Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 101



Ren, sudah dulu, aku sedikit sibuk."


Tut.


Ia langsung mematikan telfon secara sepihak


Anggi menghela nafasnya pelan kemudian membuka pintu. Namun ia sedikit terkejut saat mendapati Arka telah berdiri bersandar di samping pintu dengan tangan bersedekap.


"Mengapa kau berbohong pada Rena ?"


"A-a-aku hanya tidak ingin dia salah paham denganku." Jelas Anggi sedikit terbata.


Arka menoleh menatap Anggi.


"Seharusnya kau tidak perlu berbohong jika tidak ingin dia salah paham denganmu." Ucapnya kemudian melangkah pergi.


Anggi hanya bisa terdiam menatapnya menjauh dan kembali menyelesaikan acara memasaknya.


Setelah menyiapkan segalanya, ia menatanya di atas meja.


Matanya kemudian memperhatikan di sekitarnya, betapa berantakannya ruangan itu dengan sisa pesta semalam. Dia berdecak dan memulai membersihkannya.


Arka melihat Anggi yang mulai mengumpul satu persatu lilin yang masih berserakan di lantai.


"Hei, kau tidak perlu membersihkannya !"


"Biarkan aku melakukannya, kau cukup menyelesaikan pekerjaanmu." Jawab Anggi tak peduli.


"Kau tahu, aku selalu berharap kalau Rena sepertimu !" Ungkap Arka kemudian.


Anggi tersenyum.


"Kau sendiri tahu,dia adalah putri satu-satunya dari keluarga Atmajaya.


Bagaimana bisa dia melakukan hal-hal kecil seperti ini ?!


Orang tuanya hanya memprioritaskan dia untuk belajar dan berkarier." Jelas Anggi dengan senyum.


"Emm kau memang benar !" Ucap Arka membenarkan.


Lalu bagaimana dengan dirimu ?" Tanyanya kemudian.


"Kau sendiri tahu, Ibuku meninggal saat aku masih kecil. Dan hal itu membuatku mandiri dan harus mengandalkan diri sendiri.


Dan Ayahku, usahanya tidak terlalu besar seperti paman Atmajaya. Kami hanya bisa menyewa satu pembantu dan sopir, belum lagi Ayahku harus menyekolahkanku dan juga adikku." Jelas Anggi panjang lebar sambil terus mendorong alat pelnya.


Arka menganggukkan kepalanya pelan dan mengerti.


"Aku salut padamu !" Ucapnya kemudian dengan senyum.


Dan Anggi membalas senyumnya.


.


.


.


"Kalau begitu aku akan pergi !" Ucap Anggi setelah menyelesaikan segalanya.


"Apa kau tidak ingin beristirahat sebentar ?!" Tanya Arka.


"Sepertinya tidak baik jika aku berlama-lama di tempatmu, aku takut Rangga masih memata-mataimu dan salah paham dengan kita."


"Kalau begitu, bolehkah aku meminta bantuanmu ?"


"Apa ?" Tanya Anggi.


"Tolong bantu aku untuk membujuk Rena, aku yakin dia pasti akan mendengarkanmu !"


Anggi menghela nafas kemudian tersenyum mengangguk.


"Aku akan mencobanya." Ucapnya.


"Eh, biar aku mengantarmu !!" Ucap Arka,namun saat hendak melangkah, kakinya tersandung dengn kaki yang lainnya. Membuatnya terjatuh ke arah Anggi.


Brukkkh..


Suara yang sangat keras menghantam lantai. Saat ini Arka menindih tubuh Anggi, perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah wanita yang kini berada dalam kungkungannya.


Mereka saling menatap satu sama lain sedikit lama, hingga akhirnya Arka tersadar dan dengan cepat ia berdiri dan membantu Anggi.


"Maafkan aku !" Ucapnya dengan menyesal.


"Emm, tidak apa-apa, kalau begitu aku akan pergi." Jawab Anggi memperbaiki rambut dan kacamatanya yang sedikit miring.


"Baiklah ! hati-hati !" Ucap Arka dan mengantarnya sampai ke depan pintu.


•••


Dua minggu kemudian.


Arka sudah merasa putus asa, tiap hari ia sudah mencoba untuk meminta maaf pada Rena dengan berbagai cara, tapi usahanya belum membuahkan hasil.


Rena bukan hanya tidak memafkannya, tapi juga terus menjauh dan menghindar darinya.Namun hal itu tidak membuat Arka menyerah. Dia bukan tipe orang yang mudah untuk menyerah.


Kali ini ia menyiapkan sebuket bunga krisan putih dan kembali menemui Rena di ruangannya.


Hari ini Rena bertugas malam dan Arka akan memulai rencananya pada saat tengah malam.


Waktu terus berputar.


Pukul 02.00.


Rena yang baru saja memeriksa pasiennya berjalan kembali menuju ruangannya.


Saat di koridor yang cukup sepi, ia merasa bulu-bulunya mulai meremang, entah karna cuaca atau karna suara-suara menyeramkan yang ia dengarkan.


Rena mempercepat langkah kakinya hingga dia tiba di ruangannya. Ia kemudian menutup pintu dan duduk di kursinya memeriksa beberapa catatan yang dibawanya.


Tok.tok.tok.


Rena tersentak sedikit kaget.Ia masih terbawa suasana sebelumnya.


"Masuk !" Ucapnya.


Pintu terbuka.


"Arka.. !" Lirihnya.


Dengan tersenyum Arka melangkah masuk dan menutup pintu.


"Ada apa ?!" Tanya Rena sedikit sinis.


"Apa kau masih marah ?"


"Jika hal itu yang membawamu kemari, maka sebaiknya kau kembali saja. Aku sedang tidak ingin membahasnya."


"Ren, sampai kapan kau akan terus seperti ini ?


Aku benar-benar menyesal. Tolong maafkan aku !" Pinta Arka dengan nada bersalah.


"Bukankah sudah ku katakan bahwa aku tidak ingin membahasnya ?!


Sebaiknya kau pergi saja, aku masih harus memeriksa beberapa pekerjaanku !"


Arka menatap wajah yang yang sudah beberapa hari ini tidak melihatnya tersenyum.


"Baiklah, aku pergi !" Ucapnya kemudian berbalik membuka pintu.


Baru saja Arka menutup kembali pintu. Tiba-tiba listrik padam dan hal itu membuat Rena terkejut.


Pemadaman listrik biasa terjadi, jadi dia sangat yakin itu tidak akan berlangsung lama.


Dia mencoba mencari ponselnya tapi tidak menemukannya, Rena meraba di setiap sisi mejanya, tapi juga tidak menemukannya.


"Haiisss.. dimana aku meletakkannya ?!" Umpatnya.


Rena sebenarnya sangat takut gelap, ia terlalu paranoid dengan hal-hal yang berbau horor. Apalagi sebelumnya ia mendengar suara-suara aneh saat di koridor tadi.


Keringatnya mulai bercucuran. Dia tidak tahan lagi, dia semakin takut dan berhalusinasi dengan imajinasinya.


Dan akhirnya ia berteriak meminta bantuan.


Arka yang masih berdiri di luar ruangan hanya bisa menahan tawa mendengar Rena histeris, hingga akhirnya ia mendengar suara tangisan.


Dengan cepat dia membuka pintu dan menyalakan ponselnya.


"Rena.. !"


Melihat pria yang di kenalinya berdiri di depan pintu, Rena segera berlari dan memeluknya dengan sangat erat.


"Arka, aku mohon jangan tinggalkan aku !" Ucapnya sesegukan.


A-aku sangat takut !!"


Arka menyunggingkan bibirnya.


"Tapi sebelumnya kau menyuruhku pergi !" Ucapnya.


"Untuk kali ini, aku mohon tetaplah bersamaku !"


"Tidak bisa, aku masih memiliki beberapa pekerjaan.


Untuk apa aku terus bersamamu ? Lagipula kau masih marah padaku dan belum mau memaafkanku !"


"Tidak bisakah kau tidak membahas masalah itu dulu ?!" Tanya Rena sedikit membentak.


"Tidak, itu sangat penting untukku. Aku tidak tahan melihatmu setiap hari terus berusaha menghindar dariku !" Ucap Arka.


"Baiklah, aku hanya datang untuk memeriksamu. Tapi sepertinya kau baik-baik saja.


Kalau begitu biarkan aku pergi !" Ucapnya kemudian mercon melepaskan pelukan Rena.


Rena menggelengkan kepalanya tidak ingin melepaskan pelukannya tersebut.


"Baiklah aku akan memafkanmu ! tapi aku mohon tetaplah bersamaku sampai lampu kembali menyala.


Arka tersenyum, akhirnya upayanya tidak sia-sia. Rena tidak tahu kalau sebenarnya pemadaman hanya di area ruangan sekitarnya.


Dan itu adalah perbuatan Arka dan dua orang suruhannya.


"Apa kau benar-benar memafkanku ?!" Tanyanya.


Rena menganggukkan kepalanya.


"Emmm. Aku memafkanmu ! tapi kau harus berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."


"Aku berjanji !! tapi kau juga harus berjanji."


"Kau ingin aku berjanji apa ?"


"Kau harus berjanji tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi !"


Rena sedikit terdiam dan berfikir.


"Okey, aku berjanji !"


Arka tersenyum lega dan memeluk Rena dengan sangat erat. Hingga beberapa lama, akhirnya Arka merasa keram di kakinya.


"Sampai kapan kita akan terus berdiri seperti ini ?" Tanyanya.


"Aku tidak tahu, baru kali ini pemadaman listrik terjadi sangat lama, jika tidak ada dirimu,maka aku tidak tahu harus bagaimana."


"Bagaimana kalau kita duduk saja !" Ucap Arka dan kemudian membawa Rena. Ia mendaratkan bokongnya dan mendudukkan Rena dia atas pangkuannya.


"Apa aku tidak berat ?!" Tanya Rena sembari melingkarkan tangannya di atas pundak Arka.


"Jika boleh jujur sebenarnya kau cukup berat !!"


Rena yang mendengarnya sedikit malu, namun ia tidak cukup berani untuk turun dan menjauh walau hanya sejengkal. Dia sangat takut dengan melihat kegelepan di ruangan itu.


"Apa kau sangat takut ?" Tanya Arka kemudian.


"Emmm.. !!" Jawab Rena.


"Aku tidak percaya kalau kau akan sepenakut ini. Apa kau tidak malu dengan profesimu sebagai dokter ?!"


"Itu tidak ada hubungannya !!"


"Tentu saja ada hubungannya. Setiap hari kita bisa melihat mayat keluar masuk di Rumah Sakit ini. Tapi kau masih saja berfikir kalau mereka akan menjadi hantu."


"Berhentilah membicarakan hal-hal seperti itu !" Ucap Rena.


Bagaimana jika salah satu dari mereka benar-benar muncul di hadapan kita ?!" Imbuhnya.


Arka tertawa lucu mendengar ucapan Rena.


"Dan itu pasti hanya salah satu dari imajinasimu. Ketahuilah, kau hanya berhalusinasi jika benar-benar merasa melihatnya." Jelasnya sembari mengeratkan pelukan di pinggang Rena.


"Walau kau mengatakannya samapi seribu kali pun aku akan tetap merasa takut." Jawab Rena.


Arka merasa kasihan pada Rena, seharusnya dia tidak harus tahu kalau ini adalah perbutannya. Jika tidak, maka di tidak tahu lagi seperti apa marahnya Rena saat tahu kalau dirinya telah di permainkan.


Diam-dim dia memberi pesan pada orang suruhannya untuk kembali menyalakan lampu.


Akhirnya lampu kembali menerangi ruangan itu dan ruangan sekitarnya.


Rena sedikit mengerjapkan matanya karna merasa silau.


"Apa kau bisa turun sebentar ? kedua kakiku terasa mati rasa !" Ucap Arka sedikit mendesis menahan keram yang sedari tadi di tahannya.


"Eh.."


Rena segera melepaskan pelukannya dan turun dari pangkuan Arka. Dengan cepat Arka mengangkat kakinya dan memukul-mukulnya pelan.


"Apa sangat keram ?!" Tanya Rena kemudian berjongkok memegang kaki Arka.


Arka mengangkat wajahnya dan menatap Rena dengan senyum.


"Tidak apa-apa, kau duduk saja di temapatmu !"


Tanpa mengatakan apapun Rena segera mencubit kedua kaki Arka dngan sangat kuat, membuat Arka berteriak kesakitan.


"Aaaarrrrgh.. !!


Apa yang kau lakukan ?!" Tanyanya dengan menatap Rena.


"Aku hanya membantumu untuk mengurangi rasa keramnya !!" Jelas Rena sedikit tertawa melihat ekspresi Arka.


"Aah,itu sangat sakit !"


"Hei, kau seorang pria, bagaimana bisa merasa sakit hanya dengan cubitan seperti itu ?" Tanya Rena tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Ya, aku tahu, tapi kau tidak tahu betapa sakitnya cubitan dari seorang wanita.


Bahkan pria sejati sekalipun akan merasa sakit jika mendapatkan cubitan seperti itu."


Rena terkekeh dan kemudian memint maaf. Tapi resepnya benar-benar ampuh, lambat laun kram di kaki Arka menghilang begitu saja.