Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 143



Untuk beberapa saat Rangga terus menatap Rena dalam diam, membuat Rena sedikit merasa risih dengan tatapan tersebut


"Ekhm.. kenapa kau menatapku seperti itu ?" Tanyanya sedikit berdehem mencoba menetralkan suasana.


Rangga mengerjapkan matanya, kemudian melepaskan rangkulan Rena dengan lembut, membuat Rena hanya bisa mengangkat alisnya tidak mengerti.


"Jangan seperti ini, kita bisa celaka."


Membuat Rena akhirnya kembali memperbaiki duduknya seperti semula.


"Lalu ada apa dengan tatapanmu itu ?" Tanyanya sembari memakai sabuk pengamannya kembali.


"Tidak, aku hanya sedikit merasa risih jika kau terus seperti tadi."Rangga berusaha menjelaskan dengan lembut agar Rena tidak marah atau salah paham terhadapnya.


"Kenapa ? aku pikir kalian para pria akan senang jika...


Akh.. sudahlah tidak perlu di bahas lagi." Akhirnya Rena mengambil ponselnya, mengalihkan perhatiannya dan tidak ingin menanggapi lagi.


Membuat Rangga menjadi merasa bersalah, sebenarnya apa yang di katakan Rena memang ada benarnya. Lelaki mana yang tidak suka di rayu seperti itu ? apalagi oleh istrinya sendiri.


Yang salah sebenarnya adalah dirinya, ia tidak pernah bisa menghapus bayang-bayangan Arka yang selalu ada di antara mereka sejak mereka SMA. Apalagi semenjak Rena memutuskan menjalin hubungan dengan lelaki itu.


"Maafkan aku." Pintanya dengan tulus.


"Untuk apa ?"


"Segalanya."


"Kalau begitu, bisakah kau menjelaskan padaku mengapa kau merasa risih ? apa aku membosankan ?" Cecar Rena yang kini menatap Rangga meminta penjelasan.


Rangga meneguk salivanya ragu.


"Sejujurnya aku merasa semakin tidak mengenalmu jika kau seperti itu, aku merasa kau bukan Renaku yang dulu lagi.


Aku merasa kau seperti orang yang berbeda." Jawab Rangga hati-hati. Meski tidak ingin, ia harus tetap menjelaskannya agar tidak menjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan.


Rena mencoba mencerna segala ucapan suaminya. Ia tidak menyangka keinginannya untuk bermain-main malah membuat Rangga berpikir sejauh itu tentangnya.


"Maaf kalau begitu." Ucap Rena singkat dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela yang ada di sampingnya.


"Apa kau marah ?" Tanya Rangga.


"Tidak. Aku hanya sedikit kecewa, ku pikir kau mengenalku lebih baik dari siapapun. Nyatanya aku salah, dan mungkin tidak seharusnya kita menikah." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Membuat Rangga yang mendengarnya semakin merasa bersalah, dan menyadari jika dirinya terlalu egois. Mereka sudah lama berpisah, sepuluh tahun yang ia lewatkan tentu saja berbeda dengan Rena.


Gadis yang dulu dikenalnya jutek dan manja tidak mungkin tidak berubah dalam jangka waktu selama itu.


"Ren.." Sapanya dengan lembut.


"Bisakah kita melanjutkan perjalanan saja ? aku yakin mamah pasti sudah menunggu."


Untuk sesaat Rangga terdiam, namun di menit berikutnya dia akhirnya menyalakan kembali mesin mobilnya dan melaju.


Tidak ada percakapan setelahnya, hingga akhirnya mereka tiba di kediaman Aberald.



Kediaman Aberald.


"Mah.." Sapa Rangga saat memasuki ruang tamu bersama Rena.


"Kalian sudah datang ?"Sambut Mariah antusias dan segera berdiri menyambut kedatangan mereka.


Ia berjalan menghampiri Rena dan memeluknya dengan hangat.


Rena yang menyambut pelukan Mertuanya sedikit terkejut saat melihat Ibunya juga ternyata berada di kediaman ini.


"Ayo, mamah sudah dari tadi menunggumu." Ajak Mariah antusias dan mempersilahkan Rena untuk duduk.


Sedangkan Rangga, ia masih berdiri mengamati interaksi Ibu dan istrinya.


"Mah, kalau begitu aku ke atas dulu."Pamit Rangga.


Bund.." Sapanya kemudian pada Rani, dan berlalu setelah mendapat anggukan dari kedua Ibunya. Sedang Rena, ia hanya bisa menatap punggung suaminya yang menjauh dan menghilang di balik tembok pemisah.


"Bunda.." Sapa Rena kemudian mengalihkan pandangannya pada Ibunya.


"Sini sayang.." Ajak Rani sembari menepuk sofa yang ada di sebelahnya.


Rena mengerutkan alisnya namun masih mengikuti perintah Ibunya.


"Ada apa ? kenapa Bunda bisa ada disini." Tanya Rena akhirnya.


"Tunggu disini, Mamah punya kejutan untukmu."


Oh, sebaiknya kau menutup matamu okay." Titah Mariah antusias dan diikuti Rani.


"Okey.." Ucap Rena menutup mata dengan senyum.


Oh,,, aku sangat penasaran,memangnya ada apa ?" Tanyanya lagi.


"Nanti kau juga akan tahu." Jawab Rani yang masih duduk di sebelahnya.


Satu..


Dua...


Tiga...


Surprise....


Ucap Mariah dan Rani bersamaan.


Rena membuka matanya secara perlahan. Namun matanya seketika berbinar, saat melihat gaun pengantin yang terpajang sempurna di sebuah patung manusia.


Rena tidak bisa mengatakan apapun. Buatnya, gaun ini terlalu indah. Ia beranjak dari tempatnya duduknya, dan memperhatikan setiap inci dari gaun tersebut dari dekat.


"Mah," Ucap Rena.


"Ada apa sayang ? apa kau tidak menyukainya" Tanya Mariah cemas.


"Ah bukan, aku sangat menyukainya." Jawab Rena.


"Benarkah ? syukurlah kalau begitu." Mariah menghela nafasnya lega.


"Tapi, tidakkah ini terlalu berlebihan untukku ?" Tanya Rena masih menatap lekat gaun yang ada di depannya.


Mariah dan Rani saling menatap satu sama lain, namun pada menit berikutnya Rani akhirnya ikut berdiri dan angkat suara.


"Siapa bilang gaun ini berlebihan untukmu ?" Tanya Rani berjalan mendekati putrinya.


"Sekarang kau bukan hanya putri dari Atmajaya, tapi juga putri dari keluarga Aberald. Kau pantas mendapatkannya bahkan lebih dari ini jika kau mau.


Kami semua ingin yang terbaik untukmu dan Rangga di hari resepsi pernikahan kalian nanti." Jelas Rani dengan lembut.


Rena terlihat berfikir dan diam untuk sesaat.


"Emm baiklah, kalau Rena tidak suka, Mamah akan merancang gaun yang lain untukmu sesuai yang kau inginkan." Timpal Mariah akhirnya, walaupun jauh di lubuk hatinya dia merasa sedikit kecewa.


Gaun itu sebenarnya sudah lama di buatnya, sejak Rangga mengatakan niatnya untuk menikahi Dara hanyalah sebuah kepalsuan.


Sejak saat itu Mariah kembali berharap, agar putranya kembali memperjuangkan Rena, sama seperti sebelumnya.


Rena menatap dalam mata Mariah, ia tahu wanita itu pasti merasa kecewa, tapi pernikahan tiba-tiba dirinya dan Rangga belum tahu bagaimana kedepannya.


"Baiklah, aku akan memakai ini. Tapi, tidakkah ini terlalu cepat ? aku dan Rangga bahkan belum mengurus surat-surat yang di perlukan."


Rani dan Mariah tersenyum.


"Kau tidak perlu khawatir sayang, cukup nikmati waktumu dengan Rangga, sisanya berikan semuanya pada kami." Ucap Rani meyakinkan.



Di dalam kamar, Rangga duduk termenung sendiri memikirkan pertengkaran pertama dirinya dan Rena setelah menikah.


Bahkan ia melempar jasnya ke sembarang arah dengan dasi yang melonggar masih setia menggantung di lehernya, dan beberapa kancing kemeja bagian atasnya yang sudah terbuka.


"Mengapa jadi seperti ini ?" Lirihnya merasa kacau, pasalnya semua yang terjadi tidak sesuai dengan yang diinginkannya selama ini.


"Aku hanya sedikit kecewa, ku pikir kau mengenalku lebih baik dari siapapun. Nyatanya aku salah, dan mungkin tidak seharusnya kita menikah."


Kata-kata Rena terakhir kali benar-benar sukses membuatnya sakit kepala. Ia mengacak rambutnya frustasi.


Hingga suara ketukan pintu membuatnya tersadar dan mengalihkan perhatiannya pada daun pintu yang perlahan terbuka menampilkan wanita yang sedari tadi dipikirkannya.


Rena masuk dan menutup kembali pintu, kemudian berjalan menuju sofa di mana Rangga sedang duduk seakan tengah memikirkan sesuatu.


Merasa di abaikan, Rena meletakkan tasnya dan bermaksud ingin ke kamar mandi, namun seketika Rangga bersuara, membuat langkah kakinya terhenti.


"Kita perlu bicara." Ucap Rangga datar.


Rena berbalik menatap Rangga sarkastik.


"Aku ingin bertanya satu hal, tapi berjanjilah bahwa kau tidak akan marah." Imbuhnya masih dengan wajah yang tertunduk.


"Jujur, apa kau pernah melakukannya dengan Arka ?" Tanya Rangga menengadah menatap Rena yang masih dengan posisi berdiri menatapnya.


("Melakukan ? apa maksudnya ?") Batin Rena, namun menit berikutnya ia mengembangkan senyum nakalnya kemudian berjalan perlahan mendekat ke arah suaminya.


Rena memilih duduk di atas meja hingga posisi mereka saling berhadapan. Untuk sesaat Rena menatap wajah frustasi suaminya.


("Apa karena hal itu dia jadi berpikiran jauh tentangku ? dasar suamiku yang bodoh.")


Melihat senyuman Rena, didalam hati Rangga bertanya-tanya, kali ini apalagi yang akan di lakukan istrinya ?


Tanpa diduga Rena mengangkat satu kakinya dengan kedua tangannya yang masih menopang tubuhnya, perlahan menyentuh lembut dada suaminya hingga paha putihnya terekspos dengan sempurna.


Bahkan mungkin saja Rangga bisa melihat dalaman apa yang dikenakan istrinya hari ini, mengingat Rena memakai gaun pendek yang panjangnya hanya selutut.


"Kalau begitu, kenapa tidak mencobanya saja ?" Pancing Rena.


Rangga memincingkan matanya,perlakuan Rena di mobil tadi saja belum bisa ia lupakan, di tambah dengan posisi Rena yang seperti ini, bagaimana bisa ia menahannya ?


Dengan cepat tangan kekarnya memegang telapak kaki Rena kemudian ia berdiri lalu membungkuk hingga wajah mereka berjarak dengan sangat dekat sembari menekuk lembut lutut istrinya, mengambil alih permainan.


"Mengapa kau selalu saja memancing amarahku ?" Ucapnya dengan rahang yang mengeras.


Rena tidak bisa menampik bahwa ia sedikit terkejut dengan gerakan Rangga, matanya bahkan masih membola menahan deru nafasnya karena shock.


Hingga menit berikutnya matanya mengerjap singkat mencoba menetralkan suasana jantungnya.


"Aku harus mandi." Ucapnya meletakkan tangannya di dada suaminya agar memberi jarak.


"Terlambat, kita bisa melakukannya nanti." Jawab Rangga dengan tangannya yang perlahan bergerak menyapu lembut paha istrinya.


"Rangga, aku hanya bercanda." Jujur Rena dengan suara lirihnya.


Namun Rangga tidak lagi menanggapi, ia semakin mendekatkan wajahnya dengan tangannya yang masih bergerilya di paha mulus istrinya.


Braaak...


Bruuukh...


Mata keduanya reflek menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar dengan kedua Ibu mereka yang jatuh tersungkur ke lantai.


"Mah.."


"Bun.." Ucap mereka secara bersamaan.