Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 107



Pukul 23.00


Suara ponsel berdering.


Rena mengerjapkan matanya perlahan dan mencoba meraih ponselnya yang tidak jauh darinya.


Dengan sayup ia menatap layar ponselnya.


"Kakak"


Seketika ia terbelalak dan sesaat menatap ruangan yang tidak begitu asing di lihatnya.


Ia menepuk jidatnya pelan dan sedikit menggerutu.


"Ah,, sial, mengapa aku bisa tertidur di sini ?!" Umpatnya pelan.


"Halo ?" Ucapnya kemudian, mengangkat telfon yang sedari tadi mengusik tidurnya.


"Kau dimana ?!" Tanya Rendy sedikit membentak.


"Eh, aku, aku sedang di apartemen Arka."


"Mengapa tidak memberi kabar ? Apa kau tahu betapa khawatirnya orang di rumah ?


Katakan padaku, apa yang sedang kalian lakukan ?!" Tanya Rendy sedikit mengintimidasi.


"Hei, apa maksud kakak ? memangnya apa yang aku lakukan ?!" Jawab Rena gagu.


"Apa kalian melakukan sesuatu yang--"


"Hei, apa kakak pikir aku wanita seperti itu ? Aku tidak semesum dirimu !!" Sela Rena membentak.


"Lalu mengapa kau tidak mengangkat ponselmu ? Bunda menelfonmu beberapa kali tapi kau tidak mengangkatnya, bahkan kau baru mengangkat telfonku setelah terus mencoba untuk kesekian kalinya !"


Rena menatap layar ponselnya dan mengecek panggilan tak terjawab. Benar saja, ia melihat sepuluh panggilan tak terjawab dari Ibunya.


"Lalu bagaimana dengan Ayah ?"


"Apa kau hanya mencemaskan kemarahan Ayah huh !!" Bentak Rendy.


"Tidak,bukan begitu. Sejujurnya aku merasa tidak enak badan dan akhirnya tertidur." Jelas Rena memijat pelan punggung lehernya.


"Apa kau tidak punya rumah ? mengapa tidur di rumah seorang pria ?"


Baru saja Rena ingin menjawab, seseorang tiba-tiba merampas ponselnya.


"Halo !" Ucap sang pelaku yang tidak lain adalah Arka.


"Ren, maafkan aku karna sebelumnya tidak mengabarimu, aku yang meminta Rena untuk membantuku menyelesaikan pekerjaanku. Hanya saja setibanya disini dia sedikit tidak sehat dan aku membiarkannya tidur di kamarku.


Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang buruk padanya, lagi pula dia tunanganku, aku tidak ingin terjadi hal buruk dengannya jika aku membiarkannya pulang dengan kondisi seperti itu.


Jadi, aku mohon biarkan dia beristirahat di tempatku untuk malam ini."


Rendy terdiam, dia tidak lagi memiliki sesuatu yang harus di pertanyakan, dan tentu saja dia tidak lagi meragukan Arka.


"Baiklah, aku akan mengurus orang tuaku, tolong jaga dia." Tegas Rendy lalu menutup telfon.


Arka menyodorkan kembali ponsel Rena.


Rena mendongakkan wajahnya menatap wajah yang terlihat samar akibat pencahayaan lampu yang sedikit buram.


"Ada apa ?" Tanya Arka.


"Eh ? Tidak." Jawab Rena meraih ponselnya.


Arka kemudian duduk di tepi ranjang. Ia kemudian menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Rena.


"Apa kepalamu masih terasa sakit ?"


"Masih, tapi tidak seberapa."


"Kau tidak demam. Mungkin kau hanya kurang darah dan kecapean !!" Ucap Arka.


"Emm, mungkin saja." Jawab Rena pelan.


"Apa kau belum tidur ? atau, apa suaraku tadi membangunkanmu ?!" Imbuhnya kemudian


Arka tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aku memang belum tidur, aku masih sedang menyelesaikan tugasku di luar !"


Rena merasa sedikit bersalah, bukannya membantu Arka, dia malah menyusahkannya.


"Sebaiknya kau kembali beristirahat !" Ucap Arka mengusap pelan wajah Rena.


Rena menganggukkan kepalanya dan perlahan kembali berbaring. Sedangkan Arka dia mengecup pelan pucuk kepala Rena sebelum akhirnya ia kembali keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sepi, itulah yang ia rasakan saat ini. Rena memandang langit-langit kamar tersebut sembari memikirkan sesuatu.


Sesekali ia memejamkan matanya, namun sepertinya kantuknya telah hilang, setelah mendapat telfon dari Rendy sebelumnya.


Ia terduduk, kemudian turun dari pembaringannya dan beranjak pergi.


Ceklek.


Suara pintu terbuka sontak membuat Arka berbalik menatap ke arah sumber suara tersebut, dan mendapati Rena yang berdiri bersandar sembari bersedekap sedang menatapnya dalam diam.


"Ada apa ?" Tanyanya lembut dan berdiri dari tempat duduknya.


Rena memutar bola matanya menatap ke sembarang arah dan mengatakan sesuatu.


"Aku tidak bisa tidur, bisakah kau menemaniku ?"


Arka tidak menjawab namun terlihat tersenyum penuh makna. Ia lalu meletakkan berkas yang masih di pegangnya, kemudian berjalan mendekati kekasihnya.


.


.


.


Saat ini mereka tengah berbaring di atas ranjang yang sama menatap langit-langit kamar dengan pencahayaan lampu yang buram.


Sepi, hening. Begitulah gambaran suasana ruangan itu saat ini.


Sepertinya Rena masih belum bisa bersikap intens pada Arka. Ia masih merasa gagu dan malu meluapkan segala keinginannya.


Sedangkan Arka, ia sudah tidak sanggup lagi menahan keinginannya untuk memeluk erat wanita yang kini berbaring tepat di sampingnya. Namun tetap saja, ia tidak bisa melakukannya, dia tidak ingin Rena berpikiran buruk dan kembali menilainya salah.


"Em, belum ! kau belum tidur ?"


"Aku tidak bisa tidur."


Tiba-tiba suara ponsel berdering. Membuat mereka terkejut dan bersamaan bangun hingga tak sengaja membuat kepala mereka saling bertubrukan.


"Aaaaw.. " Ucapnya bersamaan sembari mendesis pelan hingga akhirnya mereka sedikit mengeluarkan gelak tawa.


"Maafkan aku !"Ucap Arka mengelus pelan kepala Rena.


Rena mengangguk pelan.


"Aku tidak apa-apa, tapi kau ? Apa dahimu tidak sakit ?!" Tanya Rena mengelus dahi Arka.


"Tidak apa-apa !" Jawab Arka memegang tangan Rena.


Sepertinya itu suara alarm di ponselku !" Ucapnya kemudian.


"Ah, benarkah ? Itu mirip suara panggilan masuk di ponselku !" Ucap Rena.


Arka kemudian meraih ponsel yang letaknya tidak jauh dari Rena, lalu mematikan alarmnya.


"Ok, sebaiknya kita tidur. Ini sudah jam satu !" Ucap Arka dan kembali berbaring dengan posisi seperti sebelumnya.


Namun Rena, ia masih duduk dengan raut wajahnya yang bimbang, seakan ingin mengutarakan sesuatu namun tidak mampu ia ucapkan.


Melihat hal itu, Arka kembali bangun dan duduk menatap wajah kekasihnya.


"Ada apa ? apa ada sesuatu yang ingin kau katakan ?!" Tanyanya lembut.


Cukup lama Rena terdiam dan berfikir.


"Baiklah, jika kau tidak ingin mengatakannya, sebaiknya kau tidur agar besok bisa merasa lebih baik !"Titahnya masih dengan suara lembutnya.


Namun Rena enggan dan tidak bergeming.


"Atau, apakah kau tidak bisa tidur karna kita tidur di tempat yang sama ?!" Tanya Arka menerka.


"Eh, aku.... " Ucap Rena ragu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan tidur sofa."


Saat Arka hendak beranjak, Rena segera menyekal dan menarik lengannya.


"Mari kita Menikah !!" Ucap Rena sayu dengan wajah tertunduk.


Arka sedikit terkejut, ia merasa dirinya salah mendengar.


"Apa ? bisakah kau mengulanginya sekali lagi ?"


Rena melipat bibirnya pelan.


"Mari kita Menikah !!" Ucapnya sekali lagi dan mengeraskan sedikit suaranya.


Seakan dihujani bunga yang bermekaran, Arka tersenyum bahagia.


"Apa ? bisakah kau mengulanginya sekali lagi ? sepertinya pendengaranku sedikit tidak berfungsi." Sambil mengucek telinganya pelan.


"Apa kau benar-benar tidak mendengarnya ? atau apa kau sedang mengujiku ?!" Ucap Rena sedikit kesal, pasalnya ia sudah menahan malu untuk mengutarakan keinginannya.


"Aku bilang mari kita Meni---" Kalimat Rena tiba-tiba terhenti saat Arka menyelanya dengan mengecup pelan bibir merahnya.


"Terima kasih !!" Ucap Arka kemudian.


Rena sedikit tidak mengerti, mengapa Arka harus berterima kasih ?


"Aku mencintaimu, dan sangat mencintaimu."


Ia menyeka air matanya yang hampir menetes.


"Terima kasih karna akhirnya kau ingin menikah denganku.


Sebenarnya aku hampir putus asa karna menunggumu terlalu lama. Aku selalu merasa kau menolakku karna masih mengharapkan dia (Rangga). Dan memikirkannya, itu membuatku merasa gila."Ungkapnya dengan tawa sedikit hambar.


"Maafkan aku karna pernah memikirkan akan melakukan hal buruk padamu. Tapi percayalah, aku melakukan hal itu karna tidak ingin kehilangan dirimu."Jelasnya menatap dalam mata kekasihnya.


"Mengapa kau menangis !" Ucap Rena membantu menyeka air mata Arka yang tidak bisa lagi di bendungnya.


Arka memegang telapak tangan Rena.


"Tahukah kau betapa bahagianya aku saat ini, karna pada akhirnya penantianku selama beberapa tahun akhirnya tidak sia-sia, kau bersedia menikah denganku !" Ungkapnya.


Sepertinya ini kali pertama ia menangis bahagia, setelah sekian lama ia menangis akan kerinduannya pada Ibunya.


"Kau menangis karna bahagia." Ucap Rena merasa tersentuh.


"Bodoh !!" Ucapnya kemudian, lalu memeluk hangat tubuh Arka.


"Maafkan aku karna telah membuatmu menderita dan menunggu terlalu lama !" Lirihnya mengusap pelan punggung lebar lelakinya.


Cukup lama. Hingga mereka saling melepaskan pelukan masing-masing.


"Kapan kau ingin kita menikah ?" Tanya Arka.


"Emmm, mari kita mencari waktu yang tepat, secepatnya mungkin lebih baik !!" Jawab Rena dengan senyum.


Arka menghela nafasnya lega.


"Sepertinya malam ini aku harus bekerja lebih keras agar bisa menyelesaikan tugasku dengan cepat !!" Ucapnya penuh semangat dan beranjak.


Namun sekali lagi Rena mencekalnya.


"Apa kau ingin meninggalkanku sendiri ? bukankah aku sudah memintamu untuk menemaniku ?"


Arka tersenyum.


"Baiklah,mulai saat ini aku akan mengikuti semua pengaturanmu !


Jika kau ingin aku tetap berada disini, maka baiklah. Mari kita tidur, lagi pula sepertinya aku akan tertidur lelap malam ini." Ucapnya dan segera berbaring. Ia kemudian menarik Rena kedalam pelukannya.


"Terima kasih." Lirihnya, mengecup pelan kepala Rena sembari menghirup aroma wangi dari rambutnya.


Rena tersenyum dalam diam, ia tidak menyangka kalau mengungkapkan lebih mudah dari pada memikirkannya. Dan merasa bahagia melihat Arka bahagia dengan keputusannya.


Sepertinya ini adalah langkah awal dari sebuah hubungan yang baru, hingga ia benar-benar bisa melupakan masa lalunya.


Dan pada akhirnya mereka tertidur pulas dengan saling berpelukan.