
"Itu tidak mungkin." Elak Reno tak percaya.
Rangga hanya bisa diam menatap Reno.
"Tapi apa yang di katakan Rangga sedikit ada benarnya, selain kita bertiga hanya dia yang mengetahui posisi Rangga yang sebenarnya dalam perusahaan." Sela Dicky membenarkan.
Reno berdiri seolah tak menerima tuduhan yang di berikan kedua sahabatnya.
"Tidak, tidak, itu tidak mungkin." Elaknya sembari menggelengkan kepalanya.
"Kenapa tidak ?!" Tanya Dicky mengerutkan alisnya tak mengerti.
Tapi itu karna dia tidak tahu kalau Reno sebenarnya telah menaruh hati pada Dara, dan hal itu hanya di ketahui oleh Rangga.
"Apa kalian ingat ? Dia pernah menyelamatkan Rangga dari kasus penembakan yang akhirnya melukai dirinya." Ucap Reno masih membela.
"Bisa saja dari awal dia sengaja merencanakannya agar mendapat kepercayaan dari Rangga dan juga dirimu." Jawab Dicky dengan logikanya.
"Itu tidak mungkin, aku mengenalnya cukup baik. Dan kau tidak mengenalnya !" Elak Reno membentak sembari menunjuk ke arah Dicky.
"Lalu apa ? apa kau mempercayainya ? apa hanya karna dia pernah menyelamatkan Rangga maka kita harus mempercayainya ?" Cecar Dicky tak kalah kerasnya membentak. Dan kini ia juga telah ikut berdiri seolah menentang Reno.
Coba kau pikirkan, bagaimana bisa dia melihat penembak itu tepat pada waktunya ? dan kalau memang penembak itu berniat membunuh Rangga, mengapa hanya bagian punggung Dara yang tertembak ? bukan di kepala atau di titik tertentu ? bahkan penembak itu bisa saja menembak tepat di kepala Dara." Cecarnya lebih lanjut.
"Tapi itu tidak mungkin, dia gadis yang lemah dan juga ceroboh, mana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu ?!" Ucap Reno, ia berusaha keras untuk menolak semua kemungkinan yang di katakan Dicky walau di dalam hati kecilnya sebenarnya mulai meragukan Dara.
Rangga yang sedari tadi diam dan duduk mendengarkan pertengkaran mereka akhirnya ikut berdiri dan mencoba menenangkan keduanya.
"Sudahlah, lagi pula kita belum memiliki cukup bukti untuk menyalahkannya." Ucapnya.
"Yang di katakan Rangga memang benar, kita tidak memiliki bukti untuk menyalahkannya." Sambung Reno membenarkan.
Membuat Dicky tersenyum kecut.
"Jangan konyol Ren ! aku tahu kau tidak senaif itu.
Aku tahu kalian memang dekat dengannya, dan hal yang aku takutkan adalah kalian tidak akan pernah mau menerima kenyataan yang sebenarnya." Ucap Dicky kemudian pergi ke ruangan miliknya di apartemen tersebut.
Reno terduduk menghela nafas berat, sedangkan Rangga, dia sebenarnya sangat yakin kalau hal ini memang ada kaitannya dengan Dara. Namun demi menjaga perasaan Reno, saat ini ia harus percaya pada Dara sampai ia benar-benar memiliki bukti.
Ia kemudian berjalan meninggalkan Reno dengan sejuta keraguan yang telah terselip di hatinya.
.
.
Tok,tok,tok
Rangga membuka pintu dan menutupnya kembali. Ia kemudian berjalan mendekati Dicky dan duduk di sampingnya.
"Apa kau juga ingin membela gadis itu ?" Tanya Dicky terlihat kesal.
Rangga tersenyum.
"Ini semua tentangku, mengapa kau yang sangat kesal ?" Tanyanya.
"Aku kesal karna brengsek itu, sejak kapan dia menjadi senaif dan perhitungan seperti itu denganmu ?"
"Dia bukan perhitungan, dia hanya belum bisa menerima."
"Apa maksudmu ? mengapa dia tidak bisa menerima ?" Tanya Dicky menoleh menatap Rangga.
"Karna dia mencintai Dara." Ungkap Rangga tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa ? dia mencintai gadis itu ?" Tanya Dicky sedikit terkejut.
Ini bencana !" Imbuhnya.
"Mengapa ?" Tanya Rangga.
"Kau tahu sendiri, selama ini dia tidak pernah benar-benar mencintai seorang wanita. Jika saat ini dia benar-benar mencintai gadis itu, itu berarti gadis itu adalah cinta pertamanya."
Rangga terlihat mengangguk membenarkan.
"Seharusnya kita lebih teliti mencari tahu identitas gadis itu sejak awal. Agar hal seperti ini tidak pernah terjadi." Sesal Dicky.
Setelah itu, mereka berdua akhirnya terdiam, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
Beberapa menit kemudian.
"Oh ya, bagaimana kau bisa mengetahui posisi kami ? padahal aku dan Reno tidak membawa ponsel." Tanya Rangga kemudian.
"Reno sempat menelfonku setelah tahu bawahan Rendy sedang mencarimu. Tapi aku sedikit terlambat karna masih memiliki beberapa pekerjaan di Lab. Saat aku tiba, aku melihat kalian sudah tidak sadarkan diri dan beberapa orang membawa kalian masuk kedalam mobil."Jelas Dicky mengingat kembali dengan kejadian sebelumnya.
Awalnya aku berfikir bahwa mereka adalah suruhan Rendy, hingga aku sampai di vila tersebut. Dan aku sedikit terkejut mengetahui bahwa pelakunya adalah om Gilbert." Imbuhnya.
"Sekarang kita tidak tahu siapa musuhmu sebenarnya, apakah Atmajaya ataukah Gilbert ! yang jelas mereka berdua adalah orang yang cukup tangguh untuk bisa kita hadapi." Ucap Dicky sedikit mengingatkan.
Rangga hanya terdiam mendengar ucapan sahabatnya.
•••
RS ANUTAPURA.
Anggi yang terbangun, mengangkat pelan wajahnya dan menatap Rena cukup lama dalam diam.
Ada begitu banyak yang ingin ia sampaikan. namun mulutnya terasa kelu dan berat untuk bisa ia ucapkan.
Ia menghela nafasnya kasar. Dan akhirnya meraih tasnya dan pergi dari ruangan tersebut.
Setelah pintu tertutup. Rena membuka matanya pelan, ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Anggi darinya.
Perlahan ia mengeluarkan anting yang tadi di sembunyikankannya di kantong celananya, dan terus memperhatikannya dalam diam.
Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya, hingga rasa penasaran semakin besar meliputinya.
Tanpa berpikir panjang ia dengan cepat bangun melepaskan jarum infus yang masih terpasang di lengannya dan mengganti pakaian yang sudah di sediakan oleh Rendy sebelumnya.
Beruntung Anggi baru saja meninggalkan area parkiran sehingga dengan mudah Rena mengikutinya dengan sebuah taxi, hingga akhirnya berhenti di sebuah bar.
Rena mengerutkan alisnya setelah melihat bangunan tersebut.
("Sejak kapan dia pergi ketempat seperti ini ? bukankah dia tidak biasa minum ?") Batinnya, kemudian membayar ongkos taxinya dan segera keluar mengikuti Anggi yang telah masuk di bangunan tersebut lebih dulu.
Cukup lama ia memperhatikan sahabatnya tersebut. Melihat Anggi yang seperti itu, membuat semakin banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.
("Sejak kapan dia belajar minum alkohol ? dan
Mengapa ? apa yang sedang ia pikirkan ? apa semuanya bersangkutan dengan Arka ? apa dia frustasi karna aku akan menikah dengannya ? tapi bukankah dia mengatakan bahwa dia tidak lagi mengharapkannya ?") Batinnya.
Hingga ia melihat Anggi berbicara dengan seseorang di telfon cukup singkat. Dan setelah telfon terputus Anggi terlihat sedikit sempoyongan berjalan dan keluar dari bangunan tersebut.
Tidak berhenti disitu, Rena yang masih di liputi rasa penasaran kembali mengikuti Anggi, dan kali ini ia menaiki sebuah ojek.
Sebenarnya jauh di dalam hatinya ia merasa sedikit bersalah karna meragukan sahabatnya, tapi ia tidak bisa menolak rasa penasaran yang terus menghantuinya.
Baru saja ia merutuki dirinya sendiri, alisnya berkerut saat melihat lingkungan yang tidak asing lagi baginya.
("Bukankah ini jalan ke apartemen Arka ?") Batinnya.
Anggi masuk ke dalam area parkiran, setelah memarkirkan mobilnya, dengan sempoyongan ia berjalan masuk ke dalam gedung dan masuk ke dalam salah satu lift.
Rena mengikuti dari belakang semakin cepat melangkahkan kakinya dan masuk ke lift yang lainnya.
.
.
Baru saja Anggi masuk ke apartemen Arka, Rena keluar dari dalam lift, ia berdiri cukup lama di depan pintu yang tidak lagi asing baginya, dan berharap apa yang dipikirkannya salah.
Sedangkan di dalam apartemen Arka. Arka berdiri dan menyambut kedatangan Anggi, namun ia sedikit bingung dengan keadaan Anggi yang terlihat sedikit mabuk.
"Ada apa ? apa yang ingin kau tanyakan ?" Tanya Anggi tidak ingin bertele-tele.
"Lupakan saja, apa kau mabuk ?" Tanya Arka terlihat khawatir, pasalnya ini untuk pertama kali ia melihat Anggi seperti itu.
"Itu tidak penting." Jawab Anggi
Dengan langkah yang sempoyongan ia berjalan mendekat ke arah Arka sembari berkata.
"Aku ingin kau menjawabku dengan jujur."
"Apa ?"
"Apa kau---"
Brrrukh..
Anggi tidak dapat melanjutkan kalimatnya, saat kakinya tersandung dan berakhir jatuh di pelukan Arka dan sama-sama terjatuh di atas sofa.
Sedangkan Rena, dengan ragu-ragu ia menekan pin dan membuka pintu.
Betapa tercengangnya dia saat melihat Anggi yang sudah berada di atas tubuh Arka.
Matanya membola dan terlihat berkaca-kaca.
Shock, itulah yang ia rasakan saat ini. Ia berharap apa yang di lihatnya saat ini hanyalah sebuah mimpi dan ia ingin bangun dari mimpi itu secepat mungkin.
"Rena... !!" Ucap Arka dan Anggi secara bersamaan.