Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Akhir dari sebuah hubungan.



Kini di ruangan yang begitu sepi. Rena berdiri menatap lelaki yang kini dilihatnya masih setia dengan matanya yang terpejam bak seorang pangeran tidur.


Perlahan Rena memegang tangan lelaki itu dengan sangat lembut.


"Bagaimana kabarmu hari ini ?" Tanyanya dengan suara lirih.


Setelah sekian lama akhirnya aku merasa benar-benar terbebas dari belenggu cintamu.


Aku telah menemukan seorang pria yang begitu mencintai dan juga menghargaiku.


Mungkin ini adalah hari terakhir aku menjengukmu. Untuk semua yang telah terjadi di masa lalu, aku sudah memafkanmu.


Dan kini aku hanya berharap kau segera kembali sehat seperti dulu. Dan berkumpul kembali bersama keluargamu."


Rena kemudian melepaskan pegangannya dan berbalik ingin pergi. Namun tiba-tiba mencekalnya dengan jari kelingkingnya yang ia tautkan pada jari kelingking Rena.


Rena sontak terkejut melihat jari itu dan menatap pemiliknya yang masih setia terpejam. Tidak ada yang mengetahui bahwa semalam Rangga sudah terbangun dari peristirahatan panjangnya.


"Apa kau mendengarku ?!" Tanya Rena dengan suara lirih dan air mata yang mulai menggenangi kelopaknya.


Ia segera berlari keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan Arka. Sedang Rangga yang sudah mendengar semua apa yang telah di ucapkan Rena, perlahan membuka matanya dan menangis dalam diam.


Ia sangat yakin kali ini ia tidak lagi bermimpi. Namun yang membuatnya bersedih adalah fakta bahwa Rena benar-benar telah meninggalkannya dengan menemukan pria yang lebih baik dari dirinya.


("Jika kau bahagia, maka aku akan mencoba merelakanmu") Batinnya dengan kesedihan yang mendalam.


("Aku memang bukan lelaki yang pantas untukmu, aku menyesal karna pernah membuatmu menangis dan terluka.") Tenggorokannya terasa sangat perih menahan kesedihan yang mendalam, Seakan lilitan duri telah mengikat erat tenggorokannya.



Tok.tok.tok.


Ceklek.


"Rena ?!" Sapa Arka dan berdiri menyambutnya.


Ada apa ? mengapa kau menangis ?" Tanyanya.


"Rangga !" Ucap Rena.


"Ada apa dengannya ?" Tanya Arka terlihat panik.


"Dia tidak kenapa-kenapa." Jawab Rena.


"Lalu mengapa kau menangis ?"


"Aku menangis bahagia, Arka telah merespon dan menggerakkan jarinya." Jelas Rena.


"Benarkah ? kalau begitu aku akan segera pergi memeriksanya."


Rena menganggukkan kepalanya.


"Apa kau tidak ikut ?" Tanya Arka.


"Tidak, aku akan menunggu kabar darimu." Ucap Rena. Ia tidak ingi Rangga melihatnya.


"Baiklah.. aku mengerti." Ucap Arka mencium dahi Rena sebelum akhirnya ia pergi dengan sangat terburu-buru.


••


Kini Arka terlihat memulai pemeriksaannya dan memeriksa keadaan Rangga. Ia memeriksa detak nadi dan juga menyenter mata Rangga.


"Bagaimana perasaanmu saat ini ?!" Tanyanya.


"Tubuhku terasa mati rasa. Dan kepalaku, terasa sangat sakit." Jawab Rangga dengan suara paraunya.


"Baiklah, kita akan segera melakukan pemeriksaan lanjutan pada bekas oprasimu. Sebaiknya untuk sekarang kau jangan terlalu banyak bergerak. Apa kau mengerti ?


Rangga menganggukkan kepalanya mengerti.


Arka kemudian keluar dari ruangan tersebut diikuti dengan dua orang perawat di belakangnya.


"Dokter, bagaimana keadaan putraku ?" Tanya Mariah.


"Saat ini Tn.Rangga baik-baik saja dan sudah sadarkan diri. Aku hanya berharap Ibu tidak terlalu banyak memberinya pertanyaan atau mengatakan sesuatu yang bisa menguncang jiwanya. Karna bisa merusak mental dan mengganggu pemulihannya." Jelas Arka.


"Baik dokter.. !" Ucap Mariah.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Arka membungkukkan sedikit tubuhnya.


Mariah menganggukkan kepalanya. Kemudian segera masuk menemui anaknya bersama Moura.


"Rangga..!" Seru Mariah menghamburkan dirinya memeluk putranya dengan berlinangan air mata.


"Aach.. mah, pelan-pelan." Ucap Rangga.


Mariah segera melepaskan pelukan dan mengusap air matanya.


"Owh, maafkan mamah. Mamah hanya merasa sangat bahagia bisa melihatmu kembali sadar seperti ini."


Rangga tersenyum. Kemudian melirik ke arah Moura. Dengan melihatnya, Rangga teringat akan Monica.


"Bagaimna dengan Monica ?" Tanya Rangga.


Mariah menatap dalam putranya.


"Dia telah tiada saat kejadian kecelakaan bersamamu sebulan yang lalu !"


Rangga termenung dengan tatapannya yang kosong, teringat kembali bagaimana mereka bertengkar dan akhirnya menyebabkan kecelakaan.


Flasback On


Rangga yang duduk di depan meja kerjanya menatap semua berkas yang harus segera ia tandatangani.


Kondisi yang memaksanya harus bekerja lebih keras agar bisa mendapatkan kepercayaan kembali oleh para investor yang dulu bekerja sama pada alamarhum kakeknya.


Dan ini adalah yang ke lima kalinya ia mencoba membangun perusahaan milikny sendiri. Namun demikian ia menutupi identitasnya agar Atmajaya dan Rendy tidak mengetahuinya.


Semuanya bermulai dari JA Group yang telah dibuat bangkrut oleh Royal AT Corporation dan kemudian mencoba menahan Rangga agar tidak bisa berkembang. Membuat setiap usaha yang ia kelola berakhir dengan berantakan.


Dan kali ini dia mencoba berdiri di belakang layar kemudian menyuruh sahabatnya menggantikannya sebagai CEO di perusahaannya saat ini.


Hingga Atmajaya tidak menyadari kalau selama ini ia telah bersaing dengan perusahaan milik Rangga.


"Rangga, ini berkas yang kau inginkan." Ucap Reno menyodorkan sebuah amplop coklat.


Dengan cepat Rangga membukanya. Betapa terkejut dan murkahnya dia setelah melihat kebenaran dari isi surat pemberitahuan bahwa Moura 9,99 % bukanlah anaknya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang ?" Tanya Reno.


"Wanita ular itu, aku sudah menduganya kalau selama ini dia telah menipuku !!" Ucap Rangga yang telah di penuhi amarah di raut wajahnya.


Aku akan memberinya pelajaran !!" Imbuhnya kemudian pergi meninggalkan bangunan kantor tersebut.


••


Beep.. Beeep.. ( suara klakson mobil )


Dari kejauhan terlihat Monica berlari kecil mendekati mobil tersebut.


.


.


"Ada apa ?" Tanya Monica pada Rangga.


"Tidak ada." Jawabnya singkat dan kemudian melajukan mobilnya.


"Tumben kau ingin menjemputku." Ucap Monica dengan senyum.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan bersama temanmu sampai selarut ini ?!" Tanya Rangga mencoba terlihat tenang.


"Kau fikir apa ? tentu saja bersenang-senang ! aku sangat bosan berada di rumah." Jawab Monica santai.


"Apa kau tidak memikirkan Moura ? dia masih sangat kecil dan membutukan dirimu disisinya. Seharusnya kau lebih menghabiskan banyak waktu bersamanya."


"Dan kau ?! Kemana saja kau selama ini ?sebaiknya kau tidak perlu mengajariku." Ucap Monica mempermainkan kuku indahnya.


"Kau tahu sendiri kalau aku sibuk bekerja, sedangkan kau ? apa yang kau lakukan ? kau hanya tahu bersenang-senang."


Monica tertawa hambar.


"Hahaa hahaa.."


("Apa dia sudah tidak waras ?") Batin Rangga.


"Sibuk bekerja ?! aku tahu apa yang telah kau lakukan selama ini di belakangku." Ucap Monica tersenyum getir.


"Kau tahu apa !?" Ucap Rangga.


"Aku tahu kau selalu pulang pergi ke AS hanya untuk menemui wanita Pela*ur itu bukan ?!"


Rangga yang mendengar kata-kata itu merem mendadak mobilnya, hingga menimbulkan suara yang begitu memekakan telinga dan membuat kepala Monica terbentur.


"Apa yang kau lakukan !" Hardik Monica.


Apa kau ingin membuatku mati ?!" Tanyanya kesal.


"Ya ! seharusnya dari dulu aku membunuhmu !" Ucap Rangga.


Monica menatap suaminya tak percaya, bagaiman bisa lelaki itu bisa mengatakan hal yang mengerikan ?


Dengan cepat Rangga mengambil amplop coklat yang di berikan Reno padanya beberapa waktu yang lalu, kemudian melemparnya tepat di wajah Monica.


"Apa kau bisa menjelaskan ini ?!" Ucap Rangga.


Dengan ekspresi curiga dan was-was, Monica membuka amplop itu dan perlahan membaca isinya. Ia sedikit terkejut namun segera mendalih.


"Apa semua ini ?" Tanyanya


Rangga tersenyum sinis.


"Apa ? sekarang kau berpura-pura bodoh ?seharusnya aku yang bertanya, apa maksud dari semua itu."


"Aku tahu, kau pasti sengaja membuat laporan ini kan ? agar kau bisa menceraikanku dan pergi bersama wanita ja*ang itu."


Plaaak..!


Sebuah tamparan yang sangat keras melayang mengenai wajah Monica.


"Berani-beraninya kau mengatainya seperti itu ! Jangan pernah samakan dirimu dengan dirinya. Karna kau sama sekali tidak pantas !" Geram Rangga.


Rangga kembali melajukan mobilnya setelah merasa sedikit lega setelah memberi pelajaran pada wanita yang selama ini telah mengacaukan hidupnya. Sedangkan Monica terdiam dalam kesal, ia memicingkan matanya, menatap Rangga penuh dendam.


"Aku akan memberitahu hal ini pada Ayahmu. Dan aku juga akan segera menceraikanmu !" Ucap Rangga dingin.


Mendengar hal itu membuat Monica semakin tidak terima, dirinya yakin kalau setelah Rangga menceraikannya. Maka Rena akan kembali dan mengambil posisinya sebagai istri Rangga.


("Jika hal itu sampai terjadi, wanita itu pasti akan menertawaiku.Tidak.. ! aku tidak bisa membiarkan hal itu sampai terjadi.") Batinnya.


"Arka.. kau salah paham. Moura benar anakmu! anak kita." Ucap Monica memegang lengan Rangga dengan kedua tangannya.


Rangga tersenyum sinis.


"Kau masih berani membohongiku ?!"


"Aku tidak berbohong Rangga, Moura memang anak kita !"


"Sudahlah Mon, semuanya sudah jelas. Dan ini akan segera berakhir !"


"Tidak..!" Sergah Monica memegang erat lengan Rangga.


"Kau harus belajar menerima Mon ! permainanmu sudah berakhir !"


"Tidak.. aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku !" Tolak Monica seperti orang yang tengah kesurupan. Ia terus mengguncang lengan Rangga.


"Mon, apa yang kau lakukan ?! kita berdua bisa mati !" Ucap Rangga yang kini tidak bisa mengendalikan stirnya.


"Biarkan saja, aku lebih baik mati bersamamu dari pada harus melihatmu bahagia dengan ja*ang itu !" Seru Monica.


"Mon.. mon hentikan."


Beep.. Beep.. Beeeep..


Aaaaaaargh.. (Teriak mereka bersamaan)


Braaakh.. Bruk Bruk Prang..


Mobil mereka terguling hingga beberapa meter. Kaca yang pecah dan beberapa serpihan mobil berserakan di mana-mana dan darah segar mulai bercucuran.


Sejak saat itu Rangga kehilangan kesadarannya dan tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.