Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Hampir 21+ Mohon bijak dalam membaca.



Ketika acara telah usai, Rangga mengajak Rena untuk pulang bersamanya, dan Kedua orang tua mereka memilih pulang lebih dulu.


Sejak Rena masuk kedalam mobil, Rangga tidak mengatakan apapun, diam dan terus membisu. Ia sangat ingin menceritakan yang telah terjadi antara dirinya dan Monica, namun dia juga merasa ragu dan takut, takut jika Rena akan pergi meninggalkannya.


"Rangga !" Sapa Rena pelan, dan memegang bahunya.


"Emm !" Ucapnya, yang terkejut dengan sentuhan Rena.


"Ada apa ? apa kau ingin mengatakan sesuatu ?" Tanya Rena


"Emmm" Rangga menundukkan kepalanya, ia benar-benar tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya.


"Hmmmp !" Rena menghela nafasnya kasar, dan menyandarkan tubuhnya di sandaran jok.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku ?" Ucapnya datar.


Rangga yang mendengar nada bicara Rena, semakin tidak berani untuk menceritakan apa yang telah terjadi, belum mendengarnya saja, Rena sudah bersikap seperti itu. Apalagi jika ia mengetahuinya ?


Perlahan, ia menoleh menatap Rena yang sedang memejamkan matanya. Ia sebenarnya sudah sangat mengantuk, karna tidak biasa bergadang. Rangga yang terus menatap lekat wajah wanita yang sangat ia cintai, ia tidak pernah mencintai wanita seperti ia mencintai Rena. Tentu saja itu semakin membuatnya tidak rela kalau Rena pergi meninggalkannya. Seketika terfikir baginya untuk melakukan sesuatu, agar Rena akan tetap disisinya walau apa pun yang terjadi.


Terkejut.


Itulah yang dirasakan Rena saat perlahan ia membuka matanya, menatap lelaki yang saat ini sedang ******* bibirnya dengan sangat bernafsu, ia bukan merasakan nikmat, melainkan sakit pada bibirnya yang sedari tadi di asap dan digigit oleh Rangga.


"Emmm, Rangga ! apa yang kau lakukan ?" Serunya, dan mendorong tubuh Rangga dengan kuat.


Rangga menatap Rena lebih lekat, kini mata mereka saling bertemu, dan membuatnya semakin tidak bisa menahan hasratnya.


"Ren, apa kau mencintaiku ?" Tanyanya serak


"Mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini ? kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa aku mau bertunangan denganmu ?!" Ucapnya, sambil mengangkat pergelangan tanggannya memperlihatkan cicin yang kini tersemat di jari manisnya.


Melihat cincin itu, Rangga hanya tersenyum sedikit frustasi, dengan perlahan ia memegang tangan Rena, dan memperhatikan jari yang cantik itu dengan cincin yang melingkarinya.


"Apa yang terjadi ? mengapa kau bertingkah seperti ini ?" Tanya Rena lembut, dan memegang tangan Rangga.


"Tidak, aku hanya takut !"


"Takut ? mengapa ? apa yang kau takuti ?"


"Aku takut jika suatu saat nanti, kau pergi meninggalkanku !" Jawabnya pelan, dan masih terus memandangi tangan mereka yang telah menyatu.


"Mengapa kau berfikir seperti itu ? untuk apa aku meninggalkanmu ? itu tidak akan pernah terjadi, aku sangat mencintaimu Rangga ! dan aku hanya ingin selamanya denganmu !" Rena mencoba meyakinkan.


"Benarkah ?" Perlahan Rangga menatap kembali wajah cantik itu.


"Ehem !" Rena menganggukkan kepalanya.


"Jika kelak aku berbuat kesalahan, apa kau akan memafkanku ?"


"Emm tentu saja ! tapi, kau tetap akan mendapat hukuman dari kesalahanmu !" Jawab Rena sedikit terkekeh


Rangga hanya bisa tersenyum menatap gadis itu.


"Aku akan menerima hukuman apapun yang kau beri, asal ! kau berjanji tidak akan pernah meninggalkanku !" Ucapnya


"Mengapa kau selalu berkata aku akan meninggalkanmu ? apa kau tidak percaya dengan cintaku untukmu ?"


"Tentu saja aku percaya !" Jawab Rangga dan sedikit menekannya di akhir kalimat.


Mata mereka terus beradu untuk saling meyakinkan. Dan akhirnya, Rangga kembali mencium gadisnya,namun kali ini, ia sedikit lebih lembut. Dan tentu saja, dengan seperti itu ia tidak mendapat penolakan. Rena yang juga menyambut ciuman itu semakin bergairah, saat merasa ciuman yang semakin sensual yang diberikan oleh prianya. Tangan, yang secara alami bergerak, merabah segala sesuatu yang ingin di rabahnya, membuat mereka semakin merasa panas dan menikmati gejolak yang kini memenuhi hasrat dan pikiran mereka.


Tubuhnya semakin meremang kala kecupan demi kecupan mendarat di bagian yang membuatnya merasa sensitif oleh sentuhan. Ia menggigit bibirnya menahan dirinya agar tidak mengeluarkan suara, namun semakin ia menahannya, semakin kuat rasanya hasrat yang ingin ia lepaskan.


"Aah !" Desahnya, saat Rangga mengecup dan mengisap urat-urat lehernya dengan sensasi dari nafsu birahi.


Mendengar desahan itu, Rangga semakin tertarik untuk terus melakukan aksinya, ia terus mengecup kulit yang mulus itu hingga turun ke bagian dada, tangannya yang semakin nakal hampir lagi akan masuk ke dalam sarang mahkota yang akan segera ia miliki seutuhnya. Sedikit lagi, dan


"Rangga !" Ucap Rena dan mencoba menyudahi aksi prianya.


Rangga mendengar itu, terhenti dan menatap gadisnya dengan tanya.


"Ini sudah cukup ! belum waktunya kita melakukan hal seperti ini !" Ucap Rena lebih lanjut dan lembut, ia perlahan memperbaiki rambut dan gaunnya yang sudah terangkat.


"Tapi aku jadi sangat ingin !" Jawabnya pelan sambil menyandarkan kepalanya tertunduk di bahu Rena. Ia benar-benar tidak bisa menahannya lagi, juniornya sudah benar-benar menegang, siap untuk bertempur. "Sekali saja ! aku berjanji tidak akan melakukannya kasar dan menyakitimu !" Rayunya.


Rena menatap Kepala Rangga yang masih tertunduk di bahunya, itu membuatnya terlihat sangat lucu, dan Rena tak bisa menahan dirinya untuk cekikikan dalam diam.


Merasa bahu gadisnya bergetar, ia perlahan mendongak menatap Rena yang sedari tadi menahan tawa.


"Kau menertawaiku ?" Tanyanya cemberut


Rena tak bisa lagi menahan dirinya, ia akhirnya tertawa lepas.


"Aku akan memakanmu !" Ucap Rangga dan menyerbu memeluk Rena, dan perlahan mengigit leher gadisnya.


"Rangga ! itu sangat geli ! baiklah ! aku akan berhenti tertawa !" Ucapnya di sela tawa.


"Sial !" Umpatnya lirih, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Rena yang masih memperhatikan Rangga, hanya bisa geleng-geleng kepala. Rangga kembali menatap Rena dengan manja.


Tak !


Rena menjitak kepala Rangga dengan keras.


"Aaw !" Rangga memegang kepalanya.


"Dasar ! kau memang berotak mesum ! Apa kau benar-benar tidak bisa mengendalikan juniormu ?" Sambil melirik ke arah celana Rangga yang sudah menonjol.


Untungnya tempat mereka sedikit gelap, hingga Rena tidak bisa melihat jelas bahwa celanya Rangga sebenarnya sudah sedikit basah karna liur yang telah keluar.


"Kau yang membuatnya seperti itu, mengapa tiba-tiba berhenti saat dia ingin beraksi ?!" Umpatnya pelan.


Namun tentu saja Rena masih bisa mendengarnya.


"Hey, Aku mendengarnya !"


"Kalau begitu kau harus bertanggung jawab !"


"Mengapa aku harus bertanggung jawab ?"


"Kau membuatnya penasaran !"


"Hahaa kau ada-ada saja !"


Hening..


Lima detik berikutnya.


"Sayang ! boleh ya ?" Ucap Rangga pelan dan kembali merayu.


"Tidak ! dan ini terakhir kalinya kita melakukan hal yang seperti tadi, tunggu untuk lima bulan lagi !"


Rangga hanya menghela nafasnya lemas..


"Baiklah, tapi, tidak bisakah kita melakukannya sedikit saja !" Ucapnya kembali


"No !" Ucap Rena tegas.


Rangga memalingkan wajahnya memelas dan menyalakan mesin mobilnya. Rena hanya bisa tersenyum menatap pria yang sekarang bertingkah seperti anak kecil yang sedang merajuk.


Mobil itu kemudian melaju dan menuju Perumahan Elit, tempat Kediaman Atmajaya.


Dua puluh tiga detik telah berlalu, dan kini Rena telah berdiri di depan rumahnya, menatap kepergian kekasihnya. Dan setelahnya, ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Semua lampu telah di matikan, ia terus melangkah masuk menuju kamarnya. Sesampainya, ia dengan cepat membersihkan diri dan juga make upnya, namun, saat ia melihat di bagian lehernya, matanya tiba-tiba membola, di sana ternyata ada cap merah yang membekas.


"Astaga ! bagaimana bisa ia melakukan hal ini !" Lirihnya. Ia dengan cepat menyelesaikan aktivitasnya dan setelahnya, ia merebahkan dirinya di atas kasur. Dengan perlahan ia menutup matanya dan terhanyut di alam mimpi yang indah.


Di sisi lain.


Rangga yang juga telah membersihkan dirinya, segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dengan perlahan ia memejamkan matanya.


"Aah !" Desahan itu kembali terngiang di telinganya.


Matanya kembali terbuka. Ia terduduk dan mengacak rambutnya.


"Akh ! yang benar saja !"! Lirihnya.


Dengan refleks pikirannya teringat kembali dengan momen di mana ia hampir dan sedikit lagi akan melakukannya. Gaun Rena yang terangkat, memperlihatkan paha yang berisi dan putih mulus, lehernya yang wangi khas wanita itu, dadanya yang putih, dan..


"Argh... !" Erangnya.


("Dia benar-benar membuatku menggila karna penasaran !") Batinnya.


Junior yang awalnya sudah kembali tenang, kini terbangun lagi. Dan kali ini ia benar-benar kesakitan karna ingin mengeluarkan muntahannya. Seandainya saja ia bisa berbicara, mungkin ia sudah memarahi tuannya.


"Hey ! apa kau tidak bisa menjaga pikiranmu ? mengapa kau kembali membangunkanku ? sudah cukup tadi kau membuatku sangat penasaran ! sekarang aku tidak akan membiarkanmu tidur dengan nyenyak tanpa membuatku menyelesaikan hasratku !"


"Mengapa kau menyalahkanku ? salahkan mata yang melihat wanitanya, yang terlalu sangat menggoda !" Bentak pikirannya


"Hey ! kau malah menyalahkanku ! itu adalah sebagian tugasku untuk melihat segala sesuatu, apalagi menyangkut masalah keindahan, menurutmu siapa yang akan berpaling ? Otakmu saja yang terlalu mesum untuk memikirkan hal yang lebih !" Seru Mata.


"Aakh, berhentilah ! ini bukan tentang salah siapa, sekarang diriku sangat ingin memuntahkan laharku !" Lerai sang junior.


Dan onani lah jalan keluarnya ! Ia melakukannya dengan terus menghayalkan kalau dirinya telah melakukannya dengan Rena di mobil itu.


NB.


Buat para reder, mohon untuk membiasakan menekan gambar 👍, dan menulis komentar, apapun itu, walaupun hanya sekedar tulisan like, itu akan membuat author bersemangat dalam menulis setiap karya.


Ya ampun, aku berdosa banget nulis yang begituan. 😂 maafkan authornya khilaf. soalnya, bingung cari bahan dan mau nulis apa lagi.