
Saat ini Rena yang berbaring terlentang dia atas pembaringannya. Memikirkan hal yang di laluinya semalam.
Dengan mengingatnya saja mampu membuat seluruh tubuhnya kembali meremang.
"Oi.. apa ini ?!" Serunya, kemudian terduduk.
Pikiran itu terus menghantuinya sejak ia kembali ke kamarnya semalam.
Dengan cepat ia berlari ke kamar mandi, menyalakan keran di washtavel dan membasuh wajahnya beberapa kali.
"Mengapa pikiranku jadi sekotor ini ?!" Umpatnya pelan sembari memukul-mukul kepalanya.
.
.
Hingga ia kembali ke kamar dan duduk di depan monitornya. Butuh beberapa waktu kemudian jari jemarinya menari dan mengetik sesuatu.
Ya, itu sebuah website yang memuat beberapa artikel tentang seputaran sex.
Matanya menari mencermati setiap kata yang terlampir di layar monitor tersebut.
Ia kembali terhanyut dalam lamunannya, dan kembali teringat di momen saat Arka telah siap dan merasa sesuatu yang sngat keras menubruk bibir bawahnya.
Rena menggigit bibir bawahnya pelan.
Saat di America ia sering mendengar teman asramanya bercerita pengalamannya saat bercinta dengan pacarnya, dan terkadang ia biasa membaca artikel serupa, ia hanya tidak menyangka rasanya akan seperti itu.
Sebenarnya alasan yang membuatnya meninggalkan Arka semalam.
Flashback On.
Rena terlihat gelisah dengan tubuhnya yang menggeliyat. Dan Arka yang merasa Rena semakin menikmati cumbuannya tidak ingin membuang kesempatan. Dirinya juga sudah terasa sangat ereksi hingga ia dengan cepat mengarahkan juniornya.
Baru saja ia menyentuhnya sekali, Rena membuka matanya dan dengan cepat mendorong tubuh Arka dengan sangat keras.
Arka yang tidak bersiap akan hal itu tentu saja dengan gampangnya terpental ke samping.
"Ren.. !" Ucapnya sedikit terkejut.
"Maafkan aku..!" Ucap Rena segera memperbaiki bathrobenya dan kemudian berlari keluar dan kembali ke kamarnya.
Dan dengan cepat masuk ke kamar mandi, ia merasa ada sesuatu yang ingi keluar, itu seperti dia ingin buang air kecil.
Perasaan ini adalah yang pertama kalinya baginya, ia tidak ingin mengacaukan pengalaman pertamanya dengan buang air kecil di tempat tidur.
Tapi setelah mencoba mengeluarkannya, ia bingung mengapa keluarnya hanya sedikit ?
Setelah itu ia kembali ke kamarnya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa tubuhnya masih ingin menikmati sensasi itu, tapi dirinya merasa sangat malu jika harus kembali ke kamar itu.
"Aaah.. apa ini ?" Ia menggigit bibir bawahnya.
Ketika ia ingin membuka pintu kamarnya, ia kembali terhenti.
("Apa kau gila ? apa kau sudah tidak memiliki rasa malu ?!") Umpatnya
Ia terus mondar-mandir di dalam kamarnya, yang sebenarnya saat ini Arka tengah berdiri di depan pintu kamarnya, berharap Rena membuka pintu dan kembali menemuinya.
Rena yang merasa batinnya meronta, hanya bisa menghilangkan kegelisahannya dengan berguling di tempat tidurnya.
Sedang Arka yang sudah merasa capek menunggu lama akhirnya kembali ke kamarnya dengan keputus asaan.
Flashback off.
"Apa yang sedang kau lihat ?"
Suara itu mengagetkan Rena dan membuat jantungnya terasa ingin lepas dari tempatnya.
Dengan cepat ia menggerakkan mousenya.
"Bisakah kakak mengetuk dulu sebelum masuk ?!" Kesalnya.
"Sudah terlanjur, aku sudah masuk dan melihatnya." Jawab Rendy menggoda adiknya.
Membuat wajah Rena terasa panas memerah karna merasa malu. Ia tertangkap basah.
"Apa maksudmu dengan melihatnya ?!"
Rendy mendekatkan wajahnya dan semakin ingin menggoda adiknya.
"Katakan padaku, apa kalian melakukannya ?" Terka Rendy.
"Apa maksudmu ? apa yang aku lakukan ?!" Rena mencoba menutupi.
Melihat kegugupan adiknya, Rendy semakin curiga dan semakin ingin tahu.
"Pasti terjadi sesuatu dengan kalian berdua sewaktu di villa bukan ?!"
"Memangnya apa yang terjadi ?"
Rena semakin tersudut.
"Apa aku perlu menjelaskannya ? atau apakah aku harus menanyakannya langsung pada Arka ?!"
Rena tidak tahan lagi, ia memukul kepala Rendy dengan buku tebal yang ada di atas meja.
"Hei... !! " Serunya
Buk..buk..buk..
"Aakh.. baiklah.. maafkan aku !" Seru Rendy dan bergegas berlari keluar dari ruangan tersebut.
Di luar ruangan ia terus mengusap kepalanya yang terasa sakit.
Matanya menelisik bahwa sesuatu telah terjadi, hingga ia teringat sesuatu dan cepat-cepat kembali ke kemar adiknya.
Baru saja ia membuka pintu, Rena segera melemparinya beberapa buku.
"Maafkan aku, aku hanya lupa memberitahumu kalau Bunda menyuruhmu segera kembali ke rumah.
Setelah menyampaikannya ia dengan cepat menutup pintu.
"Aaaah.. yang benar saja ! dimana sifat lembutnya yang dulu ?! semakin lama dia semakin tidak menghormatiku !" Umpatnya terlihat putus asa dan melangkah pergi.
•••
Kediaman Atmajaya.
Pukul 20.30.
"Bund..!" Sapa Rena saat melihat Ibunya duduk di sofa bersama Ayahnya.
Rani yang mendengar suara putrinya segera berdiri dan menghampiri anak semata wayangnya itu.
"Mengapa baru pulang ? kau dari mana saja ? apa kau tidak tahu Bunda sangat mengkhawatirkanmu !" Ucap Rani seraya memeluk putrinya dan mengajaknya duduk bersama.
Rena memegang kedua tangan Ibunya.
"Maafin Rena Bun.. !" Ucapnya dengan nada bersalah.
Baru saja ia memeluk putrinya, ia kini mencubit putrinya dengan gemas dan kesal.
"Dasar anak nakal, kau bahkan sudah sebesar ini tapi masih membuat Bunda merasa khawatir ! Mengapa kau tidak pernah memberi kabar ? apa kau sudah menganggap Bunda tiada ?!" Murkah Rani.
"Aaaw Bun.. maafkan aku, tapi itu sangat sakit." Rintih Rena kemudian berpindah mendekati Ayahnya.
Namun kelihatannya Ayahnya juga terlihat kesal dan tidak mempedulikannya.
Rani terdiam, ia tahu kalau saat ini suaminya juga sama kesalnya dengannya.
Rena menoleh ke arah Ibunya dan Rani dengan cepat memberi isyarat agar dia segera meminta maaf.
Rena yang cepat merespon segera berlutut di lantai dan memegang lutut ayahnya, ia tahu kesalahannya kali ini sangat fatal. Dia bukan hanya mempermalukan nama besar keluarganya, tapi juga membuat status Ayahnya di pertanyakan di dalam perusahaan.
Ia sangat tahu, ada beberapa dewan direksi yang tidak suka pada Ayahnya dan berusaha mendorong Ayahnya ke jurang kehancuran.
"Ayah.. maafkan aku.. !" Ucap Rena dengan suara merendah.
Butuh beberapa saat untuk Jaya bersuara.
"Eeekhemm..!" Dehemnya.
Mendengar dehemannya yang keras saja membuat Rena langsung menundukkan kepalanya.
"Apa kau tahu seberapa besar kesalahanmu ?!" Ucap Jaya datar.
Rena terdiam. Ia tahu, semakin dia membuat alasan semakin Ayahnya tidak suka dan murkah.
"Mulai saat ini kau tidak bolehkan berkeliaran di rumah kakakmu dan selain jam kerja kau hanya harus berada di rumah !" Titah Jaya.
Satu lagi, Ayah akan mempercepat pernikahanmu dengan Arka. Ayah tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi !" Imbuhnya kemudian beranjak pergi meninggalkan dua wanita yang sedikit terkejut mendengar keputusan darinya.
.
.
Rani dengan cepat membantu putrinya kembali duduk di sofa dan mencoba menenangkannya.
"Apa kau tidak apa-apa ? Bunda tahu kau sedikit terkejut mendengar keputusan Ayahmu." Ucap Rani.
Bunda juga sama terkejutnya denganmu !" Imbuhnya.
Rena menoleh menatap tanya pada Ibunya.
"Apa sebelumnya Ayah belum membicarakan hal ini pada Bunda ?!" Tanya Rena.
Rani menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi Bunda sangat yakin kalau Ayahmu mengambil keputusan yang benar." Jawabnya.
Rena menganggukkan kepalanya mengerti.
"Hanya saja aku merasa belum siap untuk menikah." Ucapnya lirih.
"Em ? mengapa ? bukankah saat ini kalian telah menjalin suatu hubungan ?" Tanya Rani tidak mengerti.
"Bagaimana Bunda mengetahuinya ?" Tanya Rena menatap Ibunya, ia yakin dirinya belum pernah membicarakan tentang hubungannya saat ini dengan Arka pada Ibunya.
Rena sedikit mengangkat alisnya sebelah.
"Aaa.. itu benar, Ka' Rendy tidak pernah bisa menyimpan rahasia pada Bunda !"
Rani tersenyum.
"Sekarang katakan pada Bunda, mengapa kau ragu untuk menikah dengannya ? bukankah dia seharusnya menjadi calon yang sempurna untukmu ?!" Tanya Rani.
"Ya, itu benar. Dia memang sempurna untuk di jadikan suami, tapi-- "
"Apa kau takut pernikahanmu akan berantakan seperti sebelumnya ?" Terka Rani.
Rena terdiam, itu adalah pengalaman menikah yang menyakitkan baginya.
"Tenang saja sayang, Ayah dan Bunda tidak akan mengulangi kesalahan yang sama !" Ucap Rani mencoba meyakinkan sembari mengusap rambut putrinya dengan lembut.
"Maafkan Ayah dan Bunda karna memberimu bekas luka yang dalam dengan pengalaman seperti itu." Imbuhnya.
Rena terlihat tersenyum kecut kemudian menganggukkan kepalanya, dan akhirnya membenamkan dirinya dalam dekapan Ibunya.
"Itu bukan kesalahan Ayah ataupun Bunda, mungkin itu sudah menjadi takdirku karna mencintai lelaki yang salah." Jawabnya dengan lirih.
Di sisi lain Rendy yang mengantar Rena kembali, telah melihat kejadian itu dari kejauhan hanya bisa tersenyum puas dan kemudian berjalan menemui Ayahnya di ruang kerja.