Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 134



Rani masih tidak mengerti dengan isi pikiran suaminya, ia terus menatap datar pada pria itu yang kini berbaring di sampingnya.


"Yah, apa maksud kamu ingin menjodohkan Rena dengan Radit ?!" Tanyanya mengintrogasi.


"Memangnya kenapa ? bukankah Radit juga adalah pria yang baik ?"


"Baik apanya ? aku tidak setuju."


Jaya kembali duduk dan menatap istrinya tersebut dengan menaikkan alisnya sebelah.


"Mengapa ?"


"Bunda tidak suka. Dia terlihat begitu arogan." Jelas Rani sembari memperbaiki selimutnya.


"Jangan berprasangka buruk pada orang. Bunda mungkin berpikir seperti itu karna belum mengenalnya, mungkin saja dia memiliki hati yang hangat. " Ucap Jaya memperingati.


Reflek Rani menoleh menatap suaminya dengan tatapan tajamnya.


"Jika Ayah masih bersikeras. Jangan pernah lagi tidur di kamar ini." Ancam Rani sembari melemparkan satu bantal kepala pada suaminya, mengisyaratkan suaminya untuk pergi.


"Bun, lagipula Rena sudah berjanji akan menemukan prianya, jadi tidak perlu merasa khawatir." Jelas Jaya mencoba membujuk istrinya.


Rani terlihat menimbang perkataan suaminya.


"Apa kau tidak percaya dengan putrimu ? dia wanita yang pintar dan juga cantik. Tidak sulit baginya untuk menemukan pria idamannya." Jelas Jaya lebih lanjut.


Rani menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembus-nya secara perlahan.


"Baiklah, untuk kali ini Bunda akan mengalah." Ucapnya kemudian membenarkan posisi tidurnya.


Jaya yang mendengar ucapan istrinya tersenyum syukur, akhirnya Rani tidak jadi menyuruh-nya untuk tidur luar. Dengan cepat ia memperbaiki posisi tidurnya,mematikan lampu, kemudian memeluk istrinya itu dengan erat.


•••


Beberapa hari telah berlalu setelah percakapan itu terjadi. Rena yang duduk di dapur klinik dengan secangkir kopi di tangannya terlihat termenung memandang ke arah taman mini yang berada tepat di samping ruangan tersebut.


Menikah, adalah satu-satunya hal yang sangat di hindari Rena untuk saat ini. Ia masih merasa trauma dengan rencana pernikahannya yang sebelumnya selalu gagal. Lalu bagaimana jika kali ini dia gagal lagi ?


Sekali lagi dia terlihat menghela nafasnya lelah. Dia sangat sadar kalau umurnya saat ini sudah tidak lagi muda , dan bulan depan umurnya akan genap 33 Tahun.


Siapa yang akan mau menerima dirinya ? sementara di luar sana masih banyak gadis-gadis yang baru saja memulai karirnya dengan usia jauh lebih muda darinya.


Dan sekali lagi dia menghela nafasnya pelan.Tanpa dia sadari dr.Dewi sedari tadi telah memperhatikannya sedari tadi.


"Ekheeem.." Dewi berdehem membuat suara agar atasannya itu tidak begitu terkejut.


"Eh, dr.Dewi ?!" Sapa Rena ngeh, saat tersadar dan melihat Dewi yang sedang membuat secangkir kopi.


"Apa dokter punya masalah ?" Tanya Dewi yang kini berdiri tepat di samping Rena sembari mengaduk kopinya yang baru saja ia seduh dengan air panas.


"Tidak." Jawab Rena menggeleng pelan.


"Lalu mengapa dokter akhir-akhir ini terlihat sering melamun ? apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran dokter ?"


Rena sedikit tersenyum, ia tidak menyangka kalau wanita di sampingnya kini ternyata telah memperhatikannya. Untuk sesaat dia terdiam, berfikir apakah dia harus membagi masalahnya pada orang lain ?


"Jika dokter tidak berminat untuk bercerita, saya tidak masalah. Tapi jika suatu saat dokter butuh teman untuk berbagi, saya siap untuk mendengarnya. Menyimpan masalah sendiri tidak akan menyelesaikan masalah." Ucap Dewi dengan senyum kemudian menyesap kopinya secara perlahan.


Rena kembali berfikir. Jika tidak bercerita, dirinya belum tentu bisa mendapatkan solusi yang tepat.


"Sebenarnya aku sangat malu jika mengatakan hal ini, Ayahku menodongku untuk segera menikah." Jelas Rena dengan senyum yang sedikit di paksakan.


Dewi yang tidak begitu tahu dengan masalah kehidupan ataupun percintaan atasannya itu tersenyum ringan.


"Lalu apa yang membuat dokter bingung ? lagipula aku juga berfikir dokter memang sudah seharusnya untuk menikah."


"Dengan siapa ? kekasih-pun aku tidak punya." Jawab Rena kembali tersenyum paksa menatap bawahannya tersebut sedikit malu.


Mata Dewi terlihat membola setelah mendengar pengakuan Rena. Dia tidak menyangka bahwa dokter cantik yang menjadi atasannya itu ternyata tidak memiliki kekasih.


"Maaf dokter, aku tidak bermaksud-"


"Tidak mengapa." Sela Rena dengan cepat kemudian menyesap kopi yang sedari tadi terpatri di tangannya.


"Sebenarnya yang lebih membuatku pusing adalah, Ayahku hanya memberiku waktu dua bulan untuk menemukan lelaki yang siap menikah denganku. Jika tidak, maka aku harus menerima perjodohan dengan putra dari teman bisnisnya." Jelas Rena, kali ini ia hanya menatap isi gelasnya dengan tatapan kosong.


"Bagaimana kalau dokter ikut kencan buta saja ? atau dating apps ?" Ucap Dewi memberi saran.


Seketika Rena menatap Dewi dengan mata yang berbinar.


Dewi hanya tersenyum menatap tingkah atasannya tersebut.


"Aaah,, betapa bodohnya. Aku sampai pusing hanya memikirkan masalah ini. Kau memang benar, menyimpan masalah sendiri tidak akan menyelesaikan masalah." Ucap Rena lebih lanjut.


Dewi hanya menanggapinya dengan senyum.


"Kalau begitu aku permisi dokter." Ucap Dewi undur diri dan hanya mendapat anggukan senyum dari Rena.



Disisi lain, Mariah baru saja masuk kedalam ruangan kantor milik Rangga.


Rangga yang sudah mendapat pemberitahuan lebih dulu dari sang asisten sudah berdiri menyambut kedatangan Ibunya.


"Mah.." Sapanya.


Mariah tersenyum dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.


"Apa kau sibuk ?" Tanyanya setelah mendaratkan bokongnya dengan Rangga yang kini juga telah duduk di sampingnya.


"Seperti yang mamah lihat, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Bagaimana dengan Reno ? kapan dia berencana untuk kembali ? mamah sudah tidak sabar ingin melihat bayinya."


"Entahlah mah, mungkin sekitar dua Minggu lagi." Jawab Rangga sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sembari menutup matanya karna merasa lelah menatap layar laptop begitu lama.


"Apa kau sudah makan ?" Tanya Mariah menatap putranya prihatin.


Rangga hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu ayo makan dulu." Ucap Mariah sembari mengeluarkan kotak makan yang dibawanya.


Rangga kemudian membuka matanya kemudian perlahan mengambil sendok dan menyantap makanan tersebut dengan lahap.


.


.


.


"Kapan kau akan menikah ?" Tanya Mariah menatap putranya ketika Rangga baru saja menyelesaikan makannya.


Pertanyaan itu lagi, pertanyaan itu membuat dia terus berusaha menghindari Ibunya. Apalagi setelah mengetahui Dara telah melahirkan seorang putra, Ibunya itu terus menodongnya untuk segera menikah dengan alasan mereka yang sudah semakin tua dan sangat ingin menimang seorang cucu.


"Nanti, kalau sudah ketemu jodohnya." Jawab Rangga malas.


"Bagaimana mau ketemu jodoh kalau kamu-nya yang tidak mau ? Mamah sudah memperkenalkan-mu dengan banyak wanita, tapi kau selalu saja memperlakukan mereka dengan dingin."


"Apa mamah masih punya keperluan ? aku harus bekerja." Ucap Rangga mengubah topik, mencoba kembali lari dari todongan Ibunya.


Mariah menghela nafasnya kasar. Ia terlihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya kemudian meletakkannya di atas meja.


"Mamah sudah memutuskan. Mamah akan menjodohkanmu, kau hanya perlu memilih satu dari ketiga foto tersebut, dan Mamah akan mengenalkannya padamu."


Rangga melirik sekilas lembaran-lembaran foto yang berjejer di atas meja.


"Mah.. apa tidak ada yang lain ? semuanya terlihat biasa saja."


"Jangan mengada-ngada Rangga. Mereka adalah pilihan terbaik dari semua yang pernah mamah kenalkan kepadamu."


Rangga menghela nafasnya berat.


"Sepertinya selera mamah semakin buruk." Umpatnya pelan.


"Rangga." Seru Mariah kesal.


"Begini saja, aku berjanji akan mencari calon menantu untuk mamah, asal dengan syarat mamah harus berhenti menodongku seperti ini." Ucap Rangga.


"Baiklah, mamah akan menunggu. Tapi kau harus ingat, jika sampai tahun depan kau juga belum mengenalkan wanita pilihanmu pada Mamah, maka kau harus menerima apa-pun yang menjadi keputusan Mamah."


"Okay. Siap." Jawab Rangga bersemangat kemudian memberi isyarat bahwa Ibunya segera pulang. Jika tidak, dia tidak akan bisa bekerja.


Setelah kepergian Ibunya. Dia menutup kembali pintu dan menghela nafasnya pelan. Ia berjalan dan kembali menatap foto-foto yang tadi di berikan oleh Ibunya.


Ketiganya sebenarnya gadis-gadis yang cantik dan tentunya masih sangat muda, tapi entah mengapa dia tidak bisa merasakan apapun, semuanya terlihat biasa saja di matanya.


"Mereka bahkan tidak bisa menandingi kecantikan Rena." Ucapnya lirih, kemudian membuang foto-foto tersebut ke tempat sampah.