Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Sandiwara



Hari terus berlalu dan musim telah berganti. Begitu cepat perputaran waktu, dari hari ke minggu, minggu ke bulan dan bahkan berganti Tahun. Namun ada satu hal yang belum berganti, yaitu Hati. ❤ Entah sampai kapan hati itu akan tetap bertahan. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.


Kediaman Aberald


"Mariah, aku sudah mengajarkanmu sedari tadi, mengapa kau masih terus bertanya ?!" Sahut Rani


Mariah hanya bisa tertawa cekikikan melihat ekspresi Rani,wajahnya terlihat kelelahan akibat ulahnya.


"Ah.. sudahlah, biarkan aku istirahat sebentar !" Sambil melepaskan celemeknya


"Hm baiklah, sebaiknya kau istirahat saja." Sahut Mariah


Sepuluh Menit kemudian


"Tara.. !" Mengejutkan Rani yang masih memejamkan matanya di atas sofa


"Sudah selesai ? cepat sekali ?"


Mariah hanya tersenyum dan segera menyuapi irisan kecil cake ke mulut Rani


"Bagaimana rasanya ?!" Dengan wajah penasaran


"Mmm mm sempurnah ! Namun matanya seketika membola menatap Mariah dengan tajam


Cepat katakan, kau dari tadi mengerjaiku bukan ?!" Imbuhnya


Mariah hanya trrsenyum manis memasang wajah memohon maaf.


"Hmm kau tak perbah berubah, aku jadi ingat saat kita kuliah dulu !" Sambil memperbaiki posisi duduknya


"Ya, dan kau juga tak pernah berubah. Kau selalu saja cepat marah, apa kau tidak takut wajahmu akan lebih cepat menua ?!" Ledek Mariah


"Ya, dan kaulah alasannya mengapa aku selalu marah, kau selalu saja menyusahkanku !" Sambil mencubit pelan lengan Mariah


Ya, Bukan hanya Jaya dan John yang berteman baik saat mereka berkuliah dulu, tapi Mariah dan Rani juga adalah teman baik. Walau umur Mariah sedikit lebih muda dari Rani. Dan pada akhirnya kedua sejoli itu bertemu dengan kedua pria yang saat ini berstatus suami mereka.


Ting Tong


"Sebentar ya Ran !" Ucapnya, Kemudian beranjak dari duduknya


Ceklek


"Siang tante !" Sapa Monica


Mariah tertegun sejenak, ia kebingungan saat ini. Bagaimana jika Rani melihat gadis itu ?


"Tante " Seru Monica, membuyarkan lamunan Mariah


"Ah, Monica, ada apa ?" Tanya Maria gelagapan


"Tidak, aku hanya ingin bertemu Rangga, sudah seminggu ini dia tidak pernah memberiku kabar, aku khawatir padanya. Apa dia baik baik saja ?!" Ucap Monica


"Rangga baik baik saja, mungkin dia sibuk dengan kuliahnya dan lupa mengabarimu." Jelas Mariah


"Lalu, dimana Rangga ? mengapa aku tak melihatnya ?!" Sambil melirik ke setiap arah penjuru rumah


"Em sepertinya tadi dia keluar."


"Benarkah ? tapi tadi aku melihat mobilnya masih terparkir di garasi mobil." Sahut Monica


"Oh itu.. em--" Mariah tak pandai berbohong dia tak tahu berkata apa, agar gadis di depannya segera pergi meninggalkan kediamannya


"Tante, apa tante tidak ingin mengajakku masuk ?! aku sepertinya mencium aroma wangi dari tadi, apa tante sedang membuat cake ?!" Tanya Monica dengan senyum manisnya


"Iya itu-- !" Lagi lagi Mariah tak sanggup menyuruh Monica kembali


Monica segera menyerbu masuk dan menuju area dapur.


"Monica jangan ke-- !" Kata katanya terhenti ketika melihat Rani yang sudah berdiri berhadapan dengan Monica


"Hai tante.. !" Sapa Monica dengan senyum, namun Rani sangat tau menilai senyuman itu. Ya, itulah senyuman sang rubah betina yang selalu merusak hubungan orang lain


Monica kemudian berlalu menuju meja makan


"Wah, apa tante Mariah yang membuatnya ? aku akan mencobanya !


Emm sepertinya tante telah sukses belajar membuat cake !" Imbuhnya


Rani sangat murka melihat gadis itu bertingkah,ia sangat ingin menjambak atau menampar wajah gadia itu.Namun ia harus menahannya. Mariah tak tahu harus berbuat apa.


"Em mon---"


Tak sempat Mariah melanjutkan kalimatnya, Monica langsung berdiri dan berkata


"Tante, aku akan ke kamar Rangga !" Ia segera berlari tanpa menghiraukan tatapan Rani yang sedari tadi sangat ingin memangsanya


"Tapi Mon !" Seru Mariah kemudian ia kembali menatap Rani. Ia sadar ia tak bisa berbuat apa apa


"Ran, "


"Sudahlah, aku pusing, aku pulang dulu !" Sahut Rani


"Tapi Ran, bagaimana jika kau istirahat disini saja !" Ajak Mariah


"Apa kau benar benar ingin melihat kepalaku pecah ?!" Gerutu Rani


"Jangan terlalu emosi ! apa kau tak takut terkena stroke !" Hibur Mariah


"Kau !" ia menghela nafasnya kasar menahan amarah. "Segera urus gadis itu !" Perintahnya lalu meraih tasnya dan melangkah pergi


Rani segera berbalik " Apa kau tak mendengarku ? urus segera gadis itu Mariah !" Kini sudah seperti Titah untuk Mariah


Mariah mengangguk patuh mendengar ucapan Rani.


Ketika Rani memilih untuk pergi, di sisi lain di rumah itu ada Monica yang masih asik menatap lekat wajah tampan Rangga


Ia tak bisa menahan jari jarinya untuk menyentuh hidung yang begitu tinggi dan bibir yang begitu tipis.


Merasa sentuhan di wajahnya, Rangga membuka matanya perlahan. Namun saat mengetahui fakta bahwa Monica kini berada di kamarnya,tidak,faktanya wajah Monica kini sangat dekat dengan wajahnya,sehingga ia bisa merasakan deru nafas yang hangat dari Monica menyerbu seluruh badan Rangga yang tiba tiba meremang, ia segera meneguk kembali salivanya.


"Monica, apa yang kau lakukan !" Rangga segera beranjak dari tempat tidurnya


"Mengapa kau sangat terkejut ? aku hanya ingin membangunkanmu ! Jelas Monica


"Tapi, mengapa kau menatapke sangat dekat seperti tadi ? kau sangat mengejutkanku !" Bentak Rangga


" Maafkan aku Rangga, aku tidak bermaksud membuatmu, Hiks hiks " Ia terisak di sela kalimatnya


Rangga yang melihat itu tak bisa berkata lagi, ia merasa bersalah.Perlahan ia berjalan mendekati Monica dan memegang kedua bahunya


"Mon, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini !"


"Kau membentakku hanya karna aku membangunkanmu ? bukankah sejak dulu aku sering melakukan hal yang sama ?!


Kau telah sangat berubah Rangga, kau tak seperti dulu lagi !" Ia masih terus terisak


"Aku tidak sengaja, aku hanya sedikit terkejut kau tiba tiba berada di kamarku, maafkan aku !"


Tak ingin membuang kesempatan, Monica segera menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Rangga


"Apa sekarang aku juga tak boleh masuk ke kamarmu ? mengapa semuanya telah berubah ?! hiks hiks hiks"


"Sssyut diamlah, berhentilah menangis, ku mohon ! aku tak bisa melihatmu seperti ini !" Rangga mencoba menghibur


Mendengar kalimat itu, sebuah senyuman terukir di bibir wanita itu.


"Sudah seminggu kau tak pernah memberiku kabar, bahkan kau tak pernah membalas pesan atau menjawab telfonku. Aku sangat mengkhawatirkanmu !"


"Maafkan aku, maafkan aku !" Jawab Rangga sambil mengusap pelan ujung rambut Monica


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi berdiri di depan pintu menyaksikan adegan mereka.


"Ekhem ekhem.. Rangga !" Seru Mariah


Rangga yang mendengar suara Ibunya segera melepaskan dirinya dari pelukan Monica


"Ia mah !" Jawab Rangga


"Apa yang kau lakukan ?!"


"Aku, aku hanya ingin menghibur Monica !" Jawabnya


"Mamah tau, tapi jangan melakukan hal ini di dalam kamar, bagaimana jika Rena yang melihatnya ? apa kau ingin dia salah paham lagi terhadapmu ?!" Tegas Mariah


Dan kamu Monica, tante tak pernah melarangmu untuk menemui Rangga, tapi tante mohon sama kamu, jangan melakukan hal seperti ini lagi. Kau sendiri tahu kalau Rangga sudah memiliki calon, tidak sepantasnya kau masuk ke kamar lelaki yang akan segera menikah." Imbuhnya


"Mah, jangan terlalu menyalahkan Monica ! dia hanya telah terbiasa membangunkanku !" Rangga mencoba membela


"Rangga, kau tahu sendiri, mamah juga sudah menganggap Monica sebagai putri mamah sendiri, tapi bukan berarti dia tidak bisa memahami aturan yang ada. Kau akan segera menikah, kejadian seperti tadi bukan hanya akan merusak citramu tapi juga untuknya.. Lelaki mana yang akan mau melirik wanita yang masuk ke kamar lelaki yang akan segera menikah ?!"


"Maaf tante, ini salahku, aku tak akan pernah mengulanginya. Sepertinya aku datang di waktu yang salah !" Sahut Monica sambil menyeka air matanya, ia membungkuk di hadapan Mariah dan segera berlalu pergi


"Mon, Monica !" Panggil Rangga mencoba mencegah,namun Mariah segera meraih tangannya


"Rangga, biarkan dia pergi !"


"Tapi mah, bagaimana jika sesuatu terjadi padanya ?!"


"Rangga, dengar mamah. Kau tidak tahu bagaimana marahnya Tant Rani melihatnya berlari masuk ke kamarmu !" Bentak Mariah


"Apa ? Tant Rani ?!"


"Biarkan Monica pergi, lagian dia sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya. sebaiknya sekarang kau bersihkan badanmu. Mamah akan menunggumu di bawah, ada sesuatu yang harus mamah bicarakan denganmu." Ucap Mariah kemudian pergi meninggalkan Rangga yang masih mematung di tempatnya


•••


Setelah membersihkan diri dan memakai pakaiannya,Rangga segera turun menuju ruang tengah untuk menemui Ibunya


"Mah !" Sapanya kemudian duduk disamping Ibunya


"Apa yang sebenarnya terjadi ? mengapa Monica sampai menangis dan membiarkannya memelukmu ?" Tanya Mariah tak ingin lagi berbasa basi


"Itu, tadinya aku terkejut karna dia tiba tiba berada di dekatku di dalam kamar dan aku secara spontan membentaknya !" Jelas Rangga


"Rangga, kau tahu, selama ini mamah tidak pernah menyalahkan Monica, tapi kau ! kali ini kau harus lebih sedikit berhati hati dengannya, Papah sudah memperingati mamah agar kita berjarak dengannya untuk saat ini."


"Ya, aku juga tahu mah, Rena juga selalu memperingatiku, maka dari itu belakangan ini aku tak pernah berhubungan dengannya. Tapi lihatlah, dia akan datang kerumah untuk mencariku !" Jelas Rangga dengan putus asa


"Hmmp,, Mamah juga bingung harus berbuat apa pada anak itu. Sambil memijat keningnya, ia merasa pusing memikirkan segalanya


Apalagi Rani melihatnya langsung masuk kekamarmu ! mamah tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Rani saat ini !" Imbuhnya


"Aku akan menelfon tant Rani, dan meminta maaf !" Sahut Rangga


"Sebaiknya begitu !" Ia menghela nafasnya kasar "mamah hanya memiliki dirimu, tapi ini membuatku sangat stres." Lirihnya