Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 86



RS Anutapura.


Tim Arka baru saja selesai mengadakan rapat untuk pasien yang akan segera di oprasi.


Arka berdiri kemudian menatap Rena yang mencoba tidak memperhatikannya.


Dia tersenyum simpul melihat gelagat Rena yang seperti itu. Melihat ekspresi Rena yang seperti itu membuat Arka sadar kalau Rena sebenarnya tidak marah padanya melainkan malu.


"Ekhm.. !" Dehemnya berbasa-basi.


"Dr.Rena, segera temui aku di ruanganku !" Titahnya.


Rena sedikit terkejut. Ia sudah berusaha untuk menghindar darinya, tapi tetap saja Arka tidak melepaskannya begitu saja.


Rekan yang lainnya saling berpandangan, dan Anggi segera mendekati Rena dan bertanya.


"Ren, ada apa ?" Tanyanya pelan.


Rena menggigit bibir bawahnya dan memberikan ekspresi sedikit khawatir.


"Apa kalian bertengkar ?"


Rena menggelengkan kepalanya.


"Aku akan menjelaskannya lain kali." Jawabnya kemudian segera berdiri dan kemudian pergi menuju ruangan Arka.


Anggi hanya bisa berdiri melihat punggung Rena menghilang dari pandangannya.



Baru saja Rena membuka pintu, Arka dengan cepat menarik pergelangan tangannya. Menutup kembali pintu dan menyandarkan tubuh Rena ke pintu lalu mengukungnya.


"Arka.. !" Rena sedikit terkejut dengan aksi Arka saat ini. Ia berubah sedikit agresif.


"Mengapa kau tidak mau mengangkat telfonku ?!" Tanya Arka.


"A-a-aku.. " Rena tergagap.


Namun tiba-tiba suara ketukan merusak segalanya.


Tok. tok. tok.


Dengan cepat Rena berbalik dan ingin membuka pintu, namun Arka sedikit menahannya dengan menekan pintu.


"Arka, apa yang kau lakukan ?" Lirih Rena, untuk sekejap ia berpaling menatap Arka lalu kembali mencoba membuka pintu.


Di sisi lain, seseorang terus mengetuk pintu tanpa henti.


Tok. tok. tok.


Arka menghela nafasnya kasar lalu melepaskan telapak tangannya dari bilik pintu.


Rena membuka pintu.


Perawat itu sedikit terkejut ketika melihat dr.Rena juga berada di ruangan itu.


"Apa kau tidak punya etika ? mengapa kau terus mengetuk pintu seperti itu ?!" Ucap Arka dengan tegas namun lebih terlihat kesal.


"Maafkan saya dok !" Sang perawat merasa bersalah.


Sekarang seluruh staf Rumah Sakit tahu bahwa Rena dan Arka memiliki sebuah hubungan dan telah bertunangan. Jadi perawat itu merasa bersalah karna telah mengganggu mereka berdua.


"Apa yang membuatmu kemari ?" Tanya Rena pelan.


"Ada beberapa pasien yang baru masuk karna sebuah kecelakaan, dan kondisinya sedang dalam keadaan kritis !"


Dengan cepat Rena buru-buru berlari membuat Arka segera mengikutinya dari belakang.


"Ren, jangan berlari seperti itu, kau bisa terjatuh !" Seru Arka.


"Aku lebih baik terjatuh dan bangkit, dari pada harus terlambat menangani pasien !" Jawabnya.


Baru saja Rena menyelesaikan kalimatnya, ia benar-benar terjatuh karna menginjak tali sepatunya yang terlepas.


Bruukh..


"Aaaakh.. " Ringisnya pelan.


"Rena.. !" Arka dengan cepat membantunya namun Rena segera menepisnya.


"Jangan pedulikan aku, nyawa pasien lebih penting saat ini !" Ucapnya kemudian mendorong Arka untuk pergi.


Arka yang mengerti segera kembali berlari menuju bangsal.


.


.


Ia sedikit terkejut melihat bangsal itu kini penuh dengan orang yang terluka.


Ruangan itu kini menjadi sesak dengan beberapa tim medis dan perawat yang mencoba menangani.


"Dokter..!" Teriak Anggi sedikit panik setelah melihat kedatangan Arka.


Arka menoleh dan dengan cepat mengerti yang di isyaratkan oleh Anggi.


Membantu menetralisir luka dan menjahitnya dengan cepat.


"Apa yang sebenarnya terjadi ? mengapa tiba-tiba begitu banyak pasien ?!" Tanya Arka namun masih tetap menjahit beberapa sayatan luka yang di akibatkan pecahan kaca.


"Ada kecelakan beruntun, dan salah satunya adalah bus yang membawa dua puluh orang penumpang !" Jelas Anggi.


Arka menatap Anggi sedikit terkejut lalu berkata.


"Lalu dimana pasien yang lainnya ?" Tanyanya setelah melihat jumlah pasien yang ada di ruangan itu.


"Di ruangan sebelah, disini hanya pasien yang mengalami luka parah !"


"Dimana pasien yang sedang kritis ?" Tanya Arka yang tiba-tiba mengingat perkataan perawat yang sebelumnya.


Anggi tersadar. Ada beberapa pasien yang mengalami kritis, ia tidak tahu pasien yang mana yang Arka maksud.


Tiba-tiba suara wanita yang menangis histeris memecahkan suasana di ruangan itu, dan akhirnya semua mata tertuju padanya.


Wanita itu menangis cukup histeris karna ketakutan.


Anaknya mengalami kejang yang sangat hebat.


"Putraku.. ! oh.. ! apa yang terjadi.. ?! mengapa dia seperti itu.. ?!"


Rena mencoba menangani pasien itu yang sedang sekarat dengan beberapa perawat lain yang membantunya. Ia sepertinya sedikit tegang dan ketakutan.


Arka mengerutkan alisnya, ia tahu ini akan menjadi masalah.


Dengan cepat ia mendekati Rena. Ia berjalan dengan sangat cepat dan menarik pergelangan tangan Rena ke samping.


"Apa yang kau lakukan ?!" Hardik Arka.


Rena sedikit tersentak karna suara itu. semua mata tertuju padanya.


Arka kemudian dengan cepat memeriksa nadi pasien kemudian memeriksa bola matanya, dan perlahan ia mengangkat wajahnya dengan penuh penyesalan.


Tidak ada harapan, kejang pasien itu mulai mereda dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


Senyap.


Mata wanita itu terpelotot, ia mengerti setelah melihat ekspresi yang di berikan Arka.


Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya tidak percaya. Ia membayangkan putranya yang baru saja berpamitan dengannya untuk membawa bus akhirnya meninggal seperti itu.



Itu adalah hari ke lima ia membawa bus, menggantikan Ayahnya yang sedang sakit. Dia adalah pemuda yang masih berumur 23 tahun. Karna kekurangan biaya untuk berobat Ayahnya, ia rela menggantikan posisi Ayahnya menjadi seorang sopir bus demi mendapatkan biaya tambahan.


Pada awalnya Ibunya sedikit kurang setuju, karna menganggap pekerjaan itu sedikit beresiko dan mencoba untuk melarangnya, namun ia tidak mendengarkan dan mencoba meyakinkan Ibunya.



Rena teduduk lemas di lantai. Ini kali pertama pasien meninggal di tangannya.


Arka yang sedikit merasa bersalah karna sebelumnya telah menghardiknya, segera merendah dan mencoba menenangkannya.


"Ren.. ?" Ucap Arka pelan sembari memegang pundak Rena.


Rena meneteskan air mata, namun tidak bersuara. Ia syok ! itu terjadi begitu tiba-tiba.


Arka menepuk pelan pundak Rena beberapa kali mencoba untuk menenangkannya. Namun Rena menepisnya dengan kasar.


Anggi yang sangat tahu kepribadian Rena segera mendekat.


"Dok, masih ada pasien yang lain yang harus di tangani ! biar aku yang mengurus dr.Rena." Ucap Anggi sedikit berbisik yang hanya bisa di dengar oleh mereka bertiga.


Arka menatap Anggi dan menganggukkan kepalanya pelan. Ia segera berdiri dan menuju pasien yang lainnya, sedangkan pasien yang sebelumnya telah di bawa oleh beberapa perawat lainnya untuk di bersihkan.


Anggi dengan pelan membantu Rena berdiri dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.


Di lorong koridor Rumah Sakit.


"Ren.. !" Ucap Anggi memegang bahu Rena dengan tangan yang lainnya menyodorkan sebotol air meneral.


Rena menatap Anggi sayu dan meraih botol minuman tersebut dan mencoba meminumnya,


namun tiba-tiba ia sesegukan karna tidak dapat menahan isak tangisnya yang ingin keluar.


Anggi segera memeluknya dengan erat.


"Tidak apa-apa,," Ucap Anggi mencoba menenangkannya.


Rena akhirnya menangis sejadi-jadinya.


Sedang Anggi hanya bisa diam dan terus mengelus pelan punggung sahabatnya.