Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 114



Setelah bertengkar cukup lama, Reno akhirnya berhasil membujuk Rangga dan kembali ke daratan.


(Suara ombak)


Dengan nafas yang tidak beraturan, mereka secara bersamaan menghempaskan tubuh mereka dengan kasar di hamparan pasir yang cukup luas.


Sepi.


Dengan menatap langit biru, mereka sama-sama tidak mengeluarkan kata sedikitpun.


Merasa bersalah, itulah yang mereka rasakan saat ini.


Reno yang merasa bersalah pada Dara karna telah membuatnya seakan tidak berarti, dan Rangga yang benar-benar telah menghancurkan perasaan Rena.


•••


Saat ini Rendy memegang tangan Rena, dan melihat lingkaran memar di pergelangan tangannya.


Hal itu membuatnya semakin murka dan bertekad akan membunuh Rangga jika dia sampai menemukannya.


"Kak.. !" Sapa Rena terdengar sayu.


"Ren.. kau sudah bangun." Ucap Rendy menatap wajah adiknya sendu.


Rena terlihat celingukan mencari seseorang.


"Dimana Arka ?" Tanyanya.


"Dia sedang memiliki pasien yang sangat darurat !" Dalih Rendy.


Namun Rena sangat mengenali kakaknya, dan mengetahui kalau kakaknya telah berbohong.


"Apa kakak masih marah ?"


"Untuk apa aku marah ?" Dalih Rendy tersenyum paksa.


"Jangan marah padanya, dia sama sekali tidak bersalah."


Rendy menghela nafasnya kasar, telinganya terasa gatal mendengar pembelaan Rena.


"Mari kita membahasnya nanti, setelah kau sembuh dan kembali ke rumah." Ucapnya tidak ingin berdebat.


Sebaiknya sekarang kau katakan padaku, dimana brengsek itu saat ini !"


Sebelum menjawab, Rena menatap kakaknya dalam diam.


"Jika ku katakan, apa kau akan membunuhnya ?" Tanyanya.


Rendy menatap adiknya dalam diam.


"Kau memang selalu bisa membaca isi pikiranku. Tidak seharusnya aku bertanya." Sesalnya.


Kau tenang saja,lagi pula aku tidak akan membunuhnya secepat itu." Imbuhnya


Rena mengerutkan alisnya tidak mengerti.


"Jika aku sampai menemukannya, maka aku akan menyiksanya dan membuatnya mati secara perlahan."Jelas Rendy terlihat bersungguh-sungguh.


"Maka aku tidak akan menganggap mu lagi jika kau benar-benar melakukannya."


Rendy memicingkan matanya menatap Rena.


"Apa dia lebih berharga bagimu ?!" Tanyanya tersenyum kecut.


"Bukan tentang siapa yang berharga. Aku hanya tidak ingin kau menjadi seorang pembunuh hanya karna diriku." Jelas Rena.


"Kenapa tidak ? kau adalah adikku, sudah semestinya aku memberi pelajaran pada orang yang sudah mencoba menyakitimu dan melukaimu seperti ini." Ucap Rendy merujuk pada luka lebam di ujung bibir Rena.


"Kak.. " Rena memohon.


"Mengapa kau masih saja membelanya ?


Lihat apa yang dia lakukan padamu. Apa semua ini belum cukup ?!" Tanya Rendy kesal.


"Ini juga salahku, aku yang sudah memprovokasinya lebih dulu sehingga dia berbuat kasar padaku." Jelas Rena menatap kosong dan mengingat kejadian sebelumnya.


Dengan mengingatnya saja, mampu membuatnya tersentak kemudian memejamkan kedua matanya, dan perlahan terlihat butiran bening keluar, mengalir membasahi wajahnya.


Membuat Rendy kembali menghela nafasnya pasrah.


"Aku akan pergi." Ucapnya kemudian dan beranjak.


Namun Rena mencekal pergelangan tangannya.


"Apa lagi ?" Tanya Rendy.


Rena memberi isyarat pada wajahnya, bahwa Rendy menyetujui permohonannya agar tidak menyakiti siapa pun.


"Baiklah !" Ucapnya sinis.


Baiklah,baiklah, berhenti menatapku seperti itu !" Imbuhnya saat Rena masih saja menatapnya dengan tatapan memohon.


Rena tersenyum simpul.


"Ada satu lagi." Ucapnya.


"Lain kali saja, aku buru-buru." Ucap Rendy tidak ingin berlama-lama. Pasalnya dia masih cukup kesal dan tidak bisa terus memasang wajah tenangnya di depan Rena.


satu langkah.


dua langkah.


tiga langkah.


"Aku akan menikah !" Ungkap Rena tiba-tiba.


Membuat Rendy menghentikan langkah kakinya dan kembali berbalik menatap adiknya.


Cukup lama ia terdiam, lalu berkata.


"Berhenti membual. Aku tahu kau sengaja mengatakan hal itu karna takut aku menyakiti Arka bukan ?!"


"Aku serius."


Rendy kembali berjalan mendekati adiknya, sangat ingin rasanya ia menyentil kepala Rena karna terus menguji kesabarannya, tapi ia menghentikan aksinya saat Rena memejamkan matanya mencoba menahan rasa sakit.


Lagi-lagi Rendy menghela nafasnya pasrah.


Merasa Rendy tidak jadi menyentil nya, Rena membuka matanya pelan dan berkata.


"Aku tidak sedang menguji mu, aku mengatakan yang sebenarnya."


"Apa kau yakin ? bukankah kau pernah mengatakan kalau kau tidak akan pernah mau menikah ?!" Tanya Rendy.


"Kapan aku mengatakannya ?" Tanya Rena dengan suara sayu mengelak.


Rendy kembali duduk dan menatap adiknya dengan tatapan yang tajam dalam diam, membuat Rena sedikit merasa ngeri.


"Apa kau yakin akan menikah dengan dokter itu ?!" Tanya Rendy kemudian.


Rena menganggukkan kepalanya.


"Ya !"


"Apa kau yakin ?!"


"Tentu saja."


"Kapan ?"


"Bulan depan !"


"Secepat itu ?"


"Ya, ada apa ? kenapa sekarang kau banyak bertanya ? bukankah dulu kau juga mendukung hubunganku dengannya ?" Tanya Rena.


"Tidak, aku hanya sedang berfikir. Kau memutuskan untuk menikah dengannya, karna kau cinta padanya dan bukan menganggapnya sebagai pelarian bukan ?"


"Apa ? pelarian ? aku tidak sejahat itu mempermainkan perasaan seseorang, apalagi seseorang seperti Arka." Jelasnya yang sebenarnya dia juga tidak begitu yakin dengan keputusannya.


Sebenarnya, saat itu dia memutuskan untuk menikah, karna terprovokasi oleh perkataan Ibu Rangga yang sebelumnya.


Dia pria yang baik, tidak seharusnya aku menyia-nyiakannya." Imbuhnya.


"Apa Ayah dan Bunda sudah mengetahuinya ?" Tanya Rendy.


Rena menggelengkan kepalanya.


"Belum."


Rendy menghela nafasnya cukup panjang. Dan berfikir mungkin keputusan Rena saat ini adalah keputusan yang benar. Dan dengan begitu Rangga tidak lagi mengganggunya.


•••


Villa.


Rangga dan Reno akhirnya sadar dan sedikit bingung melihat sekelilingnya.


Setelah mengingat kembali kejadian sebelumnya saat mereka berbaring lemas di pinggir pantai, mereka tidak lagi mengingat kejadian selanjutnya.


Secara bersamaan mereka tersentak dan duduk mengamati sekitarnya.


"Ren, apa kau yang membawaku kesini ?!" Tanya Rangga memastikan.


"Tidak, bukan aku."


"Lalu siapa ? apa kau mengenali tempat ini ?"


Reno menggelengkan kepalanya tak tahu.


"Aku juga tidak tahu."


Rangga beranjak dan mencoba berjalan memeriksa sekitarnya.


Sedangkan Reno, ia terlihat sedang berfikir dan menebak.


"Mungkinkah kita sudah tertangkap ?" Tanyanya lirih.


Rangga yang mendengarnya sedikit bingung.


"tertangkap ? apa maksudmu ?" Tanyanya dan duduk kembali di samping Reno.


Dengan refleks Reno memukul keras kepala Rangga.


"Ini semua karna perbuatan bodoh mu !!"


"Aargh." Erang Rangga kesakitan sembari memegang kepalanya.


Hei, mengapa kau memukulku ? memangnya apa yang sudah aku perbuat ?!"


"Apa kau lupa ? atau pura-pura lupa ? kau telah menculik seorang putri Atmajaya dan itu membuat kakaknya murka !!" Jelas Reno dengan kesal.


Dia bahkan datang ke kantor dan membawa Dara sebagai sandra."


"Dara ? lalu bagaimana dengannya ? bagaimana dia bisa mengetahui hubungan kita ?"


"Untuk saat ini Dara sedang berada di Rumah Sakit, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya." Ungkap Reno yang kembali di hantui rasa bersalah.


Lagi pula, cepat atau lambat indentitas kita akan di ketahui. Dan saat ini mungin Atmajaya telah mengetahuinya." Imbuhnya memperingati.


Rangga yang mengetahuinya tersadar dan kembali mengamati sekitarnya.


"Apa kau yakin kita sudah tertangkap ?" Tanyanya sedikit berbisik.


"Entahlah, aku hanya asal menebak." Ucap Reno menengadah menatap lantai dua villa tersebut.


Rangga yang merasa kesal dengan jawaban Reno segera memukul balik kepala Reno.


"Lalu mengapa kau memukulku kalau kau sendiri tidak yakin ?!" Umpatnya.


Reno hanya bisa mengelus pelan kepalanya menerima kelakuan sahabatnya.


"Tapi, bukankah ini sedikit aneh ? mengapa tidak ada penjagaan di rumah ini ?" Tanya Rangga pelan.


Saat mereka masih dalam kebingungan, tiba-tiba seseorang menodongkan pistol di kepala mereka dari arah belakang.


Membuat Reno dan Rangga melirik satu sama lain dan perlahan mengangkat kedua tangan mereka menyerah.


"Rend, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakiti Rena atau menculiknya, aku hanya... aku hanya takut Arka melakukan hal buruk padanya." Jelas Rangga.


Sedangkan Reno, dia hanya bisa diam mendengarkan penjelasan konyol dari mulut Rangga yang membuatnya menyesal karna tidak mengawasinya dengan baik, sehingga mereka harus berada di situasi terburuk seperti saat ini.