.