Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Dilema



Lima Tahun Kemudian.


...Kembali ke masa kini...


Sebulan telah berlalu setelah kecelakaan itu, namun Rangga belum juga memberi tanda akan sadarkan diri dari koma nya.


Rena yang baru saja istirahat dari jam kerjanya terlihat melepas seragamnya dan bergegas keluar dari Rumah Sakit.


Sebelumnya ia telah membuat janji pada Rendy untuk menikmati secangkir coffe di cafe yang letaknya bersebrangan dari Rumah Sakit tempatnya bekerja.


Setibanya di sana, ia memesan secangkir latte dan memilih duduk di kursi yang ada di pojok ruangan.


(Suara panggilan telfon)


"Halo kak ?!"


"Rena, maaf. Kakak mungkin akan sedikit terlambat, ada beberapa pekerjaan yang harus kakak selesaikan, tidak apa kan ?"


"Oh, ya-tidak masalah, aku akan menunggu." Jawab Rena tenang.


"Baiklah, aku menyayangimu." Ucap Rendy kemudian memutuskan sambungan telfon.


Tut. Telfon terputus.


Rena meletakkan ponselnya,kemudian menyeruput secangkir coffe yang ada di tangannya lalu meletakkannya kembali. Ia sedikit termenung sembari menikmati sensasi coffe yang yang masih terasa hangat di tenggorokannya.


Tatapannya kosong manakala ia kembali memikirkan bagaimana jika Rangga telah tersadar dari komanya ? apa yang harus ia lakukan ? apakah dirinya saat ini masih mencintai lelaki itu ataukah hanya sebuah perasaan ibah ketika melihat lelaki itu kini terbaring tak berdaya di sebuah bangsal.


Jujur saja, sejak pertemuan mereka kembali, Rena harus kembali merasakan dilema di dalam hatinya. Apalagi sejak mendengar penjelasan singkat dari Ibu Mariah.


Cukup lama ia terdiam hingga sebuah tangan kekar yang mengusap pelan ubun kepalanya berhasil membuyarkan lamunannya.


"Eh-kak ?!" Ucap Rena sedikit terkejut


"Apa yang kau fikirkan ?" Tanya Rendy.


"Tidak, hanya masalah pasien !" Dalih Rena.


Rendy memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.


"Benarkah ?" Ucapnya sedikit merayu dengan senyum jahilnya.


"Emm !" Jawab Rena dengan anggukan.


Apa aku terlihat sedang berbohong ?" Tanyanya.


"Hmmp baiklah, jika kau tidak ingin bercerita." Pasrah Rendy. Walau ia sebenarnya tahu jika adiknya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Lalu katakan padaku, mengapa kau tiba-tiba mengajakku untuk bertemu ?" Tanyanya masih dengan senyum jahilnya.


"Apa aku tidak bisa lagi bersantai denganmu ?" Tanya Rena balik.


"Yaaa, boleh dibilang seperti itu." Jawab Rendy bersedekap dan menyenderkan punggungnya di kursi.


"Kau tahu sendiri, sejak aku kembali dari AS aku disibukkan dengan beberapa kerjaan di kantor." Jelasnya.


"Hmmp, baiklah. kalau begitu kau pergi saja !" Ucap Rena kesal.


Ekspresi Rena yang kesal, sontak mengundang gelak tawa pada Rendy.


"Hahaa, aku bercanda ! kau terlalu serius menanggapi." Ucapnya mencoba menghibur.


Hening.


Rendy hanya terus memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama. Hingga Rena memberanikan diri mencoba untuk mengutarakan sesuatu yang sudah sebulan ini mengganggu pikirannya.


"Kak ?!" Panggilnya lirih.


"Emmm !?" Jawab Rendy.


"Aku telah bertemu dengannya." Ungkapnya menatap sedih kearah Rendy.


Terlihat Rendy hanya menatap dingin cangkir kopinya dengan tangan yang masih bersedekap.


"Apa dia melakukan sesuatu padamu ?" Tanyanya terdengar mengintrogasi.


Rendy yang selalu terlihat hangat di depan Rena, kini berubah sedikit dingin.


"Tidak !" Elaknya lirih.


Perlahan Rendy menatap sayu gadis yang sudah di anggapnya sebagai adik sejak lama.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Rendy.


Perlahan Rena mencoba menjelaskan bagaimana ia bisa tanpa sengaja menjadi Dokter yang menangani Rangga saat masa kritis hingga harus menjalani oprasi.


"Apa kau tidak memeriksa pasienmu sebelum kau melakukan pekerjaanmu ?" Tanya Rendy sedikit tidak suka.


"Itu oprasi dadakan yang seharusnya dilakukan oleh Dr.Arka. Sebelumnya aku juga sempat melihat beberapa catatan dan nama dari pasien. Aku pikir, itu hanya nama yang sama." Jelasnya.


"Lalu ? sekarang apa yang akan kau lakukan ?!" Tanya Rendy.


Rena tertuduk lemah.


"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Apalagi setelah Tante Mariah mengatakan sesuatu padaku."


"Apa yang dia katakan ?" Tanya Rendy semakin tak suka. Menurutnya, Rangga dan keluarganya sama saja.


"Ia memberitahuku kalau saat itu Monica sebenarnya tidak mengandung anak Rangga, dia di jebak !"


"Lalu, apa kau mempercayainya begitu saja ?" Tanya Rendy.


Rena terdiam, pertanyaan inilah yang membuatnya semakin merasa dilema.


Rendy yang melihat ada keraguan di wajah adiknya hanya bisa menghela nafasnya pasrah.


"Tidak Rena, aku tahu bagaimana keluarga itu melakukan segala cara agar usaha mereka berjalan lancar, aku tidak bisa mempercayai keluarga John begitu saja, dan aku harap kau juga tidak termakan oleh perkataan mereka." Tegas Rendy.


"Aku tahu, tapi... " Ucap Rena menggantung.


"Apa kau masih mencintai lelaki itu ?" Tanya Rendy menebak.


"Aku tidak tahu, apakah ini cinta ataukah hanya perasaan ibah karna melihatnya terbaring seperti itu."


"Lalu bagaimana dengan Arka ? apa kau akan menyia-nyiakan orang yang selama ini berjuang untukmu ?"


Rena bingung harus berkata apa, ia benar-benar dilema akan hatinya.


Rendy perlahan memegang tangan Rena dan berkata.


"Ren, kau tidak harus merasa seperti ini. Aku sudah berjanji akan melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia. Tapi jika dengan kau kembali mencintai Rangga,apa kau yakin akan bisa bahagia ? apa kau tidak takut jika dia akan melakukan kesalahan yang sama seperti lima tahun yang lalu ?


Masalah ini tidak seharusnya membingungkanmu, bukankah ada Arka yang selalu setia menununggumu ?"


"Entahlah, jujur saja sampai saat ini aku masih belum merasakan hal yang sama pada Arka." Terang Rena.


"Tidak masalah jika kau tidak memiliki perasaan padanya. Tapi, apakah kau harus kembali mencintai Rangga ?"


"Aku-tidak tahu kak !" Jawabnya lirih.


"Begini saja, biarkan Arka yang bertanggung jawab atas Rangga saat ini. Dengan begitu kau tidak harus menemuinya." Ide Rendy


Aku tahu kau merasakan dilema saat ini karna setiap hari harus menemui dan memeriksanya."


"Tapi, semuanya mengetahui bahwa akulah yang mengoprasinya, jika terjadi sesuatu padanya, maka itu adalah tanggung jawabku sebagai Dokter.


Aku juga tidak ingin,terjadi rumor kalau aku memilih-milih pasien." Jelas Rena.


"Apa salahnya jika Arka yang mengambil alih pasienmu ? bukankah saat ini dia adalah pimpinan kelompokmu ?!" Tanya Rendy.


"Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya ? apakah Arka yang harus betanggung jawab ?."


"Memangnya apa yang akan terjadi dengan Rangga ? sekarang katakan padaku, selama setelah oprasi dilakukan apakah kondisi Rangga memburuk ?" Tanya Rendy.


Rena menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


"Lalu apa yang kau khawatirkan ? apa kau meragukan kemampuanmu sendiri ?"


Rena terdiam, ia tahu apa yang dikatakan kakaknya semuanya benar. Apa yang harus ia takutkan ? bukankah dia sudah menjadi salah satu Dokter Wanita terbaik di Rumah Sakit itu ?.


"Aku yakin Arka akan mengerti denganmu." Ucap Rendy.


Entah mengapa, setelah mengatakan segalanya dan setelah berdebat dengan kakaknya, Rena merasa beban yang mengganggu pikirannya sedikit hilang.


Walau sebenarnya, perasaannya pada Rangga masih terus mengganjal di hatinya.Namun setidaknya pendapat yang di berikan Rendy sedikit mengurangi dilemanya.