Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 112



Rena mengernyitkan dahinya.


"Rangga !!"


"Ya, ini aku."


"Apa yang kau lakukan ? apa kau pikir semua ini lucu ?!" Ucap Rena terlihat kesal dengan tatapan tidak suka.


Cepat buka pintunya !!" Titahnya kemudian.


Rangga tidak mengatakan apa-pun dan mematuhi keinginan Rena. Lagi pula saat ini mereka sudah jauh dari tempat diamana Arka berada.


Saat Rena hendak membuka pintu. Rangga tiba-tiba mengatakan sesuatu.


"Aku mengkhawatirkanmu. tidak, aku mencintaimu !!"


Untuk sejenak Rena terdiam, lalu melanjutkan untuk membuka pintu. Namun Rangga segera menyekalnya dengan menarik pergelangan tangannya.


Rena menghela nafasnya kasar, lalu berbalik menatap Rangga.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan ? apa kau belum cukup puas merusak pagi dan makan siangku ?!" Bentak Rena


"Aku bilang aku mencintaimu !!" Balas Rangga.


"Tapi aku tidak lagi mencintaimu !"


"Bohong !!" Elak Rangga tak percaya.


Aku tahu kau masih mencintaiku !" Imbuhnya.


Rena seakan tidak ingin peduli dan mencoba kembali membuka pintu, namun. Rangga tetap saja menahannya dengan memegang erat pergelangan tangannya.


"Lepaskan aku !" Titah Rena


"Tidak !" Jawab Rangga menolak.


Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mengatakan yang sebenarnya."


"Apa kau sudah gila ?"


"Ya, aku memang gila. Aku bahkan bisa lebih menggila jika melihatmu bersama pria lain."


Apalagi dengan bedebah itu !!" Imbuhnya.


"Bedebah ? kau lah yang bedebah !"


"Aku tidak seperti dirinya, percayalah !"


Rena tersenyum kecut.


"Percaya ? kau menyuruhku untuk percaya padamu ? apa kau sudah lupa dengan apa yang terjadi tujuh tahun yang lalu ?


Kau bukan hanya terus membohongiku, kau bahkan memiliki anak dari wanita lain." Ucap Rena dengan suara yang mulai tergetar.


"Ren, aku sudah pernah mengatakan semuanya padamu, Moura bukan anakku !


Aku hanya di jebak, dan yang orang yang seharusnya bertanggung jawab adalah Arka !" Ucap Rangga mencoba memberi penjelasan.


"Cukup !!" Pekik Rena.


Atas dasar apa kau menyalahkan Arka ? mengapa dia yang harus bertanggung jawab ? apa kau memiliki bukti."


Rangga terdiam.


"Kau bahkan tidak bisa membuktikannya !" Ucap Rena.


Rangga terus terdiam, yang dikatakan Rena memang benar, dia tidak bisa menyalahkan Arka jika dia tidak memiliki bukti.


"Katakan padaku, apa kau benar-benar mencintai pria itu ?!" Tanyanya kemudian.


"Ya !! lagi pula wanita mana yang tidak mau dengannya ?" Jawab Rena tanpa ragu, seakan benar-benar sangat yakin dengan keputusannya.


Mendengarnya, membuat Rangga melepaskan cengkeramannya dan terlihat tersenyum kecut dengan wajah yang putus asa.


Merasa memiliki kesempatan, Rena segera membuka pintu dan keluar dari mobil tersebut.


Rangga yang masih dengan sejuta kekecewaannya, menatap Rena yang berjalan menjauh dari mobilnya.


Sepertinya ia tidak terima dengan keputusan Rena, seketika raut wajahnya berubah sedikit bringas dengan ujung matanya yang memincing.


Ia keluar dari mobilnya dan berjalan cukup cepat mencoba mengejar Rena.


Hingga ia berhasil menangkap pergelangan tangan Rena.


Rena berbalik.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja !" Ucap Rangga.


Melihat ekspresi wajah Rangga yang seperti itu, membuat Rena sedikit ketakutan. Ini untuk pertama kali ia melihat sisi gelap Rangga.


"Lepaskan aku !" Ucap Rena mencoba melepaskan tangannya.


Namun Rangga semakin mengeratkan cengkeramannya, membuat Rena sedikit meringis kesakitan pada pergelangannya. Tapi Rangga tidak lagi peduli, sepertinya ia telah di kuasai oleh kemarahannya.


"Aku tidak akan lagi peduli dengan apa yang kau katakan. Menurutku kau masih tunanganku, maka dari itu aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku !"


"Rangga lepaskan, tanganku sangat sakit." Ucap Rena memohon.


Namun Rangga sama sekali tidak peduli, ia terus menyeret Rena dengan paksa untuk kembali masuk ke dalam mobil.


"Kita sudah putus, aku sudah memiliki kehidupanku sendiri, dan kau juga seharusnya seperti itu !" Ucap Rena mencoba menjelaskan.


"Aku tidak tahu apa kata putus. Kita sudah pernah tunangan, itu berarti kau adalah milikku, dan selamanya akan tetap seperti itu !" Ucap Rangga tanpa menatap Rena sedikit pun dan terus menarik pergelangan tangannya dengan paksa.


Rena yang merasa tidak bisa lagi membujuk Rangga, segera memegang tangan Rangga yang mencengkram pergelangan tangannya lalu menggigitnya.


"Aaaaaaargh... !!" Erang Rangga kesakitan dan melepaskan cengkeramannya.


Rena kemudian berlari. Namun Rangga kembali mengejarnya dan menangkap tubuhnya dari belakang, membuat mereka berguling di hamparan pasir putih yang luas.


"Rangga, lepaskan aku." Ucap Rena memberi perlawanan.


Namun wanita tetap saja wanita, ia tidak akan pernah sanggup melawan kekuatan seorang pria.


Mereka terus berguling, hingga akhirnya Rangga mengekang Rena dalam Kungkungan nya dan menahan kedua telapak tangannya.


Dengan nafas yang terengah-engah. Mereka berdua merasa kewalahan. Rena yang pasrah hanya bisa menatap Rangga dalam diam.


Sedangkan Rangga, ia bagaikan seekor macan yang kelaparan dan telah berhasil menangkap mangsanya, dan saat ini bersiap untuk segera menyantapnya.


"Apa kau tahu ? aku begitu menggila saat mendengarmu bermesraan dengan pria itu !


Tapi aku tahu, kau tidak akan pernah mau melakukannya."


"Bagaimana kau bisa seyakin itu ? jika bukan karna dirimu, kami mungkin sudah melakukannya tadi."


Rangga tertawa mendengarnya. Ia tertawa dengan kekecewaan di hatinya.


"Lalu, apa kau menyesal karna aku mengganggumu ?! karna itukah tadi kau sangat marah dan menamparku ?!" Tanyanya kesal.


"Ya, aku menyesal. Dan aku marah karna kau terus menggangguku." Jawab Rena gamblang.


Rangga menyeringai.


"Sepertinya kau sangat ingin melakukannya."


"Lalu mengapa ?!" Tanya Rena.


"Sebelum dia melakukannya, maka aku akan melakukannya lebih dulu.


Seperti dia merebutmu dariku, maka aku juga akan merebutmu darinya. Bahakan yang paling berharga sekalipun."


Setelah menyelesaikan ucapannya, ia menindih tubuh Rena dan menciumnya dengan paksa.


Dalam keadaan tidak berdaya, Rena tersenyum kecut dan mengatakan sesuatu yang membuat Rangga semakin marah.


"Hhhhm... ternyata kau bukan hanya brengsek, tapi juga pecundang !!"


Plaaaaak...


Sebuah tamparan yang cukup keras melayang begitu saja dan mendarat di wajah Rena, membuat wajahnya terpental ke samping.


Rena akhirnya terdiam, bahkan ini adalah kekerasan pertama yang diberikan Rangga padanya sejak mereka saling mengenal.


Ia menangis dalam diam. Sedangkan Rangga, ia terus mengemut leher Rena dengan tangannya yang terus meraba paha,perut yang mulus dan kemudian mengecupnya beberapa kali.


Saat hendak ingin melepaskan kancing celananya, tiba-tiba ia mendengar Rena terisak menangis sayu, membuat pandangannya teralih dan menatap wajah yang sudah memerah dengan ujung bibir yang lebam.


Rangga terjatuh menjauh. Dan perlahan mengangkat tangannya yang tidak sengaja menyakiti wajah wanita yang sangat dikasihinya


Tangannya bergetar, matanya kemudian kembali menatap Rena yang terbaring lemas dengan pakaiannya yang sudah setengah terangkat.


Buru-buru ia mendekat dan membantu memperbaikinya.


"Ren, maafkan aku ! aku tidak bermaksud untuk menyakitimu." Ucapnya pelan dengan sejuta rasa bersalah mencoba membatu.


Saat ingin memegang wajah Rena, Rena dengan kasar menepis tangannya. Dan segera bangun.


"Ren, maafkan aku, aku-aku, aku benar-benar minta maaf !" Ucap Rangga dengan iris yang memerah.


Rena menyeka air matanya dan segera berdiri.


"Ren." Ucap Rangga memegang pergelangan tangan Rena mencoba menyekalnya,namun lagi-lagi ia terkejut saat melihat tangan yang putih telah berubah dengan warna memar kebiruan.


Dengan tangan yang masih bergetar, ia melepaskan tangan Rena.


"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi !" Ucap Rena datar dan berjalan pergi dengan sedikit tertatih.


Ia bukan hanya syok, tapi juga sedih dan kecewa atas sikap Rangga.


Sedangkan Rangga, ia hanya terduduk menertawai tindakan kejinya dan menangis atas penyesalannya.


"Aaaaaaarggh... aaaaaaarggh.. " Erangnya dengan sejuta kekesalan atas dirinya sendiri.


Di sisi lain, semua orang telah panik mencari keberadaan Rena dan Rangga saat ini.


Rendy yang sudah mendapat kabar dari Arka memerintahkan anak buahnya untuk mencari di semua tempat. Bahkan di dalam kantor StarLight.


Petugas keamanan-pun tidak sanggup menahan bawahan Rendy. Membuat semua pegawai ketakutan dan berkumpul disudut di setiap ruangan.


"Rangga.. ! Rangga.. !" Teriak Rendy berjalan masuk ke dalam ruangan di dampingi kedua bodyguard nya.


"Ada apa ini ?" Tanya Reno berdiri dari tempat duduknya ketika pintunya berhasil di dobrak dan melihat sosok Rendy yang berjalan masuk.


"Di mana kau menyembunyikan temanmu ?!" Tanya Rendy mengintimidasi.


"Siapa maksudmu ?!" Tanya Reno berbasa-basi.


"Kau tidak perlu bersikap bodoh. Aku tahu kau adalah sahabat Rangga.


Sebaiknya kau katakan saja dimana dia saat ini, sebelum aku menghancurkan kantormu."


"Eh-aku, sebenarnya aku juga tidak tahu posisi dia saat ini." Jelas Reno.


Apa aku boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi ? mengapa anda mencarinya ?" Tanyanya kemudian.


"Dia telah menculik adikku !"


Reno sedikit terkejut mendengarnya, pasalnya Rangga tidak pernah bertindak sangat jauh seperti saat ini.


("Dasar berandal !") Umpatnya dalam hati.


"Cepat hubungi dia !!" Titah Rendy dan memberi isyarat pada bawahannya.


Mata Reno membola saat melihat salah satu bawahan Rendy membawa Dara masuk ke dalam ruangannya dengan pistol yang tertodong di kepalanya.


"Kak Reno." Ucap Dara meringis ketakutan.